
Rey semakin bingung dengan perasaannya, kebimbangan Rey membuat sikapnya terhadap Ana menjadi dingin. Rey tidak tahu lagi harus berbuat apa, disisi lain ia ingin kembali lagi kepada Agela namun disisi lainnya dia tidak ingin kehilangan Ana
"Tuan, ini laporan kerja sama dengan Casper" Ana memberikan dokumen untuk di tanda tanggani Rey
"taruh saja di meja, nanti aku pelajari terlebih dahulu " ucap Rey tanpa melihat ke arah Ana
sikap dingin Rey bisa di rasakan oleh Ana. Sakit!! hati Ana sangat sakit, semenjak mantan Rey datang seolah Ana sudah tidak terlihat lagi. ingin rasanya Ana menangis, menjerit dan berteriak memaki-maki Rey yang telah mempermainkan perasaannya namun Ana sadar, dia tidak berhak!
Rey menganggap jika hubungannya selama ini hanya sekedar simbiosis mutualisme, hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain. Ana seharusnya sadar diri, dan Ana tidak seharusnya menggunakan perasaannya sejak awal
"Eemmm... Tuan, nanti apakah kita akan makan siang bersama" tanya Ana perlahan. berharap Rey mau makan siang bersamanya
Rey mengehntikan aktivisnya sejenak lalu mentap ke arah Ana
"sepertinya Tuan sangat sibuk, jika Tuan sangat sibuk kita bisa menunda makan siang bersama, saya akan makan di Restoran kantor saja" ucap Ana menjelaskan, tatapan Rey seolah meminta pernjelasan. kenapa juga Rey harus makan siang dengan sekretarisnya?
apakah Rey benar-benar lupa jika selama ini, mereka berdua selalu makan siang dan makan malam bersama?
setelah mengucapkan itu, Ana pamit undur diri. dia ingin kembali ke ruanganya untuk melaksanakan tugas yang lain
"tunggu... "cegah Rey. terpaksa Ana membalikkan badanya kembali "tunggu aku di tempat biasa" ucap Rey
bagaiakan air Es yang di tuangkan di bara api, hati Ana menjadi dingin. Ana kira Rey tidak akan menerima tawaran makan siang bersama. (bersaing dengan mantan terindah itu sangat berat bOs!!) namun pikirannya salah
Ana kembali keruang kerjannya dengan riang gembira, sepanjang perjalanan keruangan kerja, Ana senyum-senyum. seolah ada lagu India di telinga Ana, dia berjoget seperti seseorang yang menang lotre
Ana kembali bersemangat bekerja, namun kegirangan Ana tidak bertehan lama. baru sepuluh menit Ana duduk, Rey keluar dari ruanganya dengan raut wajah cemas dan sedikit berlari
"Tuan Ada apa? " tanya Ana ikut khawatir. namun Rey tidak mengindahkan pertanyaan Ana, dia melawati Ana begitu saja dan langsung masuk ke dalam lift
kepergian Rey yang terburu-buru membuat Ana tidak tenang, takut terjadi sesuatu. satu dua jam sudah berlalu, belum ada tanda -tanda Rey kembali. Ana melihat jam yang ada di ponselnya sudah menunjukkan jam makan siang
ingin rasanya Ana mengechat Rey untuk sekadar mengingatkan janjinya. namun Ana urungkan karena Ana yakin Rey tidak mungkin melupakannya
__ADS_1
Ana memutuskan untuk menunggu Rey di tempat biasa, Ana akan menunggu Rey di persimpanagn Ujung jalan, Ana biasnya mengunakan ojek untuk pergi ke sana
sepuluh, lima belas menit Ana sudah menunggu lama di sana namun batang hidung Rey tidak mencul juga
ting
terdengar suara notifikasi pesan grup kantor dari posel Ana
A : "Hei, apa Tuan Rey memiliki seorang Anak? " (orang itu menyertakan foto Rey bersama dengan Agela dan seorang Anak laki-laki di sebuah pusat bermain yang ada di Mall)
B : "bukan kah itu Agela? mantan Tuan Rey"
A : "Apa??! "
C : " aku dengar Nona Agela sedang mengurus surat perceraiannya dengan suamnya"
B : "Apakah dia akan kembali lagi dengan Tuan Rey?"
C : "aku harap seperti itu, mereka bedua sangat serasi. ditambah dengan anak dari nona Agela mereka seprti pasangan keluarga sesungguhnya "
klek
Ana langsung mematiak layar ponselnya, hatinya sakit, hatinya sesak melihat Rey berduan dengan mantan kekasihnya. Rey tidak memikirkan perasaan Ana! disini Ana menahan panas demi menunggu Rey tapi apa yang ia dapat Rey malah bahagia bermain dengan calon anaknya
Ana mengedipkan matanya beberapa kali demi menahan air matanya yang hedek terjatuh, Ana berusaha menyadarkan dirinya sendiri. jika dia tidak berhak menangisi Rey
"Nona Ana... "panggil seseorang dengan suara khas baritonya
"Jay.. tinggalkan aku sendiri, aku ingin sendirian " Ucap Ana, tanpa melihat lawan bicaranya. Ana pergi dari sana
Ana lebih memilih untuk menyendiri di sebuah danau, yang jauh dari keramaian. Ana tidak ingin menunjukkan kesediahannya kepada orang lain
di sana Ana mulai menangis mengeluarkan semua sesak didadanya yang dari tadi ia tahan. belum juga Ana puas menangis, dia di baut merinding dengan lingkungannya
__ADS_1
Ana merasa ada seseorang yang melihatnya dari suatu tepat, Ana mengedarkan pandanganya melihat sekitar, memastikan apa perasaannya benar? ada seseorang yang mengikutinya? atau makhluk lain? karena tempat yang Ana gunakan untuk menyendiri ini memang sedikit jauh dari keramaian
galau yang sempat di rasakan Ana kini berubah menjadi takut. Ana mulai merinding dan merasa tidak nyaman berada disana
"Ada orang yang sedang galau, takut?" ejek seseorang pria dengan suara kha barito yang sama, mengagetkan Ana yang tiba-tiba duduk di sebelahnya
"Astaga!!!! " Ana sampai loncat karena terkejut
"ini makan dulu, aku yakin kau belum makan siang kan?" ucapnya lagi, memberikan peper bag ber isi humbeger
"Tuan! kenapa kau bisa tahu aku disini?" Ana memenagi dadanya yang masih shok
"aku mengikutimu" ucap pria itu memberikan paksa paper Bag tadi ke tangan Ana
"Apa?! " Ana kira yang tadi mengajaknya berbicara adalah Jay. seperti yang sudah -sudah Rey akan memerintahkan Jay untuk menjemputnya saat dia tidak bisa menepati janjinya
"kau itu kebiasaan! setiap kali sedang sedih selalu menangis ditempat sepi, Apa tidak takut tiba-tiba ada makhluk halus?"
Ana memandang pria itu dengan aneh, bagaimana dia tahu kebiasaannya?
"Apa kau masih belum meneganaliku? "
Ana mengelengkan kepalanya
"Aku Zen, pria yang pernah kau tembak di acara perpisahan sekolah"
"Apa?! " Ana menutup mulutnya terkejut, Ana tidak menangka orang yang ada di depannya ini adalah pria yang dulu pernah menolak ungakapan cintanya semasa sekolah menengah ke atas
"K-kau??! " Ana tiba-tiba gagap dan sampai memundurkan tubuhnya kebelakang karena tidak percaya
"Ck, santai saja. itu sudah masa lalu, lebih baik kita berteman sekarang " Zen mengulurkan tangannya berjabat tangan
Ana yang masih tidak percaya jika, pria yang dia tabrak waktu di Mall kemarin adalah teman satu sekolahnya di SMA, tidak menerima uluran tangan dari Zen
__ADS_1
"senang berjumpa dengan mu lagi Ana" ucap Zen meraih tangan Ana, dan memaksanya untuk berjabat tangan
Ana yang awalnya sedih, berubah menjadi senang sekakigus malu. bagaimana tidak malu, Pria yang pernah menolak cintanya kini bertemu lagi untuk pertama kali setelah sekian tahun lamanya