Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
part 49


__ADS_3

Rey masih sibuk dengan pekerjaannya, sampai dia tidak sadar jika perutnya sudah mulai keroncongan minta di isi


"Jam berapa sekarang? " tanya Rey kepada Jay tangan kanannya


"jam 12:15 Tuan" jawab Jay


Rey melihat ke arah ruangan Ana, ternyata Ana sudah pergi dari sana "Sial! " umpat Rey


Rey yang awalnya hendak mengajak Ana makan siang bersama, sekalian membujuk Ana. lagi-lagi harus batal karena kesibukannya


"kita makan siang dulu, baru kita lanjutkan" Rey mengajak Jay untuk makan siang


saat Rey dan Jay sedang menunggu pintu lift terbuka, sayup-sayup Rey mendengar karyawan lain sedang bergosip


A : "Hei...! kenapa kalian masih disini? "


B :"memangnya kenapa? "


A :" apa kaliam tidak mendengar? Restoran kantor ada yang sedang mentraktir kita. kita boleh makam sepuasnya"


C : "benarkah?? "


A : "Iya... Ayo buraun keburu kehabisan! "


B :" Oke, aku ikut"


C : "tunggu... "


mereka pun ikut mengantri di depan lift bersama Rey untuk turun ke lantai bawah Restoran kantor


B : "memangnya siapa yang mentraktir kita? "


A : " Pacar Nona Ana"


C : "Apa??! pacar? "


A : " iya, dia tampan sekali. aku tidak menyangka wanita seperti nona Ana mendapat pria se-tampan itu"


B :" jadi Rumor selama ini benar? jika Nona Ana sudah memiliki kekasih? "


A : "iya"


C :" aku sudah tidak sabar melihat, pacar Nona Ana"


Ting

__ADS_1


suara pintu lift sudah terbuka, semua karyawan -karyawati tadi langsung masuk ke dalam lift. meninggalkan Rey yang mematung karena terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar


"Pacar? Ana kan tunangan ku, kenapa dia memiliki pacar? " batin Rey, hatinya mulai panas. siapa orang yang berani mengaku-ngaku pacar dari wanitanya?


Karena penasaran Rey datang ke Restoran kantor, ternyata di sana super ramai, sumua orang berdesak-desakan mengambil makanan (karena makan gratis)


Rey kesulitan untuk mencari Ana karena banyakknya orang di sana, sedikit-sedikit celah Rey bisa melihat Ana sedang duduk bersama Rani, Pak Indra dan juga pria yang kemarin pernah ia lihat sebelumnya


"Jay, kau tahu siapa pria itu? " tanya Rey


"beliau Raksa Zen tuan, dia adalah CEO bari di Thomson Group" jawab Jay


"Apa? bukanya anaknya itu perempuan? kenapa yang menjadi CEO laki-laki? " tanya Rey terkejut menatap Jay lekat


setahu Rey Thomson Group tidak memiliki penerus pria karena mereka hanya memeikiki pewaris tunggal seorang perempuan. kabarnya perempuan itu tidak tertarik dengan dunia busnis, dia tertarik dengan dunia desain


"saya kurang tahu tuan, itu yang saya dengar dari yang lain" jawab Jujur Jay


"cari tahu secara detail mengenai pria itu" printah Rey


"baik Tuan"


Rey kembali mengarakan pandangannya ke meja Ana, namun sayang Ana dan pria itu sudah tidak ada di tempat


"Sial! " umpat Rey merasa kecolongan. Rey mengedarkan pandangan ke tempat lain untuk mencari Ana namun hasilnya nihil, Rey tak menemukan Ana dan pria itu


Rey mencari Ana kesan kemari, seperti seseorang yang kebakaran jenggot. Jay yang melihat hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya heran "sebenarnya siapa wanita yang kau sukai Tuan? Anda harus memilih antara Nona Agela atau nona Ana. Anda tidak bisa memiliki ke duanya secara bersama"


Di taman kota yang asri, banyak sekali pengunjung datang untuk sekedar melepas penat setelah bekerja seharian ini


seperti halnya Ana dan Zen yang sedang duduk di bangu taman, manatap anak-anak kecil yang sedang bermain gelembung


"Zen, kenapa kau mengaku sebagai pacar ku tadi? dan apa tadi, kau mentraktir semua orang untuk makan" Ana memulai pembicaraan mereka


"aku kembali lagi ke Indonesia setelah sekian lama, anggap saja tadi itu syukur ku sudah kembali lagi kemari" jawab Zen enteng


"lalu kenapa kau memperkenalkan diri sebagai pacar ku? "


"memangnya tidak boleh? bukan kah kau belum memiliki pacar? "


"iya, tapi Zen itu kebohongan. aku tidak suka itu" Ana berkaca nasipnya dengan Rey yang bermula dari kebohongan menjadi suatu hubungan yang rumit


"kalau hegitu kenapa kita tidak mencoba serius? " Zen menatap mata Ana dengan lekat, menandakan jika ucapanya tidak main-main


"Zen, jangan bercanda..." ucap Ana salah tingkah di tatap Zen sepeti itu

__ADS_1


"Aku tidak bercanda Ana, aku benar-benar menyukai mu sejak kita SMA. hanya saja aku terlalu pengecut untuk mengutarakannya kepadamu. apa kau tahu hal pertama yang akan aku lakukan setelah aku mengijakkan kakiku ke Indonesian? yaitu aku akan mencari mu, mengutarakan perasaan ku" ucap Zen sungguh -sungguh


Ana yang mendengar pengakuan cinta Zen, tidak bisa berkata apa-apa, mulut serta tubuhnya tiba-tiba kaku


"Ana, aku sungguh mencintaimu, maukah kau menjadi pacar ku? " Zen meraih kedua tangan Ana lalu dia mencium punggung tangan Ana


Ana merasa senang ternyata cintanya tidak betepuk sebelah tangan, meskipun harus membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk Ana mengetahuinya


seketika Ana bingung tatkala ia melihat cincin pertunangannya dengan Rey yang melingkar di jari manisnya. di dalam hatinya berkata jika ini tidak benar, Ana masih berhubungan dengan Rey, dia masih kepunyaan Rey. Ana tidak boleh menerima ajakan Zen


Zen menatap wajah Ana, karena wanita itu tak kunjunh juga menjawab. Zen mengikuti arah pandang Ana, darinya juga ikut terkejut saat melihat cicin berlian pertunangan Ana. apakah dirinya sudah terlambat? apakah Ana sudah menjadi milik orang lain?


"maaf Zen..." Ana menarik kembali tangannya "aku harus pergi" pamitnya pergi meninggalkan Zen


Zen menatap punggung Ana dengan rasa kecewa, seandainya saja ia datang lebih cepat pasti Ana tidak akan menjadi milik orang lain


...***...


Kantor


istirahat makan siang sudah selesai, waktunya untuk kembali ke rutinitas lagi. namun Ana tidak dapat berkonsentrasi, setelah pembicaraan dengan Zen tadi hatinya menjadi bimbang. Ana menatap cincin pertunangnya dengan hampa


"Nona Ana..." panggil seseorang namun Ana masih sibuk melamun


"Nona Ana! "panggilnya lagi dengan nada bicara sedikit keras


"Nona Ana!!! " panggilnya untuk ke tiga kalinya, berhasil membuat Ana tersadar


"Eee... I-iya Tuan" Ana terkejut saat Dad Alvan berada di depannya


"bisakan kita bicara sebentar? "


"ba-baik"


Dad Alvan mengajak Ana naik ke rotoof gedung, Dad Alvan sengaja mengajak Ana ke sana agar ia bicara leluasa tanpa khawatir Rey menganggu


satu menit dua menit bahkan sampai lima menit mereka tidak saling berbicara, Dad Alvan menatap Ana dengan tajam sedangkan Ana hanya menundukkan kepalanya


"Daddy sudah pulang dari Amerika? " tanya Ana memeceh keheningan


"kau tidak pantas memanggilku dengan sebutan itu! "


Deg


hati Ana rasanya berhenti, Ada apa dengan Dad Alvan? kenapa Dad Alvan berbicara septi itu? bukankah beliau sendiri yang memperbolehkan Ana memanggilnya Dad?

__ADS_1


"apa maksudnya Dad.. eh.. maksudku Tuan? "


"sejak kapan kalian membodohi kami?! "


__ADS_2