Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
Part 51


__ADS_3

sikap Ana semakin aneh, dia menjadi dingin terhadap Rey, selama acara dimulai Ana hanya diam. saat Rey bertanya kepadanya, Ana akan menjawabnya kepada Jay dan menyuruh Jay untuk menyapakiakanya kepada Rey padahal mereka duduk di satu meja yang sama dan Ana duduk tepat di sebelah kanan Rey


namun Ana menganggap Rey seperti tidak ada disana. tentu saja membuat Rey sangat marah tapi Rey berusaha untuk menahan emosinya, dia sadar ini di ruang public terlebih mereka sedang rapat penting


dua jam acara itu berlangsung, akhirnya selesai juga, Ana segera mengemasi barang-barangnya. Rey yang awalnya emosi kini mulai Mereda, Rey sudah melupakan kejadian tadi. Rey berfikir Ana sedang mentruasi dan moodnya sedang buruk sehingga Rey memakluminya dan lebih baik memaafkannya


baru juga Rey memaafkan Ana, kini timbul masalah baru lagi. pria yang kerap ia lihat dengan Ana akhir-akhir ini tiba-tiba ikut nimbrung di meja mereka


"selamat pagi tuan Rey" sapa Zen ramah dan langsung duduk di sebelah Ana


jengkel itulah yang di rasakan Rey, saat pria yang dari kemrin berusaha merebut wanitanya tiba-tiba menyapa dengan sok asik nya


"Ada yang bisa di bantu Tuan Zen? " tanya Rey berusaha profesional, meski dia Kesal karena Zen sudah lancang duduk di sebelah wanitanya namun Rey masih memandang Zen sebagai rekan bisnisnya


"tidak ada tuan, saya hanya ingin duduk bersama teman saya" jawab Zen menatap Ana


Rey mengerutkan dahinya bingung, biodata yang di berikan Jay belum sempat dia baca. Rey tidak tahu ada hubungan pertemanan apa antara Ana dan zen?


"Tuan Zen adalah teman sekolah nona Ana sewaktu SMA, Tuan" bisik Jay ke telingga Rey


"bagaimana kabar mu Ana? " tanya Zen ramah


"aku baik" jawab Ana tak kalah ramah


hati Rey mendidih melihat interaksi mereka berdua, Rey tidak terima! dari tadi Ana mengabaikanya, tapi giliran temanya datang, Ana menyambutnya dengan tangan terbuka


belum sempat juga Rey marah, datanglah seorang lagi yang membuat Rey semakin tak terlihat


"Zen? kau Zen kan? " tanya Dara mengeali teman sekolah sekaligus mantan kekasihnya


"iya, sudah lama kita tidak bertemu " sapa balik Zen dengan ramah kepada Dara

__ADS_1


"ya Ampun... aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi setelah sekian lama" ucap Dara merasa bahagia


tiba-tiba meja rapat itu berubah menjadi meja reoni, Rey dan Jay hanya diam di sana sambil mendengarkan cerita mereka


"bagaimana kabar mu? " tanya Zen


"aku baik, aku masih tidak percaya, kita bisa berkumpul lagi disini " ucap Dara bahagia bisa berjumpa dengan Zen lagi "apa kau masih ingat saat malam perpisahan sekolah? " pancing Dara ingin mengingatkan hal memalukan Ana di jaman dulu


"tentu saja aku ingat, itu adalah kenanangan terindah yang tidak pernah aku lupakan" jawab Zen


"iya, sama dengan ku. aku juga tidak akan melupakan kejadian itu, saat Ana mengutarakan cintanya padamu dan kau menolaknya hahaha" Dara tertawa lepas saat mengingat kejadian itu


"waktu itu aku masih muda dan naif" bela Ana tidak terima di olok-olok


"hahaha iya kau dulu sangat lucu dan Naif" lanjut Zen menatap Ana dengan tatapan berbeda


Rey yang sebagai sesama pria tahu arti tatapan Zen, zen menatap Ana dengan penuh cinta. namun Rey berusaha mengendalikan emosinya menekan perasaan cemburunya


"oh iya..apakah kau sudah menikah" tanya Zen kepada Dara


"belum, aku belum menikah karena masih ada seseorang yang aku tunggu" jawab Zen "lalu bagaimana dengan mu Ana? apa kau sudah bertunangan? " tanya Zen melirik cincin di jari manis Ana


Ana yang dari tadi terdiam, tersentak kaget saat Zen mengutarakan pertanyaan itu. Ana menatap ke arah Rey


Ana ingin menjawab jika dia memang sudah bertunagan, tapi disisi lain Ana juga engan mengungkapkannya karena memang hubunganya dengan Rey tidak nyata


"Ana bertunangan? tidak mungkin! dia itu pemegang rekor prawan tua! tidak ada pria yang tertarik padanya, bahkan dia sudah mengikuti puluhan kencan buta tidak ada satu pria pun yang nyantol melihatnya " cetus Dara tanpa permisi


Rey yang mendengar Ana telah di hina, sontak tersulut emosinya. hampir saja Rey membongkar rahasianya hubunganya dengan Ana. beruntung Ana memotong pembicaraan terbih duluan


"tidak! aku belum bertunangan atau pun pacaran, sampai sekarang aku masih melajang"' jawab Ana.

__ADS_1


apa untungnya menganggap hubunganya dengan Rey sebagai sebuah hubungan nyata? toh hubunganya dengan Rey akan segera berakhir


Rey membelalakkan matanya sempurna mendengar jawaban Ana, Rey tidak menyangka hubungan palsu yang mereka jalani selama ini tidak ada artinya di mata Ana?


"sudah dulu ya aku ingin lanjut bekerja" pamit Ana berdiri dari kursinya, tidak ingin melanjutkan obrolanya


"aku antar kau ke kantor" tawar Zen, ikut berdiri


amarah Rey sudah seperti gunung Api melihat ke akrapan antara Zen dan Ana. terlebih Rey mengetahui jika Zen dulunya adalah orang yang pernah di cintai Ana. traumatik perselingkuhan dan pacarnya yang direbut orang lain sudah muncul dari tadi di hati Rey


"tidak perlu aku bisa sendiri" tolok Ana halus


"Tidak perlu tuan Zen, sekretaris saya akan saya antar sindiri ke kantor " ucap Rey dengan nada menahan amarahnya


Ana langsung melihat ke arah Rey, dan langsung meralat ucapnya tepat saat Rey hendak meraih tangannya untuk mengajaknya pergi "sepertinya naik motor akan lebih cepat sampai ke kantor " ucap Ana mengandeng tangan Zen mengajaknya pergi dari sana


Rey yang melihat Ana pergi dengan pria lain, sangat murka! berani-beraninya Ana menolaknya di depan orang bayak


kantor


Hati Rey tidak bisa tenang, dia terus mondar-mandiri di dalam ruanganya menunggu kehadiran Ana. sudah tiga puluh menit terhitung saat Rey sampai di kantor, tapi Ana belum juga menunjukkan batang dihungnya. Rey sudah berusaha menghunungi Ana puluhan kali namun Ana malah menonaktifkan ponselnya


Rey terus saja melihat ke arah lift, berharap Ana segera datang. empat puluh menit sudah berlalu, Rey masih menunggu. dia menunda semua pekerjaannya, percuma juga ia bekerja kalau pikirannya melayang -layang entah kemana


"sial! kemana mereka pergi?! " umpatnya kesal


tak berselang lama pintu litf terbuka dan mendapati Ana keluar dari lift, Rey yang ingin mendapatkan penjelasan dari Ana, menarik Ana kembali masuk kedalam lift lagi


Rey menarik Ana sampai ke atap gedung, Rey ingin Meluapkan semua emosinya tanpa menganggu karyawan lain


"dari mana saja kau Hah?! " bentak Rey memlantingkan tangan Ana

__ADS_1


"Rey! kau itu kasar sekali!! sakit" Ana memegani tanganya yang memerah bekas cengkraman Rey


Rey yang emosi tidak dapat mengontrol tenangnya. melihat tangan Ana memerah membuat Rey merasa bersalah. Dia memang marah tapi dia tidak ada niatan untuk melukai wanitanya


__ADS_2