Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
part 20


__ADS_3

Onni House Cafe


waktu jam istirahat kantor telah tiba, Ana dengan halus menolak makanan yang di berikan Rey, ia lebih memilih mengajak Rani untuk makan di luar kantor, ia engan jika harus bertemu Rey lagi di kantin kantor


“tumben, kau mengajak makan di luar?” tanya Rani, tidak biasanya mereka makan di luar


“aku hanya bete, banyak banget pekerjaan” jawab Ana tidak semangat tapi engan untuk menceritakan permasalahannya


“pasti sulit bekerja dengan kulkas”


“kulkas? Maksudmu?” tanya Ana mengerutkan dahinya bingung


“Tuan Rey itu sangat terkenal dengan sikapnya yang dingin, devisi ku saja sampai ketakutan saat tuan Rey datang kerunagan kami”


“dingin apanya? Sifatnya itu bergnta-ganti sama seperti bunglon, susah ditebak kadang baik, perhatian, kadang juga marah. Aku heran apa ada sebuah tombol di tubuhnya yang bisa menganti semua emosinya itu?” gurutu Ana dalam hati


“Hei! Kenapaa kau malah melamun?”


“tidak!! tidak apa-apa” Ana tersadar dari lamunannya “aku memang sedang bete jika bertemu dengannya tapi aku juga tidak mau bertemu Dara, bisa-bisa kita ribut seperti tempo hari”


Ana memang sedang menghindari Rey, namun dia juga tidak ingin mencari masalah dengan bertemu musuh bebuyutannya, Dara. karena penggunjung cafe yang mereka datangi ini lebih banyak dari karyawan temat Dara bekerja


“kau belum tahu kabar Dara yang terbaru?”


“kabar? Memangnya dia kenapa?”


“setelah Dara menyerang mu kemarin, Tuan Rey melaporkannya ke polisi”


“APA?!”


“kau belum mendengarnya?” tanya Rani heran dan di jawab gelengan kepala oleh Ana


“jadi Dara sekarang ada di dalam penjara?” tanya Ana tidak percaya


“tidak! perusahannya merasa kasian terhadap Dara. Bagaimana pun Dara sangat berjasa terhadap perusahan mereka, jadi mereka berusahaa melobi Tuan Rey untuk membatalkan laporannya lagi pula karena kasus itu juga akan berdampaka terhadap citra di perusahan Thomson Group"


"lalu bagaimana? " tanya Ana penasaran

__ADS_1


"Tuan Rey menyetujuinya untuk mencabut tuntutanya tapi dengan syarat Dara harus di pecat dan mereka harus membayar biaya konpensasi serta biaya perobatan mu, aku dengar uang konpensasi mencapai lima milyar”


“GILA!!! ”


“gila bagaimana? tuan Rey Itu sangat keren! Dara memang pantas mendapatkannya” Rani senang, akhirnya Dara bisa mendapatkan karma atas perbuatanya selama ini


“apa kau senang teman mu kehilangan pekerjaan?”


“Dara? Teman ku? Kau salah! Dari dulu dia bukan teman kita! kau lupa, bagaimana perbuatannya terhdap mu?”


“tapi tetap saja kita lulus bersama di sekolahan yang sama, kata lainnya kita adalah teman satu sekolahan”


“APA?! Kau masih mengangapnya teman setelah dia hampir mematahkan kaki mu? Aku tidak habis pikir, bagaimana jalan pikiran mu Ana?”


“selepas perbuatan jahatnya terhadap ku, tapi kehilangan pekerjaan di dunia yang kejam ini ditambah dia sudah orang tua tunggal, ada tanggung jawab seorang Anak yang harus ia hidupi, tentu saja tidak akan mudah baginya untuk bertahan”


“sejak kapan kau mengurusi kehidupan orang lain?”


“memangnya kau tidak kasian kepadanya, apa?


“tidak”


“dia bermasalah karena ulahnya sendiri dan dia mendapatkan hukuman atas perbuatanya sendiri lalu kenapa aku harus kasian terhadapnya?”


“coba kau bayangkan jika itu menimpa dirimu, bagaimana kau akan membayar biaya sekolah, dan keperluan Akira nanti?”


“Ana! Kenapa kau malah mendoakan ku begitu?!” teriak Rani, karena setelah mengucapkan itu Ana pergi meninggalkan Rani


Selepas sejahat jahatnya Dara terhadapnya, Ana masih memiliki hati nurani, tidak mudah seorang singel mom membesarkan seorang anak tanpa bekerja


Ana akan membujuk Rey untuk mencaput tuntutannya dan membiarkan Dara kemabali bekerja tanpa harus membayar uang konpensasi, bukankah dulu Rey pernah bilang jika biaya pengobatannya di ambil dari uang perusahaan buka dari uang kompensasi. terlebih khasus ini melibatkan dirinya, kenapa Ana sama sekali tidak mengetahui hal ini


Ruang Kerja Rey


Kini Ana sedang berdiri tepat di hapadan Rey setelah ia memberika berkas laporan, ia masih bingung untuk memulai bicara dari mana


“kenapa kau masih berdiri saja? Apa ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Rey pada akhirnya

__ADS_1


“Eeee.. saya ingin meminta bantuan dari Anda”


“bantuan?”


“Anda ingat wanita yang menyerang saya waktu kita ada di Bali kemarin? Dia sebenranya adalah teman saya sekolah, saya memang sering bercanda seperti itu hehehe...." Ana tersenyum kaku


"Jadi bisakah Anda mencaput keputusan Anda untuk mengugatnya? dan biarkan dia tetap bekerja di perusahaannya” pinta Ana


“tidak bisa!”


“kenapa?”


“bagaimana bisa bercanda keterlaluan seperti itu? kau hampir kehilangan kaki mu!! Lagi pula, bukan kah kau sendiri yang mengatakan jika tidak membutuhkan bantuan ku? beberapa jam lalu kau mengatakan agar tidak ikut campur atas urusan mu dan kau bisa menyelesaikan masalah mu sendiri”


“apa...?” Ana terkejut dengan apa yang di ucapkan Rey, ia tidak menyangka Rey akan berucap seperti itu


“apa kau lupa dengan ucapan mu sendiri? Apa perlu aku memutar ulang rekaman CCTV di ruangan ku? “ tantang Rey “bagi ku dia telah menyerang salah satu karyawan ku, dan sebagai CEO aku memilik kewajiban untuk melindungi keselamatan karyawanku jadi masalah urusan kalian pernah satu sekolah atau tidak. aku tidak perduli! itu adalah urusan pribadi kalian”


“iya tapi kan, saya disini sebagai kobanya dan saya tidak ingin menutut apa-apa, bahaka saya tidak tahu menahu mengenai masalah ini”


“tidak perlu izin mu untuk melakukan ini, mereka jelas-jelas salah dan harus menerima hukuman! lagi pula aku melakukan ini bukan semata-mata hanya melindungi mu saja melainkan melindungi seluruh karyawan yang ada di perusahannku dan membuat pembelajaran untuk orang lain agar tidak ada tindakan serupa di kemudia hari”


“tapi...”


“jika tidak ada hal lain yang ingin di bicarakan silahkan keluar, aku tetap tidak akan mencabut tuntutan ku! Jika kau keberatan silahkan urus saja sendiri, aku sedang sibuk”


Ana sampai terbengong tidak percaya, dirinya sangat kesal bagaimana bisa Rey berbicra sekejam itu dengan mudahnya? apa ia tidak berfikir bagaimana nasib orang yang mendapatkan hukuman itu?


Ana mengepalkan kedua tangannnya, siap untuk melayangkan tinju namun Ana memilih untuk keluar ruangan dan kembali duduk di ruanganyaa sebelum ia lepas kendali menonjok wajah tampan Rey


Drt


Drt


Ponsel Ana berdering, menampilkan satu nama yang selalu mendesaknya untuk menikah


“Mama mau ingetin kencan buta nati malam? Ana ingat Ma, nanti di restoran jam tujuh kan?” ucap Ana sesaat setelah ia mengangkat panggialn telefon dari Mama Iren

__ADS_1


“kamu tidak bilang kalau sudah punya pacar?” tanya mama Iren di serbang sana, membuat Ana membelalakkan matanya karena terkejut


__ADS_2