Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
Part 94


__ADS_3

Rey sejenak mengalihkan pandangannya dari istrinya untuk membayar tagihan Taxi tapi istrinya itu seakan hilang di lautan manusia. Rey segera menyusul istrinya itu masuk ke dalam mall namun Rey kehilangan jejak. Rey harus mencari kemana istrinya barunya itu?


Rey berlari ke sana ke mari mencari Ana, rasanya mustahil menemukan seseorang dari sekian banyaknya kerumunan manusia, Rey ingat jika David (Daddy-nya Gibran) adalah Manager di Mall tersebut. segera Rey menuju ruang informasi dan meminta bantuan David untuk menemukan Ana


David yang merasa memiliki hutang budi dengan Rey karena sudah mengembalikan Gibran kepadanya, tentu dengan sedang hati membantu Rival yang saat ini menjadi sahabat baiknya itu


bermodalkan ciri-ciri Ana, David memerintahkan securitynya untuk mencari kebenradaan Ana, sementara Rey duduk manis menunggu di ruang David. tidak berselang lama Ana telah di temukan dan David Membawany ke ruanganya untuk bertemu Rey


"Maaf atas kesalahpahaman ini nyonya Rey" ujar David dengan tulus meminta maaf atas prilaku tidak menyenagkan staf mallnya


"tidak apa-apa..tapi diskon tiga puluh presen tetap jadikan? " tanya Ana memastikan


David tertawa terbahak -bahak melihat tingkah lucu Ana yang meminta diskon, padahal Ana bisa saja membeli Mall tersebut. keluarganya kini sudah masuk ke dalam lima besar keluarga paling kaya di dunia


"tentu saja Nyonya "


Ana dengan semangat empat lima mengandeng Rey untuk memintanya menemani belanja. barang pertama yang ingin Ana beli adalah tas yang tadi ia tanyakan, sekaligus ia ingin membalas dendam kepada karyawan yang tadi sudah memandang rendah dirinya


karyawan itu seketika tidak berkutik, saat mengetahui identitas Ana yang sebenarnya. dia malu dan meminta maaf kepada Ana, beruntung Ana masih baik hati sehingga karyawan itu tidak di pecat


Ana memanfaatkan keuntungan diskon yang di berikan David, dia membeli semua barang-barang yang entah kapan bisa ia pakai, Ana membeli baranh sangat banyak sampai Rey kwalahan membawa semua barang belanjaan Ana


"sayang.. kau masih mau beli apa? lihat balnjaanmu sudah cukup banyak! aku sudah tidak sanggup membawanya" keluh Rey ngos-ngosan mengikuti Ana yang keluar masuk toko di setiap Mall


"itu masih kurang, aku mau beli huat oleh -oleh Mama Iren, Mama Zanna, Lyla, Rani, Dara dan... "


"warga kampung? "


"kok kamu tahu? "


"aduhh.. sayang, sudah jelas dari banyaknya barang yang kau beli. bisa buat warga sekampung mu! "


"kau suami ku yang sangat pandai" puji Ana menyubit gemas pipi Rey


"tapi aku membawakan barang belanjaan mu tidak gratis" Rey menatap Ana dengan tatapan licik

__ADS_1


"tenang saja, nanti aku akan membayar mu" jawab Ana dengan enteng


"aku tidak ingin uang, aku ingin kau membayar ku dengan cinta mu" Rey menaik turunkan alisnya


"ci-cinta? a-apa maksud mu? " tanya Ana pura-pura bodoh


"sayang, aku tahu kau hanya berpura-pura tidak tahu"


"a-aku b-benaran ti-tidak tahu" Ana Mejawab dengan tergagap-gagap karena gugup


"nanti malam aku ingin bercinta dengan mu sampai pagi" bisik Rey tepat di telinga Ana, membuat si pemilik tubuh meramang karena hembusan nafas Rey yang hangat menerpa lehernya


seketika itu wajah Ana berubah menjadi pucat, membayangkan bagaimana ganasnya Rey jika mengenai masalah ranjang. seakan seperti kuda pacu yang tidak bisa capek


"ka-kalau be-begitu kita sudah saja Belanjanya" Ana sudah tidak bisa membayangkan lagi bagaimana remuknya tubuhnya saat melakukan itu dengan Rey


"kenapa? bukanya kau ingin memanfaatkan diskon yang di berikan David?" Rey sangat tahu betul Ana, nampak jelas di raut wajah Ana. jika saat ini pikiran Ana sedang berkelana ke arah itu


"a-aku ra-rasa ini sudah cukup"


"baiklah, semakin cepat kita balik ke Hotel. semakin cepat juga kita melakukannya" Rey berjalan santai menuju pintu keluar Mall. meninggalakan Ana yang sudah tidak bisa berfikir jernih lagi. membayangkan bagaimana remukknya tubuhnya nanti


di sebuah kamar hotel yang gelap gulita, hanya ada beberapa lili aroma terapi sebagai satu-stunya sumber cahaya di kamar itu. ada dua sejoli yang sedang memadu cinta. dibawah selimut yang sama Rey mengauli istrinya, entah sudah berapa lama Rey melakukkanya, yang jelas Ana sudah sangat kwalahan dan kelelahan mengimbangi permainan Rey


"Apa kau lelah? " tanya Rey yang tidur di sampaing Ana sambil menghapus bulir-bulir keringat di dahi Ana setelah kegiatan panasnya tadi


"Lalah-lah Rey! kita sudah melaksanakan selama lima jam" kesal Ana, tubuhnya kini sudah tidak bisa di rasakan lagi, hancur, remuk menjadi satu tetapi suaminya itu seperti tidak ada lelah-leahnya sedikitpun. seandainya saja Ana tadi tidak mengeluh sakit, Ana yakin Rey akan mengagahinya lagi


"aku melakukannya agar anak kita segera hadir" ujar Rey menyetuh perut Ana


"kanpa kau ingin aku segera hamil? "


"umur mu sudah tidak muda lagi. wanita berusia tiga puluha tahun lalu lebih sangat riskan untuk hamil, itu bisa membahayakan nyawa sang ibu. dan aku tidak ingin kau kenapa-kanapa"


"tapi umur ku masih muda, aku baru tiga puluh tahun dan aku sehat-sehat saja. pasti aku akan baik-baik saka jika hamil di usia matang"

__ADS_1


"kau sudah tiga puluh tiga tahun di tahun ini! aku tidak ingin mengambil Resiko! aku ingin memiliki anak banyak dari mu Ana, aku tidak ingin anak tunggal"


"memangnya berapa Anak yang kau inginkan? "


"hmm, dua atau tiga. jadi selama enam tahun terakhir ini kau harus melahirkan dua atau tiga anak ku"


"Apa? "


"sudah aku katakan, semakin tua umurmu akan semakin riskan untuk hamil. jadi kau harus segera hami secepatnya "


"Astaga Rey! kenapa kau tidak ingin satu Anak saja?! memangnya tidak sakit apa melahirkan Anak?! "


"jika kau tidak menginginkanya tidak apa" Rey beranjak dari tidurnya


Ana yang melihat raut wajah kekecewan Rey, tiba-tiba merasa bersalah "Rey" panggil Ana meraih tanganya "kau mau kemana? "


"aku ingin membersihkan diriku"


"apa kau marah? "


"marah? untuk apa aku marah? "


"karena aku hanya ingin memiliki anak satu"


"aku tidak marah sayang" Rey menbelai wajah istrinya "aku lupa jika melahirkan pun juga bertaruh nyawa, aku tidak akan memaksamu untuk melahirkan anak banyak. aku tidak ingin menyakitimu"


kata-kata Rey sangat menyetuh hati kecil Ana. Ana paham jika Rey ingin memiliki anak lebih dari satu, pasti menjadi anak tunggal sangatlah kesepian maka dari itu dia ingin anak banyak


"aku mau kok melahirkan anak-anak mu Rey dan aku tidak keberatan berapaun anak yang kau inginkan"


"benarkah sayang ?"


"hem"


"I Love you " Rey mencium bibir Ana

__ADS_1


"I Love You Too" Ana membalas ciuman Rey, dan ciuman itu memulai kegitan panas Rey dan Ana kembali


...END...


__ADS_2