
selesai makan, Ana langsung kembali ke kantor dengan diantar Rey namun selama di perjalanan Ana hanya mengunci mulutnya rapat-rapat, dirinya kesal, marah kepada dirinya sendiri yang tidak berfikir panjang mengenai ajakan pacaran palsu Rey. sekarang dia harus menanggung akibatnya
saat Ana bertengkar dengan Rey dan kelaur dari ruangan privat, Mama Iren tiba-tiba menelfonnya dan meminta Ana di akhir pekan ini membawa Rey untuk di kenalakan kepada teman-teman arisannya
Ana sudah berusaha membantahnya namun sayang Mama Iren yang terlalu bahagia dan ingin segera memamerkan calon anak mantunya tidak begitu mendengar protes Ana,
baru juga satu hari pura-pura pacaran, mama Iren sudah mau mengenlakan Rey kepada teman-teman arisannya, mau tidak mau Ana harus kembali lagi ke Rey dan memintanya untuk melanjutkan hubungan palsu mereka
setelah lima belas menit Rey berkendara, sampailah mereka di besment kantor. Ana yang memang mood sudah buruk keluar dari mobil dengan membanting pintu
"Hei!!!... "triak Rey tidak terima mobil kesayangannya di perlakukan kasar "brani-braninya kau membanting pintu mobil ku?!"
Ana yang sudah kesal sampai di ubun-ubun tidak memperdulikan ocehan Rey, Ana langsung masuk ke dalam Lift meninggalkan Rey yang masih mengecek pintu mobil yang tadi di banting Ana
"dia itu kenapa? Apa baru pms? kenapa moodnya mudah sekali berubah-ubah" Rey bermonolok dengan dirinya sendiri sambil menatap punggung Ana yang menghilang di balik lift
Ruang Kerja
"Aagghh!!! "kesal Ana mengacak-acak rambut kribonya
Ana kesal kenapa dirinya bisa terjebak di hubungan yang rumit seperti ini, dirinya harus memikirkan cara agar hubungan ini tidak berlanjut lama
"Aa.. banar! " Ana memiliki ide jalan keluar dari masalahnya "aku akan berbicara jujur dengan Mama, bahwa aku dan Rey tidak berpacaran " sepulang kerja Ana akan jujur kepada Mama Iren, dari pada Ana harus terus membohongi orang banyak dan membuat situasinya semakin sulit
...***...
sepulangnya kerja
Ana berdiri di depan pintu rumahnya, dirinya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlaham, berusaha mengumpulakan keberaniannya untuk berbicara dan menyiapkan mental jika Mama Iren marah
__ADS_1
"Bisa! Aku pasti bisa!!" ucap Ana menyemangati dirinya sendiri lalu membuka pintu dengan yakin
pandangan mata Ana langsung di suguhkan barang belanjaan paper bag yang memenuhi meja berukuran dua kali tiga meter
"ini Apa ma? " tanya Ana heren melihat begitu banyak barang -barang belanjaan Mama Iren
"ini baju, Mama mau pakai untuk arisan besok"
"arisan kan masih dua hari lagi, kenapa Mama membeli banyak sekali barang-barang? bukan kah sudah cukup satu baju saja?
"Ck, kau itu bagaimana! Mama tidak menyiapkan buat arisan saja... "
"lalu semua baju-baju ini untuk apa? "
"ini aku akan memakainya saat bertemu dengan calon besan... ini ingin aku pakai saat acara pertunangan mu, dan ini aku akan menakainya di acara pernihakan mu" jawab Mama Iren, memperkenalkan satu-persatu isi paper bag yang tadi ia beli dengan rekomendasi dari Lyla
"bagaimana menurut mu? bagus tidak? " tanya Mama iren meminta pendapat Ana, Mama Iren mengambil salah satu baju dan meletakkannya dibadanya
"Apa?? kau tidak ingin menikah dengan Rey?" Mama iren menatap curiga
belum sempat juga Ana menjelaskan kebenarannya, datanglah tamu yang tidak di undang yaitu Ibu Siti. beliau bisa di bilang lembe turahnya di kampung Ana
"permisi, Assalamualaikum... " ucapnya dengan sopan
"Ee... ada ibu Siti, Ada apa bu datang ke sini?" Sapa Mama Iren pura-pura sopan, padahal dalam hatinya kesal. pasti dia datang ke rumah ingin mengulik informasi mengenai kabar Ana yang katanya sudah memiliki pacar
sudah tiga puluh tahun singel dan di gosipkan selalu di tolak pria, sekalinya mendapat pacar langsung CEO perusahan besar tentu saja akan menjadi gosip paling HOT di kampung Ana
sebagai Admin lambe turah, Bu siti tidak ingin ketinggalan berita. dia ingin membuktikan sendiri, mengkonfrimasi benar tidak gosip yang berdar di masyarakat itu benar atau hanya sebuah suara kosong saja
__ADS_1
"tidak apa-apa bu, kebetulan lewat sini makanya saya mampir" alasan Bu Siti
"oh.. begitu, silahkan... silahkan duduk" Mama Iren mempersilakan Bu Siti duduk di ruang tamu
Ana yang merasa tidak memiliki kesempatan untuk berbicara, lebih baik menunda ceritanya sampai tamu Mama nya pulang. Ana ingin kembali ke kamarnya untuk istirahat, belum juga beranjak dari tempat dirinya malah di tarik Mama Iren ikut duduk bersama Bu Siti
"saya dengar Mba Ana sudah punya pacar ya? " Bu siti memulai introgasinya
"Iya bu. pacar Anak saya CEO Isaac Group, dia itu sangat baik, murah hati, kemarin saja Anak saya di belikan baju dan tas bermerek... " Mama Iren menyombongkan calon anak mantunya yang kaya raya itu
"Ma... "Ana menyenggol Mama Iren, agar tidak berlebihan memuji-muji Rey. di dalam hati Ana sedit bersalah karena kenyataannya dia hanya pura-pura pacaran dengan Rey
"Apa benar itu Mba Ana? " tanya Bu Siti, mencari konfrimasi langsung
"iya benar dong Bu, kalau ibu tidak percaya besok bisa datang di arisan temen-temen saya karena saya sudah meminta Ana untuk mengajak pacarnya. besok bisa lihat sendiri, bagaimana tampannya calon Anak mantu saya" ada suatu kebanggaan tersendiri bagi Mama Iren, Anak pertamanya itu selalu di sebut prawan tua. mana ada hati ibu yang tidak sakit anaknya di katai demikian? sampai Mama iren berfikiran, yang penting Anak nya menikah mau tua mau muda, kaya atau miskin terpenting Ana bisa memiliki suami dan menghilangkan gosip yang ada di masyarakat
setelah pengakuan Rey kemarin jika dirinya adalah pacar Ana, Mama Iren segera meposting di media sosialnya kabar gembira itu dan sialnya Ana belum mengetahui kabarnya dengan Rey sudah menjamur di kalangan masyarakat
"wah... yang bener bu boleh ikut? " tanya Bu Siti antusias
"tentu saja.. "ucap Mama Iren dengan mantap
"ya sudah kalau begitu saya permisi dulu mau ajak yang lain.."
"Iya.. iya.. silahkan, bawa teman yang banyak biar rame ya" ucap Mama Iren bangga tercampur sombong, karena bisa memamerkan Anak mantunya yang tajir melintir
selepas keberpergian Bu Situ, Ana langsung menyindak Mama Iren. karena dirinya saja belum mengajak Rey dan belum tentu akhir pekan ini Rey bisa datang atau tidak
"Mama kenapa mengundang mereka? " Tanya Ana kesal
__ADS_1
"memangnya kenapa tidak boleh? Mama ingin membungkam mulut lancip mereka yang setiap hari mengosipkan dirimu! katanya kamu kena kutukkan lah, tidak laku lah, kena ini itu, si prawan tua! Mama ingin membuktikan jika Anak Mama ini bisa menikah dan memiliki keluarganya sendiri"
dibalik kesombongan Mama Iren ternyata ada, hati yang tersakiti. bertahun-tahun Mama mendengarkan omongan tetangga yang menggunjing anaknya. Ana tidak sampai hati mengutarakan kebenarannya, kebahagian terpancar jelas di wajah Mama Iren membuat Ana mengurungkan niatnya untuk menceritakan yang sesungguhnya, apa lagi kabar bahwa dirinya punya pacar sudah tersebar luas di masyarakat