
entah berapa lama Ana tertidur, dia terbagun dan langsung di kejutkan oleh Rey yang menatap dirinya dengan bertelanjang Dada dan menopang kepalanya dengan satu tangan
"kau sudah bangun? sapa Rey dengan Ramah..."
sementara itu Ana yang melihat deretan roti sobek milik suaminya, tiba-tiba merasa malu terlebih mengingat apa yang baru saja ia lakukan. Ana yang sangat malu spontan menutupi wajahnya dengan selimut
"Hei...kenapa kau menutipi wajah mu? " Rey berusaha membuka selimut itu
"aku sangat malu... "
"kanapa harus malu? bukanya kau sudah melihat semunya? " akhirnya Rey berhasil menyingkirkan selimut itu dari wajah Ana dan langsung menghimpit Ana hendak menyerangnya lagi
"Rey kau mau Apa? " Ana panik! mereka sama-sama masih polos, kulit yang saling bersentuhan membuat Ana merasa tidak nyaman
"aku hanya menuruti permintan mama. dia ingin seorang cucu, jadi semakin sering kita melakukannya cucu Mama Iren akan segera hadir" Rey langsung menyerang istrinya itu, dengan tubuh yang sama-sama polos memudahkan Rey untuk memasuki istrinya kembali. di bawah selimut yang sama, Rey melakukkan ronde ke dua
satu jam telah berlalu, Rey sudah mencapai puncaknya. dia langsung terkapar berbaring di sebelah Ana, sementara Ana setelah melakukan kegiatan itu, dia merasakan sakit di area perut. Ana sangat kesakitan sampai ia merintih
"sayang kau kenapa? " tanya Rey khawatir "Apa aku terlalu keras tadi? " tanya-nya tambah panik "sayang bicara sesuatu jangan diam saja!" Rey frustasi
"aku lapar! kau hanya berfikir membuat cucu untuk Mama, tapi kau tidak berfikir memberiku makan! apa kau ingat? aku belum makan atau minum setibanya di sini! " kesal Ana, Rey tidak memperdulikannya
"Astaga!!! maaf sayang aku lupa! " Rey segera bangkit dan hendak menujut pintu keluar
"kau mau kemana? " tanya Ana
"tentu saja memesan makanan untuk mu sayang " Rey berbalik kembali menghadap Ana
"kau akan keluar dengan bertelanjang bulat?! " sentak Ana membulatkan matanya sempurna
Rey mentap ke dirinya sendiri, dia baru sadar jika dia tidak mengenakan apa pun. dia sangat bersalah lupa memesan makanan untuk Ana, sehingga dia tidak memperhatikan Dirinya yang masih telanjang
"Astaga aku lupa! " Rey menopok jidatnya
"kau pesan saja lewat layanan telepon kamar, sekarang bantu aku ke kamar mandi" tubuh Ana sangat remuk, terlebih di area intinya Ana yang masih perih dan sakit, Ana harus berjalan hati-hati dan sedikit membuka kakinya.
"kau mau apa? " tanya Rey menghampiri Ana yang berjalan seperti siput, setelah ia memesan makanan
__ADS_1
"gendong... " Ana sudah tidak sanggup lagi berjalan
"kanapa kau pakai ini?! bikin berat saja!" Rey menyingkirkan selimut yang di gunakan Ana untuk membungkus dirinya
"awas saja kalau kau menyerang ku lagi!" ancam Ana
Rey menahan silivanya kuat-kuat saat menyingkirkan selimut itu, ia mengeleng-gelengkan kepalanya mengambil kesadarannya kembali agar tidak menyenangkan istrinya. di gendongannya Ana menuju ke kamar mandi
...***...
Jakarta Indonesia
saat ini di Jakarta sedang malam hari, Zen sedang duduk bersandar di ranjang miliknya, melihat berita acara pernikahan Ana dan Rey di ipead. sementara Luna sudah menggunakan lingeri seksi transparan dan hendak mengoda Zen
Luna dengan gaya yang sensualnya mendekati Zen, dan menutup ipead milik suamninya itu. Luna memberikan rangsangan kepada prianya, sudah berbagai cara dan tehnik Luna gunakan namun Zen egan untuk membalas
"Luna hentikan! " bentak Zen, dia adalah pria normal yang bisa terangsang. namun ia tidak ingin melakukanya dengan Luna
Luna sudah Zen anggap sebagai adiknya sendiri, selama dua tahun pernikahan Zen sekuat tenaga menahan hasratnya yang setiap malam di pancing oleh Luna. Zen menganggap jika ia melakukannya maka dia adalah orang yang paling biadap di muka bumi ini, kerana dia melakukkannya kepada adiknya sendiri
kedekatan Zen dan Luna di anggap Zen sebagai kakak dan adik bukan sebagai pasangan. namun siapa sangka perhantin, kasih sayang yang Zen berikan sebagai bentuk kakak kepada adiknya di salah artikan oleh Luna, yang menganggap Zen adalah seorang pria buka sebagai kakaknya
Zen yang ia kenal dulu adalah orang yang sangat hangat dan baik sampai ia jatuh cinta, namun setelah mereka menikah Zen bersikap dingin dan acuh
"sudah berapa kali aku katakan aku hanya menganggapmu sebagai adik. tidak lebih! dan akan biadap jika aku melakukanya kepada adik ku sendiri" Zen menasehati Luna
"tapi aku tidak ingin di anggap seperti itu! aku ini istri mu! tidak ada hubungan darah diantara kita! 0tapi aku belum pernah kau sentuh sekalipun! memangnya apa yang dilakukan wanita jelek itu sampai tidak tergantikan di hati mu?! "
"Luna tenanglah! "
"apa kau marah karena kau tidak bisa menikahinya? dan sekarang ini kau marah karena dia mungkin sudah tidur bersama-"
Palkkk
Zen sudah di puncak amarahnya, dia sudah tidak bisa menahan lagi. tanpa sadar ia menampar pipi Luna sangat keras, sampai gambar telapak tangannya tercetak jelas di sana
"Lun.. Luna maafkan aku" sedetik kemudian Zen merasa bersalah sudah menampar Luna
__ADS_1
"aku benci pada mu! aku beci!!! " Luna pergi dari kamar, dia mengapai jaket dan juga kunci mobil. dia ingin pergi dari rumah, atau pergi dari dunia ini sekalian!
"Luna! Luna! " triak Zen memanggil istrinya, tahu jika Luna pergi menggunakana mobil. Zen mengikutinya dari belakang
...***...
Roma Italia
kini Ana dan Rey sedang duduk di balkon hotel kamarnya. Rey sedang bersusah payah menenangkan istrinya yang sedang menangis, sudah sekitar sepuluh menit Ana menangis
"sayang sudah ya... sudah" bujuk Rey
Huaaa... Huaa...
"iya aku minta maaf..."
"kau tidak merasakan sakitnya jadi perempuan!! " bentak Ana. saat Ana di kamar mandi, dia ingin buang air kecil namun miliknya semakin tambah perih jika terkena air lalu ia pun menangis
"pokoknya aku tidak mau lagi!!! " triaknya sambil terisak
"apa? jangan begitu sayang, nanti cucu mama bagaimana membuatnya? "
"bodok Amat!! Huaaa... Huaa... "
"baiklah habis ini kita jalan-jalan shopping"
"Shopping? " tanya Ana memastikan, dia mulai berhenti menangis. entah lagi bad mood, marah, kesal wanita pasti akan takhluk jika di ajak shopping
"hem...kau boleh beli apa saja yang kau mau"
"benarkah? " tanya Ana antusias, matanya kini berbinar -binar
"iya sayang... " dirasa sudah bisa menjinakkan Ana, Rey mendekat dan menghapus jejak air mata Ana di wahanya. Ana pun tersenyum lebar
"tapi bagaimana kita keluar? kita tidak memiliki baju" protes Ana. karena saat ini mereka menggunakan Bathroben
niat hati Rey ingin menghabisakan bulan madunya di kamar saja, dan hanya menggunakan Batheroben agar memudahakan aksi Rey. namun harus gagal karena Ana menangis kesakitan
__ADS_1
(sabar Rey! ingat Ana masih perawan, tentu saja dia kesakitan kalau kau tancap gas teruss! ") maaf Author ikut komen π