Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
Part 53


__ADS_3

Ana memasuki rumahnya dengan tidak semangat, akhir-akhir ini adalah hari-hari yang paling berat bagi Ana. dua hari terakhir ini telah menguras emosi, perasaan Ana. Ana benar-benar lelah


"Apa tadi itu Rey? kenapa tidak kau suruh masuk? " sapa Mama Iren, sempat melihat Ana keluar dari mobil Rey


"aku lelah ma, aku ingin istirahat " jawab Ana tidak semangat


"Ana kau itu kenapa? akhir-akhir ini kau murung dan selalu mengunci pintu kamar? "


"tidak apa-apa Ma, aku hanya lelah dan baru ingin sendiri saja"


"kau yakin baik-baik saja? "


"hm"


"apa kau sudah menghubungi ayah mu? dari kemarin dia menggagu Mama karena ingin bicara dengan mu"


"aku akan menghubunginya segera" Ana langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya tidak lupa ia mengunci pintunya


"mandilah air hangat terlebih dahulu sebelum kau tidur! " triak Mama Iren dari luar kamar Ana


"HM! " jawab singkat Ana


"apa pekerjaan kantor terlalu banyak? " Mama Iren bermonolok dengan dirinya sendiri, Mama Iren berfikiran jika perubahan sikap Ana karena terlalu banyaknya tugas dari kantor


Ana yang pulang setelah jam makan malam, (Ana sudah makan malam bersama Zen) membuatnya lansung masuk kamar, hari ini adalah hari terberat bagi Ana


Ana membaringkan tubuh mungilnya di atas tempat tidur, tubuhnya memang tidak lelah tapi perasaan dan emosinya yang membuat sekujur tubuhnya menjadi melemah


sejujurnya Ana masih belum sanggup berbicara dengan Mama Iren mengenai kandasnya hubunganya dengan Rey, Ana masih menunggu momen yang tepat


di dalam isi kepala Ana ada banyak hal yang dia pikirkan. bagaimana ia menjelaskan kondisi ini kepada orang tuanya, orang tua Rey, kepada Zen dan juga kepada lingkunagan masyarakat nya?


bagaimana Ana bisa menerima semua amarah dari orang-orang tersebut saat mereka mengetahui kebenarannya? sanggupkah Ana menghadapinya?


air mata Ana tiba-tiba menetes mengikuti jalur air mata yang sudah ter ukir di ujung sisi matanya, Ana menangis bukan karena ia bingung menghadapi amarah orang-orang kelak


namun Ana bersedih karena mendapati kenyataan dia harus berpisah dengan Rey. Ana membuka galery di ponselnya ia melihat foto-foto yang pernah di ambil Rey untuknya saat mereka berlayar di laut


sedikit senyum getir saat mengingat betaba bahagianya Ana saat itu, dan sekarang dia harus melupakannya kenangan manisnya


"Ana! kau harus bisa melupakan Rey, sekarang kau sudah memiliki Zen. fokuslah kepada Zen, Zen adalah cinta pertama mu" batin Ana menyadarkan dirinya sendiri


Ana mengingat kembali bagaimana mana ia menerima Zen sebagai pacarnya


flasbcak on


tadi pagi, waktu rapat sponsor utnuk Casper du Hotel, Ana pergi bersama dengan Zen menggunakan sepeda motor

__ADS_1


Ana yang di ambang ke galauan, harus menemukana alasan yang kuat untuk menyudahi hubunganya dengan Rey, mulai menayakan keseriusan Zen terhadapnya


"Zen" panggil Ana di saat Zen sedang fokus ke jalanan


"iya"


"apa tawaran mu masih berlaku? "


"tawaran? tawaran apa? "


"tawaran, aku menjadi pacar mu"


Shiiiitttt!!!


Zen mengerem mendadak, dan tanpa bisa Ana kontrol tubuh mungil Ana menabrak tubuh kekar Zen


"Zen kau bisa bawa motor tidak! " omel Ana


"barusan kau bilang apa? " tanya Zen mengabaikan omelan Ana


"apa tawaran berpacaran masih berlaku? "


"tentu saja" jawab Zen dengan mantap


"kalau begitu aku mau jadi pacar mu"


"jadi mulai hari ini kita berpacaran? " tanya Zen sekali lagi memastikan


"HM" Jawab Ana singkat


Zen begitu bahagia. akhirnya cintanya di terima oleh Ana, langsung turun dari motornya dan memeluk kekasih barunya itu


flasback off


...***...


pagi hari yang cerah sudah menyambut, namun Ana masih belum lebih baik dari kemarin. semalam Ana tidak bisa tidur kantungmatanya sudah mulai menghitam. sungguh sakit hati (galau) membuat semua anggota tubuhnya merasakan sakit


"kak siapa pria yang ada di depan rumah? " tanya Lyla tepat saat Ana duduk hendak bergabung sarapan


"pria? Pria siapa? " tanya Ana bingung, karena ia tidak merasa memiliki janji dengan siapa pun


"tidak tahu, cakep sih. maskulin banget apa lagi pakai motor suport, idaman Lyla kak" ucap Lyla mengagumi Zen


"Ck, kau itu! sama abang cilkok kalau di kasih bedak juga kau bilang cakep! " ejek Ana


"yyeee.. kakak menghina kreteria cowok ku saja! " sebal Lyla tidak terima kreteria cowok idamanya di samakan dengan abang-abang tukang cilok

__ADS_1


namun keluhan Lyla tidak di gubris Ana, karena Ana berjalan ke halaman depan untuk menemui Zen


"Zen? sedang apa kau sepagi ini kemari? "


"good morning babby" sudah menjadi candu bagi Zen, semenjak mereka pacaran. Zen selalu melingkarkan tanganya ke pinggang ramping Ana


"kau ngapain pagi-pagi ke rumah? "


"aku sengaja ke sini pagi untuk menjemput mu, sekalian kita sarapan bareng"


"kanpa kau tidak bilang terlebuh dahulu? "


"saat aku bangun di pagi hari, aku ingin bertemu dengan mu dan makan pagi bersama mu, jadi aku langsung kemari. tidak perlu janji-janjian, kau mau kan makan pagi bersama ku? "


"baiklah, aku pamitan sama Mama dulu sambil ambil tas kerja"


"oke babby"


Ana kembali kedalam rumah untuk mengambil tas dan berpamitan kepada Mama Iren. Ana masih memperkenalkan Zen sebagi teman SMA nya kepada Mama Iren dan Lyla buka sebagai pacar


Zen setelah menjadi pacar Ana, dia sangat perhatian dan romantis kepada Ana. melihat kantung mata Ana yang semakin menghitam Zen sengaja mengajak Ana makan bubur ayam di pinggir jalan


Zen takut kekasihnya itu akan jatuh sakit "apa tidurmu semalam tidak nyenyak? " tanya Zen


"sudah dua hari ini aku tidak bisa tidur" jawab Ana lesu


"kau pasti sangat kelelahan, kau harus makan yang banyak" Zen memebrikan bubur ayam miliknya kepada Ana


Ana tersenyum melihat manisnya perilaku Zen kepadanya "terima kasih "


"ada satu lagi obat yang mujarap, agar kau bisa bersemangat lagi"


"apa itu? "


"benar kau ingin tahu? "


"hem"


"kemari" Zen memberikan isyarat agar Ana kebih mendekat kepadanya


"apa? " tanya Ana setelah mendekatkan wajahnya


Cup


tanpa permisi, tanpa aba-aba Zen mengecup bibir Ana dengan cepat. Ana yang mendapat serangan dadakan itu merasa shok, sedetik kemudian mukanya memerah karena malu. mereka melakukanya di ruangan terbuka banyak orang yang melihat


"Zen! malu tauk! " Ana menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya

__ADS_1


ada juga seseorang yang wajahnya memerah namum bukan karena malu melainkan marah. rupanya tidak jauh dari sana mobil Rey yang sedang berhenti karena lampu mereh, tidak sengaja melihat dua sejoli itu sedang di mabuk asmara (biasa pasngan baru, masih mesra-mesranya)


__ADS_2