
Di halaman Kantor, Jay sudah menunggu Rey. dia sudah membukan pintu mobil di bagian penumpang untuk Rey
Rey yang hendak masuk kedalam mobil, menghentikan langkahnya saat mantanya menangkap sosok, yang menyebabkanya ia pergi
dari sebarang jalan, Rey bisa melihat Ana yang sedang duduk di Cafe dapan kantornya. dari kaca yang bening Rey bisa sangat jelas melihat wajah Ana, tidak ada salahnya kan jika Rey ingin melihat wajah itu untuk terakhir kalinya kan?
"jaga dirimu baik-baik, semoga kau bahagia dengan pilihan mu" pamit Rey dalam hati
Rey hanya melihat sisi wajah Ana saja, ia tidak melihat dengan jelas raut wajah kesedian Ana.
sekarang ini adalah jam istirahat kantor, Ana yang sedang berada di Onne Cafe, dia sengaja datang kesana untuk bertemu dengan sahabat baiknya Rani
"Rani... " Ana melambaikan tanganya kepada Rani saat sahabatnya itu membuka pintu masuk Cafe tersebut
Rani yang masih marah, karena tidak mengetahui apa-apa antara hubunga Rey dangan Ana duduk di depan Ana dengan wahah yang kesal. perasaan Rani terluka, Ana dan Rani sudah bersahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar namun Ana masih saja enagn terbuka dengan apa yang ia alami, termasuk juga hubungan palusnya dengan Rey. Rani menganggap seolah-olah dirinya tidak berarti bagi Ana, padahal Ana mengetahui segala aib Rani
Rani mengatahui hubungan palsu Ana dan Rey dari gosip yang berdar di kantor, sebagai sahabat dekatnya Rani merasa tidak ada artinya. karena Ana menyembunyikan hal itu darinya
"sudah jangan marah... aku sudah memesankan minuman kesukaan mu" Ana menyodorkan minuman kelapa Rani
Rani yang masih cuek engan untuk menanggapi Ana
Ana menghela nafasnya, disisi lain Ana bisa mengerti jika Rani marah "akan ku jelaskan semuanya secara perlahan" bujuk Ana namun Rani masih tidak bergeming
"jika kau mengacuhkan ku seperti ini, lantas kepada siapa lagi aku bisa bercerita? " suara Ana bergetar, tanpa terasa Air matanya menetes
"semua orang mengacukanku kau, Mama, Lyla, Zen berubah menjadi dingain. hanya ayah saja yang merangkulku dengan hangat hiks...hiks... " Ana mengelurakan semua sesak yang ada di hatinya yang ia pendam beberapa hari ini
Rani yang melihat sahabat baiknya menangis seperti itu, berubah menjadi iba. Ana tidak pernah menagis sekeras itu, dari suara tangisan Ana, Rani bisa mendengar jika situasi yang sedang di hadapi Ana kini benar-benar berat
__ADS_1
"Ana.. maafkan aku, aku tidak bermaksud mengacukan mu" Rani mulai melembut, Rani berpindah duduk, memeluk menenagkan dan memberi dukungan untuk sahabat baiknya itu
"aku juga tidak ingin berada di situasi ini Ran! aku tidak ingin! hiks... hikss" tangis Ana memilukan
"iya aku ngerti..." Rani mengusap-usap punggung Ana
Falsback on
tiga hari lalu
Setelah puas menangis di dalam Mobilnya Jay, Ana keluar dari sana setelah ia merasa lebih baik dan siap untuk mengungkapkan kebenaran kepada Mama Iren dan juga lyla menganai hubungan palsunya dengan Rey
"Anda sudah lebih baikan Nona? " tanya Jay saat Ana keluar dari mobilnya
"iya, terima kasih Jay" ucap Ana benar-benar tulus kepada asisten mantan bos nya itu. karena jarang ada pria yang peka, dan memberikan ruang untuk Ana menangis
"hem.., kau hati-hati di jalan"
"baik Nona"
setelah melambaikan tangan ke arah mobil Jay yang menghilang di persipangan jalan. Ana membalikkan badanya menatap rumahnya yang sebentar lagi akan menjadi medan perang baginya
Ana mengambil nafas panjang kemudian mengelurakanya dengan perlahan, solah-olah dia siap untuk berperang. perlahan-lahan Ana melangkahkan kakinya menuju pintu masuk. Ana menyakinkan dirinya sendiri, dia pasti bisa menjelaskannya dengan perlahan -lahan kepada Mama Iren
dengan yakin Ana membuka pintu rumahnya, kemudian ia masuk. di sana Ana langsung di sambut oleh tatapa tajam oleh Mama Iren dan juga Lyla yang sedang duduk di sofa ruang tamu
Ana menelan silivanya dengan susah payah, dia tiba-tiba menjadi gugup saat melihat Mama Iren
"Ma-mama di-disini?" tanya tergagap-gagap karena gugup
__ADS_1
"Ana dari mana saja kau ini? " tanya seseorang dengan suara beratnya berdiri, dari sofa yang membelakangi Ana. karena tubuhnya hampir tidak terliha dari sudut mata Ana, membuat Ana terkejut dengan kehadiran pria itu
"kenapa kau tidak pernah mau mengangkat telfon, atau menbalas pesan dari ayah? kau tahu ayah sangat khawatir terhadap mu" ayah Edwin langsung memeluk putri kesayangannya melepas rindu sekaligus rasa khawatirnya
"a-ayah? kapan ayah pulang? " tanya Ana masih saja gugup, karena dia bisa merasakan suasana dingin di ruangan tersebut
"Apa kau tahu Tuan Alvan? " Ayah Edwin melpas pelukannya "dia beberapa waktu lalu, datang ke kantor ayah dan memberi tahu mu jika kau akan menikah, bahkan kalian sudah bertunangan tapi kenapa ayah tidak tahu? "
"Eee.. itu... itu... "
"jawab Ana.. kau sendiri yang mengatakan jika ayah mu sedang sibuk bekerja sehingga tidak bisa hadir di acara pertungan mu? " tanya Mama Iren berjalan mendekati Ana tanpa nepelas kontak mata dengan Ana
"Ee.. memang, memang wa-waktu itu ayah bilang kalua sedang sibuk" Ana menjadi gugup akut saat di sudutkan oleh Mama Iren
"Hei, sayang. sesibuk-sibuknya Ayah. ayah akan bela-balain datang di acara sepenting itu "
"kau dengar sendiri? bagaimana bisa seorang Ayah tidak di undang di acara pertunagan putrinya sendiri?! sekarang jelaskan kepada Mama, sebenarnya apa yang kau sebunyikan dari Mama? " desak Mama Iren sudah kehikangan kesabaran
"Maafin Ana Maa.. maaf.. " Ana sudah tidak bisa membendung air matanya, ia berlutut memohon pengampuanan ibunya
"apa yang sebenarnya kau lakukan Ana? " tanya Ayah Edwin bingung
"Aku dan Rey hanya berpura -pura pacaran, kami sudah lelah dengan perjodohkan. kami ingin hidup seperti orang lain yang menemukan cinta mereka tanpa melalui perjodohan. karena tujuan itu kami memutuskan untuk melakukan hubungan palsu sampai kami menemukan jodoh kita masing-masing"
"Apa? jadi selama ini kalian menipu Mama?! apa kau tidak berfikir tentang perasaan Mama saat kau melakukan kebohongan itu?! sekarang muka Mama akan di taruh mana saat mengahadapi Tetangga?! Mama benar-benar kecewa dengan mu Ana! " Mama Iren pergi dari sana dengan berlinag air mata
"Maa...Maafin Ana maa!! " rengek Ana,dia benar-benar tidak ada maksudtan untuk menyakiti perasaan siapa pun
Lyla pun juga pergi dari sana, mengikuti langkah Mama Iren masuk kedalam kamar. disana hanya tinggalah Ayah Edwin yang berusaha menenagkan Ana dan mau mendengar semua penjelasan Ana
__ADS_1