
Ana hanya diam memantung dikungkungan Zen. wajahnya terasa panas, Ana tidak berani menengok ke samping. dia hanya memunduukan kepalanya kebawah, dia juga mendengar pengunjung lain yang iri dengan keromantis Zen
"oke... sedikit lagi... sedikit lagi... " triak Zen tepat di telinga Ana, yang masih berusaha mendapatkan boneka dari mesin itu
dari pada hanya berdiam diri lebih baik Ana ikut menyemangati Zen untuk mendapatkan bonekanya
"Ayoo... Ayo... sedikit lagi" Ana ikut bersemangat saat capit itu perlahan-lahan turun hendak mecapit satu boneka
"Aaaaaaa...." triak Ana terkejut, begitu pun dengan Zen. mereka berdua sama-sama terkejut sehingga menjatuhkan capitnya di posisi yang tidak sempurna
bagaimana Ana dan Zen tidak terkejut dari sebrang mesin tiba-tiba ada seseorang yang melihat ke arah mereka dengan tatapan tajam. sepeti singa yang sedang mengawasi mangsanya
"Rey!! kau mengagetkan saja! " protes Ana saat Rey sudah berada di depan mereka
"aku hanya melihat" jawab Rey tanpa berdosa sudah mengganggu dua sejoli itu
Angela yang sudah terlanjur masuk ke dalam toko tidak menyadari jika Rey tidak berada di belakangnya. mata Angela sudah seakan terhipnotis dengan tas-tas bermerek itu
dia langsung memegang tas itu dan kebetulan ada penggunjung lain yang hendak mengambilnya juga
"permisi saya duluan yang melihatnya... " ucap Angela
"saya duluan yang mengambilnya " ucap wanita itu tidak mau kalah
Agela berusaha bersabar disini, dia memanggil spg untuk memberikan tas yang sama seperti yang dia inginkan. namun sayang tas itu tinggal satu-satunya di toko itu
"permisi Nona, itu tas milik saya... " Agela merebut tas itu saat pengunjung itu hendak membayarnya
"kembalikan tas ku, aku sudah mau membayar! " wanita itu hendak merebut balik tapi Angela menjauhkannya
"mba saya bayar dua kali lipat tas ini tolong di bungkus" Angela memberikan tas itu kepada kasir
"baik Nona" jawab kasir
"Hai.. tante, mentang-mentang sudah tua jangan anggap saya tidak berani dengan Anda! " triak wanita itu menyala
"Apa?! Tante? kurang ajar! "
" semuanya lima puluh juta Nona... " sela si kasir sengaja agar dua pengujung itu tidak jadi berkelahi
__ADS_1
"baik lah.." jawab Agela "kenapa lihat-lihat kau tidak sanggup membayarnya? " tantang Angela dengan senyum kemenangan
"sial! aku tidak mungkin membeli tas itu lebih mahal! bisa-bisa aku tekor" batin si wanita itu dalam hati
Angela mencari-cari Rey kesana kemari, dan dia baru sadar jika Rey tidak bersamanya. "Sial, diaman Rey? " batinya
"Nona Anda jadi memberlinya? " desak si kasir karena antreanya orang yang hendak membayar sudah mulai memanjang
"sebentar mba, saya cari pacar saya dulu. nanti saya akan kembali lagi ke sini. tolong simpankan tas itu untuk saya" ucap Angela
"kalau tidak sanggup bayar tidak perlu buat alasan! kau tidak lihat antrianya sudah memanjang gara-gara kau?! " sela si wanita tadi "silahkan bungkus mba biar saya yang bayar" wanita itu memberikan kartu debitnya kepada kasir
"Kau?!... " sebal Angela
"Mama... mama... Uncle Ley sudah di mesin boneka" ucap Gibran yang dari tadi di acuhkan mamanya, untung anak itu pandai mengikuti Mamanya terus jika tidak bisa-bisa dia hilang di tengah keramaian Mall
"Apa? Dasar Rey! " Agela semakin marah, mengetahui Rey meninggalakanya
"lain kali kalau mau belanja pastikan dulu dompetnya ikut... Bey... " Ejek wanita itu kepada Agela, lalu pergi meninggalkan Agela setelah dia membayar Tasnya. sepetinya wanita itu tahu, tipe -tipe wanita seperti Agela adalah tipe wanita yang akan meloroti harta pasangannya
Agela keluar dari toko itu dengan perasaan malu sekaligus marah. Agela bertekad akan memarahi Rey habis-habisan
"Apa?! " Zen sedikit tidak terima di ejek seperti itu
"Tuan Rey yang terhormat, urus saja urusan mu sendiri" Ana berusaha menengahi ke dua kubu yang sudah menyalakan tanduk masing-masing di kepalanya siap bertarung. baik Zen maupun Rey sudah saling menatap tajam satu sama lain
Agela berjalan ke tempat dimana mesin capit boneka itu berada, Agela berjalan marah sambil mengandeng Gibran
"Rey! " triak Agela saat melihat Rey yang sepertinya juga sedang beradu argumen dengan penggunjung lain
Ana, Rey dan Zen menoleh ke arah sumber suara. ada rasa kecewa di hati Ana saat melihat wanita itu yang berjalan semakin mendekat ke arahnys adalah kekasih Rey "jadi kau kemari dengan pacar mu? " batin Ana. berharap Rey kemari sendirian
"Uncle.. Uncle.. " panggil Gibran langsung membaur kedalam pelukan Rey
Angela yang awalnya marah, karena melihat sekretaris Rey dia berusaha untuk tenang
"kau Ada disini? "tanya Angela ramah menyapa Ana
Angela sebelum sudah pernah bertemu dengan Ana, di saat dia hendak bertemu dengan Rey di kantor. dan dari sana Angela tahu jika Ana adalah sekretarisnya
__ADS_1
"Apa kabar nona Angela" sapa balik Ana tidak kalah ramah
"kabar ku baik"
"uncle.. uncle...Giblan ingin boneka" rengek bocah lima tahun itu
"Gibran mau? " tanya Rey
"hem" Anak itu mengangguk semangat
"Gibran turun dulu, biar Uncle yang mendapatkannya untuk mu"
Ana merasa sedih sekaligus bahagia melihat ke akraban antara Rey dan anak Agela. Ana ikut bahagia karena Gibran mau menerima Rey sebagai calon ayahnya. namun Ana juga sedih karena harus kehilangan Rey
"bagaimana kalau kita bertending tuan? " tantang Zen, harga diri seorang pria di taruhkan di sini
Zen tidak terima jika dia di bilang payah oleh Rey. menatang Rey untuk mendapatkan boneka sebanyak-banyaknya
"oke, siapa takut" jawab Rey menerima tantangan Zen
dengan kekuasaan Rey sebagai CEO di Mall tersebut, Rey memborong semua koin dan melarang pengunjung lain untuk memainkan capit boneka selagi Rey dan Zen sedang bertarung
"Zen semangat... semangat... " triak Ana di pinggir barisan menerikai keksihnya
"tentu Babby... aku akan mendapatkan boneka besar untuk mu" ucap Zen percaya diri lalu meberika kiss bye ke arah Ana. Ana yang mendapatkan kiss bye dari Zen hanya tersipu malu
"Cih.. kuno! " Rey melihat keromantisan Zen yang menurutnya sudah ketinggalan jaman
"Uncle semangat.. Uncle semangat... " triak Gibran tidak ingin uncle nya kalah dalam pertandingan
mesin itu hanya satu, jadi Zen dan Rey harus bergantian untuk memainkannya. pertandingan nya semakin seru dan senggit di tambah lagi penggunjung lain ikut melihat pertandingan mereka. mereka sudah seperti Artis yang di kerumuni banyak orang
"Zen boneka yang sebelah kanan.. sebelah kanan" triak Ana memberika aba-aba kepada kekasihnya
"sedikit lagi.. sedikit lagi... Yahhhhh.. padahal sedikit lagi.. " triak Ana kecewa, padahal boneka itu hampir saja jatuh ke dalam lubang
sekarang giliran Rey untuk main, melihat sasaran empuk karena di mudahkan oleh Zen sebelumnya. Dengan mudahnya Rey mendapatkan boneka itu
"Yes Dapat! " triaknya bahagia berhasil mendapatkan satu boneka
__ADS_1
"Ye... Ye... Uncle hebat" Triak Gibran kegirangan, saat Rey mendapatkan boneka pertemanya