
Setelah memberikan cek tersebut kepada babysister, Jay langsung bergegas menyususl Rey masuk ke dalam mobil. di dalam Mobil Rey sudah menunggunya, dia duduk di kursi penumpang sementara Jay masuk duduk di kursi kemudi
"kau sudah memberikan cek itu?"
"sudah tuan... apa rencana kita selanjutnya? "
"apa pagi? sesuai rencana yang sudah aku buat... kita jemput Gibran di sekolah "
"baik Tuan"
...***...
Jakarta TK School
ada seorang wanita berumur tiga puluh tahunan sedang duduk bersama dengan para orang tua, di depan pintu gerbang sekolah. mereka sedang menunggu anak-anak mereka pulang sekolah
"mba Ana?" tebak salah satu ibu-ibu tetangga jauh Ana, yang merasa mengenal Ana
"Iya bu, saya Ana" jawab Ana dengan tersenyum ramah
"Mba Ana juga mau menjemput anak sekolah? "
"iya "
"Ohh... mba Ana sudah menikah ya? kenapa ibu tidak di undang? tau-tau anaknya sudah besar saja? "
"hehehe..., saya memang belum menikah bu" jawab Ana sambil tersenyum di paksakan
"oh? belum ya? terus di sini jemput siapa? " tanyanya lagi
"saya di sini jemput Anak teman saya, kebetulan dia sedang repot jadi saya yang menjemputnya... "
saat ibu itu sedang berbicara dengan Ana tiba-tiba, datang ibu lain menarik ibu yang menjadi lawan bicara Ana untuk menjauh
"Apa kau tidak tahu? dia gagal menikah"
"Apa? benarkah??"
__ADS_1
"gayanya nya saja sok-sok an, belagak punya pacar CEO kaya tapi apa? ternyata mereka hanya berhubungan palsu! "
"Astaga?! "
"Mama nya sudah sok-sok an menyombongkan calon menantunya yang kaya raya, tapi realitanya Zoonkk! wkwkwk"
"Ck, jangan begitu...tidak baik bahagia di atas penderitaan orang lain"
"salah sendiri, dia yang mulai pamer duluan! kalau jelek ya jelek saja tidak usah berkhayal memiliki mantu tampan dan kaya"
Ana lebih memilih untuk pura-pura tidak mendengar apa yang di ucapkan ibu-ibu itu, dia lebih memilih diam menahan emosinya. sejujurnya hati Ana sakit, sesak, ingin sekali membungkam omongan tetangga yang selalu menilainya salah
beruntung tidak lama kemudian bel suara pulang pun berbunyi. anak-anak TK itu berhamburan keluar dari kelas, berlarian menghampiri Orang tua mereka masing-masing
"Akira... " triak Ana memanggil Akira sekaligus, berusaha melupakan omongan ibu-ibu Gibah tadi
"tante? " akira bingung tumben Ana yang menjemputnya di sekolah. biasanya juga Uti Iren "Uti Iren kemana tante? kok tante yang jemput Akira? "
"Uti Iren ada di rumah, Tente kangen sama Akira makanya jemput Akira kemari" Ana langsung mengendong Akira
"tante kenapa? kok menangis? " tanya Akira saat melihat mata Ana yang berkaca-kaca
"mari Mba Ana... saya duluan ya Mba Ana... " pamit ibu-ibu gibah tadi
"iya bu silahkan... " balas Ana berusaha ramah kepada mereka
"tante turunin Akira... Akira malu sama teman-teman" Akira muali di ejek teman-teman sekolahnya
"baik-baik, anak manis" Ana menurunkan Akira kemudian mengandeng tangan Akira, siap untuk pergi dari lingkungan sekolah
"tunggu tante... "
"Ada apa? "
"Gibran...! sini! " triak Akira berlari masuk ke dalam halaman sekolah lagi, melepas gengaman tanganya Ana
Ana yang melihat Anak yang di hampiri Akira merasa tidak asing lagi, dia tahu anak itu. dia adalah anak Agela, dulu dia pernah pergi makan bersama dengan Rey dan juga Agela
__ADS_1
"tante kenalin ini Gibran..anak baru di kelas ku" Akira memperkenalkan Gibran kepada Ana
"iya tante sudah kenal kok... " Ana menunduk menyamakan tingginya dengan tinggi Gibran "Gibran masih ingat tante kan? " tanya Ana ramah
Gibran hanya diam saja tidak menjawab, dia lebih banyak menundukkan kepalanya. Ana merasa aneh dengan kondisi Gibran. setalah melihat wajah Gibran dari dekat Ana bisa melihat rasa takut di mata kecil anak itu
Gibran tidak seperti anak-anak yang lain, jika Anak-anak yang lain ceria, bahagia seperti anak-anak pada umumnya. namun berbeda dengan Gibran yang lebih murung dan lebih banyak diam
Ana yang penasaran, hendak mengecek tubuh Gibran. Ana mulai menggulung lengan baju serangam sekolah Gibran yang panjang. belum sempat Ana melihat lengan Gibran, Gibran keburu sudah di jemput
"Daddyy.... " triak Gibran berlalri menghampiri seseorang di belakang Ana
betapa terkejutnya Ana saat membalikkan badanya ia melihat Rey dan Jay yang berdiri di belakangnya. Hati Ana terasa tersayat saat bibir mungil Gibran memanggil Rey dengan sebutan Daddy, itu artinya Gibran sudah menerima Rey sebagai ayah sambungnya, dan itu berarti Rey dan Agela sebentar lagi akan menikah
"Hai... Boy, kau bersenang -senang di sekolah? " tanya Rey mengusap pucuk rambut Gibran yang memeluk kakinya
"hem... " jawab Gibran singkat
"Akila... kenalin ini Daddy ku" Gibran memperkenalakan Rey sebagai Daddy nya kepada Akira. sebenarnya ini pertama kalinya Gibran memanggil Rey dengan sebutan Daddy, sebelum-sebelumnya Gibran memanggil Rey dengan sebutan uncle karena tadi pagi Gibran di suruh Agela untuk memanggil Rey dengan sebutan Daddy, jika Gibran tidak menurut maka Agela akan menghukumnya
"Wah... ayah mu sangat tampan Gibran" puji Akira, mengaggumi sosok Rey
"iya dong.. Daddy Giblan gitu lo" Gibran membanggakan Rey
saat Anak-anak sedang sibuk berbicara satu sama lain, berbeda dengan Ana dan Rey yang terlihat saling memandang, tengelam dengan pemikirannya masing-masing
"kau.. kau apa kabar? " tanya Rey memulai pembicaraan
"baik.. aku baik" jawab Ana tiba-tiba merasa canggung. setelah kejadian di kantor tempo hari, baru kali ini Ana dan Rey bertemu kembali "kalau begitu aku permisi dulu... " karena merasa canggung dan tidak tahu ingin berbicara apa, Ana lebih baik menyudahi pertemuan mereka. Ana kembali mengandeng Akira hendak pergi meningglakan Rey
"Apa kau sudah makan? " tanya Rey tiba-tiba membuat Ana menghentikan lankahnya "makan sianglah bersama ku" pinta Rey. namun tidak di jawab oleh Ana, dia hanya mematung di tempat
Rey yang melihat ke canggungan Ana, membisikkan sesuatu di telinga Gibran. Rey ingin Gibran mengajak Akira makan yang otomatis Ana juga harus menemani Akira makan
Ana mau tidak mau, menemani Akira untuk makan karena Akira terus-terusan menarik tangan Ana masuk kedalam mobil. di dalam mobil, semunya duduk di kursi penumpang dan Jay yang menjadi supir mereka
suasana di dalam mobil sangat canggung, Rey dan Ana tidak saling berbicara. hanya terdengar suara dua bocil yang dari tadi tidak berhenti berbicara
__ADS_1
lima belas menit kemudian mobil mereka sudah sampai di sebuah restoran, Akira dan Gibran yang sangat antusias langsung berlari -larian masuk kedalam Reatoran, sesaat mereka keluar dari mobil
"Akira jangan lari-lari... " triak Ana yang langsung menyusul Akira. dia ingin segera menjauh dari Rey. satu ruangan dengan Rey membuatnya tidak bisa bernafas. entah mengapa setelah kejadian tempo hari membuat Ana dan Rey seperti orang asing