Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
Part 81


__ADS_3

La Gauloise


hari berikutnya Rey dan Zen datang ke restoran itu lagi, kali ini mereka bukan datang secara pribadi seperti sebelumnya melainkan mereka menghadiri rapat acara sponsor Casper


Vika telah memesan ruangan privat di sana dan mempersiapkan segela sesuatunya, Vika ingin membahas kemunculanya ke public beserta nemperkenalkan sponsor utama novelnya


sekitar tiga puluh menit Vika dan para sponsor membahas itu, akhirnya mereka telah sampai di hujung acara yaitu makan-makan. Vika pergi ke kamar mandi saat makanan itu datang


saat Vika hendak masuk ke kamar mandi dia dihadang oleh Rey. dengan gerakan cepat Rey menyudutkan Vika ke tempat yang yaris tidak terlihat orang


"Tuan Rey... Ada apa ini? "


"Ana.. Kau Ana kan? "


"A-Ana? si-siapa dia? " jawab Vika gugup


"Ana aku sangat merindukan mu... " Rey tanpa seijin Vika, langsung memeluk wanita itu dengan erat


"Namaku Vika, Bukan Ana! " Vika berusaha memberontak. karena pelukan Rey sangat kuat,Vika tidak bisa melepaskannya. akhirnya Vika menendang kaki kering Rey sampai Rey mengaduh dan tanpa sadar melepaskan pelukannya


"ingat ya Tuan Rey! jika Anda seperti ini lagi saya akan mencabut Anda dari sponsor utma! " ancam Vika, kemudian pergi masuk ke dalam toilet


Rey yang melihat punggung Vika menghilang di balik pintu tersenyum sinis, lalu dia merogoh kantong celana mencari ponselnya. setelah dia mendapatkan ponselnya, dengan sekali tekan ponsel itu sudah terhubung ke sabungan telefon. Rey menelfon seseorang


"bersiaplah... " perintahnya di sambungan telepon. kemudian Rey kembali masuk ke dalam ruang rapat


di dalam kamar mandi. Vika menatap dirinya sendiri di dalam cermin. dia membolak balikkan wajahnya ke kanan dan kekiri, melihat pantulan dirinya di kaca tersebut kemudian Merapikan sedikit penampilanya yang sempat kusut karena ulah Rey tadi


"ada apa sih dengan Rey? kenapa dia bersiakap sepeti itu? " Vika bermonolog dengan dirinya sendiri.


Vika tidak ingin ambil pusing atas kejadian tadi, dia segera kembali ke acara rapatnya. di dalam sana semua orang sudah mulai makan hidanganya, Vika pun juga ikut bergabung untuk makan namun matanya selalu saja tertuju apa kursi tempat duduk Rey


"Tuan Rey dimana? " bisik Vika kepada Dara sang asisten


"Oh... dia pergi duluan karena merasa tidak enak badan? "


"tidak enak badan? mendadak? tadi saja dia memeluknya sangat erat tiba-tiba mendadak sakit? " ujar Vika dalam hati dan mulai makan "emh... rasanya enak, apa nama menu makan ini? "


"udang pangang minyak wijen"

__ADS_1



uhukk.. uhukk..


"Apa?!!" Vika terkejut sampai dia terbatuk batuk "sudah aku katakan! jangan pesan makanan yang mengandung wijen! " Vika memandang ke arah tempat duduk Rey, sepertinya dia tahu kenpa Rey tiba-tiba sakit


"Ada apa Nona Vika? kenapa tidak boleh memesan makanan dengan minyak wijen? " tanya Zen berjalan mendekat kepada Vika


"sesungguhnya menu ini bukan menu utama kita, tapi tuan Zen mengantinya" bela Dara tidak ingin di salahkan


"benar, saya yang telah mengganti menu ini. karena saya pernah mendengar jika di restoran ini menu itu paling ..."


belum juga Zen menyelesaikan ucapannya, Vika langsung mengambil tas miliknya kemudain pergi dari sana. Vika mengendarai mobil suport mewah miliknya dengan perasan cemas, sambil tetus berusaha menelfon seseorang


"Hallo.. Halo.. " ucap Vika saat sambungan telefonnya terhubung ke seseorang


"ada Apa Nona? "


"Jay, dimana tempat Rey di rawat? "


"APA? "


"cepat jawab!! "


setelah menerima alamat rumah sakit, Vika langsung meluncur ke sana Vika langsung memasuki salah ruang inap di rumah sakit tersebut, setelah Jay memberi tahu ruangan tempat dimana Rey di rawat


perasaan cemas, khawatir, panik jadi satu saat melihat Rey berbaring di sana. hati Vika semakin tidak karuan saat melihat alat pendeteksi detak jantung yang berada di samping tempat tidur Rey


"Rey... " lirih Vika, duduk di samping Rey mengegam tangan itu "Rey maafkan aku... "Vika menyesal, dia mulai memutihkan air matanya


tak lama dokter datang untuk mengecek kondisi Rey


"Dokter.. Dokter.. bagaimana keadaannya dok? apa alerginya parah? " tanya Vika antusias


"keadaannya sangat parah, satu tetes minyak wijen saya sudah bisa membunuhnya sedangkan dia memakan-Dokter itu menghela nafas berat


"Ada apa dok? "


"kita hanya bisa menunggu ke ajaiban saja, melihatnya bagun"

__ADS_1


"tidak Dok! tidak! Rey pasti bangun, pasti! "


"saya permisi dulu... " pamit Dokter namun tidak di hiraukan oleh Vika, kini perhatian, mata, hati, perasanya semua tercurah untuk Rey


Vika mengegam tangan Rey dengan eratnya seolah dia tidak ingin kehilangan Rey. tiba-tiba saja alat deteksi jantung menunjukkan garis lurus


Tittttttttttttttttttttttt


"Rey! Rey!! Tolong!! Dokter!! " triak Vika histeris "Dokter!!! Suster!!! " triaknya lebih keras namun tidak ada seorang pun yang datang


"Rey!!! Rey bangun!! " Vika mengoyang-goyangkan tubuh Rey berharap dia bangun "Rey aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku sendiri! " Tangis Vika memeluk Rey dengan erat, dia sudah sangat putus asa. tidak ada yang bisa ia perbuat untuk menolong Rey, dia sudah sekuat tenaga berteriak memanggil Dokter dan suster namun tidak ada seorang pun yang datang ke ruangan tersebut, satu-satunya yang ia bisa lakukan adalah memeluk tubuh Rey mengutarakan semua perasaannya


"Rey aku sangat mencintaimu mu!!" tangisnya


mendengar pengakuan cinta Vika, Rey membuka matanya terdapat sebuah senyum mengembang di wajahnya. tanpa menunggu lama Rey langsung membalas pelukan Vika


"aku juga mengintai mu Ana" bisa Rey tepat di telingga Ana. Rey membawa tubuh Vika ke sisinya, untung ranjang tempat Rey di rawat muat untuk dua orang meski mereka harus saling berdepet-dempetan


"Rey?! ka-kau? bagaimana bisa? " tanya Vika bingung bagaimana bisa Rey bangun? padahal monitor jantung menunjukkan jika Rey saat ini telah tiada. bukanya menjawab Rey hanya memandangi wajah Ana dengan tatapan punuh cinta


"tadi kau panggil aku siapa? Ana? aku bukan Ana! nama ku Vika! "


"Ck, masih saja kau tidak ingin mengaku? "


"me-memang benar aku bu-bukan Ana! "


"Yunvika Ghabria Sana itu nama lengkap mu kan? kau hanya menganti nama panggilan mu"


"ka-kau sudah tahu ya? "


"tentu saja! hanya orang benar benar dekat dengan ku yang mengetahui aku memiliki alergi kacang wijen"


Ana menggigit bibir bawahnya, sejenak dia lupa. jika Dad Alvan pernah memberitahunya kalau masalah alergi Rey sengaja di sembunyikan


"dan hanya Ana saja yang mengetahuinya"


"jadi kau membahayakan dirimu sendiri demi membuktikan aku ini adalah Ana?! "tanya Ana kesal, karena Rey bertingkah sembrono


"apa boleh buat? kau sendiri tidak mau mengakui diri mu sebagai Ana"

__ADS_1


"sejak kapan kau mebgetahui aku adalah Ana? "


"sejak... "


__ADS_2