Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
Part 39


__ADS_3

Rumah sakit Internasional


Ana sedang menunggu Rey di depan ruang IGD dengan perasaan cemas, ia takut jika Rey keracunan makaman karena tempat makan kali ini Ana lah yang memilih


tidak lama Mom Zanna dan Dad Alvan ikut hadir di sana. dari jauh Ana bisa melihat raut khawatir di wajah Mom Zanna


"Rey...! Rey...! " teriak Mom Zanna panik, khawatir, cemas campur aduk menjadi satu. Ibu mana yang hatinya tidak sakit, kalau di kabari anaknya tiba-tiba masuk ke ruang IGD


"tante..." Ana ikutan menangis, dirinya merasa bersalah telah membuat Rey menjadi seperti ini


"sayang tenang lah.." Dad Alvan memeluk Mom Zanna mencoba menenangkannya "Rey sekarang sudah di tangani oleh dokter, pasti Rey akan baik-baik saja. lebih baik kita duduk terlebih duhulu sambil menunggu dokter keluar"


Mom Zanna patuh, kini ia duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruang IGD sambil menunggu dokter keluar


"bagaimana kronologinya? " tanya Dad Alvan kepada Ana


"sebenarnya tadi kita hanya makan lalu-" belum sempat Ana menyelesaikan penjelasannya, Dokter yang menangani Rey sudah keluar


Mom Zanna yang sudah tidak sabaran mendengar kabar Rey langsung membrondong dokter itu dengan beragam pertanyaan


"bagaimana keadaan Rey? apa dia baik-baik saja? dia tidak terluka parah kan? " tanya Mom Zanna cepat dengan Satu kali tarikan nafas


"Tuan Rey baik-baik saja, untungnya Nona ini.." Dokter itu menunjuk Ana "langsung menghubungi saya, sehingga Tuan Rey bisa di tangani dengan cepat dan tepat" jelasnya


"Syukurlah... "Mom Zanna sudah merasa lega, anak satu-satunya kini baik-baik saja


"sekarang ini Tuan Rey masih pingsan, namun kalian bisa mejengguknya" sambung dokter David


"baik Dok terimakasih "


"sama-sama Nyonya kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter itu memberi hormat kepada keluarga Mirzan sebelum pergi


Mom Zanna yang sudah tidak sabar ingin segera melihat kondisi Rey segera masuk kedalam dan di ikuti oleh Ana namun saat Ana hendak melangkahkan kakinya masuk dirinya di cegah oleh Dad Alvan


"Nona Ana bisa kita bicara sebentar? " Dad Alvan ingin mendengar penjelasan dari Ana, kronologi Rey bisa sampai seperti ini karena tadi Ana tidak memiliki kesempatan untuk berbicara

__ADS_1


Dad Alvan mengajak Ana dimana tidak banyak orang, agar Dad Alvan bisa berbicara leluasa


"apa Rey memakan wijen? " tanya Dad Alvan to the poin


"i-iya Tuan" Ana menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung wajah Dad Alvan. Ana merasa bersalah sudah membuat Anak Dad Alvan tidur di bangker rumah sakit


"apa makanan itu mengguankaan minyak wijen?"


Ana mengeleng-gelengkan kepalanya "Tidak Tuan, biji wijenya di taburkan di atas makanan" jelas Ana


Dad Alvan hanya menghela nafasnya panjang


"kalau boleh tahu, Rey sakit apa Tuan? " tanya Ana memberikan diri


"dia alergi dengan biji Wijen, satu biji wijen saja sudah bisa membunuhnya " terang Dad Alvan


tangan Ana menutupi mulutnya yang menganga lebar karena terkejut, dirinya tidak percaya jika alergi bisa sampai membunuh seseorang


"Rey pernah dua kali hampir kehilangan nyawanya saat dia berusia tujuh tahun dan lima belas tahun, saat usia tujuh tahun kami belum tahu jika Rey mengidap alergi biji wijen lalu saat usianya lima belas tahun Rey hampir di singkirkan oleh salah satu musuhku, Rey sengaja di beri makanan yang mengandung minyak wijen oleh salah satu saningan bisnis ku maka dari itu sampai detik ini kami sangat merahasiakan mengenai alergi Rey. saya harap Nona Ana juga bisa merahasiakan penyakit Rey" terang Dad Alvan panjang lebar


"tentu tuan.. " jawab Ana mantap, Ana tidak percaya ternyata di dunia bisnin sekejam itu sampai berani menghilangkan nyawa seseorang


"Dokter David? " tanya Ana ulang karena ia tidak mengenal Dokter-dokter di Rumah sakit internasional ini yang terkenal mahal


Ana kalau sakit cukup berobat di puskesmas, atau membeli obat di warung dengan harga seribu perak sudah bisa sembuh, tidak perlu ke rumah sakit semahal ini


"Dokter tadi namanya dokter David, dia adalah dokter alerginya Rey. bagaimana kau bisa mengetahuinya? "


"oh.. Dokter tadi? aku mendapatkan kontaknya di ponsel Rey" jawab Ana


sebelum Rey tak sadarkan diri, Rey sempat membuka ponselnya dan mencari nama Dokter David di kontaknya. belum juga menghubunginya Rey keburu pingsan duluan, untung Ana tanggap dan langsung menghubungi Dokter David sehingga nyawa Rey bisa tersekamatkan


"jadi begitu? " Dad Alvan mengerti kronologinya, dan kejadian ini murni kecelakaan bukan ada pihak ketiga


"iya Tuan, maaf saya tidak tahu jika Rey mengidap alergi biji wijen " Ana sunguh merasa bersalah

__ADS_1


"Rey selamat itu semua karena mu, sudah jangan kau merasa bersalah. kau cukup merahasiakan masalah ini saja " pinta Dad Alvan


"baik Tuan"


"Ayo kita masuk ke dalam, pasti Mom Zanna mencari kita" ajak Dad Alvan


"iya Tuan"


Dad Alvan dan Ana masuk kedalam ruang inap Rey, di dalam tampak Mom Zanna duduk di samping Rey sambil mengenggap erat tangan Rey, menunggu Rey sadarkandiri


"kalian berdua dari mana saja? " tanya Mom Zanna saat Ana dan Dad Alavn berjalan mendekat kepadanya


"aku berbicara dengan Ana sebentar di luar" jawab Dad Alvan "bagaimana Rey? apa dia belum sadar? "


"belum"


"dia akan baik-baik saja" hibur Dad Alvan kepada wanitanya itu, yang sangat mengkhawatirkan keadaan Rey


"kau yakin dia baik-baik saja? " tanya Mom Zanna


Rey adalah setengah hidup Mom Zanna, meski Rey saat ini sudah berusia tiga puluh tahun tetap saja Mom Zanna memperlakukan Rey sepeti bocah berumur lima tahun


Mom Zanna juga tidak memberi izin Rey untuk tinggal sendirian, pokoknya Rey harus tinggal bersamanya di dalam mansion. Rey boleh tinggal di luar saat dia sudah menikah dan memiliki keluarag baru


Rey pernah koma karena pesaing Dad Alvan, dan Rey hampir lewat. jadi tidak salah jika saat ini Mom Zanna sangat khawatir


"kau seharian belum makan sesuatu, isilah dulu perut mu" bujuk Dad Alvan agar wanitanya itu tetap menjaga kondisi tubuhnya


"aku tidak bisa meninggalkan Rey sendirian " tolak Mom Zanna


disini Ana bisa melihat betapa besarnya cinta Mom Zanna dan Dad Alvan terhadap Rey, Ana sedikt iri kepada Rey yang sangat di cuntai oleh kedua orang tuanya


"ada Ana disini, biar dia menjaga Rey sebentar" bujuk Dad Alvan "kau tidak keberatan kan menjaga Rey untuk kami? " tanya Dad Alvan kepada Ana


"Hm? oh.. iya, Tuan tentu saja tidak" jawab Ana

__ADS_1


Ana sempat melamun menyaksikan kasih sayang yang di tunjukkan oleh Mom Zanna dan Dad Alvan, Ana berandai-andai jika dirinya berada di posisi Rey pasti hidupnya akan sejahtera


Kaya, memikiki orang tua tampan dan cantik yang mencintai dengan tulus, tidak ada sesuatu kekurangan di dalamnya


__ADS_2