Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
Part 83


__ADS_3

Ke esokan paginya


Ana dan Rey tidur bersama di bangker rumah sakit, Rey yang telah bengun terlebih dahulu, menatap wanitanya yang saat ini tengah pulas tertidur dalam pelukkannya


"kau sangat manis Ana... " lirih Rey menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Ana. sedetik kemudia Rey mengingat sesuatu, dia merogoh saku celananya. dia sudah menyiapkan cincin pertunangannya untuk Ana, Rey langsung memakaikan cincin itu ke jari manis Ana. merasa ada yang menggagu tidurnya Ana mulai membuka matanya


"Good morning" sapa Rey saat kedua manik itu saling menatap


"pagi... " jawab Ana masih setengah sadar, Ana yang masih mengatuk mencari kenyamanan di dalam dada bidang Rey


Rey dengan senang hati memeluk Ana, dia malah memper erat pelukannya. Ana yang merasakan sebuah pelukan yang terasa seperti nyata, Ana memberanikan diri membuka matanya. betapa terkejutnya Ana melihat wajah Rey yang begitu dekat dengannya. jadi yang tadi memgucapkan selamat pagi adalah Rey sungguhan? dia tidak sedang bermimpi?


"Aaagghhhh!!!!!" triak Ana kencang menjauh dari tubuh Rey, Ana yang terkejut sepontan memunurkan tubuhnya hingga ia terjatuh dari ranjang rumah sakit yang tinggi


"Ana kau tidak Apa-apa? " tanya Rey khawatir


"Aawww...." Ana memegangi bokongnya yang mendarat terlebih dahulu


"kenapa kau loncat? " Rey membantu Ana untuk berdiri


"Apa semalam kita ti-tidur ber-bersama? " tanya Ana takut-takut


"tentu saja!"


"Aaaa..... " triak Ana menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya


"kita hanya tidur, kita tidak melakukannya... " kesal Rey merasa di khiananti. baru saja mereka berdua saling mengungkapkan cinta semalam tapi mengapa paginya si wanita seperti amnesia?


"kita belum menikah! kita tidak boleh tidur berasama"


"tenang saja aku akan menikahi mu"


"tapi tetap saja kita belum menikah jadi tidak boleh tidur bersama! "


"lagi pula salah siapa juga yang ketiduran saat berciuman? "


"Apa? " Ana mengingat-ngingat kembali kejadian semalam. Ana tidak bisa mengingat dengan jelas apa itu hanya mimpi atau nyata, tapi Ana mengingat jika semalam dia berciuman dengan seseorang "jadi semua itu bukan mimpi? " lirih Ana memegangi bibirnya

__ADS_1


"Apa? Wahhh... kau jahat sekali bilang itu hanya mimpi! sini aku ulangngi kejadian semalam"


"tidak! tidak! menjauh dari ku!! " Ana berlarian menghindari ciuman Rey, Ana berlari ke arah kamar mandi. segera Ana mengunci kamar mandi agar Rey tidak bisa masuk


berlarian meningkatkan detak jantung Ana, karena jantung Ana berdetak lebih kencang aliran darah semakin lancar, jika aliran darah lancar tubuhnya akan terasa panas. wajah Ana terasa sangat panas, Ana tidak bisa membedakan arti panas di wajahnya itu apakah itu karena kejaran Rey atau karena malu karena semalam dia ketiduran saat berciuman?


tidak ingin berpikir yang tidak-tidak lebih baik Ana mendinginkan mukanya dengan air dingin di wastafel. satu dua kali guyuran air mengengenai wajahnya, Ana menjadi lebih segar. Ana mulai menatap dirinya di pantulan cermin yang terpasang di atas wastafel


"Aaaaa......!!!!!! " triaknya kencang


"Ana! Ana! Ana kau kenapa? " tanya Rey panik mengedor-gedor pintu toilet "Ana ada Apa? apa kau terluka?! jawab! " triak Rey dari luar pintu tambah panik karena Ana tidak menjawab pertanyaannya "aku hitung satu sampai tiga, kalau kau tidak menjawab aku akan mendobrak pintunya. satu... dua... tiga-"


belum sempat Rey mendobrak pintu, Ana sudah keluar dari dalam toilet sambil menutupi separuh wajahnya


"Ada apa? apa kau terkuka? kenapa kau berteriak? " Rey begitu khawatir mengecek tubuh Ana


"berengsek! Dasar pria mesum!! " Ana memukuli Rey dengan satu tangan, karena tangan satunya menutupi wajahnya


"Ana kau itu kenapa?! " Rey menahan tangan Ana yang ia gunakan untuk memukuli tubuhnya. Rey bingung bukan main karena di maki-maki tiba-tiba tanpa tahu salahnya "Ada apa? kanapa kau marah-marah? apa kau sedang pms?" tebak Rey, biasanya mood perempuan berubah saat mereka sedang datang bulan


"Kau lihat! kau membuat bibirku membengkak!! " kesal Ana, melepaskan satu tanganya yang menutupi wajahnya


"kanapa kau biasa saja?! bagaimana jika nanti malam bibirku tidak mengecil?! nanti malam aku mengundang banyak wartawan! ini semua gara-gara kau! kenapa kau mengigit bibirku!! " protes Ana memukuli Rey kembali


"memangnya aku saja yang mengigit?! kua juga mengigitku semalam! lihat bibirku lecet karena mu! " Rey menunjukkan sudut bibirnya yang lecet karena digigit Ana


"Agghhh... bagaimana acara nanti malam? aku tidak bisa tampil dengan bibir bengkak seperti ini" kesal Ana


"kau tenang saja, pasti nanti malam sudah seperti semula" Rey menenangkan wanitanya dengan memeluknya "aku akan memerintahkan Jay untuk membali salep, anti bengkak" hibur Rey


beberapa saat setelah perdebatan bibir bengkak, Ana membantu Rey berkemas untuk keluar dari Ruamh sakit. meski Rey tidak sakit namun demi totalitas dan agar Ana percaya jika Rey sakit. Rey sampai membawa beberapa baju ganti, barang bawaan Rey sudah seperti pasies yang menginap di rumah sakit sesungguhnya


"Rey, apa kau yakin akan pulang? apa sebaiknya kau tetap tinggal disini? apa aku tunda saja acara anti malam? aku khawatir jika kau kurang sehat"


"sayang... aku ini tidak apa-apa, apa kau lupa yang memakan udang itu Jay bukan aku"


"tapi... "

__ADS_1


"kenapa kau menahan ku disini? apa rencanamu? jangan coba -coba kabur dari ku ya!" curiga Rey


"bukan seperti itu... aku hanya tidak ingin tampil di publik dengan bibir bengkak seperti ini"


"kau bertambah sexy dengan bibir ber-isi seperti itu... " goda Rey memperhatikan bibir Ana


"jaga otak mu! " Ana menoyor kepala Rey. dari sorot mata Rey Ana bisa melihat jika Rey ingin sekali mengecup bibir Ana


"sekali saja! "mohon Rey


"tidak"


"kalau begitu sekilas?" tawar Rey


"tidak! "


"aku mohon, sebentar saja" rengek Rey


"tidak! tidak! tidak! " tegas Ana mengacungkan telunjuk jarinya yang ia goyangkan ke kanan dan ke kiri "aku tidak ingin kau membuat bibir ku tambah parah! ada acara pentiang nanti malam"


"aku mohon..." Rengek Rey seperti Anak kecil berusia lima tahun yang merengek minta di belikan mainan baru oleh ibunya


"No! lebih baik kau bawa barang mu ini!" Ana memberikan tas berisi Baju kepada Rey "istirahat saja di rumah dan kita bertemu nanti Malam, Oke? "


"sekali saja, aku mohon" Rey tidak patah semangat memintanya. bibir Ana seakan sudah seperti candu saja baginya


Ana yang tidak tega melihat Rey yang memohon-mohon sampai seperti itu. menghela nafasnya dan memutuskan untuk memberi satu kecupan saja


"oke baiklah... hanya satu kecupan ya?"


Rey mengangguk patuh, mata Rey berbibar-binar saat Ana akan memberikan sebuah kecupan


Cup


"sudah... "


"Apa? kau bercanda? apa ini sebuah kecupan?! " kesal Rey. karena Ana mencium telapak tanganya sendiri kemudian mengarahkan bekas ciumanya ke bibir Rey

__ADS_1


"itu sebuah kecupan sayang... " goda Ana berjalan keluar ruangan dengan senyum yang mengembang di wajahnya. dia begitu bahagia bisa membuat Rey kesal


__ADS_2