
Kini mereka ber-empat sudah duduk di satu meja, Ana dan Akira duduk bersebranagan dengan Rey dan Gibran. situasi saat ini sangat sangat sangat canggung hanya mereka ber-empat yang ada di sana sedangkan Jay entah pergi kemana
tidak ada obrolan antara Ana maupun Rey, satu-satunya suara yang terdengar hanya celotehan dua anak kecil yaitu Gibran dan Akira
"tante, Ambilin saus itu.. " tunjuk Akira pada saus sambal super pedas
"ini saus pedas, Akira. nanti kau kepedasan, tante ambilin saus tomat ya? " tawar Ana mengambilkan Akira saus tomat
karena bingung mau berbuat apa, Ana memilih untuk menyibukkan diri menyuapi Akira makan. tanpa Ana sadari ada sepasang mata yang dari tadi menatap ke arahnya
"kau tidak makan? " tanya Ana saat melihat Rey tidak menyentuh makananya. dia hanya menatap ke arahnya
"Kau sendiri juga tidak makan? " tanya balik Rey tidak menjawab pertanyaan Ana
"aku akan makan nanti setelah selesai menyuapi Akira"
"Oh.. " Rey hanya ber oho ria "oh iya, bagaimana kabar mu? "
"kabar ku baik. omong-omong kau sudah menanyakan kabarku dua kali" terang Ana mengingatkan Rey jika tadi Rey sudah menanyakan kabar nya
"Aa... benarkah? aku lupa " sama seperti Ana, Rey juga merasa canggung. sebenarnya Rey ingin sekali banyak mengobrol, menghabiskan waktu ber dua dengan Ana. namun dia sadar Ana sudah milik orang lain, Ana sudah memutuskan memilih Zen
sakit hati Rey jika masih mengingat, Ana mengajukan surat pengunduran dirinya. ingin sekali Rey mencegahnya namun apa untungnya bagi Rey? jika wanitanya lebih memilih pria lain? yang ada hati Rey akan semakin terluka
"selamat...aku dengar kau akan menikah dengan Zen" ucap Rey dengan berat hati, namun dia harus kuat
"terima kasih...aku ucapakan selamat juga untuk mu dan Agela, sepertinya Gibran sudah bisa menerima mu sabagai ayahnya " balas Ana mengucapkan selamat juga
"sebenarnya.... " Rey yang hendak menceritakaan cerita sesungguhnya namun ucapanya terpaksa terpotong saat Gibran menangis karena tidak sengaja pipis di celana
"Huaa.... Huaa.... " tangis Gibran semakin kecang. Anak itu ketakutan setengah mati, seandainya ibunya tahu dia pipis di celana pasti Gibran akan di hukum oleh Agela
"Hai Boy... jangan menangis... is't oke"
Rey dengan sigap menenangkan Gibran yang menangis sepeti anaknya sendiri. Ana yang melihat itu berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh
__ADS_1
hati Ana sangat sakit, namun ia harus tabah "Ana! kau itu kenapa?! Sadar! Rey bukan milik mu! lihat dia, bagaimana Rey memperlakukan Gibran seperti anaknya sendiri " batin Ana terus -tetusan mengingatkan posisinya sendiri yang bukan siapa-siapa bagi Rey
"tante... tante menangis? " tanya Akira yang melihat mata Ana berubah menjadi memerah
"tidak...tante hanya ke pedesan saja" bohong Ana menyeka air matanya
beruntung di hadapannya kini tidak ada Rey, jika Ada Ana pasti sudah malu karena ketahuan bohong plus menangis. Rey saat ini sedang berada di toilet mengantikan celana Gibran yang basah
"Akira, kalau sudah selesai makan kita langsung pulang ya.. "
"iya tante... "
Ana sudah tidak bisa melihat kehangatan antara Gibran dan Rey, hanti Ana sakit saat melihat itu. entah mengapa Ana tidak suka Rey dekat dengan Gibran. apa mungkin Ana cemburu? Ana ingin Rey selalu di sampingnya? Tidak! ini tidak bisa di biarkan! Ana tidak boleh egois, Ana harus memilih antara Zen dan Rey. dan Ana sudah memutuskan untuk memilih Zen. jadi Ana harus bertanggung jawab dengan keputusannya itu
sekitar sepuluh menit, Rey sudah kembali dari toilet bersama dengan Gibran. sebelum Ana lepas kendali meluapakan semua perasaanya lebih baik ia pamit pulang
"aku sudah selesai makan, terimakasih traktiranya. aku pamit pulang dulu"
"kau sudah ingin pulang? "
"hem"
"tidak.. tidak perlu "
"terimakasih paman manakannya. makananya sangat enak" ucap Akira "Gibran aku pulang dulu ya..." pamit Akira memeluk dan mencium pipi Gibran
Rey dan Ana terkejut melihat tingkah Akira, mereka berdua saling memandang cangung namun jauh di lubuk hatinya mereka juga ingin sekali melakukan serupa
"kalau begitu, aku pamait dulu" pamit Ana hendak pergi
"tunggu... " cegah Rey "sampai jumpa lagi.. "Rey menjulurkan tangnya
awalnya Ana terdiam sejenak, tidak biasanya orang berpamitan harus bersalaman terlebih dahulu keculai jika mereka tidak akan bertemu lagi di waktu yang cukup lama. namun Ana segera menepis perasaan itu, dan berfikir positif jika itu hanyalah sebuah salam perpisahan biasa
"iya sampai jumpa lagi.. " Ana tersenyum kemudian Menerima bersalaman dengan Rey
__ADS_1
"jaga dirimu baik-baik"
"hem kau juga.. " ucap Ana meresa berat hati meninggalkan Rey
namun Ana tidak punya alasan untuk menahan Rey tetap bersamanya, dengan berat hati Ana melangkah keluar resetoran itu mengandeng Akira
begitupun dengan Rey, dia memandang punggung Ana yang semakin menjauh dengan perasaan yang hancur. menghilangnya pungung Ana di balik pintu bertanda ia telah kehilangan Ana untuk selamanya
"Tuan, Tuan David sudah berada di hotel " bisik Jay menberitahukan Daddy kandung Gibran sudah berada di Indonesia
"kita ke sana sekarang " ucapnya tegas, menggendong Gibran
sebelum Rey pergi, dia harus membereska. segala sesuatunya terlebih dahulu. semakin cepat Rey menyelesaikankan masalahnya semakin cepat pula Rey pergi
...***...
The Legman Hotel
Gibran sudah siap ketemu Daddy? " tanya Rey mengendong Gibran berjalan melewati lorong hotel, mencari kamar hotel yang di tinggali David
"Da-daddy? " tanya balik Gibran tidak paham apa yang di maksud Rey
"iya. Daddy David" Rey berhenti tepat di pintu, yang ia yakini David ada di dalam sana. setelah beberapa kali mengetuk pintu. pintu itu langsung terbuka, ada seorang pria bule bermata biru, berkulit putih, berambut pirang keluar dari sana
"Daddyyy!!!!! " triak Gibran langsung berpindah tangan memeluk Daddy David dengan eratnya
"Gibrannn! "Daddy David memeluk anaknya meluapkan semua kerinduanya setelah selama tiga bulan tidak bertemu
Agela selalu menghalangi David untuk bertemu dengan Gibran, pasca perceraian dan hak asuh Gibran jatuh ke pada Agela. Agela melarang David untuk menemui anak semata wayangnya itu
"Gibran Daddy sangat kangen dengan Gibran" David menciumi seluruh wajah Gibran, ia bersyukur bisa bertemu dengan jaogaonga kembali
"Giblan juga kangen Daddy, kata Mama Daddy ninggalin Giblan... Hua.... " Gibran mnengadu kepada Daddy-nya tentang apa yang di ucapkan Agela kepadanya
"tidak sayang... Daddy tidak pernah meninggalakan Gibran lagi, mulai sekarang Gibran mau kan tinggal dengan Daddy? " tanya David menangkup wajah mungil putranya
__ADS_1
"hem.. " jawab Gibran mantap "Giblan tidak mau tinggal dengan Mama... Mama jahat sama Giblan Huaa... Hua... Giblan sering dipukul, di cubit sama Mama" adu Gibran kepada Daddy-nya
"tenang sayang, Daddy pastikan Mama mendapat hukuman yang setimpal" seru David dengan sorot mata yang membunuh, ia tidak terima jika anaknya ternyata selau di siksa oleh wanita ibils Agela