Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
Part 72


__ADS_3

Thomson Group


sebuah ruang kerja dengan desain klasik perpaduan warna putih dan hitam. terdapat seorang pria tampan yang sedang duduk di kursi kebesaranya, pria itu menatap ponselnya yang berdering menampilkan nama kekasihnya


Pria itu menghela nafas berat, sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing. dia sedang galau dengan situasi yang saat ini ia hadapi. pria itu tidak tega mengacuhkan kekasihnya dan dia juga sangat merindukan kekasihnya, namun apa daya keadaan yang memaksanya berbuat demikian


"Maafkan aku Ana, Maaf.... " ujar pria itu tertunduk menyesal


Zen sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak terjatuh, tetapi hatinya tidak bisa menahan lagi rasa sesak yang ia rasakan, Air mantanya lolos begitu saja mengalir dari ke dua matanya tanpa ia minta. dia menangis merindukan Ana namun dia juga belum siap untuk kehilangan Ana.


Zen harus memilih antara ke kasihnya atau Mami-nya. Zen menatap barisan tulisan yang di kirimkan oleh Ana melalui chat pesan membuat perasaan Zen semakin tidak karuan. Zen manangis sendirian dalam diam di dalam ruangan kerjanya


Falsback on


waktu itu Zen diminta pulang lebih awal oleh Mami Jenifer saat Zen bertugas di Bali membuat Zen terpaksa mengikhlaskan kekasihnya Ana untuk menebeng satu pesawat dengan Rey dan Dia terlebih dahulu kembali ke Jakarta sendirian


Zen tidak tahu menahu hal mendesak apa yang membuat Mami-nya mendesaknya untuk pulang secepat mungkin. Zen bergegas segera ke Apartemen yang ia tinggali dengan Mami Jenifer dengan setengah khawatir, ia takut jika terjadi sesuatu kepada anggota keluarga satu-satunya itu


"Mi.. Mi.. " panggil Zen seketika saat berhasil membuka pintu Aparetemen


"kau sudah kembali? " tanya Mami Jenifer segera menyambut kedatangan Anak semata wayangnya itu


"Ada apa Mi? Mami baik-baik saja kan? Apa mami sakit? " tanya Zen tanpa jeda menghawatirkan ke adaan Ibunya


"Mami baik-baik saja... tidak perlu khawatir " seru Mami Jenifer dengan tersenyum bangga, ia sangat bahagia karena selepas kepergian suaminya kini Zen lah yang akan menjaga dan melindunginya


"Ada yang mau Mami sampaikan.. "


"sama. ada yang ingin Zen sampaikan juga kepada mami" Zen sangat antusias ingin menceritakan kekasih barunya yaitu Ana, dan Zen akan meminta Mami-nya untuk segera melamarkan Ana untuknya


ibu dan Anak itu berjalan berdua menuju ruangan tengah dengan hati yang gembira, namun saat Zen berada di ruang tengah, betapa terkejutnya Zen. ternyata Mami-nya sedang Ada tamu dan tamu itu adalah Direktur atau pendiri dari Thomson Group dimana Zen di amanahi menjadi CEO di sana. Tuan Thomson beserta istri dan putri satu-satunya detang ke kediaman Zen ada perlu apa?


"Tu-Tuan Thomson... " Zen begitu terkejut, atasnya dan juga keluarganya bertamu di Apartemen kecilnya

__ADS_1


"kita duduk dulu Zen.. " Mami Jenifer mengiring Zen untuk duduk bersama


"aku sangat bangga kepada mu Zen, baru beberapa bulan perusahaan kau yang pegang. perubahan Thomson Group sudah meju pesat, kau juga bisa memenangkan tender besar kita bersama Casper. paman banga kepada mu, Paman tidak salah memilih kau untuk meneruskan perusahaan paman"


"tidak paman, saya hanya memegang sementara. setelah Luna siap saya akan menyerahkan semua perusaaan kepada Luna" sampai saat ini Zen belum tahu maksud kedatangan keluarga besar Thamson tersebut ke Apartemennya


"Apa kau tidak ingin menjadi pemilik sah Thomson Group? "


"Apa? maksud paman? "


tidak ada yang menjawab satu orang pun yang menjawab, mereka semua hanya bertukar pandang satu-sama lain sambil tersenyum. satu-satunya orang yang bingung hanyalah Zen, hati Zen mulai merasakan hal yang tidak enak


"kami memutuskan untuk menjodohkan mu dengan Luna" Ucap Mami Jenifer


Jedarrrrr!!!!


seakan tersambar petir di siang bolong. baru saja Zen melamar Ana, menjanjikan wanita itu untuk ia nikahi dan kempulanganya yang lebih awal ini, Zen ingin membicarakan tentang lamaranya untuk Ana. namun apa yang ia dapat Mami-nya malah memutuskan untuk menjodohkannya dengan orang lain?


"Tuan Thamson datang kemari untuk melamar mu menjadi menantunya, Beliau ingin kau menikah dengan Luna. dan Mami sudah menyetujui kalian berdua, pernikahan kalian akan di laksanakan satu bulan lagi... "


"Zen! zen! " panggil Mami Jenifer menyadarkan Zen


"Aahh, Maaf saya masuk ke kamar dulu" Zen begitu bingung harus bersikap seperti Apa, dia lebih baik memutuskan untuk pergi dari sana terlebuh dahulu


tentu saja kepergian Zen di tengah-tengah pembahasana sungguh tidak sopan, Mami Jenifer sampai tidak enak hati dengan Tuan Thomsan atas sikap tidak sopan Zen


"Ee.. Maaf, mungkin Zen begitu bahagia mendengar kabar ini. dia malu dengan nona Luna" alibi Mamu Jenifer


"Zen sepertinya sangat lelah setelah kembali dari Bali, mungkin bahasan pernikahan ini akan kita bahas lagi lain waktu"


"iya Tuan"


"kabari kita setelah, Zen sudah siap untuk membahas pernikahannya"

__ADS_1


"baik Tuan"


Mami Jenifer segera menuju kamar Zen, setelah Keluarga Thamson pergi dari apartemennya, secara perlahan Mami Jenifer mengetuk pintu Zen, sadar jika pintu tidak dikunci Mami Jenifer langsung masuk saja


"Ada apa Zen? kanapa kau pergi begitu saja" Mami Jenifer menghapiri Zen kemudian duduk di sebelah Zen


"kenapa Mami menerima lamaran mereka tanpa bertanya dengan aku terlebih dahulu? "


"Memangnya apa itu perlu? Keluarga Thomson sudah sangat membantu keluarga kita setelah meninggalnya papi mu, mereka yang membiayai kuliah mu dan memberikan mu pekerjaan, memberi kita tempat tinggal. kau dan Luna tumbuh bersama. Luna wanita baik hati, cantik..."


"tapi aku mencintai wanita lain mi" potong Zen "Aku baru saja melamar dia.. "


"Apa? " Mami Jenifer tidak percaya dengan apa yang dia dengar itu "Apa dia wanita kribo yang kau sukai sejak SMA? " tebak Mami Jenifer


"Iya Mi.. "


"Cih, kau membandingkan luna dengan barang ronsok seperti itu? "


"Mi!!! "


"putuskan dia! dan menikahlah dengan luna! "


"jangan seperti itu Mi!! "


"dengar ya Zen, keluarga kita sudah banyak berhutang budi kepada keluarga Thamson. mereka hanya memintamu untuk menikahi putri satu-satunya, kalau kau menikah dengan putri Thomson, kemungkinan besar perusahanya akan menjadi milik mu Zen"


"aku tidak butuh Mi! "


"lalu apa yang akan aku dapatkan dengan menikah dengan si buruk rupa itu? bagaimana jika Tuan Thaomson tahu kau menolak lamaranya dan kau di tendang dari perusahannya apakah wanita itu akan tetap memilih mu? "


"aku sangat mengenal Ana Mi, dia bukan wanita Septi itu "


"terserah kau Zen semua keputusan ada di tangan mu" Mami Jenifer kemudian berlalu dari kamar Zen

__ADS_1


Zen begitu frustrasi dengan situasi saat ini, disisi lain dia tidak ingin kehilangan Ana, namun disisi lain Zen juga tidak enak hati dengan keluarga Thomson. Zen dan ibunya begitu banyak berhutang budi kepada keluarga Thomson


__ADS_2