
Malam hari
Zen keluar dari kamarnya, bersiap bergabung makan malam dengan Mami Jenifer. Mami Jenifer sudah menunggu Zen di sana, meski Mami Jenifer menunggu Zen, beliau sudah mulai makan malamnya
Zen yang melihat mami-nya sudah makan duluan mulai duduk, dan segera bergaung untuk makan malam bersama
"kau sudah mengambil keputusan mu? " tanya Mami Jenifer sambil mengunyah makanannya
"Keputusan ku tetap tidak berubah Mi, aku akan menikah dengan Ana" Jawab Zen dengan tegas, sambil mengambil lauk
Mami Jenifer mengengam erat sendok yang ia pegang, ia begitu kesal kepada anaknya yang keras kepala. memang sebetapa hebat dan cantiknya wanita kribo itu?, sampai-sampai Anaknya tergila-gila kepadanya?
"Apa kau tidak memikirkan perasaan Tuan Thamson? "
"beliau akan mengerti, aku akan menjelaskan semuanya secara perlahan-lahan" Zen mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya
"lalu bagaimana jika dia tidak terima dan mengusirmu keluar dari perusahaannya?"
Zen menghela nafasnya sejenak kemudian dia menjawab "Mami tenang saja, aku akan berusaha keras untuk mencari pekerjaan. kita bertiga akan hidup serumah.... "
Brakkkkk
Mami Jenifer mengebrak meja, membuat ucapan Zen mengantung
"Jika kau tetap dalam pendirian mu, maka bersiaplah dengan pemakaman mami.. "
"Mi...!!! "
"Mami lebih baik mati dari pada menanggung malu bertemu keluarga Thomson! " setelah berucap demikian Mami Jenifer pergi ke dalam kamarnya
Zen hanya bisa melihat punggung Mami-nya yang semakin menjauh dengan perasaan kacau, dia begitu tertekan dengan situasi saat ini
"Aaaghhhh!!! " teriak Zen menjambak rambutnya sendiri. dia begitu bingung dan pusing, berharap dengan ia menjabak rambutnya sendiri pusingnya akan hilang
Drt Drt
__ADS_1
ponsel milik Zen bergetar, tertera nama Ana disana. ternyata Ana mengirimkan pesan
'Zen apa kau sedang sakit? Apa kau sedang sibuk? Apa kau sedang ada masalah? kenapa panggilan ku, dan pesanku tidak kau balas? ' begitu pesan singkat Ana, yang hanya di baca oleh Zen
Zen begitu tertekan dengan dua pilihan sulit ini, Mami Jenifer sangat berharga bagi Zen. setelah Papi-nya meninggal Zen hanya memiliki Mami Jenifer sebagai keluarganya, namun Zen juga tidak bisa meninggalkan Ana, Ana adalah wanita yang penting dalam hidupnya
flasback off
...***...
seperti yang di janjikan Rani sepulang kerja, Rani akan mengajak Ana untuk menemui Zen di Kantornya, kini Ana dan Rani sedang berada di meja Resepsionis Thomson Group untuk bertemu dengan Zen
Rani : "permisi mba... saya mau ketemu dengan Tuan Zen"
Resepsionis : "Apa Anda sudah ada Janji sebelumnya ?"
Rani : "belum.. "
Resepsionis : "Maaf Nona, kami tidak bisa... "
berita jika Zen dan Luna akan menikah sudah tersebar di kantor. mereka ikut bagahagia dengan kabar tersebut, karena Luna dan Zen adalah pasangan yang serasi
"A-Anda kekasih tuan Zen? " tanya Resepsionis itu dengan tidak yakin
"bukan saya, tapi temen saya " Rani mengandeng Ana di sampingnya. membuat resepsionis tersebut lagi-lagi terkejut
Luna adalah wanita sempurana, cantik, tinggi, ramping, modis, berkukit putih berbeda jauh dengan Ana yang berpebampilan sederhana, warna kulit yang sedikit gelap, berkacamata di tambah dengan ramput kribo menambah kesan kucel
"berani-beraninya kau mengaku-ngaku kekasih Tuangan ku! " triak Luna dari belakang membuat semua orang terkejut
Luna yang datang dengan Mami Jenifer, terkejut saat Rani memperkenalkan Ana sebagai kekasih dari tunagannya
"kau sendiri yang siapa? " tanya balik Rani dengan nada yang tegas
"aku tunangan Zen, sebentar lagi kami akan menikah! " jawab Luna tidak kalah lugasnya
__ADS_1
"Apa Tuanangan?! " tanya Rani terkejut
begitupun dengan Ana, dia juga tetkejut dengan apa yang di bicarakan wanita yang mengaku-ngaku sebagai tunagan Zen. Rani yang memang dari kecul terkenal pembarani tidak mau kalah dengan Luna
"kau jangan ngaku-ngaku! tunangan yang sebenarnya adalah Ana! " seru Rani
"Apa? dia?!" Luna memandang Ana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan sinis "Zen memang pria yang tampan dan cerdas, tapi aku tidak mengira jika harus bersaing dengan si buruk rupa! " ucap Luna menghina Ana
Luna begitu percaya diri, dirinya yang begitu sempurna pasti akan dengan mudah mengalahkan Ana yang tidak ada tandinganya baginya
"Hei!! jaga ucapan mu ya!! " seru Rani
"Ada apa in??! " terdengar suara barito yang sudah selama ini Ana rindukan, karena sekarang adalah jam pulang kantor banyak karyawan turun ke lobi untuk pulang termasuk juga dengan Zen
"Zen... lihat dia mengaku-ngaku sebagai kekasih mu" Adu Luna genit, mengandeng lengan Zen di depan banyak orang
Ana dan Zen saling memandang dengan tatapan terkejut, Zen tidak mengira akan bertemu Ana dalam situasi seperti ini. awalnya Zen ingin memberikan mengenai perjodohanya dengan Luna secara perlahan-lahan kepada Ana. namun Zen tidak menyangka jika Ana dan Luna akan bertemu seperti ini
sementara Ana juga terkejut atau lebih tepatnya kecewa. apakah ini alasan Zen menghilang tanpa kabar? karena dia sudah memiliki kekasih lain yang jauh lebih cantik, lebih sempurna, lebih kaya dan lebih-lebih lainnya sehingga Zen melupakan Janjinya yang ia ucapkan saat di Bali?
karyawan A : "Hei, menurutmu wanita ini berbohong atau tidak? " tanya karyawan lain kepada temannya
Karyawan B : "tentu saja berbohong, kalau aku jadi Tuan Zen. mana mungkin aku memacari wanita kribo buruk rupa seperti itu"
bisik -bisak antar karyawan satu dengan yang lainnya, mereka bahkan bertaruh Ana berkata jujur atau bohong
Ana dan Zen masih diam sambil terus menatap satu sama lain, Tatapan mereka mengambarakan jika benar mereka memang memiliki hubungan special
"Zen? jangan bilang kau...?" Luna tidak menerusakan ucapanya. dia begitu takut jika Ana benar-benar saingannya
Ana yang sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini, memilih untuk pergi dari sana. untuk kedua kalinya hatinya hancur! Ana sudah kehilangan Rey, sekarang pria yang ia perjuangkan, pria yang ia yakini bisa melindungi dan menyasanginya kini berbalik menghianati. hati Ana sangat-sangat sakit!!!
"Ana...!! Ana tinggu.. !! aku bisa jelaskan! " triak Zen menyusul Ana pergi, sampai -sampai Zen tidak mempedulikan dirinya melepaskan kaitan tangan Luna yang melingkar di lengannya
Luna yang di campakkan begitu saja, sakit!! harga dirinya terasa terinjak-injak. Zen adalah prianya malah memilih mengejar sainganya yang seratus kali libih buruk darinya. Luna meremas pucuk bajunya sendiri, harga dirinya begitu terluka akibat perbuatan Zen yang memilih mengejar Ana
__ADS_1
bukan hanya Luna saja yang terkejut, seluruh karyawan yang menyaksikan kejadian itu juga ikut terkejut. mereka tidak mengira Tuan Zen yang tampan memilih wanita buruk rupa! sungguh selera yang sangat rendah