
"jadi mau kah kau keluar dari pekerjaan mu? "
"Apa? tapi kenapa? "
"aku tidak ingin kau dan bos mu itu berduan terus "
"katanya kau percaya pada ku, jika aku tidak akan selingkuh? "
"iya Babby, aku percaya padamu tapi aku tidak percaya pada bos mu"
"tapi Zen...keluar dari pekerjaan? " Ana sedikit ragu
"jadi kau tidak ingin menuruti calon suami mu?"
"Apa? "
Zen pun turun dari bangkunya, lalu berlutut di depan Ana sambil membawa sebuah kotak cincin ditanganya
"Ana maukah kau menikah dengan ku? "
"Zen... " Ana sudah tidak bisa berkata-kata lagi. dia begitu terharu dengan lamaran Zen sampai-sampai ia menitihkan air matanya
"Mau kah kau menikah dengan ku? " tanya Zen sekali lagi dan langsung di jawab anggukan oleh Ana
Zen pun langsung memasangkan cincin di jari manis Ana dan memeluk calon istrinya dengan penuh kasih sayang
"terima kasih... terima kasih Zen" ucap Ana sambil terisak
"Babby kenapa kau menangis? "Zen menyeka air mata di pipi Ana
"kau adalah pria pertama yang mau menerima aku sebagai istrimu " Ana menangis haru, akhirnya ada juga seorang pria yang mau menerima dia apa adanya. Ana sudah sangat lelah dengan semua penolakan pria-pria yang memanandangnya sebelah mata
"jangan seperti itu Babby, kau dari awal memang sudah special di hati ku. jangan kau hiraukan ucapan-ucapan orang lain" ucap Zen tulus
Zen dan Ana saling memandang satu sama lain, mereka berusah menyelami perasaan masing-masing melalui tatapan mata mereka
Cup
Zen mengecup dan sedikit melamut bibir Ana yang manis, untuk pertama kalinya Ana belajar membalas ciumuan itu
...***...
Malam Hari
Acara sponsor Casper sedang berlangsung, Ana yang terpaksa berpisah meja dengan calon suaminya. Ana harus profesional sekarang ini dia bukan tunangan dari Zen melainkan sekretaris dari Rey, sehingga ia harus duduk satu meja bersama Rey
__ADS_1
sebenarnya Ana sudah merasakan sakit di perutnya, namun ia harus profesional. dia sudah jauh-jaub ke Bali untuk bekerja, masak ia harus izin sakit?
acara sudah berlangsung satu jam yang lalu, namun entah kenapa Ana merasa Rey menjadi dingin kepadanya. ditambah mereka bertiga tidak saling berbicara membuat suasana semakin canggung dan dingin
Ana menjadi merasa bersalah terhadap Rey, karena tadi siang Ana meninggakakn Rey yang sedang membayar makanan
"Jay, apa hanya aku yang merasa jika Tuan Rey berbeda? " bisik Ana kepada Jay
belum sempat Jay menjawab pertanyaan Ana, dia sudah ditatap tajam oleh Rey membuat nyalinya menciut dan lebih memilih untuk diam memperhatikan presentasi di depan
Ana yang melihat reaksi Rey sperti itu menjadi yakin jika Rey sedang marah padanya "Rey pasti sedang marah pada ku" ucap Ana dalam hati
Rey pun sama, dia juga memperhatikan presentasi di depan. hanya Ana satu-satunya orang yang tidak bisa berkonsentrasi, rasa sakit yang melanda perutnya semakin menjadi-jadi. kini tubuhnya mulai merasa dingin, bulir-bulir keringat mulai bermunculan di dahinya
sekitar satu jam Ana menahan rasa sakit itu, sampai akhirnya acara itu selesai
ting
suara notifikasi ponsel Ana berbunyi, ada sebuah pesan dari kekasihnya Zen
"Babby maaf aku harus kembali ke Jakarta sekarang , ada urusan yang mendadak. kau tidak apa-apa kan pulang dengan Tuan Rey? aku akan bilang kepada Tuan Rey agar mau memberikan mu tumpangan "
"tidak perlu, aku bisa bilang sendiri, ... kau hati-hati di jalan"
"tidak apa-apa "
"terimakasih, jaga dirimu Babby"
"hem...kau juga"
setelah selesai mengemasi barang-barangnya Rey berdiri dari duduknya hendak pergi dari sana
"Ee... Tuan Rey. bolehkah saya menumpang di pesawat untuk kembali ke Jakarta? " tanya Ana takut-takut
"hem" jawab singkat Rey tanpa menoleh ke arah Ana, kemudian dia melanjutkan lagi jalannya
"terima kasih tuan" ucap Ana tulus namun di acuhkan oleh Rey
"Nona Ana, Anda baik-baik saja? " Tanya Jay khawatir melihat Ana sudah pucat
Rey yang awalnya dingin dan mengacuhkan Ana seketika menghentikan langkahnya lalu berbalik arah saat mendengar nada khawatirkan Jay
"aku baik-baik saja" ucap Ana sudah semakin lemah. Ana berusaha untuk bangkit dari duduknya namun seprtinya kakinya sudah sangat lemas, kepalanya sudah sangat berat, matanya tiba-tiba sangat gelap. Ana jatuh pingsan
"Ana!!! " Triak Rey berlari menangkap tubuh Ana yang terjatuh, tubuhnya sudah sangat dingin
__ADS_1
"Ana kau kanapa? kanapa tubuh mu dingin sekali?... Ana bagun!!! " Rey panik menepuk-nepuk pipi Ana
"Jay cepat panggil Ambulance! "
"ba-baik Tuan"
"Ana kau kenapa? Ana bangun... " Rey berusaha untuk menyadarkan Ana
Rey sangat khawatir dengan keadaan Ana, dia sedikit bersalah telah mengacuhkan Ana saat Ana sedang dalam keadaan sakit. Rey yang merasa bersalah mengukuti Ana masuk kedalam ambulance
tidak sedetik pun Rey melepas gengaman tangan Ana, dia terus menemani masuk ke dalam ruang priksa Ana, bahkan saat Ana mulai di periksa oleh dokter Rey masih setia menemaninya
sedikit ada derama di sana, Rey yang tidak ingin Ana di periksa oleh pria meminta Jay untuk mencarikan dokter perempuan yang memikiki prestasi tertinggi di sana namun dokter yang di minta Rey tidak ada kecuali dia harus berlangganan VVIP di rumah sakit tersebut agar bisa meminta ganti dokter sesukanya
itu sangat mudah sekali bagi Rey, dengan kekuasaannya Rey bahkan bisa membeli rumah sakit tersebut. namun Jay merasa sayang kanpa juga harus membayar biaya mahal untuk sakitnya yang tidak begitu serius?
tetapi itu tidak berlaku kepada Rey, yang sakit adalah wanitanya, wanita yang sangat ia cintai tentu saja ia akan memberikan hal yang terbaik untuk wanita itu
sekitar tiga puluh menit Jay sudah selesai mengurus semua pendaftaran VVIP di rumah sakit tersebut, dan Ana sudah di tangani oleh dokter Wanita profesional dengan di temani Rey tentunya.
tidak lama kemudian, Ana sudah mulai tersadar, dia terkejut karena terbagun di sebuah hotel. Hotel? iya kamar rumah sakit VVIp disana berfasilitas seperti kamar hotel bahkan lebih mewah dengan alat-alat medis super cangih
"kau sudah bangun? " tanya Rey
"aku dimana? "
"kau di rumah sakit, kenapa kau tidak bilang kalau kau sedang tidak enak badan! "omel Rey
"aku tidak apa-apa, aku hanya kram prut gara-gara menstruasi saja. tidak ada masalah besar"
"mau kram perut, flu, demam atau apa pun. kau tetap harus memberitahu ku"
"aku tidak apa-apa, istirahat juga sembuh" Ana bangun dari tempat tidur
"tidak bisa, kau harus di rawat di rumah sakit ini sampai keadaan mu benar-benar sembuh total"
"aku benar-benar tidak apa-apa, aku sudah baikan"
"kalau aku bilang di rawat ya di rawat! "
"aku tidak suka di rumah sakit"
Ana dan Rey pun mulai berdebat, Ana yang ingin segera pulang ke Jakarta sedangkan Rey meminta Ana untuk sementara tinggal di rumah sakit untuk memulihkan keadaannya
Akhirnya Ana lah yang menang setelah Dokter memberi izinnya pulang dan menjelaskan kepada Rey jika sakit yang di idap Ana tidak serius. kram perut adalah sakit yang umum terjadi kepada wanita saat datang bulan
__ADS_1