
di pagi harinya, mata Ana membengkak karena menangis semalam. masalah semakin rumit saat Ana keluar dari kamar, tiba-tiba suasana di rumah menjadi dingin Mama Iren dan Lyla yang tidak menegur sapa dengan Ana. mereka hanya berlalu saja saat tidak sengaja berpapasan di kamar mandi dan juga dapur
Mama iren yang biasanya cerewet di pagi hari, sudah tidak terdengar suara Mama Iren pagi ini. Ana berusaha mendekati Mama Iren, berusaha untuk meminta maaf. pasti beliau sangat kecewa sampai Mama Iren mendiamkan Ana seperti ini
"Maa.. " Ana menghampiri Mama Iren di dapur, beliau sedang memotong-motong sayuran. namun Mama Iren bertingkah seperti Ana tidak ada di sana. Mama Iren terus mengacuhkan keberadaan Ana
"Ma.. Maafin Ana" Ana tidak patah semangat dia, terus-terusan berusaha menbuat hubungan keluarganya menghangat seperti dulu
"Maa.. jangan cukin Ana dong.. Ana minta maaf"
"untuk apa kau minta maaf?! ini semua gara-gara Mama kan kamu melakukan itu? " Mama Iren menghentikan aktivitas memotongnya, kini beliau fokus berbicara dengan Ana
"bukan sepeti itu Maa..."
"memang Mama Salah? kepengen cepat-cepat kamu menikah, pengen cepat -cepat Punya cucu?! "
"..... "
"sudahlah, terserah kau mau menikah atau tidak, Mama tidak perduli lagi! "
"Maa.. jangan seperti itu, Ana pasti Akan menikah.. "
"Apa kau sudah puya pria? "
"Su-sudah Ma, dia mau mengajak Ana untuk menikah. lihat ini ma dia sudah melamar Ana" Ana memperlihatkan cincin pemberian Zen
Mama Iren menghela nafasnya panjang, setelah melihat cincin itu.Mama Iren menjadi bersalah, bersalah karena selama ini dia terlalu memaksa Ana untuk datang ke perhodohan
"baik, undang dia ke rumah bersama dengan orang tuanya Mama tidak ingin pertunangan -pertunangan lagi! Mama ingin kau segera menikah saja! "
"baik Ma... " Jawab Ana antusias, dengan senyum yang mengembang di wajahnya
Ana segera berlari mengambil ponselnya di kamar, dia segera mencari no posel milik Zen dan ia hubungi
tuttt tuttt tuttt
bunyi panggilan yang sudah terhubung, Ana menunggu satu dau tiga menit panggilan itu tak kunjung di jawab oleh Zen. tidak patah arah Ana menghubungi Zen kembali
sudah ke tiga kalinya Ana menghubungi Zen belum ada jawaban dari kekasinya itu, Ana selalu berfikiran positif
__ADS_1
"Hemm.. mungkin dia masih tidur? " tebaknya, kemudian Ana memutuskan akan menggubungi Zen nanti siang lagi
setelah keluar dari kamar, Ana ingin mencari ayahnya. bertahun-tahun Ayahnya itu tidak pulang. dia ingin bercerita dan menghabiskan waktu dengan cinta pertamanya itu. namun saat Ana mencari ayahnya ia tidak sengaja mendengar ibu-ibu sedang berbelanja sayur sekalian bergosip
berita tentang menganai hubungan palsu antara Rey dan Ana sudah berhembus keluar, entah dari mana ibu-ibu tetangga Ana bisa mendengar cerita itu
ibu A : "Heh.. sudah pada denger belum, Ana dan Tuan Rey ternayata pura-pura"
Ibu B : "pura-pura bagaimana jeng? "
Ibu A : "iya, ternyata dia hanya pura-pura pacaran saja sama orang kaya... hahaha"
ibu C : "oalah... tak kira itu benarana lho bun, dulu itu. saya sampai mau tanya ke si Ana ber-dukun dimana bisa gaet kowok kaya"
ibu B : "lho kok ber-dukun bun? "
Ibu C : " iya, tidak mungkin wanita buruk rupa sepeti dia mendapat cowok ganteng plus kaya seperti Tuan Rey"
Ibu A : "hahaha..., saya dulu juga mau tanya ndukun dimana, biar saya pakai juga. capek janda terus tidak ada teman main"
Ibu C : " his.. jeng bisa aja"
Ibu B : "kenapa ibu-ibu ini yakin neng Ana pakai dukun? "
Ibu A : "bagaimana dia tidak menjomblo bu, pria saja tidak mau sama dia"
Ibu B : "maksudnya? "
Ibu C :" Ana itu selalu di tolak oleh pria-pria, pria jelek saja menolaknya apalagi pria tampan seperti tuan Rey....di rumah tidak punya kaca kali ya? hehee"
Ibu A :" iya, sebel deh. dulu Iren selalu bangga-banggain Rey 'calon matu... ' 'calon mantuu' prettt...sekarang sudah tahu kebenaranya, dia tidak berani lagi keluar rumah ahahaha... "
Ibu C : " mungkin dia sedang sibuk berkhayal punya mantu kaya... "
ibu A, B, C : "hahahah... "
para tenagga itu terus mengosip tepat di depan rumah Ana, mereka seakan tidak perduli suaranya dapat di dengar oleh Ana
"Ana kau makan dulu sana" Ada sebuah suara dari belakang yang mengejutkan Ana
__ADS_1
"Ma.. Mama? " Ana terkejut melihat Mama Iren yang dari tadi berdiri di belakangnya, entah beliau berdiri sejak kapan. apakah beliau juga mendengar ibu-ibu yang bergisip tadi?
"Makanlah dulu...jangan hiraukan mereka"
"Maa... maafin Ana"
"Mama sudah maafin kamu, kamu buruan hubungi calon mu. biar bisa membungkan mulut mereka! "
"iya Ma! "jawab Ana dengan mantap
Ana makan bersama dengan keluarga yang lengkap untuk pertama kalinya, biasanya mereka makan bersama dengan tiga orang, sekarang ayahnya sudah kemabli. membuat lengkap suasana makan keluarga, meski suasananya masih canggung selepas kejadian kemarin
flasback off
"Apa sampai sekarang kau masih belum bisa menghubungi Zen? " tanya Rani
Ana mengelengkan kepalanya "belum, dia tidak mengangkat panggilan ku dan juga tidak membalas chat ku"
"kau sudah berusaha menemuinya di kantor? "
"aku tidak percaya diri, menemuinya" Ana menatap dirinya sendiri, dia begitu tidak PD dengan penampilannya
"Dia, yang mangajak mu menikah. tapi dia juga yang menghilang!!! " kesal Rani, tidak terima sahabat baiknya di permainkan seperti itu
"kau tenang saja Ana, sepulang kerja kita ke Thomson grup. kita mencari kejelasan pria itu! " seru Rani, dia bertekad akan membantu sahabat baiknya itu mendapat kejelasana dari pria bernama Zen! "oh iya.. aku harus kembali bekerja, setelah kepergian Tuan Rey. kantor jadi lebih ketat di pegang oleh tuan Alvan"
"Apa? Rey pergi? "
"Oh... aku belum cerita ya? iya Tuan Rey pergi ke Jerman "
"apa dia ada urusan bisnis di sana? "
"tidak, dia akan tinggal di sana dan perusahaan di sini Sekarang di pegang oleh Tuan Alvan lagi"
"pergi? Rey Pergi? " hati Ana menjadi tidak karu-karuan saat mendengar Rey pindah ke Jerman. entah mengapa hati Ana menjadi sedih. kenapa harus ke Jerman? kenapa Rey tidak tinggal di Indonesian saja? meski sudah tidak mungkin Rey menjadi miliknya, paling tidak Rey masih satu negara dengan Ana dan Ana masih bisa melihat Rey dari kejauhan
"Hai...! Ana! kanapa kau malah melamun? " Rani menyadarkan Ana
"Hah? oh.. maaf.. oh iya kau katanya akan tertambat pergilah"
__ADS_1
"hem.. aku pergi dulu ya" pamit Rani tetpaksa, Rani masih menyisakan segudang pertanyaan kepada Ana, namun memang waktu yang semakin menepis ia tidak bisa
ada yang menganjal di hati Rani, entah mengapa saat dia bercerita tentang ke pergian Rey. Ana seperti sangat sedih dan kecewa, entah Ana sadar atau tidak, tadi saat Ana melamun air mata Ana menetes. Rani bisa merasakan dari keluarnya air mata tersebut, kesediahan begitu mendalam yang sedang di rasakan Ana