
Hari ini adalah hari minggu, dimana pasang kekasih akan menghabiskan waktu berdua. sama seperti Zen dan Ana mereka juga keluar untuk jalan-jalan
Zen mengajak Ana ke Mall, Zen ingin bermain permainna yang ada di mall bersama Ana. Ana sangat antusias, ini kali pertamanya dia berkencan dengan kekasih sesungguhnya
namun saat mereka menaiki lift untuk menuju dimana latai permainan itu berada. pengunjung lain menatap ke arah Ana dengan tatapan aneh sambil berbisik-bisik. Ana merasa tidak nyaman akan hal itu, ditambah lagi Ana sayup-sayup mendengar obrolan pengunjung itu dengan temanya
"Hei...lihat dia, apa dia kekasihnya? " bisik salah seorang dari mereka, membicarakan Ana
"lihat saja penampilannya seperti itu, dia lebih pantas menjadi pembantunya dari pada kekasihnya "balas temanya
"hahha.. kau benar, prianya sangat tampan tidak mungkin memiliki cewek gembel sepeti itu" sabungnya
sejelek itukah penampilan Ana? padahal Ana menggunakan pakaian sebagus mungkin yang ia miliki, dia juga sudah berdandan meski hanya menggunakan bedak dan lipstik saja. masak iya dia tidak pantas bersanding dengan Zen?
ting
pintu lift sudah terbuka, dua wanita yang membicarakan Ana tadi sengaja mengoda Zen. mereka mengedipkan salah satu matanya dan melempar senyum tebaiknya sebelum keluar lift
Zen yang seakan sudah terbiasa dengan hal itu, tidak menanggapinya. dia keluar lift begitu saja, berjalan menuju temezon
setelah penghinaan dari dua wanita tadi membuat Ana tidak percaya diri, dia lebih memilih berjalan di belakang Zen sambil menundudukkan kepalanya
merasa kekasihnya ketinggalan Zen menghentikan langkanya lalu berbalik kebelang, Zen langsung mengandeng tangan sang pujaan hati
"Zen, lepaskan.. " tolak Ana
"tidak mau..! "jawab Zen tegas
"lepaskan! aku malu" Ana masih berusaha melepas gengamannya
"kau itu kenapa? kau marah karena tadi ada wanita yang mengoda ku? " tanya Zen tidak mengetahui insiden di dalam lift
Ana hanya diam seribu bahasa, hatinya sudah terlanjur sakit mendengar hinaan tadi
"oke.. kau boleh memukulku kalau begitu" Zen mengira Ana merajuk karena ada mba-mba yang tadi berusaha mengodanya. meskipun Zen tidak merespon mba-mba tadi tapi tetap saja Zen harus membujuk pacarnya yang sedang merajuk kan? Zen menundukkan kepalanya agar Ana bisa memukulnya
"aku tidak mau! " Ana menarik tangganya lalu hendak pergi dari sana namun dengan cepat Zen meraih tangan Ana dan menamparkannya ke arah wajahnya sendiri
"Zen apa yang kau lakukan?! " Ana terkejut dengan tidakan Zen yang menggunkan tanganya untuk melukai Dirinya sendiri
"jika aku berbuat kesalahan, pukulah aku sampai amarah mu mereda tapi jangan perah kau tinggalkan aku" ucap Zen romantis
"Zen hentikan!" teriak Ana saat Zen kembali memukuli dirinya sendiri
"jadi kau sudah tidak marah? "
__ADS_1
"hem" jabwa Ana singkat, "lagi pula ini bukan salah mu kenapa kau memukuli dirimu sendiri? " ucap Ana dalam hati
"aku tahu satu cara lagi agar amarah mu mereda"
seakan deja vu, Ana sempontan menutupi mulutnya dengan ke dua tangannya, agar Zen tidak mencium nya
"aku tidak akan menciumu" Zen tersenyum melihat tingkah manis Ana
Zen mengajak Aan untuk membeli ice kream, api akan padam dengan es kan?
"bagaimana kau suka ice kream nya? " tanya Zen
"hem.. rasa Vanila kesukaan ku" Jawab Ana bahagia, Zen benar-benar pandai membuat moodnya membaik
"jika mood mu sudah baik, sekarang saatnya kita bersenang-senang" ucap Zen mengandeng tangan Ana memasuki dunia timezone
Zen dan Ana sangat bahagia, mereka memainkan semua permainan di sana. seperti memasukkan bola basket ke dalam ring, balapan motor, berdansa, dan masih banyak permainan yang mereka berdua mainkan
"kau senang? " tanya Zen beristirahat, setelah lelah memainkan hampir semua permainan di sana
"hem" jawab Ana mantap "tapi ada satu permainan yang ingin aku mainkan"
"apa? "
"oke"
hari minggu, juga hari keluarga bagi Rey dan Angela, mereka sedang duduk bersama sambil menemani Gibran yang sedang bermain mandi bola di area khusus anak-anak. tidak seperti Rey yang kemarin, dia lebih sibuk dengan ponselnya dari pada menanggapi ocehan Angela
Angela seikit kesel karena tidak diperhatikan oleh Rey, namun ia harus menahannya agar hidupnya bahagia dengan setatusnya sebagai Nyonya Mirzan
Gibran yang sudah mulai bosan dengan mandi bola, menepi menghampiri mamanya
"Mama, Giblan ingin main yang lain" pinta anak berusi lima tahun itu
"kau mau main apa sayang? "
"Giblan ingin main capit boneka"
Angela melirik ke arah Rey sejenak, Rey benar-benar tengelam dengan ponselnya sampai ia tidak mengetahui keinginan Gibran
"Rey... Rey...! " Panggil Angela
"hem... " jawab Rey tanpa melepaskan tatapanya dari layar ponselnya
"Gibran ingin bokeka, bisakah kita pindah tempat? "
__ADS_1
"laki-laki kok ingin beli boneka? " Jawab Rey masih setia menatap ponselnya
"Gibran tidak ingin membelinya, tapi dia ingin memenangkannya dari mesin boneka" ucap Angela
ucapannya Angela barusan tidak di gubris Rey, Rey masih asik membalas semua email yang masuk di penselnya. Angela tidak kehabisan akal, dia mencubit putranya agar menangis dan menarik perhatian Rey
Huaa... huaaa...
tangis Gibran mengema di seluruh area bermain itu, benar saja dugaan Angela, Rey langusng mengacuhkan ponselnya dan perhatiannya beralih ke Gibran
"kanapa kau menangis?!"
"karena permintaannya tidak kau turuti, jadi dia menangis" ucap Angela tidak merasa bersalah sama sekali denga apa yang barusan ia perbuat, dia malah berakting menenagkan Gibran seolah-olah dia adalah ibu yang baik, penuh pengertian, dan kasih sayang
"oke.. oke.. kita kesana" Rey beranjak dari duduknya
"yes" sorak kegembiraan hati Agela, dia berharap tempat capit boneka melewati toko tas bermerek incaranya bulan ini. jadi dia bisa merayu Rey untuk membelikkannya
mesin capit boneka itu sangat ramai, banyak pasangan kekasih yang mengantri urutan bermain, rupanya mesin itu cukup populer di kalangan pasangan kekasih yang lain. mereka juga ingin memberikan boneka untuk kekasihnya dari dalam mesin itu
sekarang tibalah giliran Ana dan Zen. satu dua kali Zen mencoba namun dia gagal mendapatkan boneka untuk Ana
"sedikit lagi.. sedikit lagi... yahhh...jatuh... " teriak Ana kecewa untuk kelima kalinya Zen tidak berhasil mendapatkan boneka untuknya
"sepertinya aku kurang beruntung hari ini"
"benarkah? " tanya Ana kecewa
"bisakah kau pinjamkan aku keberuntungan mu? "
"keberuntungan ku?? " tanya Ana heran
"iya"
"bagaimana meminjamkannya? apa Seperti ini? " Ana mentos kan telapak tanganya kepada telapak tangan Zen
Zen pun tersenyum melihat kebingungan Ana yang menurutnya itu sangat lucu "bukan"
"lalu? "
"seperti ini"
Zen manarik Ana agar dia berada di depannya kemudian Zen mengurung Ana diantara mesin capit boneka dan tubuhnya yang kekar, Zen pun memasuukkan koin untuk bermain, tidak lupa ia mencium pipi Ana untuk menyulut semangatnya
Rey yang memang hendak kesana lalu melihat keromantisan Ana dan Zen menjadi panas tiba-tiba. Rey berjalan tegas menghampiri mereka sampai-sampai Rey mengabaikam Agela yang kecantol di toko bermerek Chanel
__ADS_1