
Langit gelap di malam hari, bertaburan kelap kelip bintang seperti kunang-kunag di kegelapan. malam ini adalah malam purnama, bulan menunjukkan wujud aslinya, bulat sempurna dan bersinar terang
nampak seorang wanita tengah duduk di jedela kamarnya menikmati sinar bulan purnama nan indah. sinar bulan purnama itu sangat terang menyorot tubuh wanita itu. siluwet tubuhnya tercetak jelas terpantul dinding kamarnya
"Are you oke? " tanya seseorang dari belakang. wanita itu menengok kebelakang, sejenak ia tersenyum menyapa sahabat baiknya datang
"I'm ok" jawab Ana kemudian memandangi rembulan lagi
"kenapa kau menolak Zen? bukan kah dia sudah memilihmu? " tanya Rani duduk di sebelah Ana
"sudah berapa kali aku katakan? aku tidak ingin melukai perasaan siapa pun. jika aku menikah dengan Zen akan banyak orang yang terluka"
"lalu bagaimana dengan dirimu sendiri? apa kau tidak akan semakin terluka?" kesa Rani "apa kau tahu? orang-orang di luar sana semakin senang jika kau gagal menikah! prawan tua jelek akan selalu melakat kepadamu! "
"tidak masalah, aku sudah terbiasa dengan itu"
"kau sudah terbiasa! tapi kami tidak! tante Iren dan aku merasa tidak suka jika kau dihina dan direndahkan seperti itu. So... pleass.. menikahlah dengan Zen, Ana" bujuk Rani
Ana menghela nafasnya sejenak, ia tahu betul jika orang -orang saat ini sedang bergosip mengenai dirinya, namun hati Ana lebih nyaman dengan kesendiriannya
"menikahlah dengan Zen dan bungkam semua ocehan orang-orang mengenai dirimu" lanjut Rani
"aku tidak bisa Ran.. "
"kenapa? "
"menikah bukan ajang unjuk diri, melainkan menyatukan dua hati dan dua keluarga "
"tapi Ana... "
"jika kau datang hanya untuk membujukku. percuma! aku akan tetap dalam keputusan ku"
Rani menghela nafas "aku hanya tidak ingin kau semakin terluka. kau memikirkan perasaan orang lain namun kau tidak memfikirkan perasaan Tante Iren yang sudah ingin memiliki cucu dari mu, melihat mu menikah dan dihargai oleh masyarakat "
"aku akan menunjukkan kepada mereka dan membukam semua ocehan mereka dengan cara ku sendiri"
"bagaimana kau melakukannya? kau saja tidak kaya, kau tidak... maaf.. cantik. lalu apa yang ingin kau buktikan? kecuali kau terlahir kembali ke dunia dengan keluarga kaya raya dan cantik mungkin mereka akan diam!"
"jadi kau mergukan ku? "
__ADS_1
"bukan seperti itu " Rani menghela nafasnya berat, dia merasa prihatin dengan takdir Ana "apapun keputusan mu, aku dan seluruh keluarga mu akan selalu mendukung mu" Rani menepuk pundak Ana, memberikan bahu kecil itu suatu kekutan
"terimakasih Ran, kau memang sahabat baik ku.. "
"jika kau hutuh bantuan ku, aku siap membantu mu"
"hem"
"kalau begitu aku pulang dulu, Akira pasti sudah menunggu ku... " pamit Rani berjalan ke pintu keluar kamar Ana
"hem"
"Oh... iya" Rani membalikkan badanya "enatah mengapa, atau ini haya perasaan ku saja. aku merasa kau lebih bersedih ditinggal Rey, dari pada kehilangan Zen?"
Ana hanya diam, sejenak ia berfikir jika apa yang di ucapkan Rani benar. dia lebih bersedih saat Rey pergi dan memilih tinggal di Jerman bersama istrinya dari pada dia menolak ajakan menikah Zen
"Aahhh... sudahlah! lupakan pertanyaan ku! lagi pula dua pria itu sudah punya wanita lain" Rani tak ingin menambah rasa sakit hati Ana dengan mengungkit-ngukit masa lalu "aku pulang " pamit Rani benar-benar pergi dari kamar Ana
Setelah Rani menghilang di balik pintu, Ana kembali memandang hamparan bintang kerap kerlip di langit
"terlahir kembali? " lirih Ana saat mengingat ucapan Rani
sepeti keluarga pada umumnya, keluarga Ana sarapan pagi bersama. meski suasana sudah tidak secair dan sehangat dulu, karena permasalahan Ana Mama Iren lebih banyak diam dan menutup diri
Mama Iren tidak seperti biasanya, beliau akan memenuhi ruang makan dengan suaranya. Mama Iren akan selalu mengoceh kepada Lyla karena membuang-bunang uang dengan membeli barang-barang mahal. jika di ruang makan itu ada Ana maka Mama Iren akan selalu menasehati Ana agar cepat mau menikah. namun kali ini berbeda, Mama Iren lebih banyak diam membuat suasana menjadi canggung dan tegang
"sudah jam berapa ini kenapa Ana belum juga keluar kamar? " tanya Ayah Edwin memecah keheningan "coba kau panggil kakak mu"
"baik yah... " Lyla kemudian beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamar Ana
tok tok tok
"kak, ayah meyuruhmu sarapan... " seru Lyla dari luar kamar
"Kak...Kak..! " Lyla mengetuk dan memanggil-manggil Ana namun tidak ada sautan dari dalam sana
Lyla memutuskan untuk membuka pintu kamar Ana, tidak ada hal aneh di sana. semua barang-barang berada di tempatnya namun tidak ada kakaknya di dalam sana
"Ck, kemana sih kakak pergi pagi-pagi sekali? apa dia sedang joging? "tebak Lyla
__ADS_1
saat Lyla hendak keluar dari kamar, tidak sengaja sudut matanya menangkap secarik kertas tergeletak di atas nakas yang di tindih dengan gelas. dengan berjalan santai Lyla menghampiriny kemudian ia mengambil kertas tersebut dan dia terkejut saat membaca surat itu
"Mama!!! Ayah!!! " panggilnya panik, memanggil kedua orang tua-nya
"Ada apa? Ada Apa? " tanya Mama iren dan Ayah Edwin ikut khawatir
"liat Ma, liat... Kak Ana kabur" Lyla memberika kertas tersebut kepada Mama Iren dan Ayah Edwin
...Ayah, Mama maafin Ana yang pergi tanpa pamit, Ana yakin jika Ana meminta ijin pergi pasti kalian tidak akan mengizinkanya makanya Ana pergi diam-duam. Ana hanya butuh waktu sendiri. Ayah dan Mama jangan khawatir, Ana akan menjaga diri dengan baik. Ana hanya akan pergi sebentar menenagkan diri dan juga Ana ingin membuktikan kepada orang-orang yang sudah merendahkan Ana. Mama jangan khawatir pasti Ana akan kembali dengan kepala tegak. dan untuk Lyla jaga Mama dan ayah selama kakak pergi, jangan biarkan Mama menangis dan sakit hati dengan ucapan orang lain, kakak yakin kau bisa mengatasinya....
...Ana pamit, Jaga diri kalian...
...l love you β€...
Mama Iren langsung menangis sejadi-jadinya saat membaca surat perpisahan dari Ana. hati ibu mana yang tidak sedih jika di tinggal kabur sepati itu di tambah, saat ini Ana sedang dalam kondisi mental yang tidak baik-baik saja
Mama Iren segera menghubungi semua teman-teman terdekat Ana termasuk juga Rani. berharap Mama Iren mendapatkan kabar tentang keberadaan Ana saat ini
"aku tidak tahu tante, semalam kami bicara biasa-biasa saja" ucap Rani langsung meluncur ke rumah Ana begitu mendengar kabar Ana pergi dari rumah. saat ini Ayah Edwin, Mama Iren, Rani dan Lyla berada di raung tengah berencana mencari keberadaan Ana
"Kak Rani, merasa ada yang aneh dengan Kakak semalam? atau mungkin Kakak bercerita ingin pergi kemana.. " tanya Lyla
"tidak, dia tidak cerita. dia hanya merasa sedih. aku rasa itu wajar saat putus cinta... "
"lalu bagaimana dengan kabar dari teman-teman Ana yang lain apa kau sudah mendapat kabar? "
"belum om, Ana tidak pergi ke sana"
"lalu kemana perginya putri ku? " lirih Mama Iren menangis sedu
"Lyla apa kau punya petunjuk? semisal barang-barang sapa saja yang dia bawa, seperti paspor, baju-baju? " tanya Rani
"kakak tidak memiliki paspor, Kakak juga tidak membawa apa pun baju-bajunya masih utuh di lemari, dia hanya membawa leptop kesayangannya, ktp dan ponsel. ponselnya tidak aktif bahkan kak tidak membawa uang"
Ayah Edwin, Rani, Lyla memijat kepalanya pusing memfikirkan, kira-kira kemana perginya Ana tanpa bekal apa pun
ππππππππππππππππ
kira-kira kemana ya perginya Ana?
__ADS_1
Ada yang tahu? coba komen di bawah π