
kini mereka bertiga sedang berada di atas kapal layar, mereka bersama-sama mengarungi lautan lepas. Ana adalah satu-satunya orang yang tidak bisa menikmati pelayaran tersebut karena jantungnya selalu berdetak kencang saat dua pria yang bersamanya selalu bersitegang
sekarang ini mereka sedang berloma memancing. dua pria tangguh itu salung beradu skils mendapatkan ikan untuk wanitanya. suasanya semakin menegang saat Rey lebih dulu mendapatkan ikan
"lebih baik kita kembali saja" pinta Ana, dia tidak mau ada sesuatu yang buruk terjadi
"kita baru setengah jam berlayar, kenapa harus kembali? "tanya Rey
"sebentar lagi, acara akan di mulai. lagi pula aku juga sudah lapar" jawan Ana
"kau lapar? kenapa tidak bilang dari tadi? kau tidak boleh telat makan" ujar Rey kemudian memerintahkan nahkodanya untuk menepi di pulau
Zen yang dari tadi mengamati reaksi Rey yang begitu perhatian kepada Ana, mulai tidak nyaman. pria mana yang tahan saat wanitanya digoda pria lain?
Rey membawa Ana ke sebuah restoran seafood termahal di Bali. Zen lagi-lagi harus menahan amarahnya saat karena Ana lagi-lagi di rebut oleh Rey untuk duduk di sebelahnya
"Buka mulut mu... Aaaa..." pinta Rey, ingin menyuapi Ana
"Rey hentikan... aku bisa makan sendiri" Ana mengambil alih sendok ditangan Rey. sesungguhnya Ana merasa bersalah kepada Zen, karena pacarnya adalah Zen tetapi kenapa ia selalu dengan Rey sepeti saat ini ia duduk di sebelah Rey meninggalkan Zen yang duduk sendirian di hadapannya. Ana sendiri bingung kenapa dirinya bisa berada di situasi seperti ini
"Tuan Rey, bukankah sikap mu itu terlalu berlebihan untuk seorang sekretaris? " Zen mulai membuka suara
"berlebihan apa maksudmu? aku hanya memperhatikan sekretaris ku" jawab Rey tidak begitu menanggapi ucapan Zen karena saat ini dia sendang fokus mengupas cangkang kepiting super besar
"mengajaknya berlayar lalu mekan makanan mewah di restoran mahal, bukankah itu sedikit berlebihan untuk karyawan? "
"Ck, kau itu terlalu membeda-bedakan karyawan. jangan seperti itu, itu tidak baik"
"jadi Anda pernah makan di restoran dan berlayar berdua dengan Jay? " tanya Ana pelan-pelan
mendengar pertanyaan polos Ana, Zen pun berusaha menahan rasa gelinya. bagaimana bisa dua orang pria berlayar bersama? orang-orang akan berfikir mereka itu pasangan
"Hem! " Rey berdaham untuk menghilangkan rasa kesalnya, keplosan Ana sudah membuat Rey malu di hadapan Zen.
"aku hanya berlayar dengan mu" ujar Rey membalikkan keaaan, ia berusaha mememantikkan api keributan di antara hubungan Ana dan Zen
Rey akan menggunakan tiga bulan buhungan palsunya dengan Ana untuk memecah belah pasangan baru itu
"bukankah dulu kau yang meminta ku untuk mengajak mu berlayar? kita berlayar berdua, melihat luma-lumba"
"benarkah? " tanya Ana balik panik menatap Zen yang sudah menatap tajam ke arah Rey
__ADS_1
"dan dulu kita sering.... Aww.. awww" Rey menghentikan ucapannya saat kakinya terasa sakit sekali karena ada seseorang yang mengjiknya dengan sangat keras
"awas kau ya...! " ucap Ana melalui tatapan matanya
"jadi kau belum menceritakan hubungan kita kepada Zen? " balas Rey dengan matanya juga, Rey tersenyum licik
"aku masih menunggu momen yang tepat"
"benarkah? ingin aku bantu jelaskan kepada Zen?"
"tidak perlu repot-repot, biar aku jelaskan sendiri saja! "
"tidak merepotkan kok, aku saja yang menjelaskan"
mereka berdua pun berkomunikasi hanya dengan tatapan mata satu sama lain.
"Ee.. Tuan Zen" panggil Rey
"Tidak!!! " triak Ana tambah panik
"Ana kau kenapa? " tanya Zen khawatir
"iya kau kenapa? " tanya Rey pura-pura khawatir, padahal di dalam hatinya ia tertawa bahagia melihat muka panik Ana "aku hanya ingin memberikan daging kepting ini untuk tuan Zen" ujar Rey tersenyum kemenangan sambil menyerahkan daging kepiting yang tadi ia kupas kepada Zen
"terima kasih atas traktiran makannya Tuan Rey" ujar Zen mendahului ucpan Rey
"Ee....Apa?" Rey bingung kenapa tiba-tiba Dia yang mentraktir makan?
"lain kali saya akan mentraktir Anda makan" lanjut Zen, sambil tersenyum ramah
Rey sudah tidak bisa mengelak lagi, malu kan jika ia meminta Zen untuk membayar makanannya sendiri terlebih di hadapan wanita yang ia suka
"aku akan membayar makananku" ucap Ana mengambil dompet di tas nya
"tidak perlu! apa kau tidak dengar? akulah yang akan membayar semua tagihan makanan ini" ucap Rey
"benarkah? " Ana terkejut, tumben -tumbennya Rey mentraktir dia makan. biasanya juga Rey pelit, saat mereka berpura-pura berpacaran Rey sangat perhitungan sekali
"hem" jawab Rey singkat lalu beranjak dari duduknya menuju kasir, karena dia tidak membawa uang tunai sehingga Rey harus mengesek kartu debitnya
ini kesempatan emas bagi Zen untuk membawa Ana pergi, sesaat Rey menghilang dari balik tembok. Zen langsung menarik Ana keluar dari restoran itu
__ADS_1
Zen mengaja Ana cukup jauh dari area restoran, Zen tidak ingin lagi pacaranya di rusak oleh orang ke tiga. Zen mengajak Ana ke sebuah danau buatan yang sengaja di buat untuk wisata, Danau itu sangat ribun oleh pepohonan yang menjulang tinggi, membuat suasana menjadi sejuk
Zen dan Ana hanya terduduk di bangku tepi danau tanpa sepatah kata pun. hampir lima belas menit mereka saling daim
"apa kau marah? " tanya Ana memulai pembicaraan
"iya aku marah" jawab Zen dengan nada yang kesal, tanpa menatap ke arah Ana
"Gawat!!! " batin Ana
Ana mengigit bibir bawahnya, dia tidak tahu harus membujuk Zen bagaiman. Dia belum pernah membujuk kekasihnya. saat Akira kesal atau marah Ana pasti akan memberikanya permen untuk membujuknya, tapi bagaimana dengan zen? dia bukan anak kecil yang bisa Ana bujuk dengan Es Cream dan permen
"Maafkan aku... aku tidak bermaksud untuk-"
"aku bukan marah kepada mu" potong Zen
"Apa? "
"aku marah kepada bos mu, aku cemburu kau berada di sampingnya! dia selalu mengikuti kita! merusak semua rencana ku" ujar Zen kesal meningat semua kejadian tadi
"Maaf... aku sudah berusaha untuk -"
"kau tidak perlu minta maaf babby" Zen menangkap wajah Ana agar langsung menatap ke matanya "aku tahu kau begitu lugu dan polos, jadi aku yakin kau tidak akan berkhianat. itu yang aku suka dari mu"
Ana yang mendapat kata-kata manis itu langsung tersipu malu
"jadi mau kah kau keluar dari pekerjaan mu? "
"Apa? tapi kenapa? "
"aku tidak ingin kau dan bos mu itu berduan terus "
"katanya kau percaya pada ku, jika aku tidak akan selingkuh? "
"iya Babby, aku percaya padamu tapi aku tidak percaya pada bos mu"
"tapi Zen...keluar dari pekerjaan? " Ana sedikit ragu
"jadi kau tidak ingin menuruti calon suami mu?"
"Apa? "
__ADS_1
Zen pun turun dari bangkunya, lalu berlutut di depan Ana sambil membawa sebuah kotak cincin ditanganya
"Ana maukah kau menikah dengan ku? "