Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
Part 74


__ADS_3

waktu itu jam pulang kantor, jalanan sedikit macet karena banyak orang kantoran pulang kerumah mereka. Ana yang berada di dalam taxi, terpaksa taxinya berjalan merayap karena padatnya kendaraan saat jam pulang kantor


tukk ....tukk..


jendela Taxi penumpang di gedor seseorang dari tadi, namun Ana engan untuk membukanya. dia tidak ingin berbicara atau bertemu dengan orang tersebut


"Nona... sepertinya pria itu ingin bicara dengan Anda" ucap pak sopir taxi itu, mulai merasa tidak nyaman dengan kedatangan pria tidak di kenal tersebut yang sudah lima menit mengetuk-ngetuk pintu kaca mobil Taxi miliknya


"Biarkan saja Pak, jalan terus saja... "


"tapi Nona ini sangat berbahaya, jalan semakin macet gara-gara kita... " supir taxi itu mulai melihat sekeliling, banyak motor dan mobil lain yang membunyikan tlakson mereka bahkan ada juga yang memaki-maki


"pak tolong buka puntunya, saya ingin bicara dengan pacar saya.. " seru Zen kepada supir taxi


"jangan! jangan dibuka! jalan saja terus! " debat Ana


sopir taxi itu bingung, yang mana yang harus ia turuti. penumpangnya atau seseorang yang mengaku-nagku sebagai kekasih wanita itu?


"Ana...aku bisa jelaskan semuanya, turunlah" mohon Zen, namun Ana tidak mengidahkannya. dia malah membuang mukanya ke jendela berlawanan arah dengan Zen


Klek


bunyi pintu taxi yang terbuka, meski sopir taxi itu tidak mengetahui permasalahan antara Zen dam Ana. namun supir itu menuruti kata hatinya, lagi pula dia juga sudah dibikin pusing dengan pengendara lain yang dari tadi membunyikan tlakson sekaligus memaki-makinya. ia harap dengan mempertemukan kedua kakasih yang sedang bertengkar itu adalah solusi yang baik baginya dan juga hubungan kekasih itu


Ana terkejut dengan tindakan pak sopir yang tidak menuruti perintahnya, namun rasa terkejutnya itu tidak bertahan lama saat, dengan cepat Zen masuk ke dalam mobil Taxi dan duduk di samping Ana, Zen langsung mengegam tangan Aan dan berusaha untuk menjelaskan semuanya


"Lepaskan! Lepas!!" brontak Ana. Ana yang tidak bisa kabur dari sana karena padatnya kendaraan saat itu, sangat berbahaya jika ia memaksakan diri untuk keluar dari Mobil Taxi. terpaksa Ia duduk bersebelahan dengan Zen di kursi penumpang


Zen menghela nafasnya panjang, dia paham apa yang di rasakan Ana saat ini. pasti Ana sangat marah dan kecewa terhadapnya

__ADS_1


Zen lebih memilih untuk menahan diri, lagi pula Zen juga merasa tidak nyaman jika menjelaskan hubunganya dengan Luna jika ada orang lain. Zen meminta supir taxi itu utnuk mengatarkannya ke sebuah danau atau taman agar Zen bisa leluasa berbicara dengan Ana


selama perjalanan menuju taman Zen dan Ana tidak saling berbicara, Ana yang lebih memilih membuang mukanya menghadap jendela. dia engan untuk menatap wajah Zen. sementara Zen hanya melihat punggung Ana, dia ingin sekali memeluk wanitanya itu namun ia sadar jika ia melakukanya wanitanya pasti akan menolak dan marah. sehinga Zen lebih memilih diam sambil berpikir kata-kata apa yang harus ia ucapkan saat mereka telah tiba di taman


lima belas menit kemudia, Taxi itu sudah berhenti di sebuah taman kota di sekitaran Jakarta. Zen membayar tagihan argo tersebut kemudian menyeret Ana untuk ikut bersamanya


"Lapas!! Lepaskan aku!! " Ana masih berontak melepaskan tanganya dari gengaman Zen


"tidak akan aku lepaskan sebelum kau mendengarkan ceritaku"


"aku tidak sudi! " seru Ana dengan sorot mata yang merah marah


alih-alih Zen mengunakan kekerasan, pria itu malah memeluk erat tubuh wanitanya


"Maafkan aku Ana... maafkan aku" ucap Zen begitu jelas terdengar di samping telinga Ana, suara Zen sangat pelan namun Ana bisa merasakan sebuah penyesalan yang mendalam dari Zen


"maafkan aku Ana... maaf" satu kata yang selalu di ucapkan Zen, selama ia mendengar keluh kesah kekasihnya itu. Zen semakin erat memeluk tubuh Ana bahkan Zen membiarkan Ana memukul punggungnya sepuasnya


Huaa... Huaa.. Ana menangis dalam pelukan Zen, semarah-marahnya Ana. dia bisa melihat niat baik Zen yang tidak melepaskannya begitu saja. dari Zen yang mengejarnya di jalan sampai saat ini ia memeluknya erat demi menangakanya, dan juga Zen menerima semua pukulan yang Ana lancarkan kepada punggungnya. bukanya Zen membalas pukulan tersebut tapi pria itu malah mempererat pelukkannya seolah Zen menerima semua hukuman yang Ana berikan kepadanya


sepuluh menit Ana menangis di pelukan Zen, dan dia sudah mulai lega dan tenang. Zen membawa Ana untuk duduk di salah satu bangku taman di sana, kini waktunya Zen menceritakan masalah perjodohan yang Zen sendiri tidak menginginkannya


"aku sangat bingung, sampai sekarang aku belum bisa memutusakan salah satunya. aku takut setiap kali kau menelfon dan mengirimku pesan kepada ku, aku takut bagaimana menjelaskan semua ini kepada mu... " terang Zen panjang lebar


"kenapa kau takut? lagi pula cepat atau lambat kau akan membicarakannya kepada ku kan? "


"aku takut...aku takut kehilagan mu"


"kau tau Zen? kau itu sangat egois! kau tidak bisa memiliki kita berdua! "

__ADS_1


"aku tahu! maka dari itu aku..."


"lalu apa keputusan mu? " desak Ana


"aku masih memfikirkannya... "


"apa kau ingin mengantungkan perasaan dua orang wanita Zen?! kau licik! "


"aku tidak bermaksud seperti itu, tapi aku sendiri masih bingung dan tidak yakin dengan pilihan ku"


"kalau kau masih bingung, maka aku akan membuatnya jelas"


"maksudmu?? "


"kita putus! " Ana beranjak dari duduknya


"Ana tidak bisa begitu" Zen mengegam tangan Ana "aku sangat mencintai mu.. "Zen kambali memeluk Ana


"tapi aku tidak ingin di madu Zen! "tangis Ana pecah kembali "kau tidak bisa memilih satu diantara kita! "


"aku bisa! aku bisa... beri aku waktu untuk memfikirkannya, beri aku waktu" Zen semakin mempererat pelukkannya. dia tidak ingin kehilangan Ana


"tapi Zen.. "


"berikan aku waktu Ana, percayalah kepadaku! " potong Zen, dia tidak ingin lagi mendengar Ana mengatakan kata putus lagi kepadanya


Ana hanya bisa pasrah, dan menangisi nasip cintanya yang begitu tragis. dulu sebelum ia punya pacar semua laki-laki menolaknya karena fisik, sekarang giliran ia memiliki kekasih yang sangat mencintainya, takdir mempermainkanya, pacarnya telah di jodohkan oleh orang tuanya tanpa sepengetahuan Zen


jadilah dua kekasih itu saling menangis dalam berpelukan. menangisi takdir yang begitu kejam mempernainkan dua hati manusia yang saling bertautan tersebut

__ADS_1


__ADS_2