Si Kribo Prawan Tua

Si Kribo Prawan Tua
Part 75


__ADS_3

3 hari kemudian


Ana memutuskan untuk memberikan Zen waktu untuk memilih. tiga hari adalah waktu yang di berikan Ana untuk Zen memilih pilihannya, mereka sudah sepakat akan bertemu di taman yang kemarin dengan waktu yang sama. kini mereka berdua telah duduk di salah satu sudut taman kota


"apa kau sudah memutuskan? " tanya Ana memulai pembicaraan, setelah mereka saling diam selama lima menit lebih


"hem"


"lantas apa keputusan mu? "


"aku akan menikah dengan-"


"sebelum aku mendengar keputusan mu, dengarkan keputusan ku terlebih dahulu" Potong Ana "aku ingin kita putus"


"ANA! "


Ana merasa lega setelah mengatakan itu "Senang juga rasanya bisa mengatakannya duluan, jadi aku tidak perlu malu jika kau menolak ku" canda Ana sambil tersenyum


"bagaimana jika aku memilih mu? " Zen mulai mengengam tangan Ana "Aku memilih mu Ana! mari kita menikah" ajak Zen sungguh -sungguh


"Zen..." Ana melepas gengaman tangan Zen " akan banyak orang yang terluka jika kita memaksakan diri untuk menikah"


"aku tidak peduli!! yang aku inginkan hanya kau"


"bagaimana dengan perasaan ibumu jika kita menikah? beliau tidak akan setuju"


"ayo kita kawin lari... "


"lalu? apa kita akan bahagia jika kita kawin lari? " tanya Ana dengan mata yang sudah muali berkaca-kaca "dengan menyakiti orang-orang yang kita cintai demi mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, itu bukanlah hal yang benar Zen. jika kita kabur bukan hanya orang tuamu dan orang tua ku saja yang terluka, tapi Luna juga akan tersakiti. Luna sudah mencintai mu sejak kalian bertemh pertama di LA"


"aku tidak mencintai wanita itu, cinta ku hanya kepada mu... "

__ADS_1


Ana mengehela nafasnya berat, ia merasa berat jika harus bicara dengan Zen yang keras kepala


"jika kau memang khawatir dengan perasaan orang lain, kenapa kau tidak mengkhawatirkan perasaan ku? apa kau pikir aku tidak akan terluka dengan penolakan mu? " ujar Zen


"lambat laun kau akan mencintai Luna. cinta akan tubuh seiring berjalannya waktu. kalian akan bertemu setiap hari, mennjalani kegiatan sehari-hari bersama. aku yakin lama-kelamaan kau akan mencintainya" ujar Ana memandang hampa kedepan


setelah mengatakan itu, sepat terlintas kenangan Rey di dalam fikiran Ana, kenangan dimana saat-saat mereka berdua. bagaimana awalnya Ana tidak menyukai Rey, karena setiap hari bertemu di kantor dan makan bersama lambat-lambat Ana mulai menaruh hati kepada Rey


"tolong....tolong jangan pergi dari ku Ana" Zen memeluk Ana dengan Emosional


"Zen lepaskan! kau harus menghargai keputusan ku"


"tidak! aku tidak akan pernah melepaskan mu... "


"Zen! " Ana berhasil mendorong tubuh Zen manjauh darinya "apa kau pikir hanya kau saja yang terluka? aku juga terluka Zen! " triak Ana mulai menangis


"aku juga sulit memutuskan ini, tapi jika kita tetap memaksa menikah semua orang akan terluka! Mami Jenifer, keluarga ku! Luna! dan tuan Thamson.. jadi tolong Zen mengertilah! akhiri hubungan ini!" setelah mengucapkan itu Ana lari pergi dari sana, sadar Zen yang keras kepala tidak akan mendengarkan ucapannya


"Ana... " triak Zen mengejar Ana yang masuk kedalam mobil Taxi


flasback on


beberapa jam sebelum Ana menemui Zen di taman, Mami Jenifer meminta Ana untuk bertemu di salah satu Cafe


"aku tahu.. aku merasa buruk jika aku meminta mu seperti ini tapi aku harus mengatakannya karena Zen keras kepala. dia tidak akan mendengarkan ku"


"me-memang apa yang ingin tante bicarakan? " ucap Ana takut-takut


"lepaskan Zen "


"Apa? "

__ADS_1


"aku tahu, anak itu pasti akan memilih mu. dengan keras kepalanya dia akan terus berjuang mendapatkannya.. "


"lalu... lalu kenapa tante tidak berusaha menerima saya? kenapa tante meminta saya untuk menjauhi Zen? kenapa tante tidak belajar menerima saya? apa karena saya tidak cantik? apa karena saya tidak memiliki kekayaan seperti tuan Thamson sehingga tante menyingkirkan saya? " kesal Ana mengeluarkan semua unek-uneknya


Ana sudah lelah dipandang sebelah mata terus, mereka semua hanya memandang fisik dan harta yang ia miliki. memang Ana bukan keturunan orang kaya namu Ana hidup dalam berkecukupan. jika di bilang miskin? Ana tidak semiskin itu, buktinya Lyla bisa membeli tas, baju, sepatu ber-brand terkenal


"tante tidak memandang seseorang dari fisik maupun hartanya"


"lantas?"


"Zen kehilangan ayahnya saat dia berumur lima belas tahun, waktu itu kami sangat kesusahan dan kesukitan dalam ekonomi karena tulang punggng kami yang tiba-tiba meninggal dunia. Zen selalu saja di bully teman-teman SMP-nya karena ia membawa barang daganganya di sekolah demi mendapatkan uang saku. uang SPP saja sudah menunggak hamir enam bulan karena kami tidak bisa membayarnya. dalan kesulitan dan keputusan asaan itu datanglah pertolongan Tuhan melalui Tuan Thomson. Tuan Thomson yang mengubah hidup kami, beliau memberikan kami tempat tinggal yang layak, menyekolahkan Zen sampai kulaih dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang beliau berikan kepada keluarga kami sampai kami tidak sanggup membayar balas budinya. sampai suatu hari lamaran dari Tuan Thamson datang kenpada kami, aku berfikir jika akan membalas budi beliau dengan menikahkan Zen dan Luna. beliau hanya meminta satu dari ku..." Mami Jenifer menceritakan kepaitan hidupnya tanpa ekspresi apa pun seolah ia telah mengubur dalam semua kenangan itu


namun berbeda dengan Ana yang tersentuh dengan cerita memilukan itu


"demi aku bisa membalas budi, kepada keluarga Thomson maukah kau melepaskan Zen? " pinta Mami Jenifer mulai menangis memohon


Ana berpikir sejenak, ia tidak mengira jika Zen mengalami masa-masa sulit sepeti itu. jika Ana di posisi Mami Jenifer, dia bisa memahami apa maksud dari beliau


"Ana tante Mohon... " mohon Mami Jenifer berlutut di depan Ana karena Ana tidak kunjung menjawab


"Tante... tante jangan seperti ini" Ana terkejut dengan tindakan Mami Jenifer, dia langsung membantu Mami Jenifer berdiri


"tante tidak akan berdiri sebelum kau mengatakan akan meninggalkan Zen"


Ana bingung, dia tidak tahu apa yang di ucapkan Mami Jenifer adalah benar adanya atau hanya sebuat trik belaka, namun dilihat dari tangisanya Mami Jenifer. cerita yang di ceritakan tadi sepertinya benar


entahlah entahlah.. Ana sendiri juga bingung, dia akan menuruti apa kata hatinya saja "baik tante.. aku akan melepaskan Zen"


"kau yakin? "


"hem, jadi tolong Tante berdirilah"

__ADS_1


"terimakasih Ana.. terimakasih " Mami Jenifer memeluk Ana, mengungkapkan semua rasa terimakasihnya dan rasa syukurnya


fkasback off


__ADS_2