Soul Monarch : Eclipse Feast Online

Soul Monarch : Eclipse Feast Online
Curam, Terlalu Curam!


__ADS_3

Langkah kakiku menderap, berjalan dengan mantap ke utara. Sudah beberapa hari sejak aku meninggalkan Kota Houra dan kini aku tengah menuju Kota Morksi.


Yaa, ini adalah jalur yang kupilih untuk dapat menuju Rivelar Trade Capital.


Jika aku menggunakan Kota Houra sebagai acuan, terdapat dua jalur untuk menuju Ibu Kota States of Scuart tersebut.


Pertama menuju selatan dan segera menuju pelabuhan. Dengan States of Scuart sendiri yang termasuk negara kepulauan, banyak pulau kecil yang tersebar di selatan dan itu cocok untuk moda transportasi laut.


Yaa, bahkan jika ancaman dari monster akuatik tetap ada, itu dapat diminimalkan dengan banyaknya tempat transit yang tersedia.


Sedang metode ke dua adalah menuju utara. Yaa, ini adalah jalur yang kupilih. Meski begitu, wilayah yang ada sendiri cukup terjal. Terdiri dari perbukitan berbatu tinggi nan curam sehingga lebih jarang untuk dilalui daripada jalur pertama.


Sayang sekali pembuatan terowongan yang menembus langsung dalam garis lurus tidak ada di sini. Sepertinya itu dikarenakan Kota Houra tidak termasuk daerah prioritas untuk dikembangkan oleh pemerintah.


Meski begitu, aku sendiri menggunakan jalur darat karena satu hal—


Kereta. Lebih tepatnya, apa itu akan menjadi kereta api sihir?


Yaa, tidak seperti dunia nyata yang basis penemuan adalah ilmu pengetahuan (sains), EFO menggunakan sihir sebagai basis dasar pengembangan peradaban dan itu juga berlaku untuk kereta. Tampaknya, meski keduanya menggunakan prinsip yang berbeda dan jalur yang berbeda pula, mereka dapat menciptakan hasil akhir yang mirip.


"Tapi yaa, masih akan agak lama sebelum aku dapat menggunakan itu."


Sekali lagi, EFO adalah dunia yang berbeda dari dunia nyata. Meski zaman di EFO lebih dekat dengan zaman pencerahan, atau abad ke-18 atau 19 yang mana jalur kereta telah menyebar luas, di EFO sesuatu seperti itu terasa sulit.


Mengabaikan pemilihan medan, biaya perawatan jalur kereta cukup tinggi di sini. Yaa, para monster lah yang bertanggung jawab untuk itu.


Aku tidak ingin membayangkan monster setinggi beberapa puluh meter menghadang di depan kereta yang kutumpangi, oke?


Dan karenanya aku akan menuju Kota Morksi, salah satu kota prefektur di States of Scuart yang memiliki stasiun pemberhentian kereta untuk dapat menikmati fasilitas ini.


"Yaa, untuk sekarang aku harus melewati perbukitan ini," kataku saat berusaha mencari tempat yang tepat 'tuk dipijak.


Sekali lagi, jalan di sini terlalu curam untuk dilalui secara normal. Sebab itu pulalah tidak ada transportasi bantuan seperti kereta kuda (pedati) yang beroperasi.


Dan kini aku hanya berjalan kaki karena itu. Meski aku dapat membeli beberapa jenis monster yang dapat dijadikan tunggangan, tapi yaa, kurasa itu tidak akan terlalu berguna karena nantinya akan kutinggal saat berada di Kota Morksi.


Untung saja aku memakai sepatu but yang cocok untuk semua medan. Jika tidak, mungkin saja aku akan kesulitan melalui medan semacam ini.


Apa pun itu, semua hal ini demi dapat menaiki kereta api sihir! Semangatlah, diriku!


Juga—

__ADS_1


"Kakkk!" "Kakkk!" "Kakkk!" "Kakkk!" "Kakkk!" "Kakkk!" "Kakkk!" "Kakkk!" "Kakkk!" "Kakkk!" "Kakkk!" "Kakkk!"


"Para monster itu terlalu mengganggu." Aku berkata saat melihat seekor monster burung menukik, meluncur ke arahku dengan cepat.


Mereka adalah alasan nomor satu dari lambatnya jarak yang berhasil kutempuh.


"Strengthen Damage," kataku saat menembakkan bola kabut mana ke arah burung itu. Tapi burung itu segera mengubah arah terbangnya, berputar dan dapat menghindarinya dengan cepat. Naik kembali seolah menunggu kesempatan berikutnya.


"Mereka benar-benar menyebalkan."


Monster burung itu sendiri berwarna hitam kecokelatan dengan sayap memiliki campuran warna lain, membuat keberadaan mereka sulit untuk disadari. Yaa, terlebih dengan bentuk paruh panjang nan bergerigi seperti burung pemakna bangkai.


"Tidak biasanya dirimu berkata seperti itu, Dirae."


"Hanya saja itu memanglah faktanya, oke?"


Selain warna yang membuat mereka dapat menyembunyikan diri dengan mudah, burung-burung itu juga memiliki tubuh kecil, ya. Mungkin seukuran burung kolibri. Dan dengan kecepatan terbang yang sangat cepat, itu membuat penghindaran mereka terlampau tinggi untuk dapat kuserang.


Apalagi mereka datang cenderung berkelompok yang terdiri dari 3-6 ekor burung. Dan dapat ditebak bahwa saat aku melakukan rentetan serangan, itu hanya membuang MP-ku tanpa hasil berarti.


Membuat jumlah mereka terus terkumpul.


"Jika dirimu memiliki keterampilan yang tepat, diri ini rasa burung-burung itu tidak akan terlalu mengganggu."


Uhh, musuh dengan kecepatan tinggi sepertinya tidak terlalu cocok untukku.


Aku tidak memiliki satu pun serangan tipe penargetan yang akan mengejar target serangan, oke? Yaa, bahkan serangan area luas yang kumiliki pun cukup terbatas.


Mana Bomb sendiri hanya menyapu radius dua meter dari titik ledakan. Dan jika itu tidak mengenai sebuah target, maka akan percuma saja karena ledakan tidak akan terjadi. Yaa, seperti udara yang tidak bisa aku hantamkan.


Hal yang sama pun berlaku untuk Skill yang baru kupelajari. Spirit Magic, yang berhasil kukuasai berkat bantuan Sile dan Zile, kondisi mereka membuatnya lebih cocok sebagai bentuk dukungan daripada serangan langsung. Begitupun Strike Art's yang adalah serangan jarak dekat.


Jika begitu apa yang kulakukan selama ini?


"Pergilah yang jauh!" Harapku dengan beberapa nada aneh tercampur dan sekali lagi menembakkan bola kabut mana pada burung yang mendekat.


Yaa, seperti itulah. Apa yang kulakukan hanya sepertinya lebih tepat untuk dikatakan sebagai upaya mengusir mereka agar tidak terlalu dekat denganku daripada sebuah serangan.


Walau ini adalah sarana pelatihan Skill yang cukup baik serta mantap meski, yaa aku tidak dapat terlalu berharap pada perolehan pengalaman aktif dari membunuh burung-burung itu.


Mantra demi mantra kurapalkan, ditembakkan seolah itu tidak akan pernah berhenti, tidak akan pernah berakhir. Sebab mungkin hidupku akan berakhir jika serangan itu berhenti.

__ADS_1


Dengan tempatku kini berada, kecepatan burung-burung itu, sekaligus jumlahnya yang terus terkumpul. Yaa, kamu dapat membayangkan pemandangan apa yang tersaji.


Aku tampak seperti seekor hewan kecil yang sedang diincar oleh para predator yang terus menerkam dan menunjukkan mulut lapar mereka. Yaa, mungkin semacam gerombolan piranha lebih cocok untuk menggambarkan para burung itu.


Tapi ...


"Burn Wave!"


... Nyala apa meledak saat Megaera merapalkan mantra yang dia kuasai, melepaskan gelombang panas yang membakar sayap burung-burung itu. Menjatuhkan mereka.


"Increase Speed," rapalku cepat saat melihat burung-burung itu tersebar. Meningkatkan kecepatan gerakku dan mulai membuat pijakan dengan Mana Board.


Yaa, aku hanya ingin segera keluar dari pengepungan seperti itu. Aku melihat bahwa burung-burung itu berusaha mengejarku dengan suara kicauan (?) yang mereka buat.


Apa itu dapat disebut kicauan, ya? Fokus saja untuk lari dari sini, diriku.


Dan ...


“Huuhhh."


Akhirnya aku dapat menghirup sedikit napas lega saat melihat bahwa burung-burung itu melepaskanku. Tampaknya ada alasan lain mengapa jalur darat tidak direkomendasikan.


"Bagaimanapun para burung itu tidak akan mengejarku lebih jauh."


"Asal dirimu tahu Dirae, apa yang membuat hewan tidak mendekati mangsa empuknya?"


Apa aku adalah mangsa empuk itu? Yaa, lupakan sedikit sinisme Megaera tapi jika memang begitu maka ...


"Keberadaan sosok predator baginya?"


... Kurasa ini adalah jawaban paling tepat. Yaa, seperti ikan remora yang berlindung di bawah ikan hiu di samping untuk mendapatkan makanan—


Tunggu dulu!


"Jangan bilang ...."


Suara berdentum terdengar, menggetarkan tanah tempatku berpijak. Dan—


Drak! Trak! Dtrak!


Sambaran demi sambaran mengikuti beserta napas buas yang dapat kurasa.

__ADS_1


———


Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?


__ADS_2