
Kami berjalan ke timur, yaa sepertinya mereka akan membawaku ke desa tempat Kuil Abholotz berada.
Aku mengetahui keberadaan Kuil ini sendiri lewat buku yang kubaca. Kuil Abholotz, sesuai namanya itu adalah Kuil yang menyembah Dewa Jahat Abholotz, Dewi atas Kepuasan dan Kenyamanan.
Yaa, posisinya sendiri dapat disamakan dengan Kuil Smelluq serta lima Kuil lain yang ada maupun ketujuh Gereja.
Yang pasti, aku hanya berharap agar desa para Evil tidak seburuk apa yang rumor katakan. Aku berpikir lagi saat memeluk Arkemi (dalam bentuk Slime) lebih erat.
Yaa, ini terasa sangat nyaman dan menenangkan. Maaf untuk Antarea tapi tubuh Slime lebih cocok untuk dipeluk daripada seekor laba-laba.
“Krakraraaa. “
Yaa, jangan sedih karenanya Antarea.
Sepertinya Spirit Link membuat pikiranku dibagikan lebih mudah.
Melihat ke sekeliling, aku melihat bahwa kami menyusuri tebing jalan setapak di sisi tebing. Yaa, setidaknya aku melihat vegetasi di sini mulai hidup dengan beberapa pohon yang tumbuh meski tidak terlalu besar.
Dan juga, aku merasa gerakan Oku tidak terlalu normal. Baik itu gerak tulang pinggul maupun caranya menjaga keseimbangan tubuh saat berjalan ...
"Aku sepertinya telah memperhatikan sesuatu yang tidak perlu," gumamku.
Hode. Dia jelas hode.
Cara berjalannya itu benar-benar terasa seperti seorang pria, oke? Dan bagaimana dia dapat bergerak sebaik itu meski memiliki sesuatu yang tidak biasanya dia miliki di dadanya? Apalagi dengan ukuran itu ... bukankah akan terasa berat?
Uhh, aku sedikit tertekan oleh perbedaan ini. Meski dia bukan wanita kenapa dia dapat bergerak sebaik itu?! Haruskah aku mengulang karakterku dan memberi sedikit tambahan pada ... oke, lebih baik tidak.
Aku merasa kalah akan sesuatu jika benar-benar melakukan itu.
Dan aku juga tidak ingin tahu apa yang rubah itu lakukan pada tubuh itu.
Pikirku terus berputar hingga akhirnya aku melihat sebuah desa setelah berjalan sekitar tiga jam. Yaa, sepertinya itu adalah desa yang disebut Arkemi dan Oku.
Desa para Evil.
Desa tersebut tampaknya tidak terlalu besar maupun padat. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya dapat kukatakan wajar, bahkan agak jarang hingga membuat desa ini terasa seperti desa baru.
Yaa, itu dapat kuduga dari gerbang dan tembok yang melindungi desa dari kemungkinan monster masuk masihlah semi permanen. Terbuat dari gelondong-gelondong kayu besar, apalagi masih terlihat sedikit basah. Bukan karena hujan melainkan kandungan air dalam kayu itu sendiri.
Jadi, mungkin saja umur desa ini sendiri masih belum genap satu dekade.
Selagi aku mengamati desa ini sedikit lagi, kami pun akhirnya sampai di depan gerbang masuk desa.
"Selamat malam, Nona Oku, Nona Arkemi. Dan siapakah orang yang kalian bawa?"
__ADS_1
"Dira—"
"Un. Dia mungkin orang yang memiliki hubungan dengan perintah Pendeta," jawab Oku.
Setidaknya biarkan aku mengatakan namaku, rubah!
Aku melihat penjaga gerbang itu mengangguk dan segera mempersilahkan kami masuk.
"Jangan sungkan untuk memanggil kami jika terasa ada sesuatu yang tidak beres."
"Tentu."
Yaa, aku hanya akan melihat pertukaran itu dan menganggapnya berasal dari dunia lain dari apa yang kuhuni. Tapi sepertinya baik Arkemi maupun Oku adalah orang yang cukup penting di sini, ya?
Bagaimanapun, aku hanya berharap desa Evil tidak seburuk apa yang dapat kubayangkan. Karena ... uhh, seram. Jujur saja hanya itu yang dapat kupikirkan untuk sekarang.
Satu-satunya sumber penerangan di sini adalah obor yang di letakkan di depan rumah. Bukan lampu sihir yang membuat penerangan di sini agak remang.
Yaa, walaupun tanpa itu aku tidak akan terganggu tapi karena obor-obor tersebut aku dapat melihat beberapa sosok yang berdiri di samping rumah dengan mata merah tajam menatapku.
Kuharap itu hanya ilusiku saja. Ya, benar. Itu hanya ilusi.
"Akhirnya kita sampai." Oku menghela napas lega saat sampai di pusat desa, alun-alun. Sepertinya desa ini memiliki struktur sederhana di mana tempat-tempat penting ditempatkan pada satu titik di pusat kegiatan masyarakat.
"Lebih baik kita segera menemui Pendeta," sambungnya kala menuju ke salah satu bangunan yang ada.
Dari luar, itu terlihat sebagai bangunan berbentuk segi delapan dengan dua pilar besar di tiap sudut sebagai penopang. Ditemani dengan sesosok patung ular yang memiliki rupa berbeda di tiap sudutnya, hanya sebuah tanda di dahi ular itulah yang menunjukkan bahwa mereka saling terkait.
Untuk gerbang sendiri, itu terasa seperti mirip pura dan tidak memiliki pintu gerbang. Seolah mempersilahkan siapa pun untuk masuk ke dalam.
Dan ya, meski tidak terdapat batu marmer putih atau ubin mengkilat di sana, jauh terbalik dengan Gereja 'Ymnar di Kota Houra. Namun entah kenapa memiliki perasaan halus sendiri dengan warna merah beri tersebut, tetap memberi kesan suci.
"Mika tidak perlu setakut itu ’kan, jadi segeralah berjalan." Arkemi berkata saat mulai mendorong masuk. Meski diragukan akan bekerja dengan tenaga yang dapat dikeluarkan oleh tubuh itu.
Baiklah, yaa mari ambil napas dalam dan segera masuk ke dalam.
Dan ...
"Banyak sekali ornamen ular di sini, ya."
... Itu adalah kesan pertamaku.
Yaa, mulai di luar hingga di dalam sini, sangat banyak ornamen yang mengambil rupa binatang melata tersebut. Dari sebuah lukisan, ukiran, hingga patung.
"Itu pasti karena ular adalah bentuk perwujudan dari Yang Mulia Abholotz."
__ADS_1
O-oh. Jadi seperti itu, 'kah?
Dengan sikap itu, aku merasa akan sulit untuk dapat mengenali Oku sebagai pemain secara sekilas.
Tapi ular, 'kah? Terdengar cukup menarik.
Yaa, setelah Oku mengetuk salah satu pintu, aku mendengar suara yang mempersilahkan kami masuk saat pintu itu terbuka.
Membuatku menelan ludah saat aku merasa terdapat sesuatu yang buruk akan datang dari ini.
Tapi—
"Yaa ... aku tidak bisa menolaknya, 'kan?"
"Dirae, seperti bi— yang seharusnya, kamu dapat mengerti dengan mudah."
Kurasa itu bukan pujian sama sekali ....
Pikirku saat aku —sekali lagi— ditarik untuk masuk ke dalam. Dan ...
Blam!
... Pintu itu pun tertutup dengan sendirinya.
Glup.
Suasana ini benar-benar horor. Yaa, aku tidak membencinya sih. Ini terasa menegangkan.
Berjalan beberapa langkah lagi, aku akhirnya melihat sosok yang mungkin adalah sosok pendeta yang dimaksud.
Dia mengenakan baju yang sama sekali tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan ditambah dengan topi segi tiga runcing yang menutupi wajah pendeta itu, aku sama sekali tidak dapat mengetahui apakah dia pria ataukah wanita.
"Terima kasih karena telah datang, Oku, Arkemi," salam dari pendeta itu dengan suara netral. Yaa, aku tidak dapat membuat dugaan sama sekali mengenai identitasnya.
Seperti yang diharapkan dari Kuil, nuansa misterius benar-benar terasa kental, ya.
"Tidak, saya hanya menjalankan perintah Kuil, Pendeta."
"Un, itu benar."
"Bagaimanapun, saya masih harus berterima kasih atas kontribusi yang kalian berikan pada Kuil kecil ini." Pendeta tersebut berkata saat sedikit menunduk pada mereka berdua sebelum akhirnya menatapku. "Dan siapakah orang yang bersama kalian?"
"Un. Arkemi mengatakan bahwa dia mungkin adalah orang yang berkaitan dengan ramalan Anda beri tahukan sebelumnya."
———
__ADS_1
Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?