Soul Monarch : Eclipse Feast Online

Soul Monarch : Eclipse Feast Online
EFO Arc II - Garis Besar


__ADS_3

Yah, mungkin tidak akan ada yang baca tapi ini adalah ringkasan EFO S2 sejak aku tak tahu bagaimana meneruskannya sejak status sheet terakhir Dirae (yang mencakup apa saja yang akan dia dapat selanjutnya) sejak note dulu hilang sejak HP rusak.


 


———


 


Setelah mencari berulang kali, Dirae tidak berhasil menemukan monster yang dapat memenuhi Quest miliknya, membuatnya sedikit menyerah. Tapi berkat dorongan Arkemi baik dia maupun Oku masih mencoba dan membuat mereka bertemu monster kelas boss (meski masih belum memenuhi syarat Quest). Membuat mereka harus bertarung melawan monster boss tersebut.


 


Namun, di saat monster boss tersebut akan jatuh sebuah berita mengejutkan Oku terima dari Pendeta, berita bahwa desa telah diserang. Membuat mereka bertiga segera kembali ke desa secepat yang mereka bisa.


 


Hanya saja, sesampainya mereka tiba di desa semua telah terlambat. Bangunan yang dulu berdiri telah hancur, bersama beberapa bercak pudar dari darah. Pendeta Ouya telah berhasil mengusir mundur para penyerang, tapi korban yang jatuh karena serangan tersebut tidak sedikit.


 


Dan... pemakaman tengah berlangsung. Doa kepada Abholothz dipanjatkan dengan khidmat, lantunan pengirim pergi para jiwa para penghuni yang meninggal, mengiringi dan mendoakan mereka kala tubuh mereka kembali ke abu.


 


Suasana kalbu menyelimuti desa saat Dirae berjalan sendirian, mendengarkan celotehan Megaera sampai dia melihat sekumpulan anak-anak yang pernah ditemuinya, namun Dirae tahu bahwa anak-anak itu telah meninggal saat desa diserang.


 


Mungkin karena afinitasnya dengan hantu meningkat, Deira samar-samar dapat melihat mereka, mereka yang masih belum menemukan ketenangan. Membuatnya hanya semakin marah pada dirinya sendiri.


 


Malam pun tiba, dan serangan lain segera tiba, serangan yang dilakukan oleh para Vampire. Mungkin karena mereka telah dipukul sebelumnya melukai harga diri mereka, atau mungkin karena suatu hal lain mereka kembali.


 


Namun, penduduk desa kini telah siap. Termasuk orang-orang yang sebelumnya tidak berada di desa saat serangan pertama berlangsung, dan dengan latar belakang desa ini bahkan Dirae pun tahu bahwa mereka adalah mantan kriminal yang pasti tidak cukup lemah untuk hanya berdiri dan jatuh. Namun, Vampire yang sebelumnya telah dipukul mundur pun tidak hanya kembali secara membabi-buta. Mereka memiliki seorang Vampire bangsawan di tingkat Viscount (Nama belum ditentukan) bersama mereka.


 


Pertempuran defensif berlangsung sengit. Penduduk desa berjuang mati-matian untuk melindungi mereka yang tersisa sementara para Vampire terus mendobrak untuk mendapatkan apa yang mereka cari.


 


Dirae, Oku, dan Arkemi mengamuk bersama beberapa para penghuni. Tidak seperti beberapa penduduk yang fokus mempertahankan desa, mereka menusuk ke barisan para Vampire sejak kematian bukanlah hal yang perlu ditakutkan bagi pemain pun dengan para penghuni yang keluar hanya untuk membalas dendam sejak keluarga mereka telah pergi saat Vampire pertama kali menyerang.


 


Membuat mereka menjadi kelompok penuai bagi para Vampire yang kurang beruntung.


 


Ledakan demi ledakan yang Arkemi lakukan menjadi lagu pengiring saat serangan mereka mengganas, hingga itu melambat saat Vampire Viscount menghadang mereka.


 

__ADS_1


Vampire dengan kekuatan di luar jangkauan pemain saat ini, membuat Pendeta Ouya datang untuk menghadapi Vampire Viscount tersebut, menjerat mereka dalam pertempuran satu lawan satu yang intens sementara kelompok Dirae dan yang lain hanya terus mengamuk.


 


Pukulan demi pukulan ditularkan antara Vampire Viscount tersebut dengan Pendeta, membuat tempat mereka bertarung menjadi area kosong sejak tidak ada yang akan ingin mendekat untuk terkena tembakan. Dan secara bertahap, kondisi keduanya menurun dibuktikan oleh luka-luka yang menumpuk parah.


 


Meski begitu, sejak Pendeta Ouya sendiri tidak terspesialisasikan untuk pertempuran semacam ini dia berada di bawah tekanan. Bahkan jika dia telah menggunakan [Heroic Spenta Demonfall] yang berada dua tingkat di atas [Familiar Spenta Demonfall] yang pernah Dirae hadapi.


 


Dan dengan semakin menipisnya waktu yang Pendeta Ouya miliki, dia jelas tidak berada dalam posisi yang baik. Namun, Oku datang di tengah kepercayaan diri yang memenuhi Vampire Viscount akan kemenangannya. Sejak pertarungan antara Vampire Viscount dan Pendeta Ouya jelas bukan pertandingan satu lawan satu, itu hanya satu diantara pertempuran kacau yang lain.


 


Serangan Oku tidak terlalu kuat bagi Vampire Viscount, tapi itu benar-benar menghalangi ruang geraknya membuat setiap serangan yang Pendeta Ouya berikan padanya mengenai dengan tepat. Hingga Vampire Viscount itu jatuh dalam teriakan marah yang menggelegar.


 


Jatuhnya Vampire Viscount membuat semangat para Vampire jatuh ke tanah, membuat mereka mundur secara tak teratur. Tapi para penghuni, terutama mereka yang telah kehilangan keluarga mereka karena para Vampire hanya terus mengejar para Vampire.


 


Di tengah kekisruhan yang timbul, Oku hanya diam berdiri di samping Pendeta Ouya sejak dia tahu bahwa napas Pendeta Ouya sendiri tidak akan bertahan lama. Membuat Pendeta Ouya hanya tersenyum sebelum dia diam-diam dan secara sunyi meninggal menjadi abu dalam doa terakhirnya kepada leluhurnya, dan Dewa Abholothz yang dia yakini.


 


Sementara itu Dirae hanya terus mengejar para Vampire yang mencoba lari. Dirae mungkin bukan seorang penghuni yang memiliki ikatan kuat, tapi tetap saja dia tidak akan melepaskan para Vampire tersebut sejak mereka hanya terus membuatnya mengingat kenangan yang tidak pernah ingin diingatnya.


 


 


Satu per satu Vampire jatuh di bawah sabit Dirae tapi itu tetap tak dapat membuat baik dia maupun para arwah tersebut tenang. Dia hanya terus mencari Vampire lain segera setelah satu Vampire jatuh hingga Dirae bertemu ‘dia’, Vampire dengan rambut merah  dan bayonet, Mira.


 


Tidak seperti Vampire lain, dia hanya melihat Dirae dan bergegas maju ke arahnya. Tembakan peluru dan sihir saling bersahutan, mengiringi pertempuran mereka. Membuat warna merah dan putih saling terjalin saat mereka berdua bersiteru.


 


Cahaya dan tembakan hanya terus memenuhi pandangan, bersama. Berbagai Kutukan dan berkah yang terdapat dalam serangan, bukti seberapa sengit pertempuran mereka berdua sampai sebuah lolongan tajam memotong semua itu bersama dengan sosok yang muncul dari dalam tanah. Sosok  ‘naga’ yang pernah Dirae lihat.


 


Mungkin dia terusik oleh suara pertarungan yang selama ini berlangsung atau karena kerumunan arwah yang mengikuti Dirae tapi seolah naga itu sendiri tidak penting. Baik Dirae atau Mira hanya fokus satu sama lain, memang mereka juga menyerang naga itu tapi itu tidak dapat dikatakan serangan melainkan hanya bentuk dari pertahanan diri.


 


Walau jika itu adalah pandangan orang luar mereka hanya akan melihat paduan sempurna antara dua orang dalam menghadapi keberadaan raksasa tersebut. Waktu berlalu selama beberapa menit dalam keadaan konstan, berbagi serangan sihir roh atau sihir non-elemental yang Deira lepaskan dan tembakan peluru atau tebasan yang Mira buat. Baik itu ditujukan untuk naga itu atau ‘musuh’ sebenarnya di mata mereka.


 


Namun, sosok naga itu sendiri bukanlah sosok yang dapat dikesampingkan dengan mudah. Saat amarahnya semakin memuncak, naga itu mulai melancarkan apa yang bahkan tidak dapat disebut sebagai serangan, melainkan hanya bencana yang memusnahkan semua yang ada di dekatnya.

__ADS_1


 


Deira menutup membuka matanya, dia telah mati oleh bencana yang naga itu bawa ke dunia tapi apa yang menyambutnya bukan Virtual Hall seperti biasanya melainkan ruang gelap tanpa apa pun. Mencari-cari ke sekeliling tentang di mana dia berada, Dirae akhirnya melihat satu sosok, sosok mungil dengan pupil reptil dan rambut hitam kehijauan.


 


Dirae tidak bergerak, bukan, dia tidak bisa bergerak satu inci pun terlebih saat pemberitahuan sistem muncul, pemberitahuan tentang siapa sosok di depannya, Abholothz.


 


Deira tahu dia bukan Abholothz sebenarnya, hanya perwujudan sejak pemberitahuan demi pemberitahuan yang muncul, pemberitahuan yang mewakili apa yang Abholothz katakan. Saat Dirae dapat bergerak, dia hanya bernapas lega dan mengambil entah dari mana itu berasal apa yang perwujudan Abholothz itu butuhkan.


 


Bahkan Dirae sendiri berpikir bahwa ini adalah waktu yang menyegarkan setelah lumpur emosi sebelumnya. Sayangnya itu tidak akan berlangsung selamanya.


 


Saat mulut Abholothz terbuka dia berkata, “Hati-hati.”


 


Kata sederhana yang dengan segera mengantar Deira ke kematian dan mengembalikannya ke Virtual Hall yang dia tahu bersama dengan satu ton pemberitahuan menyertai.


 


Waktu berlalu, Deira kini berada di kereta yang selama ini membuatnya tertarik tapi emosinya sama sekali belum beranjak dari kejadian di desa itu dan apa yang menyertainya. Deira melihat beberapa Title yang dia dapatkan saat bertemu dengan Abholothz hingga tatapannya terpaku pada satu Title yang sama sekali tidak berhubungan dengan Abholothz ...


 


[Nyarloth God Protection]


 


... Membawa satu ton lain pikiran memenuhi kepalanya namun waktu tak menunggu siapa pun, saat dia kini akhirnya tiba di ibukota.


 


 


——— EFO Arc II End———


 


Terima kasih banyak bagi kalian yang membaca EFO dan maaf bila EFO tidak berlanjut. Bagaimanapun, saya sendiri masih ingin menulis seri seperti ini dan semoga bisa sampai tamat meski tidak sering sebelumnya sejak kesibukan yang kini ada dan hanya saat terdapat waktu luang.


 


Beberapa unsur EFO yang masih saya ingat akan muncul tapi jalan ceritanya akan lain, yaa lihat saja. Bagaimanapun judul sendiri sudah ada, Vivid (mungkin di W.P), yang berarti jelas karena semoga judul itu benar-benar tamat ke titik yang saya inginkan.


 


Sampai jumpa lagi, Dur.


 

__ADS_1


 


__ADS_2