
Malam menggelapkan pandang, seolah menjadi tanda kebebasan bagi para makhluk buas, monster. Menyuruh makhluk lain 'tuk bersembunyi dalam naungan. Berkumpul, mencari kehangatan dan rasa keselamatan satu sama lain.
Hanya menyisakan kesunyian buta yang buas.
Namun—
Bang!
Suara tinggi menggema, mengoyak wilayah yang selalu dijauhi itu. Cahaya terang melintas seiring dengan suara lain yang muncul setelahnya, menciptakan melodi, menembus malam, berkilau sebagai pita-pita cahaya menyilaukan sebelum menghilang.
Sepasang mata memunculkan cahaya menyeramkan. Tidak terganggu sama sekali oleh kurangnya pelita, justru seolah menolak keberadaannya, menginginkan dirinya sendirilah yang menjadi pelita itu.
Pelita merah darah menyala yang tertutup tudung merah gelita.
Sosok demi sosok lain muncul di belakangnya dengan cepat. Mereka mengejar, bagaikan sosok bayangan buas bermata merah, mengunci target, terus mengekor tanpa henti, tak dapat dilepaskan darinya.
Bang!
__ADS_1
Tembakan kembali dilepaskan, berusaha membubarkan salah satu bayang tapi berhasil ditangkis, membuyarkan cahaya tersebut.
"Jangan melambat! Kejar dan tangkap dia!" Salah satu bayang berteriak, menunjuk targetnya. Sosok yang berlari, melompat dari satu dahan ke dahan lain seperti angin.
Busur mulai melengkung, melepaskan anak panah yang berusaha mengejar target tapi dipatahkan oleh pita cahaya. Merusak anak panah dan mencegah anak panah itu mengenainya, tapi tindakan tersebut tetap memperlambat langkahnya.
"Kesalahan. Aku terlalu banyak menarik perhatian mereka," gumamnya khawatir. "Jika mereka berkumpul seperti sekarang itu terlalu merepotkan."
Dia berpikir, merasa bahwa dirinya dapat mengatasi ini jika mereka hanya dua atau tiga sosok. Terlebih mereka bukanlah seorang bangsawan, hanya beberapa kesatria dan pelayan. Meski begitu ...
Shut!
Cahaya mulai terkumpul di senjatanya, terangkat, menembakkan pita cahaya lain dari moncong. Mendingin, menunggu giliran selanjutnya untuk digunakan.
Namun, usaha itu tak mampu menghentikan hujan tersebut. Mencabik jubah yang dia kenakan, hujan telah membiarkan rambutnya terurai dengan warna bagai nyala api di tengah malam. Bercahaya terang, memantulkan cahaya dari dua rembulan merah dan biru yang mengawasi dalam diam.
Suara decakan terdengar sebelum dia mendarat secara vertikal, menanti sesaat sebelum berbalik arah, melompat masuk dan menusuk ke dalam kumpulan bayang. Tubuhnya berputar, kilau cahaya menakutkan terlihat dari tepi mata pisau, menunjukkan mata bilah yang haus.
__ADS_1
Layaknya sebuah ****** beliung, dia terus berputar dan membubarkan kumpulan bayang. Membuka sayap, melebarkannya dan naik, menembakkan pita demi pita cahaya lain dari moncong senjatanya. Menjaga jarak aman.
Bayangan-bayangan itu pun mengikuti, turut melebarkan sayapnya dan mengejar. Menembakkan anak panah lain dan tanpa rintangan yang ada, mereka mendekat dengan cepat.
"Sepertinya memang tidak bisa," katanya sebelum menjatuhkan diri, menyadari kondisi medan yang tidak menguntungkan baginya.
Langkah itu memaksa para pengejarnya itu mengikuti dengan ganas, tidak ingin membiarkannya terlepas. Masuk ke kedalaman hutan. Terus dan terus, adegan berulang dalam kesunyian malam hingga dia berhasil memotong ekor bayangan.
Membuat keberadaannya tak terlacak oleh para bayang hingga akhirnya sang fajar mendekat, menutup tirai untuk malam ini dan menjadi tanda bagi para bayang bermata merah untuk undur diri.
Namun, mereka masih menantikan kesempatan lain di bawah naungan rembulan ganda.
———
Informasi mengenai peta yang akan digunakan disepanjang Arc ini.
__ADS_1
Informasi tambahan, tidak semua tempat yang akan muncul dicantumkan. Hanya yang telah disebutkan sebelumnya.
Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?