Soul Monarch : Eclipse Feast Online

Soul Monarch : Eclipse Feast Online
Desa Perintis, Kuil


__ADS_3

Aku merasakan tatapan yang diberikan pendeta itu semakin tajam saat mendengar apa yang Oku katakan.


Sementara ...


"Mika ingin melemparkan semua tanggung jawab padaku?!"


"Karena memang itu yang kamu katakan dan ini adalah idemu, bukan? Saya sama sekali tidak terlibat di dalamnya."


... Yaa, mereka berdua saling bertengkar karena apa yang Oku katakan.


"Jangan bilang bahwa mika tidak terlibat. Bukankah mika juga menyerangnya, apalagi dengan ganas."


"Un. Itu karena kamu yang memulainya bukan?"


"... Meski mika benar. Bukan berarti aku salah. Mika hanya belum pernah merasakan apa yang aku rasakan."


"Un. Seperti biasa kamu lari dari kenyataan."


Apa hanya aku yang merasa mereka bersikap seperti kucing dan tikus satu sama lain? Yaa, walau tidak dapat dikatakan dengan pasti apakah hubungan mereka sebenarnya baik atau buruk.


"Aku sedikit marah pada mika sekarang."


Untuk itu, bukankah aku yang seharusnya merasa marah dalam situasi ini?


"Saya tidak peduli."


"Seperti yang aku duga sifat mika cukup kejam." Arkemi berkata dengan murung sebelum membuka mulutnya.


"Akan aku beri tahu Re—"


Sampai perkataannya terputus saat melihat kepala seekor banteng dikeluarkan Oku dari kantung penyimpanan ...


Drip.


... Yaa, lengkap dengan darah yang masih menetes darinya.


"I-I-I-itu .... Ja-jauhkan itu dariku!"


"Baiklah. Kalian cukup sampai di situ untuk sekarang," sela pendeta itu pada mereka berdua.


Ah, aku hampir lupa bahwa dia bahkan masih berada di sini.


Memalsukan batuknya, dia melihat ke arahku sekali lagi dan bertanya, "Jadi, siapakah kamu?"


"Aku Dirae, hanya Dirae."


"Begitu, 'kah ...?" kata pendeta itu saat matanya menyipit, mengamatiku sekali lagi. "Arkemi, Oku. Bisakah kalian meninggalkan kami berdua sendiri sejenak?"


"Baik, Pendeta," jawab Oku menangkap Arkemi dan pergi, meninggalkan aku dan pendeta itu empat mata di ruangan ini.


"Agak tidak terlalu sopan sebelumnya, tapi akan saya katakan. Dirae, kamu bukanlah seorang Vampire 'bukan?"


"Y-ya, itu benar." Aku menjawab dengan sedikit gugup karena tekanan yang dia lepaskan padaku. Seperti yang diharapkan dari Kuil. "Jadi, kurasa diriku bukanlah orang yang kamu lihat dalam ramalanmu," sambungku.

__ADS_1


"Jadi begitu ...."


Aku melihat pendeta itu menghela napas sebelum mendongak, walau entah apa yang dia lihat sekarang.


Dan ya, satu demi satu lingkaran sihir pun segera bermunculan, mulai bercahaya dengan kilauan sihir saling tumpang tindih menyusun sebuah pola tertentu. Namun, seolah itu semua belumlah cukup, struktur lingkaran sihir itu terus dan terus melebar hingga mencakupku di dalamnya, tidak, mencakup satu ruangan ini.


Delapan, sembilan, sepuluh ... Dua belas ....


Lagi, dan lagi. Jumlah lingkaran sihir itu terus bertambah.


Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan sekarang tapi kurasa lebih baik memulai casting beberapa mantra pertahanan yang kumiliki.


Yaa, semua ini demi berjaga terhadap kemungkinan terburuk dari yang terburuk. Bahkan jika aku merasa tidak ada kesempatan bagiku untuk selamat jikalau itu benar-benar terjadi.


Namun—


Prank!


Dengan segera lingkaran-lingkaran sihir itu hancur berkeping-keping. Hanya menyisakan butiran-butiran cahaya sihir yang terlepas darinya. Dan ...


"Uhuk!"


... Darah mulai mengalir dari mulut pendeta tersebut saat dirinya terjatuh. Aku mencoba mendekat untuk membantunya tapi pendeta itu segera memberi sinyal tangan padaku untuk tetap berdiri di tempatku sekarang.


"Yaa, apa kamu tidak apa-apa?"


"Tidak, ini sama sekali bukan hal besar hingga saya perlu bantuan dari orang lain." Pendeta itu berkata demikian saat mencoba duduk namun—


Drip.


Haruskah aku memanggil kedua orang itu?


"Tidak, kamu tidak perlu memanggil Arkemi dan Oku untuk hal ini."


Eh? Apa dia dapat membaca pikiranku?


"Hahaha, mungkin sekarang kamu tengah berpikir 'apa saya dapat membaca pikiranmu'. Tapi tidak. Saya tidak bisa. Ini hanya masalah pengalaman." Pendeta itu bersila mengusap dadanya yang mungkin masih terasa sakit. "Tapi saya sepertinya harus memuji kewaspadaan dirimu. Kamu segera bersiap akan melepaskan mantra kapan pun."


"Kurasa itu hal yang wajar apalagi jika seseorang dibawa dengan paksa oleh orang yang tidak mereka kenal dan dikunci di ruangan aneh bersama orang yang tidak mereka kenal."


Ya, apalagi pada seorang gadis sepertiku.


"Mungkin memanglah seperti itu. Namun kamu cukup menarik. Kamu hanya 'akan', tidak benar-benar melepaskan mantra pada situasi itu."


"Itu karena pada akhirnya hal itu tidak membahayakan. Yaa, mungkin, mungkin saja situasi akan menjadi lain jika itu membuatku merasa terancam."


"Kewaspadaan yang sangat baik. Dan untuk Living Item di sana, kamu dapat keluar."


Eh? Bagaimana dia bisa mengetahui keberadaan Megaera?


Aku sedikit bingung bagaimana menghadapi ini tapi ...


"Sepertinya memang tidak ada gunanya diri ini bersembunyi dari hal itu."

__ADS_1


... Aku mendengar suara Megaera bersama dengan dia yang berubah ke bentuk asalnya.


"Sepertinya saya menerima tamu menarik untuk kali ini. Siapa kamu?"


"Diri ini tidak merasa seperti itu tahu. Tapi Pendeta Abholotz, bukankah kesopanan yang ada mengajarkan untuk memperkenalkan dirimu terlebih dahulu sebelum menuntut diri lain untuk memperkenalkan diri?"


"Kamu memang benar akan hal itu. Juga maaf untuk Dirae karena saya belum memperkenalkan siapa diri saya. Saya Souten Ouya."


"Pantas saja dirimu dapat menggunakan itu, ternyata dirimu berasal dari Keluarga Souten. Memang lebih baik bagi dirimu untuk menyembunyikan hal itu," gumam Megaera. "Kalau begitu diri ini pun akan memperkenalkan dirinya, Deira. Dalam kehidupan ini, itulah nama yang diri ini miliki."


"Baik, seperti itu pun tidak masalah bagi saya, Tuan Deira."


Tunggu, kenapa Megaera dipanggil Tuan?


"Apa kamu tidak berniat menyucikan Deira?"


Aku bertanya dan dibalas oleh gelengan kepala dari pendeta itu, Ouya.


"Sejak awal saya tidak berniat melakukan hal itu. Walau mungkin beberapa ekstremis yang menganggap ajaran kami paling benar mungkin akan benar-benar melakukannya. Tapi saya tidak."


"Aku merasa telah bertemu dengan imam orang percaya yang bahkan tidak seperti orang percaya."


"Mungkin memang seperti itu, tapi dalam dunia ini memang lebih baik untuk tidak berlebihan dalam sesuatu."


"Apa perkataan itu dirimu ambil dari apa yang telah menimpa keluarga Souten?"


Keheningan berlangsung, yaa cukup lama setelah Megaera mengatakan itu sampai ...


"Mungkin seperti itulah, Tuan Deira."


... Pendeta itu mengangguk lemah.


Yaa, sepertinya lebih baik aku diam dan duduk manis mendengarkan mereka berdua. Aku sama sekali tidak mengetahui konteks apa yang mereka bahas. Apalagi itu terlihat cukup sensitif.


"Diri ini tidak tertarik dengan apa yang telah terjadi di masa lalu.” Megaera berkata demikian meski kurasa kamu harus bercermin terlebih dahulu sebelum dapat mengatakan itu dengan lantang, Meggie-Chan.


“Jadi, lebih baik dirimu katakan saja apa maksud dirimu menggunakan hal itu pada kami, Ouya,” sambungnya mengabaikan apa yang kukatakan lewat Spirit Link.


"Saya tidak bermaksud apa pun, Tuan Deira."


"Jangan berbohong. Diri ini tidak menyukai sesuatu seperti itu,” tekan Megaera lebih.


Ooh! Megaera versi sombong telah muncul!


"Saya hanya memeriksa kebenaran yang ada, Tuan,” jawab Ouya saat dirinya sedikit menunduk pada Megaera. Mungkinkah untuk menunjukkan ketulusan dalam perkataannya?


Dan ...


"Itu memanglah terdengar seperti apa yang akan Keluarga Souten lakukan. Walau diri ini masih ragu apakah memang perlu sampai sejauh itu."


———


Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?

__ADS_1


__ADS_2