
Setelah mengusir mereka bertiga, dari kamarku. Ah, berempat karena Alissa juga kuusir keluar. Aku akhirnya dapat merasakan kembali ketenangan yang telah kucari.
Yaa, seperti ini memang terasa lebih baik.
Pikirku sambil mulai terlelap, dirayu dalam buaian alam mimpi dan tidur. Dengan kelelahan yang tak terasa menumpuk dalam perjalanan, aku terhanyut hingga nyenyak nan pulas.
Bangun dari tidur, hari telah berganti dan aku —dipaksa— menghadiri beberapa pertemuan formal bersama dengan ayah dan ketiga kakakku. Yaa, walau hubungan kami lebih tepat disebut seorang sepupu jauh jika ditinjau secara garis darah.
Aku duduk, menemani ayah bertemu beberapa klien atau utusan dari perusahaan, militer, maupun keluarga lain.
Yaa, jadwal yang cukup sibuk tapi aku dapat memahaminya. Ini hanyalah satu dari banyak kewajiban yang harus dilakukan ayah sebagai kepala keluarga saat ini.
Setelah itu, aku dan ayah berbicara beberapa hal. Dia sedikit menyinggung tentang keinginan untuk membuatku kembali memegang posisi di dalam keluarga Asha tapi aku menolaknya —tentu dengan sopan.
Aku merasa lebih nyaman dengan keadaanku sekarang. Yaa, mungkin keputusan itu kuambil saat keadaan emosionalku sendiri tengah berada dalam keadaan tidak stabil. Tapi aku sama sekali tidak menyesali itu.
Malam hari akhir turun. Malam tahun baru.
Aku melihat ayah dan ibu turun, berjalan berpasangan dari kediaman dalam ke taman utama, menunjukkan diri dengan pakaian tradisional. Di sambut oleh tepukan tangan dan kami pun mengikuti di belakangnya, saling berpasangan pria dan wanita.
"Kenapa aku harus berpasangan dengan mika untuk hal ini."
"Saya juga tidak ingin berpasangan dengan sira tahu."
Yaa, aku hanya dapat tertawa garing saat mendengarkan percakapan antara Kak Kalyan dan Kak Raiya.
"Mereka berdua dekat seperti biasanya," kata Kak Aarav.
Benarkah itu? Yaa, kita sendiri memang dekat sejak keluar dari kediaman cabang 'kan? Meski itu juga disebabkan oleh kita yang sering dijauhi karena keluarga kita.
Yaa, terasa cukup berat jika kami tidak menerimanya. Itu adalah resiko terlahir di keluarga Asha.
Beberapa ingatan tentang hal-hal yang telah lampau sedikit terbesit di kepalaku, membuatku tersenyum kecil nan lemah.
"Aku masih penasaran dengan itu."
"Saya pun sama."
Kak Aarav berkata demikian saat mulai mengelus kepalaku, membuat kepalaku sedikit kebingungan untuk sesat.
"Aku bukan anak kecil lagi tahu, humph."
"Kamu sedang apa Reena?"
"Menjadi tsundere."
"Tidak. Kamu menggunakan nada yang sangat datar. Benar-benar datar hingga saya tidak tahu bagian mana yang pantas disebut tsundere," jawabnya. "Selain itu kenapa kamu melakukan itu?"
"Yaa, Alissa bilang aku terkadang harus melakukan ini saat seseorang mengelus kepalaku."
__ADS_1
"Hu—"
Aaa! Jangan tertawa oke?!
"Pfft—"
Itu lebih buruk saat kamu menahan diri untuk tidak tertawa Kak Aarav!
"Mika terlihat senang," kata Kak Raiya saat dia bersama Kak Kalyan mendekat.
Kak Aarav, jangan beri tahu Kak Raiya maupun Kak Kalyan, ya!
"Tidak, hanya saja Reena berkata dia mulai bermain beberapa permainan virtual."
Huh ... untung saja. Tapi kenapa Kak Aarav bisa tahu hal itu? Apa Alissa memberitahukan hal itu padanya?
"Begitu 'kah?"
"Lalu apa yang sebenarnya sira mainkan Reena?"
"Agak jarang mendengar Kak Kalyan tertarik pada hal seperti ini."
"Tidak. Hanya saja jarang saja mendengar kamu memainkan sebuah permainan sejak usiamu di atas 8 tahun."
Apa memang sejarang itu? Yaa, mungkin. Sepertinya memang sejarang itu, mungkin. Pikirku setelah mengingat-ingat kembali.
Bagaimanapun, hal ini membuatku menceritakan sedikit tentang EFO dan karakterku di sana meski tak semua.
"Apa memang sebagus itu?"
"Tidak. Aku juga belum memainkannya tapi kudengar darah di sana sama dengan darah yang ada di dunia nyata."
Yaa, itu membuat Kak Raiya agak ketakutan sekarang. Mungkinkah karena hemophobia (phobia darah) yang dia miliki?
"Itu bisa menjadi terapi yang bagus bukan? Cara paling ampuh mengalami trauma adalah dengan membuat dirimu mengalami pengalaman itu berkali-kali."
Itu memang benar Kak Kalyan tapi entah kenapa terasa sangat jahat saat kamu mengatakannya dalam situasi sekarang ya.
Dengan tubuh bergetar, Kak Raiya terlihat menatapku takut. "A-apa memang bagus Reena?"
"Mungkin?"
Yaa, aku tidak tahu juga karena tiap pribadi orang itu berbeda. Menghasilkan penilaian yang berbeda pula.
"Tapi jika Reena saja memainkannya maka sira pun juga harus mencobanya Raiya. Cobalah, cobalah, cobalah," bisik Kak Kalyan menghasut.
... Kak Kalyan, kamu benar-benar terlihat seperti iblis yang menggoda orang lain untuk masuk ke jalan setan sekarang.
"Berhentilah melakukan itu Kalyan."
__ADS_1
"Ini bukan urusan sira bukan?"
Oke, percikan kecil sekali lagi terjadi.
Yaa, keduanya benar-benar tidak akan dapat akur sejak kecil.
"Uhh! Oke! Jika Reena saja bermain aku akan mencobanya nanti."
"Yaa, jangan terlalu memaksakan diri Kak Raiya." Aku agak takut kamu akan pingsan terlebih saat kamu tahu bahwa aku bahkan meminum darah di sana. "Aku bermain pun karena saran paksaan Alissa."
"Alissa, 'kah ...?"
Setelah Kak Raiya berkata demikian, kami semua menghela napas kecil bersama saat mendengar nama Alissa.
Sepertinya namanya telah melekat dengan posisi khusus di hati kami. Entah dalam artian baik atau buruk.
"Aku akan merahasiakan tindakan bodohmu tadi Reena," bisik Kak Aarav padaku.
"Terima kasih Kak."
Aku berkata dengan sedikit malu saat mengingat apa yang kulakukan tadi. Alissa Tal Asha, sepertinya aku harus memberikanmu pelajaran yang baik nanti.
Dan sepeninggal keduanya, suasana di antara kami pun menjadi hening.
Yaa, aku sama sekali tidak keberatan dengan kesunyian ini. Terlebih karena Kak Aarav memanglah bukan orang yang banyak bicara sejak awal jadi ini terjadi bukan karena dia marah atau apa.
Dan sejujurnya, ini benar-benar terasa nyaman.
Aku melihat ayah selesai mengatakan apa pun itu, secara secara garis besar hanya berisi tentang ucapan selamat atas kerja keras yang dilakukan oleh semua orang tahun ini dan usaha untuk mencapai yang lebih baik. Itu hanya sambutan formal jadi aku tidak perlu mendengarkannya dengan seksama.
Terdengar bahwa musik yang dimainkan lebih dan lebih ingin menghanyutkan siapa yang mendengar. Bersama dengan itu, ledakan pun terdengar, menyela alunan musik dan bintang terbentuk layaknya sebuah bunga yang mekar, berkembang di langit malam.
Merah, kuning, jingga, ketiga warna dominan yang terus melebar dan menyinari langit hingga itu padam, menghilangkan diri di tengah kegelapan malam. Terbakar habis.
Tahun baru telah datang, ya.
Pagi hari. Aku mengunjungi makam ibu kandungku. Mendoakannya dan memberikan sebuah bunga pada batu nisan itu.
"Kenapa ya kamu muncul di sana?" tanyaku tanpa sadar, mengingat apa yang kuimpikan saat pingsan di dalam EFO.
Pengalaman yang aneh sekaligus agak meresahkan bagiku ....
"Huh ...." Hembus napasku yang membuat uap udara mengepul.
Tentu tidak ada jawaban apa pun yang akan kuterima. Hanya saja, yaa mungkin aku telah merasa sedikit lebih lega setelah mengatakan ini?
Berbalik ke kediaman, aku berlatih sedikit di dojo keluarga. Yaa, itu juga demi mengajar Alissa serta memberinya sedikit balasan untuk saran tidak bergunanya itu.
Dan akhirnya, aku kembali ke rumah tempatku tinggal, tempat yang kubeli sendiri dan berpisah dari keluarga. Tentu dengan Mireille yang masih mengikuti.
__ADS_1
———
Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?