
Tubuhku bergerak dengan takut, secara refleks segera berlari dan mencari tempat bersembunyi sebelum apa pun monster yang dimaksud itu tiba. Yaa, kurasa ini tindakan yang wajar untuk menghadapi sesuatu yang tidak diketahui.
Menahan napasku, aku melemahkan tiap tarikan dan embusan napas yang dibuatnya. Berusaha untuk tidak bergerak sedikit pun demi dapat menyembunyikan kehadiran diriku sesempurna mungkin.
Dan akhirnya ... aku pun melihat sosok monster pemilik suara tersebut.
Monster itu memiliki tubuh panjang mengular. Mungkin mencapai enam atau tujuh puluh meter dengan kepala menyerupai seekor buaya, lengkap dengan dua tanduk panjang seperti kerbau.
Aku melihat tubuhnya memiliki bulu biru bercampur hitam indah dengan kilau metalik, membuatku mengira tubuhnya itu dilindungi oleh semacam sisik.
Yaa, ekornya sendiri berbuka dengan warna hitam, seperti tubuh seekor kelabang yang membuatnya mirip dengan ekor ular derik meski memiliki bagian ujung berjumbai. Dan itu dipasangkan dengan sepasang kaki di bagian depan yang berbentuk seperti kaki burung elang.
Selain itu, walau dia tidak memiliki sayap di tubuhnya. Namun—
Drak! Trak! Dtrak!
Sambaran demi sambaran kilat kecil dapat kuamati secara langsung, terus berderak, melintas di seluruh tubuhnya dengan pusat pada sebuah kristal yang kulihat pada bagian dada. Meninggikan nuansa agung bercampur rasa intimidasi yang dia miliki.
Monster itu adalah Naga, lebih tepatnya ular Lòng oriental (Lòng).
Lòng itu diam, hanya menatap tajam ke arah kawanan burung yang sebelumnya menyerangku. Dan—
"ROOAAARRRR!"
Dia pun akhirnya membuka mulutnya. Mengaum dan melepaskan tekanan udara kuat, segera menyapu area di hadapannya. Sebuah auman yang diikuti dengan derakan kilat.
Tekanan udara mematikan pun menerjang, tidak hanya menghancurkan para burung itu tapi juga area di depannya, termasuk jalan yang kugunakan yang kini telah luluh lantah. Tidak terlihat lagi rupa sebelumnya.
Namun, gelombang kehancuran kedua segera menyusul. Dengan arus kilat yang kini ganti memberi kehancuran. Memperluas area kerusakan dengan kilat yang terus merambat, menyebar dan memecahkan batuan.
Lebih, lebih, lebih, dan ya, lebih luas lagi.
Tubuhku terasa kaku bercampur lemas setelah melihat ini. Yaa, pikiran untuk segera kabur dari sini yang sebelumnya terbesit seketika menguap.
Jika aku melakukan itu, dia hanya butuh untuk membuka mulutnya dan aku pun akan selesai.
Aku berpikir demikian dan menahan diri dari mengamati Lòng itu lebih lanjut, mencegah identifikasi untuk bekerja dan.
Meski sejauh yang kutahu identifikasi tidak akan menunjukkan pelakunya, aku tidak ingin mengambil resiko lebih hanya untuk mengetahui nama (atau mungkin Title) dari Lòng itu. Kemungkinan bahwa identifikasi dapat membawa masalah bukan sama sekali nol, oke?
Dan bahkan tanpa mengetahui namanya aku terus merasakan tekanan kuat yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Membuat bulu kudukku berdiri tegak dengan keringat dingin di punggungku.
Walau aku tidak tahu apakah dia, Lòng itu melakukan auman tersebut dengan bantuan Skill semacam Scream atau tidak. Namun, yaa auman 'biasa' tersebut telah menunjukkan sedikit dari apa yang mampu Lòng itu lakukan.
Kukira ada alasan logis mengapa pemilik darah naga murni tidak dapat dijinakkan.
Kukira aku tidak hanya bertemu sosok predator atau pemangsa para burung itu. Dia, Lòng tersebut hanyalah sosok puncak di tempat ini.
__ADS_1
Lòng itu berputar, menderakkan kilat petir di tubuhnya saat melihat sekitarnya sekali lagi sebelum berbalik. Pergi meninggalkan tempat ini bersama dengan perasaan lega yang segera membanjiriku.
[Title One Who see the Clamity berhasil diakuisisi]
"Ada apa dengan tempat ini ...," gumamku rintih.
Tempat ini cukup dekat dengan kota awal jadi mengapa tingkat kesulitan yang ada menanjak secara tidak manusiawi?! Kurasa sesuatu seperti Lòng atau apa yang mampu Lòng tersebut lakukan akan muncul di tahap akhir, oke?!
"Sepertinya ada banyak alasan lain mengapa jalur darat tidak terlalu populer, ya."
Meski begitu, yaa, aku tidak dapat berbalik atau mengandalkan orang lain.
Jalan kembali ke Kota Houra telah hancur dan apa yang Megaera sendiri tahu adalah kondisi 500 tahun yang lalu, sementara Sile dan Zile sendiri tidak pernah pergi melalui jalur ini.
Jadi, lebih baik aku bersiap siaga atas kemungkinan apa pun yang dapat terjadi di sini. Para burung serta kemunculan mendadak seekor naga sudah cukup untuk memberiku pelajaran. Pikirku saat melanjutkan langkah.
Yaa, untuk sekarang aku hanya akan mengikuti arah yang kompas tunjukkan karena jalan setapak sebelumnya telah hancur.
Terus berjalan hingga malam cukup gelap. Aku bertemu dengan beberapa hewan buas seperti macan gunung yang menyerangku, tapi yaa, karena mereka hanya bertindak sendirian, aku dapat mengatasinya dengan Deira dalam bentuk sabit.
Itu dapat dihitung sebagai bentuk latihan dan bahkan aku berhasil membuka Art's baru dari Strike Art's.
"Yaa, untuk sekarang kita akan berkemah."
Tubuhku telah cukup lelah oleh apa yang terjadi. Jika aku menafsirkan Title yang kudapat maka dapat disimpulkan bahwa seekor naga (baik Dragon maupun Lòng) sama dengan bencana.
"Dan karenanya, ini adalah saat untuk menggunakan ..." Aku merogoh kantong penyimpananku dan mengangkat sebuah tas tinggi-tinggi. “Set perkemahan portabel."
"Tidak ada," balasku pada Sile.
"Benarkah itu?"
"Yaa, benar. Aku benar-benar tidak melakukan apa pun secara khusus, ya."
"Lalu kenapa Anda melakukan pose itu sebelumnya?"
"... E-entahlah ...."
"Jadi—"
"Sudah cukup, Sile," kata Zile pada adiknya itu sebelum menggumamkan sesuatu. Bagaimanapun, kerja bagus, Zile.
"Apa yang dirimu rencanakan selanjutnya, Dirae?"
"Yaa, aku hanya akan tetap menuju Kota Morksi secepatnya sih. Tapi, kamu tahu 'kan bahwa itu sepertinya akan sulit," jawabku pada Megaera.
Yaa, kemunculan si Lòng memang bertanggung jawab untuk sebagian besar apa yang kualami hari ini. Tapi medan di pegunungan ini sendiri memanglah cukup ekstrem terlepas dari apa yang dia lakukan.
__ADS_1
Sembari aku memikirkan itu, tenda yang kubuat pun telah selesai. Yaa, secara fisik, pihak yang memerlukan tenda hanya aku. Sile dan Zile tinggal di dalam Deira, jadi itu wajar jika hanya memerlukan sedikit waktu untuk mendirikan tenda.
Bersandar pada sebuah batu, aku menatap dua bulan di langit sambil meminum darah yang telah kukemas dalam botol. Ini bukan darah dari seorang People, hanya beberapa monster acak yang kubunuh, oke?
Yaa, darah sendiri memulihkan kekenyanganku cukup banyak jadi kurasa itu efektif. Terlebih darah terhitung cukup mudah untuk kudapatkan meski harus mengonsumsi beberapa pengalaman untuk menekan aktivitas Primal Curses • Decomposition dan melestarikannya.
"Yaa, saatnya tidur," kataku saat kembali ke tenda dan memejamkan mata.
Begadang, meski itu di dalam game tetaplah bukan hal yang baik. Itu dapat memengaruhi pola tidurmu di dunia nyata juga, ya.
Aku terlelap. Entah berapa lama waktu berlaku sampai—
Brak!
Guncangan kuat terjadi, memaksaku 'tuk terbangun. Namun—
"Ap—?!"
Teriakku saat sadar bahwa tubuhku telah terlempar, berguling di tanah beberapa kali sebelum dapat memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Aku melihat sebuah kawanan monster kadal berukuran sekitar dua meter dengan kaki belakang tebal, membuat mereka dapat bergerak dengan dua kaki. Sementara kaki depan mereka terlalu kecil untuk dapat menapak tanah menginjakkan kakinya di tempatku mendirikan tenda.
Dan kini, mereka mulai melewati tempatku berada dengan suara-suara yang terus dilakukan. Suara yang mirip dengan teriakan atau rintihan bagiku, tapi kurasa itu lebih tepat disebut sebagai usaha untuk menakuti predator mereka.
Yaa, lebih baik menyingkir dari sini. Pikirku saat melangkah menjauh.
Tidak ada gunanya memulai pertengkaran dengan mereka, oke? Meski rusaknya tenda itu agak sedikit disayangkan, aku rasa tidak apa-apa untuk merelakannya.
Namun, mereka, para kadal itu terus mengejarku. Saat aku berbelok ke kanan mereka mengikuti, begitu pula saat aku mencoba berbelok ke kiri maupun mempercepat langkah. Mereka sama sekali tidak membiarkanku lepas dan terus mengejar.
Hei, apa kalian belum puas untuk menggangguku bahkan setelah menghancurkan set perkemahan portabel milikku sekaligus membangunkan seorang gadis dari tidurnya?!
Pikirku saat langkahku terhenti. Yang ada di depan sana hanyalah jurang dan tentu tidak mungkin bagiku untuk dapat melewatinya.
Sedang para kadal berkaki dua itu mulai mengepungku dengan suara yang tidak pernah berhenti.
Oke. Mungkin anggapanku sebelumnya salah. Suara itu tidak ditujukan untuk menakuti predator mereka tapi mengintimidasi mangsa mereka. Mengintimidasiku.
Tapi ...
"Mana Bullet."
... Hal semacam itu tidak akan bekerja padaku, oke?
———
Catatan : saia menggunakan kata Lòng (龙) untuk menunjukkan bahwa itu adalah bentuk naga oriental sedang naga barat akan menggunakan kata Dragon.
__ADS_1
Ini bekerja lebih sebagaimana subras dan ras mereka (baik Lòng maupun Dragon) adalah sama.
Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?