
Enam hari.
Baik, aku telah berada di dasar jurang ini selama waktu hampir seminggu tanpa menemukan secercah harapan untuk kembali. Ugh, efek bumerang keberuntungan sialan.
Selain itu, yaa, cara bunuh diri pun tidak berguna karena kemungkinan untuk dapat respawn di atas tidak terlalu baik. Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa tempat ini telah dihitung sebagai area berbeda.
"Kuharap aku akan segera dapat keluar dari area ini," gumamku berharap saat memakan itu.
Ini adalah aib.
Cadangan makanan yang kumiliki sendiri telah habis pada hari ke keempat seberapa pun aku berusaha untuk menghemat konsumsinya. Selain itu, aku juga tidak dapat menemukan hewan atau monster yang berkeliaran di tempat ini.
Yaa, aku bahkan ragu apakah tempat ini dapat dihuni karena intensitas cahaya yang ada terlalu rendah, bahkan saat siang hari. Aku sendiri dapat bertahan karena Night Vision sedang saat malam hari pun aku masih membutuhkan bantuan pencahayaan dari Sile.
Night Vision hanya membantuku melihat dengan lebih baik, oke? Jika cahaya di sekitar benar-benar nol, maka aku pun tetap akan tidak dapat melihat apa pun.
Kamu tahu, makhluk yang telah hidup dengan cahaya akan menderita stres saat kebutuhan akan hal itu tidak tercukupi, ya. Begitpun sebaliknya, para makhluk gua pun yang dapat hidup di tempat gelap gulita akan mengalami hal yang sama saat berada di tempat terang.
Yaa, dalam beberapa kasus itu dapat menyebabkan gangguan mental ekstrem dan bahkan kematian ....
Bagaimanapun, aku dapat bertahan di tengah kesulitan itu karena satu hal. Bug.
Baiklah, yang kumaksud itu benar-benar seekor serangga secara nyata, bukan kesalahan sistem, ya.
Itu adalah serangga berbentuk pipih, terasa cukup mirip dengan kecoak tapi ini benar-benar pipih meski memiliki tubuh lebih besar bersayap dengan bulu halus layaknya seekor ngengat yang menutupi seluruh tubuhnya.
Aku menemukan serangga itu berkerumun menutupi dinding tebing, yaa, benar-benar menutupi seluruh dinding tebing dengan kerumunannya. Dan jujur saja, aku tidak terlalu tahu apa yang sebenarnya serangga itu makan namun berkat itu aku dapat bertahan.
Aku tidak terlalu jijik karena aku pun pernah memakan belalang di dunia nyata. Atau itulah yang pertama kali aku pikirkan sebelumnya.
"Hueekkk."
Aku muntah, dan itu terjadi berkali-kali saat aku memakannya.
Kamu tahu, aku bahkan telah mengolahnya terlebih dulu, ya.
Pertama membersihkan serangga ini dengan benar. Seperti membersihkannya (tentu), mengeluarkan bagian dalam serangga tersebut dan tindakan lain. Kemudian, dengan bantuan api dari Megaera aku pun menggorengnya.
Jadi, kuharap rasanya tidak akan terlalu buruk tapi tetap saja ....
"Ini adalah rasa terburuk yang pernah kucicipi," gumamku lemah.
Aku yakin akan hal itu. Sangat, sangat yakin.
Mau seberapa banyak pun kamu pernah merasakan rasa itu, kamu akan tetap merasa mual dan muntah karenanya. Bahkan kondisi keracunan (sedang) terus muncul saat aku memakannya disertai beberapa kondisi negatif lain seperti halusinasi, lumpuh, bisu, tulis, dan pendarahan.
Benar-benar sesuai dengan nama yang serangga ini miliki, Death Wish.
__ADS_1
Seseorang akan benar-benar berharap untuk lebih baik mati daripada harus memakan serangga ini lagi.
"Berjuanglah, Master," kata Sile.
"Kraklaraaa ...," rintih Antarea lemah.
Kami berbagi nasib yang sama sebagai makhluk hidup yang telah merasakan cita rasa 'hebat' dari Death Wish. Dan aku melihat bahwa Antarea telah mengeluarkan air mata yang seharusnya tidak dimiliki seekor laba-laba.
Ah, itu pasti efek dari halusinasi, ya. Baik, mungkin tidak. Tapi ... mari berjuang lagi, Antarea. Pikirku saat memaksakan gigitan lain.
Yaa, setidaknya aku mendapatkan Title Foul Feeder karenanya. Yaa, itu membantu meringankan beberapa kondisi negatif yang dapat kuderita, terutama racun.
Tapi ini sungguh sesuatu yang tidak patut dibanggakan. Benar-benar aib.
Tidak. Tetap terus berpikir positif, diriku!
Meski aku sekarang benar-benar ingin log out dan merasakan makanan yang lebih layak daripada ini ....
Hatiku sekali lagi menjerit sesaat sebelum menyudahi sesi makan yang tidak bisa dikatakan sebagai makan. Seharusnya sesi makan memiliki makna untuk menikmati apa yang masuk ke dalam mulutmu, oke?!
Baiklah, aku kembali mulai melangkahkan kaki untuk segera keluar dari tempat ini. Dan ya, sejauh ini belum terdapat sesuatu yang terjadi.
Dengan Antarea yang memandu arah, aku berusaha bergerak seefisien mungkin dan tidak berkutat pada satu tempat saja. Meski terkadang tetap kembali ke titik tertentu yang pernah kulewati.
Selain itu, ternyata Spirit Link dapat menghubungkan visiku dengan salah satu pihak yang memiliki koneksi denganku. Yaa, walau dibatasi sampai jarak tertentu tapi kemampuan ini sangatlah membantu.
"Antarea, sekarang kamu dapat turun," perintahku. Membuat Antarea segera turun dan tidur dengan di tudung jubahku.
Yaa, kamu telah bekerja dengan keras dan sekarang kamu dapat beristirahat, Antarea. Apalagi medan di depan sepertinya tidak terlalu sesuai denganmu.
"Zile."
"Ya, Master."
"Bisakah kamu berjalan terlebih dahulu untuk mengawasi area di depan?"
Yaa, jalur di depan benar-benar sempit seperti sarang semut. Terdapat banyak dinding yang saling tumpang tindih membuat pengamatan Antarea yang berada di atas tidak banyak berguna.
Jadi, kurasa Zile yang dapat menembus dinding-dinding itu — karena dia hantu — adalah sosok yang tepat.
"Yaa, aku akan menghubungkan visiku denganmu jadi kamu hanya perlu mengawasi, tidak perlu melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian makhluk apa pun yang mungkin ada," sambungku.
Bahkan jika aku belum bertemu monster nyata semenjak jatuh, bukan berarti aku dapat melonggarkan penjagaanku dengan mudah, ya.
"Baik, Master," jawab Zile saat dirinya mulai berjalan, menembus dinding di depanku dengan mudah.
Sementara itu—
__ADS_1
"Baiklah...."
Yaa, aku sendiri harus berjuang untuk dapat memanjat dinding ini. Untung saja tidak terlalu tinggi.
"Aku tidak pernah tahu bahwa untuk berpindah kota saja akan sesulit ini," gumamku.
"Diri ini bahkan tidak pernah tahu sebelumnya bahwa terdapat area semacam ini di pegunungan ini."
"Yaa, apa yang kamu tahu adalah 500 tahun lalu 'kan, Mega."
"Tidak. Dirimu salah Dirae, yang benar adalah 381 tahun yang lalu."
"Tetap saja itu benar-benar lama, Madam," imbuh Sile yang kini beralih tugas menjadi penerang jalan.
"Dirimu yang baru menjadi hantu selama enam bulan tidak akan mengerti."
"Ya, yaa, bagaimanapun maksudku adalah itu masihlah sangat lama, oke," kataku saat turun dengan suara menderap.
Mengikuti petunjuk arah yang kudapat lewat visi Zile, membuat langkahku tidak banyak menemui kendala. Bahkan intensitas cahaya yang ada pun terus bertambah dan tidak seburuk sebelumnya. Membuat tempatku ini lebih nyaman.
Jadi, aku yakin diriku telah berada di arah yang benar untuk keluar, ya. Sampai ...
" —?! "
... Aku melihat sesosok beast-kin yang duduk bersandar pada sebuah sabit besar. Bahkan ukuran sabit tersebut lebih besar daripada ukuran Deira dalam bentuk sabitnya.
"Zile, diam dan hanya amati dia."
Aku berkata lewat Spirit Link. Menginstruksikan Zile untuk tidak mengambil tindakan lebih lanjut, cukup bersiaga dan ...
[Killer Scythe (hitam)]
... Aku melihat identitas (Title) dari sosok itu.
Yaa, ini kabar baik bahwa terdapat orang lain di sana. Membuktikan bahwa aku benar-benar lebih dekat dengan tempat yang memiliki kehidupan. Meski dia adalah fraksi Evil.
Dan ya, untuk sekarang aku harus—
BOOOMMMM!
Ledakan keras itu pun segera menghantamku, memotong pikiranku.
———
Sedikit pemberitahuan sebelumnya, bahwa besok kemungkinan besar saia tidak akan update EFO. Kepala saia pusing, tidak dapat menatap layar terlalu lama maupun berpikir terlalu banyak hal selain makan— maksud saia segera sembuh.
Terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?
__ADS_1