
Kegelapan tumbuh dari tanah tempat Melg berpijak. Naik dan timbul layaknya sebuah tiang, menelannya dalam balutan kegelapan pekat.
Udara yang berat dapat terasa di sekitarku, hadir dan meningkatkan kekusutannya tiap detik berlalu. Yaa, semakin berat.
"Mana Bullet!"
Tembakan kulepaskan, mencoba mengganggu Melg. Tidak mungkin akan ada orang normal yang diam menonton saat melihat musuhnya mempersiapkan sesuatu yang terasa berbahaya, oke?
Tapi tiang itu tak goyah sama sekali. Menelan serangan yang kuberi, tidak membuat perbedaan berarti. Serangan yang kubuat tidak ada artinya, ya.
Dan ...
"—?!"
... Tubuhku terasa merinding seketika. Seluruh indraku menyorakkan rasa bahaya yang kuat dan itu bukan hanya ilusiku saja.
Spec-Skill, Bleses-Curses Sense bereaksi dengan kuat pada tiang kegelapan itu. Tiang itu seolah telah menjadi kumpulan akan Primal Curses, jauh, jauh, dan ya, jauh lebih pekat dari apa yang pernah kurasakan selama ini.
Hembusan angin menakutkan menerpa kulitku, bersama runtuhnya tiang. Membuat bulu kudukku berdiri tegak tat kala diterpanya itu.
Dan tubuh Melg pun terlihat.
Dia tampak tidak mengalami perubahan berarti tapi tekanan yang dia berikan menjadi lebih menakutkan. Mata yang kini bersinar dengan warna emas kemerahan dengan bagian yang seharusnya putih kini menjadi hitam pekat. Mengamatiku sejenak sebelum sebuah senyum disunggingkan.
Itu jelas bukan diri Melg. Aku berpikir yakin. Dan ...
Ctrak
... Yaa, sebuah 'sayap' mulai tumbuh, mengambang di belakang punggung Melg seolah menguatkan pikiranku akan hal demikian.
Itu bukanlah sayap burung maupun sayap kelelawar yang lekat dengan gambar keberadaan sosok malaikat atau iblis.
Melainkan hanya sebagai pecahan kaca di satu sisi. Berjumlah dua buah pecahan besar, tipis nan pipih memanjang dengan keberadaan yang menelan cahaya di sekitar.
"Jadi kamu 'kah?" katanya menatapku.
Tanda tanya muncul di atas kepalaku saat dia berkata demikian tapi—
"Gah!"
Sebuah pukulan menghantam tubuhku sebelum aku dapat berpikir lebih jauh atau sekedar menyadarinya. Membuatku terpental.
Dia tidak mengejarku lebih jauh, hanya berjalan santai dan mengambil pedang besar dari tangan boneka yang terhenti. Mengangkatnya ringan dengan hanya satu lengan.
"Zile, Flashdark!"
Yaa, Zile sekali lagi berubah menjadi mantra, menjadi kegelapan dan menelan kami. Aku berharap itu dapat memberiku waktu namun—
Slash!
Serangan lain datang, memukulku dengan tepat. Aku mengayunkan Deira dan berkehendak itu dapat menahannya, tapi ya, serangan itu tetap berhasil mengosongkan HP-ku dalam jumlah mencengangkan. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kegelapan yang muncul.
"Sile, Flashlight!"
Cahaya kembali naik, menelan kami tapi sekali itu tidak berarti melawannya. Justru berbaik menjadi pedang tak terlihat yang mendekatkan kematian padaku.
Yaa, pandanganku sedikit berputar saat intensitas cahaya melonjak, hanya sesaat namun itu fatal. Rasa sakit yang tajam datang kala tangan kiriku terpotong rapi dari siku, terbang entah ke mana itu potongan itu jatuh.
"Apa menurutmu permainan itu akan bekerja sekali lagi?" Dia berkata dingin, membuatku meringis diam.
__ADS_1
"Apa dirimu baik-baik saja, Dirae?!"
"Yaa, sepertinya tidak."
Meski Begitu, kurasa aku masih belum boleh lepas tangan sekarang.
"Defense Correction, Healing Correction, Damage Absorption." Mantra demi mantra yang meningkatkan peluangku bertahan dihibahkan satu demi satu. Selain itu, yaa, peras potensi dari Rapid Healing dan ...
"Mana Bullet."
... Serang balik dia. Tembakan mana datang, menghujaninya bersama dengan lusinan tombak kabut mana yang kubuat.
Tapi, dia dapat menghindari serangan ini dengan mudah. Menghindarinya tanpa perlu gerakan berarti. Datang dan mengayunkan pedang besar itu sekali lagi dengan tingkat akurasi mengerikan.
Yaa, mundur. Aku berpikir demikian, melepaskan Mana Board untuk membantu sementara Mana Layer dibuat untuk menahannya sejenak meski tidak memberi waktu layak.
"Apa ada cara lain ...," gumamku khawatir.
Baiklah. Seperti hanya itu satu-satunya cara.
Meski begitu, mata bilah tajam itu sudah berada di depanku. Dengan susah payah, aku berusaha menahannya dengan sabit, terpental dan sekali lagi mengembalikan HP-ku di tingkat kritis.
"Sile!" panggilku. Dia segera datang dan ya, sontak kuberi perintah setelah menyerahkan itu padanya.
"Apa pun yang kamu rencanakan tidak akan ada gunanya tahu."
"Yaa, tapi bukankah masih lebih baik— Mana Bomb!"
Dan dia berhasil menahan itu hanya dengan mengayunkan pedang besarnya. "Sudah kubilang itu tidak berguna bukan?"
Aku memasang sedikit senyuman, yaa agak lebih lebar dari sebelumnya. "Tidak ada yang tahu oke?"
"Shatt—"
"Throw Away!"
BOOOM!
... Ledakan terjadi tapi bukan berasal darinya.
"Ap—?!"
Dia terkejut, menoleh ke asal ledakan dan membatalkan proses pematikan yang tengah berlangsung.
Yaa, sekarang lari diriku!
Aku melompat dengan bantuan Mana Boar kemudian menghibahkan Increase Speed untuk meningkatkan kecepatan lariku menuju ke titik ledakan. Pintu dari ruangan ini.
"Appraise!"
[Pintu Ruangan Manajer Potchi Store
Jenis : Konstruksi
Rank : Tidak umum
Durability : 21 /1.000
Berat : 1.500
__ADS_1
Hanya pintu yang membatasi dua ruangan]
Uhh, sedikit lagi!
"Target Mark, Higher Magic!" Aku berteriak, meningkatkan kekuatan sihirku dan melepaskan tombak kabut mana pada pintu itu.
"Tch, kamu tidak akan lolos tahu," katanya mengejarku dengan satu langkah, melompat dalam jarak lebar dan mengayunkan pedang besar itu padaku.
"Mega, tolong buat pelindung!"
"Burning Layer."
Suhu naik bersama dengan lembaran barier tipis yang menahannya untuk sejenak. Dan ...
Blam!
... Pintu itu pun akhirnya rusak.
Aku keluar, meluncur dan berguling bersama dengan asap bercampur debu yang terbebas dari sana. Keributan terjadi di antara para penjaga, beberapa telah menempatkan tangannya pada senjata yang mereka miliki.
Mungkin suara-suara sebelumnya telah membuat mereka curiga jika itu bukan berasal dari percobaan Melg.
"Siapa kamu!" teriak salah satu dari mereka, menodongkan senjata padaku.
Yaa, tidak perlu di perhatikan. Aku hanya menatapnya sesaat sebelum berpaling, fokus pada ruangan yang ada.
Tap, tap, tap, tap.
Suara langkah mendekat, menandakan dia masih terus mengincarku. Sama sekali belum berniat melepaskanku.
Yaa, kalau memang itu yang terjadi maka baguslah.
Mengambil napas dalam, aku menahan rasa sakit dari lenganku yang terus mengeluarkan darah akibat terpotong. Bagun, menegakkan dada, aku mengambil postur tinggi. Dan Dengan pandangan tajam ...
"Aku, Dirae nyatakan ...."
... Sosok Melg pun kutunjuk pasti.
———
Penjelasan tentang Skill Basic Living Item Cooperation Mastery.
[Basic Living Item Cooperation Mastery
Activation : Action Key
Cost : Konsumsi stamina meningkat (sedang)
Kamu telah mempelajari bagaimana cara untuk bekerja sama dengan living item yang biasanya hanya ingin mengendalikan pemakainya. Saling melengkapi dan berada dalam kedudukan sama. Kekuatan serangan yang diberikan mendapatkan peningkatan 50% dari kekuatan serangan living item terkait]
Ini adalah Skill yang didapat Dirae/Reena setelah bekerja sama dengan Deira (Vessel dari Megaera) dalam bentuk sabitnya.
Skill aktif saat Dirae memegang Deira, dan faktanya hampir selalu aktif karena dia selalu membawa Dirae bersama.
Memberikan pertumbuhan statistik Mystery (kecil) dan pertumbuhan Strength, Intelligent, dan Charm (rendah).
Sebagai catatan, hasil penilaian di atas didasarkan pada Skill saat berada di level 0 dengan pertumbuhan +0,25% setiap peningkatan level.
Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?
__ADS_1