
"Hooookkkk!"
Suara itu terdengar saat aku akhirnya berhasil melihat gerombolan monster itu. Secara bentuk, mereka terasa aneh. Yaa, semacam gabungan zebra, tapir, dan jerapah dengan hidung yang mirip boar.
Apa mereka hanya monster pemakan tumbuhan? Pikirku. Yaa, maksudku adalah aku bahkan tidak dapat melihat taring atau kuku tajam, serta sesuatu semacamnya yang dapat digunakan melukai seseorang, oke?
Apalagi, dari apa yang Megaera sampaikan padaku sebelumnya monster hanyalah sejenis mutasi dari suatu makhluk hidup.
Walau kurasa itu bukanlah ide pemikiran yang umum diketahui sejauh yang kutahu (dari Ova dan Tian). Jadi ya, mungkin saja Megaera hanya berbohong padaku sebelumnya untuk menguatkan ketertarikanku demi kepentingannya yang lalu.
Namun—
"Hoookkk!"
Monster itu menendang pepohonan di sekitarnya dengan kuat hingga melempar beberapa batu dan batang pohon dengan ukuran yang tidak kecil seolah menendang kerikil di jalan.
Baik ... yaa, mereka disebut monster juga karena sebuah alasan yang jelas. Mereka berbahaya.
Meski aku masih agak penasaran bagaimana jika kaki panjang monster itu mengenai seseorang, tapi .... yaa, ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan sesuatu seperti itu.
Lebih baik hanya fokus pada apa yang perlu dilakukan saja.
"Appraise."
[Ziorafh (hitam)
Health Poin : 11.812]
"Umm, yaa sepertinya HP monster-monster itu berada di angka dua belas ribuan," bisikku pada mereka berdua. Ini agak di luar harapanku, kami. "Apa rencana sebelumnya masih bisa mengatasi ini?"
"Un. Saya rasa itu masih bisa dilakukan. Kita hanya perlu menguras HP mereka sedikit lebih banyak daripada perkiraan semula.”
Kurasa itu bukan sekedar ‘hanya’, oke?
“ Yah, percayalah saja pada kami."
Aku melihat Oku berwajah yakin saat mengatakan itu dan dengan lompatan (anggukan?) yang Arkemi berikan, aku hanya bisa percaya pada mereka. Yaa, kepercayaan adalah dasar penting dari kerja sama.
"Ayo Dirae," tandas Oku sebelum bertindak. Mulai maju terlebih dahulu sebelum aku mengikuti, mulai menjalankan rencana yang telah kami bahas.
Berlari ke kerumunan monster itu, Oku akhirnya mengeluarkan sabitnya sementara aku mengarahkan tongkat sihir di tangan. Menunjuk salah satu salah satu kaki monster itu dan ...
"Mana Bullet."
... Tembakan kulepaskan. Mengenai kaki salah satu monster hingga membuatnya terluka dengan rona kabut hitam yang jelas keluar dari darahnya.
Uhh, kurasa aku telah membuang sumber makanan ....
__ADS_1
Eh, tidak, tidak, tidak. Itu tidak benar diriku. Yaa, tempat ini bukan lembah terkutuk sebelumnya jadi kurasa aku tidak perlu terlalu khawatir akan sumber makanan.
Apalagi Arkemi sepertinya telah mempersiapkan semuanya, bagaimanapun, dia bahkan telah mempersiapkan beberapa potion, jadi tentu dia tidak akan lupa dengan makanan, ya.
Selain itu, kurasa aku harus lebih perhatian pada peningkatan akurasi mantraku sebelumnya.
"Yaa, itu berarti nilai efek atribut yang diberikan oleh tingkat sihir ini bukan isapan jempol belaka," kataku sebelum sekali lagi mengarahkan tongkat sihir pada kaki monster yang telah terluka sebelumnya, mulai melepaskan bola-bola kabut mana.
Terima kasih untuk peningkatan kontrol sihir dari tongkat ini. Karenanya aku dapat mengarahkan tembakan-tekanan yang kulepaskan dengan lebih leluasa.
Huhuhuhu, akhirnya! Aku benar-benar merasa seperti seorang penyihir sekarang, oke?!
Tidak seperti sebelumnya di mana aku harus menggunakan banyak tenaga untuk berlarian ke sana-sini sekarang aku hanya perlu berlari hanya pada saat-saat yang diperlukan!
Mengarahkan serangan dari jarak jauh, dan hanya duduk manis di tempat. Yaa, selamat tinggal rasa sa—
"Ouch," rintihku ringan saat sebuah batu menghantam perutku.
Uhh, haruskah aku berterima kasih karena telah mengembalikanku ke kenyataan? Hei, setidaknya biarkan aku terlarut dalam kesenangan sejenak!
"Kamu tidak apa-apa Dirae?"
"Yaa, aku baik-baik saja," jawabku pada Oku melalui ruang obrolan. "Bagaimana dengan dirimu di sebelah sana?"
"Saya rasa tidak perlu khawatir tentang itu."
Aku rasa benar-benar tidak ada gunanya mengkhawatirkan dirinya tapi untuk jaga-jaga saja, sebaiknya aku hibahkan Increase Speed dan Damage Absorption pada Oku secara berkala. Bahkan baginya akan sulit untuk dapat terus bertahan seperti itu untuk waktu yang lama.
Dan ya, aku pun perlu tuk dapat menyelesaikan bagian yang kumiliki tanpa masalah.
"Strengthen Damage," kataku ringan sebelum melepaskan Mana Bomb dan meledak, menjatuhkan salah satu monster itu ke tanah tapi—
Zratt!
"Sepertinya mereka tidak tahu apa itu rasa kekeluargaan, ya?"
Tubuh monster itu segera diinjak oleh rekan sekawanannya yang lain hingga tak berbentuk.
Bergerak sejenak untuk menghindari tendangan atau lontaran batu dari monster-monster itu, aku memulai casting beberapa mantra dan ...
"Higher Magic."
... Hujan jarum kabut mana kulepaskan tanpa ragu. Yaa, mungkin perlu waktu yang sedikit lebih lama daripada membuat bola kabut mana hingga membuat jumlahnya tidaklah sebanyak apa yang kuharap.
Tapi ya, kurasa ini lebih efektif untuk dapat menghalangi gerakan para monster itu. Yaa, meski aku tidak tahu apakah itu hanya perasaanku saja tapi gerakan para monster-monster itu sepertinya menjadi jauh lebih lambat.
Dan ya, tentu ini adalah kesempatan. Pikirku tanpa membuang waktu lagi melepaskan serangan lain. Menghujani para monster itu dengan bola-bola kabut mana.
__ADS_1
Walaupun ... yaa, seperti yang dapat diharapkan dari monster sejenis itu. Walau jumlah HP-nya tidak sebanyak apa yang dapat kubayangkan (dengan harapan segera menyelesaikan Quest) tapi pertahanan yang dia miliki sangat besar.
Aku tahu karena aku terus mengawasi pergerakan HP-nya, oke? Bahkan jika nilai HP monster ini tidak memenuhi syarat Quest kemajuanku, setidaknya dia dapat dijadikan sebagai bahan latihan.
Yaa, jika aku tidak dapat melakukan apa yang diminta Quest itu pada nilai HP sebesar ini aku tidak akan dapat menyelesaikan Quest kemajuan itu, ya.
Lagi pula aku tidak pernah berharap dapat menyelesaikan Quest itu dalam sekali jalan. Ya, yaa, kurasa memang ada walau sedikit. Benar-benar sangat sedikit hingga tidak perlu dihitung, oke?
Jadi pada intinya aki hanya ingin membiasakan diri dalam situasi semacam itu.
Yaa, aku sesekali melihat Oku yang terus bergerak dengan cepat untuk memberikan dua mantra Enhancement Spells padanya.
Dan ya, aku merasa sedikit sedikit tertinggal jika membandingkan kemajuanku dengan kemajuannya. Yaa, tidak perlu terburu-buru. Aku hanya perlu melakukannya dengan mantap.
Dan akhirnya—
"Persiapanku sudah selesai, Dirae, Oku!"
Teriakan Arkemi pun terdengar, menjadi tanda bagi kami tuk segera mundur. Menjauh dari para monster itu tanpa menghentikan serangan.
Namun—
"Yaa? Arkemi, bukankah kamu takut dengan darah?" Aku bertanya dengan bingung. Teringat akan reaksi yang dia berikan saat berada di Kuil waktu itu.
"Hmm? Kenapa mika menanyakan itu sekarang?"
"Itu karena—"
"Baik. Saya ingatkan sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berbicara santai." Oku berkata, mengangkat tubuh Arkemi, melemparnya ke udara dan memukulnya tinggi.
Eh? Apa dia barusan memukulnya? Dia benar-benar memukulnya?! Pikirku panik melihat tubuh Arkemi yang melayang tinggi di udara dan dengan segera—
Boom!
Suara ledakan dapat kudengar. Menghantam para monster itu yang telah kami kumpulkan dengan padat di satu titik.
Itu tidak terlalu jauh dari apa yang kuduga. Yaa, sebelumnya aku juga pernah terkena ledakan dari Arkemi namun ...
"Apa itu?"
... Aku bertanya tanpa sadar. Ya, apa yang Arkemi lemparkan pada monster-monster itu bukanlah bom berbentuk bola dengan sumbu terbakar atau bentuk lainnya. Bukan pula sebuah sihir tapi—
"Sebuah cairan?"
———
Yaa, saia minta maaf buat yang telah menunggu novel ini up. Saia hanya merasa tidur sejenak dan what?! 2 minggu berlalu begitu saja?
__ADS_1
Saia tahu itu bukan sebuah alasan (bahkan terasa dibuat-buat) tapi entah kenapa saia merasa bodoh meski itu benar-benar terjadi, lol.