Soul Monarch : Eclipse Feast Online

Soul Monarch : Eclipse Feast Online
Muncul, Para Hantu? (Side)


__ADS_3

Kesadaranku seolah tenggelam. Jatuh ke dalam lumpur gelap, tak dapat kembali lagi. Aku hanya dapat melangkah bingung, tersesat oleh suara tak tentu.


Namun, tiba-tiba semua itu runtuh. Lumpur kegelapan itu rontok, seolah diluruhkan oleh sesuatu. Kebingungan melanda, datang bersama tangan bercahaya yang menarikku ke mana pun itu, tapi aku merasa aku telah kembali.


Kepalaku kosong, ruang gelap berlumpur telah digantikan dengan ruangan lain. Masihlah cukup gelap, tapi semburat keemasan dapat kulihat.


Dan lebih lagi—


"?!"


Aku melihat dia. Seorang gadis, sepenuhnya putih dengan sesuatu yang terasa menakutkan di dalamnya. Saat kumenatap matanya sekilas, sesuatu yang lain dapat dirasakan mengawasiku dari dalam. Membuatku bergidik dan memalingkan pandang.


"A-apa yang terjadi?! Di mana ini?" teriakku tak sengaja bocor. Aku sudah dapat kembali bicara?!


"Katakan aku berada di mana sekarang, sialan!" suara itu membuatku menoleh, terlihat kakak sedang berteriak marah. "Jawab aku sekarang, sial!" bentaknya sekali lagi pada gadis itu.


Namun, aku memperhatikan sesuai yang lain. Tubuh kakak ... tubuh kakak ....


"Cepat jawab aku atau—"


"Yaa, coba camkan pikiranmu sejak dan ingatan apa yang terakhir kali kamu sadari, oke," suara gadis itu kembali menusuk telingaku. Menjawab kakak dengan tenang.


Aku mengingat kembali apa yang dapat kuingat, saat itu aku mencari daun fumi lalu ... aku ... aku ....


"Sialan!"


Kakak berteriak. Namun, hanya membuat gadis itu diam tak bergeming dari posisi awalnya, seolah-olah hanya menyaksikan kami dari kejauhan.


...Sedangkan aku...


"Semua karena guru keparat itu!"


Aku ....


"A-apa aku, kami telah mati?" paksaku mengeluarkan kata tersebut.


"Yaa, untuk hal itu aku dapat menjamin bahwa itu nyata."


Gadis itu menjawab singkat. Tetap dengan lengkung tipisnya yang tak berubah sedikit pun sejak awal, bersama beberapa semburat cahaya yang mengelilinginya.


Aku mendekapkan tangan. Menatap Dirinya sekali lagi.


"Kalau begitu apa Anda adalah Dewa?"


Apakah Dia Dewa Reinkarnasi? Orang yang akan mengembalikan kami ke siklus kehidupan lain?


"Yaa?"


Dan jawaban itu telah membuatku yakin. Mengangguk seketika tanpa perlu pertanyaan lebih jauh. Karena itu pula 'kan, aku tidak bisa menatap matanya langsung dan mungkin karena itulah sikap-Nya sangat tenang dan tidak memedulikan sumpah serapah kakak.


Jadi Anda akan segera mengirim kami, Dewa.


Namun—


"Maaf membuatmu berharap banyak. Tapi, yaa ... tidak. Aku bukan." Dia membantah hal tersebut mentah-mentah.


"Kalau begitu, kenapa Anda mengatakan 'ya' sebelumnya."

__ADS_1


"Ah, lupakan itu, oke. Pokoknya, aku bukan." Dia mengayunkan tangan ringan sembari menjawab demikian.


"Tapi Anda telah menyambut kami dari kematian."


Kalau bukan Dewa, maka bagaimana mungkin akan ada seseorang yang mengantarkan kembali jiwa orang mati seperti kami? Meski tubuhku, tubuh kami telah transparan tapi kami benar-benar sadar jadi kemungkinan kami masih di dunia tidak mungkin, karena jikalau begitu kami hanya akan menjadi hantu.


"Secara teknis aku hanya menguatkan egomu saja."


Dan Dia menjawab pertanyaan itu dengan sesuatu yang tidak dapat kupahami. Menguatkan ego?


"Tapi Anda telah ...."


Aku berniat bertanya kembali tapi ....


"Hmm?" Senyuman-Nya berubah. Itu tidak benar-benar berubah sejak awal tapi kini itu terasa menakutkan.


"A-Anda telah ...."


"Hmm ...?"


Dan kabut cahaya yang menyelimutinya mulai sedikit berputar. Tolong aku! Itu benar-benar menakutkan!


"A-A-Anda ...."


"Jangan bicara lebih banyak, Sil," kata kakak saat menepuk bahuku. "Senyum gadis itu terlihat semakin menakutkan saat kamu membantahnya."


Aku tahu itu, kakak! Tapi meskipun kamu berbisik padaku, tapi sepertinya Dia masih dapat mendengarmu tahu.


"Yaa, untuk sekarang. Beri tahu aku nama kalian," kata-Nya mengembalikan kesadaranku.


"Aku Zile Endary, dan ini Adikku, Sile Serust," jawab kakak tegas. Tapi aku dapat tahu bahwa suaranya menjadi sedikit bergetar sekarang.


Dia bertanya tanpa mengutarakan hal yang sering kami dengar. Tapi itu ....


"Semua karena guru keparat itu!"


"Tapi kita belum tahu pasti Kakak!"


"Bukankah semua jelas Sil? Keparat itu hanya memanfaatkan kita!"


"Tapi ...."


Aku berniat membantah hal tersebut. Itu masih belum tentu benar namun saat melihat tubuh kakak menyala seperti api gelap ...


"Guru kami membunuh kami untuk penelitiannya ...!"


... Aku terdiam oleh apa yang kakak katakan.


Memang apa yang terakhir kali aku lihat adalah guru mengayunkannya belati. Tapi bisa jadi itu untuk membela kami dari sesuatu bukan?


"Begitu ya."


Dan Dia telah menerima pernyataan kakak begitu saja.


Dia menyangga dagunya dengan satu jari sejenak. Sebelum mengeluarkan lengkung bibir dengan nuansa berbeda dari sebelumnya.


"Apa kalian membencinya?"

__ADS_1


"Bukankah itu sudah jelas? Dia telah membunuh aku, kami!" jawab kakak seketika sementara aku diam. Mendengarkan.


"Apa kalian merasa tidak adil?"


"Tentu saja!"


Sekali lagi, kakak menjawab pertanyaan itu dengan mudah sementara aku ... sesuatu di dalam diriku mulai berteriak ... tapi tidak. Itu tidak mungkin.


Namun—


"Apa kalian ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?"


"Ya." Aku menjawab pertanyaan itu lebih cepat daripada siapa pun. Seolah menjawab teriakan dari dalam diriku yang kini menjadi tenang.


Aku ingin tahu apa yang terjadi. Apa yang terjadi pada kami? Apa yang terjadi padaku? Apa benar guru melakukan apa yang kakak katakan? Itu terasa tidak mungkin tapi ... tapi ....


"Aku ingin tahu."


"Yaa, kalau begitu. Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?"


"Membalasnya dengan hal setimpal," jawab kakak yang dilanjuti oleh anggukkan dariku. Membuat suasana di balik lengkungan bibir itu sekali lagi berubah.


"A-apakah Anda dapat membantu kami?" tanya kakak.


"Kamu ternyata dapat bersikap sopan juga ya? Kalau begitu, aku akan membantu kalian." Dia berkata demikian. Namun— "Yaa, apa yang membuatmu yakin aku akan mengatakan itu?"


Kakak mengepalkan tangannya. Berusaha memeras otaknya dengan kuat untuk memunculkan ide yang tepat. Bahkan jika ini bukan bidang yang tepat untuk kakak, orang yang langsung menghadapi semua di depan.


"Aku akan bersumpah setia pada Anda. Atas nama Dewa—"


"Jangan melakukan sumpah atas para Dewa," potong-Nya pada apa yang ingin diucapkan kakak.


Mengapa? Bukankah sumpah kepada para Dewa adalah hal yang telah diketahui secara umum sebagai sumpah tertinggi?


"Jikalau kamu bersumpah, bersumpahlah atas namamu sendiri, bukan nama orang lain. Kehancuran atas perilakumu adalah tanggung jawabmu sendiri, bukan orang lain. Yaa, bukankah itu terdengar lebih sesuai?"


Sesuatu terjadi, seolah benang tipis yang menghubungkanku, kakak, dan Dia tercipta. Mengirimkan sesuatu pada kami yang kebingungan.


Aku seolah dapat merasakan apa yang kakak rasakan. Saat dia mengambil napas dalam dan ...


"Seperti yang Anda inginkan. Saya, Zile Endary dengan ini bersumpah. Bukan atas nama siapa pun tapi atas nama diriku sendiri, akan menyerahkan kesetiaanku pada Anda selama Anda menyelesaikan pembayaran yang ditentukan."


... Bersumpah sesuai dengan kemauannya. Menggunakan nama kami sebagai dasar.


Dia mengangguk pada kakak sebelum menatap ku. "Dan kamu? Yaa, apa yang kamu inginkan?"


Ah. Ternyata begitu.


Aku tertawa secara internal. Dia memanglah bukan Dewa tapi semacam iblis 'kah? Menggoda kami dan akhirnya mengikat jiwa kami dengannya. Namun ...


"Saya, Sile Serust dengan ini bersumpah. Bukan atas nama siapa pun tapi atas nama diriku sendiri, akan menyerahkan kesetiaanku pada Anda selama Anda menyelesaikan pembayaran yang ditentukan."


... Aku akan menyerahkan diriku demi kebenaran yang ada.


"Kalau begitu, maka baiklah.” Dan Dia akhirnya menatap kami dalam-dalam. ”Aku, Dirae menerima permintaan kalian dan pembayaran yang ditentukan, akan segera terselesaikan."


———

__ADS_1


Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?


__ADS_2