
Ledakan, ledakan, ledakan, dan sekali lagi, ledakan.
Yaa, semua ledakan itu terus saja mengejar ke mana pun aku mencoba berlari. Selain itu, manusia rubah tersebut pun tetap mengawasiku dari kejauhan, membuatku tidak dapat lengah sedikit pun padanya.
Tapi ya, aku telah berada cukup dekat dengan jalan keluar tahu! Mana mungkin aku akan membiarkan diriku tewas dan membiarkan diriku sekali lagi memulai di tempat antah berantah. Dengan kemungkinan harus bersama Death Wish sebagai satu-satunya sumber makanan.
"Mega, apa kamu dapat merasakan di mana orang yang terus melemparkan bom (?) itu berada?"
"Sayang sekali tidak. Medan magnet di sini masih kacau seperti di dalam sana."
Uhh, sepertinya aku harus memutar otak lagi.
Jika saja aku dapat menemukan pembuat ledakan tersebut, kurasa aku dapat mengurusinya terlebih dahulu dan itu akan membuatnya semakin mudah. Meski aku tahu manusia rubah tersebut tidak akan membiarkanku mengacaukan rekannya begitu saja, tapi setidaknya pembuat ledakan pun tidak bisa membantu rubah itu.
Kurasa aku harus bersyukur bahwa tidak ada perlindungan Friendly Fire di EFO atau kondisiku akan lebih buruk. Dan ya, aku mencoba menjadi lebih cerdas dengan mengambil keuntungan lebih darinya.
Yaa, kondisi ideal memanglah kondisi ideal. Hal itu akan terlalu baik jika menjadi nyata, dan aku sendiri agak takut jika sesuatu seperti itu benar-benar menjadi nyata karena Title keberuntunganku.
"Mana Bomb!" teriakku menyerang manusia rubah itu. Satu-satunya target yang dapat kulihat dengan jelas.
Mana Bomb meledak, seharusnya memberi kerusakan cukup layak tapi dia terus memutar sabit itu demi meredam kerusakan yang ada sebelum mengangkatnya tinggi dan ...
"Dissect Cut!"
... Gelombang energi balas mengejarku bersama ayunan yang dia lakukan. Membuatku mendirikan Mana Layer untuk menahannya tapi ledakan datang dari sisi lain, tetap memaksaku menerima kerusakan parah.
Ya, ya, sungguh serangan menjepit yang menjengkelkan.
"Un. Kamu benar-benar hebat hingga dapat bertahan dari serangan itu."
"Sayang sekali aku tidak tersentuh mendengarnya, tahu!" balasku beserta dengan tembakan Mana Bullet yang dilayangkan .
"Unn ...! Tidak, tidak, bukan seperti itu tapi saya hanya memuji kebenaran tentang HP para Vampire yang benar-benar ulet."
Akhirnya terdapat balasan darinya, ya. Meski pada pembicaraan yang sama sekali tidak penting untuk diriku. Meski begitu, Vampire?
"Aku bukan Vampire!"
Apa dia bahkan tidak dapat melihat bahwa warna mataku berbeda satu sama lain? Dan juga, dia mengatakan bahwa HP para Vampire ulet? Di bagian mana itu bisa menjadi?!
Aku benar-benar kacau. Aku, sebagai keturunan Vampire (Dhampire) justru menerima pengurangan statistik Endurance karena garis Vampire, ya.
Eh? Tunggu dulu, HP? Apa dia pemain? Aku sedikit bingung tapi lebih baik tidak dipikirkan terlalu jauh dalam kondisi sekarang .
"Un. Kamu pasti berbohong."
Hei! Aku tidak, oke?!
"Aku memanglah bukan Vampire dan aku juga tidak berbohong!"
__ADS_1
Memang agak tidak tepat untuk mengatakan ini sendiri, tapi aku, sebagai gadis yang cantik nan berbudi luhur tentu tidak memiliki sifat pembohong. Bahkan aku tidak pernah mengatakan kebohongan dalam beberapa bulan terakhir. Mungkin.
Yaa, walau kebanyakan dikarenakan aku tidak sering berinteraksi dengan orang lain dan lebih banyak diam saat berada si suatu acara sih.
Bagaimanapun, pada intinya aku bukan seseorang yang sering berbohong oke?
"Saya tidak percaya pada Vampire." Dia berkata demikian saat mengayunkan sabit itu, mengeluarkan riak cahaya merah yang mengejarku.
Yaa, meski dengan hal itu dia tidak mungkin akan percaya dengan semudah itu juga sih.
Aku berpikir demikian saat mencoba menghindari serangan tersebut tapi tidak bisa. Riak cahaya tersebut terus mengejarku.
Serangan tipe penargetan, ‘kah?
"Mana Layer."
Yaa, tahan itu sejenak dan ...
"Increase Speed, Strengthen Damage, Mana Slash!"
... Mantra baru dari Mana Spells kulepaskan, membentuk pisau transparan tipis nan melengkung tajam yang segera melesat dengan gesit. Menghantam riak cahaya tersebut saat keduanya saling meniadakan.
Menahan tubuhku sejenak, aku mengambil napas dalam dan mulai melepaskan tombak-tombak kabut mana padanya. Dan ya, tidak perlu menahan diri untuk sekarang.
Primal Curses • Decomposition aku hibahkan pada tombak-tombak kabut mana tersebut, membuat tiap kabut tombak berubah warna. Menandakan bahwa itu lebih mematikan daripada apa yang sebelumnya kuberikan.
"—?!"
Dia terbelalak. Pupil di balik kacamata besar itu berkontraksi saat melihat daging di jari-jari tangannya mulai luruh saat terkena tombak kabut mana.
Huhu. Bagaimanapun kamu tidak akan dapat menahan kerusakan itu tahu. Yaa, setelah beberapa percobaan aku tahu bahwa kerusakan yang diberikan Primal Curses • Decomposition sendiri adalah True Damage jadi pertahanan tidak akan berpengaruh.
Walau itu memiliki batasan hanya pada makhluk hidup dan terjadi secara berkala. Tidak dalam satu tembakan besar.
"Siapa kamu sebenarnya, Vampire?!"
"Sudah kubilang aku bukan Vampire, oke?!"
Berapa kali aku harus mengatakan ini?!
Apa para Vampire di EFO benar-benar hanya menjadi pembuat onar hingga dia dengan semudah itu menduga bahwa aku adalah Vampire? Selain itu, dari mana dia dapat menentukan hal itu.
Aku merasa banyak dari otakku tengah menggerutu pada satu hal. Namun aku kembali dengan cepat saat melihat rubah itu beraksi dengan segera.
Mengibaskan tangannya, dia mulai menghindari kabut abu-abu kecokelatan tersebut. Menghindari kerusakan yang akan timbul lebih jauh dan—
Boom!
Ledakan lain terjadi terhadapku ... yaa, bisakah kamu membiarkan aku mengamati rubah itu dengan tenang?!
__ADS_1
Hahahaha. Tidak mungkin juga sih, ya ....
"Sekali lagi saya tanya, kamu sebenarnya?" kata rubah tersebut dengan nada yang tak pernah kudengar saat mata itu menatap dengan tajam ke arahku.
“Siapa orang bodoh yang akan mengungkapkan identitasnya semudah itu.”
"Un, baiklah. Demi Yang Mulia Abholotz, saya tidak bisa membiarkan orang luar sepertimu menggunakan berkah-Nya dengan sewenang-wenang."
Eh? Kenapa dia menjadi sangat marah? Apa aku telah melakukan hal yang salah, ya? Selain itu, Abholotz ...?
"Sepertinya aku telah mendapatkan masalah besar."
Aku bergumam saat firasat buruk itu datang. Yaa, sesuatu yang cukup buruk.
Aku melihat urat darah mulai terlihat dengan jelas pada tubuh rubah tersebut, muncul bersama dengan aura hitam bercampur merah pekat, semerah darah meluap dari tubuhnya.
Aura tersebut terus menyelimuti hingga sebuah ekor pun tumbuh, menjadikannya sebagai rubah berekor dua sekarang. Yaa, rubah berdarah dengan dua ekor.
"Beasts Blood Liberation ..." Dia menggeram, mengatakan hal itu dengan suara serak. "Takkan saya biarkan kamu menggunakan berkah Yang Mulia Abholotz secara sewenang-wenang!"
Dan dia pun akhirnya menerjang ke arahku dengan cepat. Mengarahkan cakarnya, kuku-kuku tajam itu mulai mencabik, mengoyak tangan kiriku hingga berdarah. Lebih daripada itu ...
"—!?"
... Aku melihat efek yang sama dengan Primal Curses • Decomposition terjadi pada luka yang dia timbulkan. Luka tersebut terus membesar, menggerus bagian tubuhku yang masih utuh dan berusaha menguraikannya.
Serangan lain datang tapi, yaa aku telah terlambat untuk dapat menghindarinya. Sabit besar itu berayun ke arahku dengan cepat, menunjukkan ujung tahan nan runcing itu di depan mataku.
Selain itu, sepertinya dia mendapatkan Buff peningkatan kekuatan karena mampu mengangkat sabit sebesar ini dengan hanya satu tangan, ya.
"Mana Layer,” rapalku cepat.
Yaa, tidak mungkin penghalang selema itu dapat menahannya sih. Dan untuk kabur sendiri sepertinya mustahil.
Jangkauan serangannya, baik itu berasal dari cakar maupun sabitnya telah diperluas oleh gelombang lintasan yang terjadi. Yaa, gelombang yang diilhami oleh sesuatu mirip Primal Curses • Decomposition.
Hah ... sungguh, sepertinya aku tanpa sadar telah menginjak ranjau darat.
Terlebih lagi—
BOOOMMM!
Ledakan menyapu. Namun, kali ini tidak mengincarku tapi mengincar rubah itu.
... Baik. Aku terlalu lelah untuk berkomentar lagi.
———
Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?
__ADS_1