
Sadar dari lamunan, aku menunggu lima menit sambil melakukan beberapa hal. Bersantai di Virtual Hall, aku terus menggulirkan layar. Yaa, melihat-lihat forum sejenak sebelum kembali masuk.
Bagaimanapun, aku harus bunuh diri lagi segera! Tapi jangan pernah lakukan itu di dunia nyata, oke.
Aku mengatur titik aman di dalam Areopagos sebelumnya, tapi aku memilih respawn acak untuk konfirmasi. Jadi, yaa, kuharap tidak ada masalah aneh. Melihat ke sekeliling, aku tidak menemukan Deira di mana pun tapi—
"Apa itu dirimu, Dirae?"
Suara Megaera menggema, membuatku menengok ke kanan dan kiri sebelum memilih menggunakan Spirit Connection untuk melacak letak pasti Megaera.
"Tunjukkan dirimu saja, Mega."
Dan kemudian, cairan hitam pekat mulai meluncur keluar dari bagian belakang tubuhku. Berubah bentuk sejenak dan menjadi sangkar, Deira.
Hmm? Apa itu keluar dari rambutku? Apakah ini berarti bahkan jika aku mati, Deira (Megaera) akan ikut dikirim ke tempatku respawn?
"Yaa, Mega. Apa yang kamu alami selama 30 menit ini?"
"Maksud dirimu selama dirimu belum kembali, Dirae?" tanya Megaera mengkonfirmasi.
"Ya, tentu saja."
"Diri ini merasa telah memasuki tempat itu."
Tempat itu? Di mana?
"Jika dirimu memiliki tanda tanya, akan diri ini beri tahu bahwa itu hanyalah tempat aneh, Dirae. Apa yang diri ini maksud aneh adalah tempat dengan konsep rusak. Dalam pandangan ini, diri ini baru saja melakukan apa yang dirimu minta sebelum dipindahkan kemari."
Yaa, aku setuju. Itu terdengar aneh. Apakah aku harus bertanya lebih jauh? Tapi kurasa itu akan sama dengan kasus Primal Bleses-Curses yang tidak dapat diberi tahu dengan mudah. Jadi ...
"Yaa, mari coba bunuh diri satu kali lagi."
... Konfirmasi harus berlanjut, oke?
"...."
Kenapa kamu diam saja, Mega?! Tolong katakan sesuatu! Lebih terasa aneh jika diabaikan!
"Baiklah. Apa dirimu hanya seorang—"
"Tentu tidak, ya!" potongku segera. Jangan membuat kesalahpahaman aneh, oke?!
Aku seorang yang normal (?). Sangat normal (?), oke? Memang di beberapa bagian aku berbeda karena dapat melakukan fenomena mirip penggunaan ISP tanpa alat ISP itu sendiri. Tapi itu masih normal, ya.
Dan ya, tentu aku bukan orang yang menikmati rasa sakit karena itu pula aku memilih menjadi penyihir, mage di EFO —meski sekarang sepertinya itu sudah agak menyimpang.
"Aku melakukan ini karena ingin mencoba kondisi lain dan untuk memastikan," tegasku.
__ADS_1
Yaa, aku telah memiliki beberapa dugaan tentang kondisi mengapa aku menjadi semacam bentuk roh saat HP-ku kosong sekarang.
"Apa dirimu memerlukan bantuan?"
"Yaa, tidak untuk sekarang. Tapi bisakah kamu menjadi bentuk cincin sejenak."
Dan tubuh Deira pun berubah menjadi cairan sebelum akhirnya menjadi sebuah cincin manis di jari tengahku.
"Yaa, kenapa kamu tidak selalu dalam bentuk ini saja?"
"Karena dengan menggunakan ini, stamina diri ini akan terkuras terus menerus."
"Begitu ya?" Agak disayangkan tapi kenyamanan orang lain perlu diperhatikan.
Aku memulai casting Mana Bullet, Mana Bomb, dan banyak bola kabut mana. Ahh, yaa namanya Magic Ball bukan? Aku terlalu terbiasa menyebutnya sebagai itu jadi ...
Jangan ambil pusing, diriku. Sebut sebagaimana biasanya saja.
Aku terus membuat itu lebih banyak daripada apa yang dapat kukira hingga MP-ku turun secara hebat, mendekati titik nol. Kemudian, aku memutus hubungan Spirit Connection dengan Megaera.
"Apa yang coba dirimu lakukan?!" teriak Megaera bingung tapi—
"Target Mark, Strengthen Damage, Higher Magic."
Hujan serangan yang kubuat sendiri telah terlebih dahulu menimpaku dengan keras, membuat HP-ku jatuh dengan cara yang mencengangkan, kosong dalam waktu kurang dari 2 detik!
[Kamu telah tewas]
"... Itu lebih cepat daripada apa yang dapat kuduga," gumamku saat dikembalikan di Virtual Hall.
Aku memang telah menduga kekuatan seranganku cukup layak, tapi itu lebih daripada harapanku sendiri. Yaa, tumpukan title yang kumiliki sepertinya memberi pengaruh besar.
Dan ya, itu akan lebih hebat saat malam karena peningkatan statistik dasar oleh title Half Vampire Bloodline. Namun, ini lebih mungkin disebabkan oleh rendahnya HP-ku.
"Yaa, setidaknya aku dapat menebak syarat kondisi untuk tetap bertahan sebagai bentuk roh setelah HP kosong sesuai dengan dugaanku."
Itu terkait dengan MP, Mana Poin.
Aku memasuki kondisi itu adalah saat melawan Augusta setelah menjadi undead dan saat bunuh diri pertama. Kesamaan dari keduanya, yaa jumlah MP-ku masih tersisa banyak dan bahkan hampir penuh.
Kemudian, saat aku tewas seketika seperti sebelumnya. Kemungkinan itu dikarenakan jumlah MP-ku kurang memadai untuk menunjang kondisi tersebut.
Dan ya, alasan paling logis kenapa itu dapat menjadi seperti ini adalah—
"Primal Curses, ya?"
Tepatnya, kurasa si Rebirth lah yang bertanggung jawab karena ini sesuai dengan namanya. Yaa, jika bukan karena si Rebirth, aku tidak dapat memikirkan sesuatu yang lain karena hal seperti ini tidak terjadi secara luas.
__ADS_1
Masih banyak faktor lain masih belum terjawab, tapi setidaknya kondisi dasar telah kuketahui, ya.
Itu 30 menit sebelum aku dapat log in kembali, jadi ...
"Yaa, mari makan sesuatu."
... jangan hanya berdiam di Virtual Hall dan tak melakukan apa pun.
Menu makanan kali ini adalah soto ayam. Selain itu, aku juga mendapatkan kiriman dari keluargaku beserta surat untuk pulang ke rumah saat tahun baru, yaa itu 3 hari lagi.
Yaa, aku belum kembali ke rumah selama 3 tahun, jadi kali ini mereka sedikit memberi paksaan. Setidaknya mereka tahu kondisiku baik lewat laporan rutin Mireille.
Mereka benar-benar terlalu khawatir hanya karena aku keluar dari rumah sejak berumur 15 tahun. Bahkan saat aku —dibawa paksa— pulang 3 tahun lalu mereka sampai mengirim Mireille untuk mengawasiku. Yaa, itu berlanjut hingga sekarang.
"Sepertinya aku akan pulang tahun ini tapi ...." Helaan napas bocor dari mulutku. "Yaa, kuharap tidak akan terjadi sesuatu yang heboh di sana nanti."
Yaa, karena jarak tempat tinggalku saat ini cukup jauh dari kediaman keluarga, sepertinya aku akan berangkat besok.
"Yaa, kuharap aku akan sampai di Kota Houra sebelum pulang," kataku menyelesaikan makan sebelum bangkit, membersihkan alat makan dan masuk setelah melakukan beberapa hal lain termasuk memberi kabar pada orang tuaku.
Masuk ke EFO, tepatnya berada di tempat acak lain aku memeriksa jariku dan melihat bahwa Deira tidak berada di sana lagi.
Aku memanggil Megaera melalui Spirit Connection dan yaa, aku dimarahi.
Yaa, itu wajar. Untuk Megaera sendiri sepertinya dia tetap berada di tempat sebelumnya jadi setelah berjalan selama satu jam, aku menemukannya.
"Kurangilah bertindak seperti itu, Dirae."
"Sekali lagi maaf." Aku jelas salah jadi tidak perlu melakukan pembelaan diri tanpa arti.
"Yaa, sepertinya Spirit Connection terkait alasan mengapa kamu ikut terbawa olehku," kataku setelah suasana lebih lembut. "Jadi selalu hubungan denganmu sekarang."
"Memang lebih baik seperti itu," katanya pungkas, tanpa keberatan apa pun.
Aku meminta Megaera mengubah Deira menjadi bentuk serangannya, sebuah sabit sebelum mulai mengayunkannya. Ide untuk memiliki senjata telah terlintas sejak barrier pembatalan sihir itu Megaera lepaskan, mungkin hal serupa akan muncul ke depannya jadi lebih baik latih ini.
"Ini juga cocok untuk role play-ku."
Aku mulai berjalan dan berusaha menggunakan sabit (Deira) untuk membela diri jika ada—
"Huhii!"
Itu adalah Boar. Saat yang tepat.
———
Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?
__ADS_1