Soul Monarch : Eclipse Feast Online

Soul Monarch : Eclipse Feast Online
Lagi, Augusta (?) Versus


__ADS_3

[Seluruh kondisi kemajuan telah terpenuhi]


“Aku tidak perlu menahan diri lagi, kan?”


[Kemajuan Power Level dapat terjadi kapan pun selama persetujuan diberikan ...


... Persetujuan dikonfirmasi, peningkatan Power Level dari ranah F Rank ke ranah E Rank dimulai]


Perasaan kesemutan dan mati rasa sedikit menyebar ke seluruh tubuhku. Dengan intensitas yang meningkat sedikit demi sedikit.


Yaa, aku masih harus menghindari serangan Augusta jadi ini cukup mengganggu. Tapi, aku juga menyadari bahwa lingkungan di sekitarku cukup berubah. Apa yang berubah tidak dapat kujelaskan secara pasti, yang jelas itu meningkatkan persepsiku lebih jauh daripada apa yang telah kualami sejauh ini.


Lebih baik lakukan peningkatan Power Level di tempat tenang untuk selanjutnya. Bagaimanapun, peningkatan tetap terjadi dengan cepat.


[Peningkatan Power Level selesai, ranah E Rank telah berhasil dicapai!


Health Poin dan Mana Poin meningkat 500 + (5% nilai saat ini).


Stamina Poin meningkat 50 + (5% nilai saat ini).


Satiation Poin meningkat 25 + (5% nilai saat ini).


Kerusakan yang diterima dari mereka yang berada di bawah E Rank turun 2%.


Semua statistik dasar dan pertumbuhannya meningkat sebesar 2%.


Spec-Skill, Bleses-Curses Sense telah berhasil diakuisisi!]


[Kondisi kritis yang dialami diri mulai mereda]


Itu tidak benar-benar seketika seperti yang kuduga tapi peningkatan yang dibawanya sangat besar hingga melebihi harapanku. Aku sepenuhnya puas pada EFO untuk kali ini.


“Yaa, jadi ini waktu untuk sepenuhnya serius, Augusta.”


Aku mulai membuat bola-bola kabut mana besar satu demi satu dengan cepat. Entah peningkatan Rank berhubungan atau tidak, tapi kendaliku meningkat, mempercepat pembuatannya.


"Higher Magic!"


Bola-bola kabut mana besar, tentu dengan imbuhan Mana Power dan Primal Bleses • Anti-Espirit kulemparkan ke Augusta. Dia masih bersembunyi dalam kabut beracun itu, tapi ya, aku dapat memperkirakan di mana dirinya berada dari serangan sebelumnya.


Kabut beracun itu tersingkir saat bola kabut mana besar menghantamnya, menunjukkan tubuh hitam Augusta dan menanamnya. Yaa, atau itulah yang kuharap.


Tubuh Augusta menyebar, berhamburan seperti pasir dan hanya meninggalkan sedikit bagian yang terkena serangan bola kabut mana itu. Membuat dampak yang dihasilkan seranganku turun ke titik minimal.


"Sepertinya tidak hanya aku yang mulai terbiasa dengan tubuh baru."


Sayapku pun mulai mengepak sekali lagi. Mengejar Augusta saat kabut racun mulai menyebar dan tembakan bola kabut mana sekali lagi kulakukan. Tidak perlu sesuatu yang besar, lebih baik terus kikis kondisinya sedikit demi sedikit sembari mencari celah.


Aku tahu pertempuran jangka panjang tidak akan terlalu menguntungkan bagiku. Karena bagaimanapun, Augusta adalah semacam Undead dan mereka dikenal sebagai musuh yang tidak mengalami kelelahan.


Yaa, EFO memiliki sistem yang agak lain daripada apa yang umumnya ada. Tapi tetap saja, kurasa itu tidak akan berbeda terlalu jauh.


"Kamu akan membayar ini juga! Dhampire! Poison Wipe!"

__ADS_1


Sekali lagi, lingkaran sihir hijau jeruk nipis menyemburkan racun ke arahku, tidak terhalang oleh batasan apa pun.


Papan mana transparan tercipta secara vertikal, terinjak dan mendorongku berbalik arah secara ekstrem. Namun ...


"Gu?!"


Leherku seolah-olah dicekik oleh tangan tak terlihat. Tidak hanya itu saja tapi bahkan lingkaran sihir, mantra yang telah siap dilepaskan maupun yang masih disusun runtuh seketika. Memengaruhi posisi terbangku, menjatuhkanku ke tanah.


"Ap—"


Suaraku tersendat, mengantisipasi serangan yang datang. Tubuh Augusta, kumpulan mayat laba-laba tikus bergejolak hebat dan yaa, dia seakan ingin menelan ke dalamnya tubuhnya itu. Sayap kelelawarku mulai mengayuh udara, mendorong mundur dan kakiku pun mulai meninggalkan tanah.


Aku mulai melakukan casting beberapa mantra Enhancement Spells, tapi sepertinya sebelumnya, itu langsung dihancurkan meski biaya MP tetap terbuang.


Ini percuma.


Yaa, itulah yang kupikirkan. Aku memperhatikan butiran cahaya abu-abu kemerahan yang terbang ke mana pun di ruangan ini, menjatuhkan butiran cahaya di belakangnya.


Apa itu? Sebelumnya sesuatu seperti itu tidak ada di sini .... Jadi, apa itu yang membuat casting mantraku tidak berguna?


Namun—


"DHAMPIREEEEEE!"


Teriakan Augusta terdengar. Dia menaikkan tubuhnya seperti seseorang yang menaiki gelombang ombak setinggi lebih dari 5 meter. Tinjunya mulai berayun, mengunciku dan ingin merusakku.


Tidak baik memikirkan hal lain saat ini, diriku.


"Kamu tidak akan lolos Dhampire sialan!"


Yaa, seperti yang kubilang sebelumnya, tubuh Augusta kini tak terbatas hanya pada apa yang berbentuk tubuh.


Tapi apa kamu tidak bosan dengan itu? Aku juga punya nama, oke! Mendengarmu mengatakan itu membuatku semakin tidak bahagia.


"Tapi mantra sama sekali tidak berguna."


Ah, Augusta juga meninggalkan penggunaan mantra jadi apa itu berefek pada semua orang?


Yaa, sekali lagi, aku harus mengandalkan kemampuan fisikku, kah? Tampaknya hanya itu satu-satunya jalan. Tidak mungkin aku mengandalkan harapan bahwa situasi di mana aku tidak dapat menggunakan sihir akan segera berakhir.


"Tapi situasi ini sangat tidak menguntungkan karena aku tak dapat menggunakan Enhancement Spells."


Sejujurnya itulah dasar dari sihirku. Baiklah, sembari terbang lebih dan lebih tinggi, aku mencoba menggunakan Decomposition, dan yaa terlihat bahwa kabut abu-abu kecokelatan masih muncul.


"Sekali lagi, penggunaan Ex-Skill sepertinya tidak akan terhalang. Jadi ..."


Opsiku belum sepenuhnya tertutup, ya.


Aku terbang lebih jauh hingga kakiku menapak langit-langit. Berlutut, membuat kuda-kuda. Lalu—


Grak!


Kepakkan besar kulakukan. Mendorong tubuhku jatuh, aku melipat sayapku untuk menambah akselerasi kecepatan. Tubuh Augusta, atau apa yang tampak seperti itu berdiri di sampingku, tongkat logamku berayun dengan cepat, menyapu tubuhnya dengan jejak cahaya kabut kuning keunguan tertinggal.

__ADS_1


"Dasa— mu' rid!"


Sepertinya aku berhasil mengacu siapa ego yang mengendalikan tubuh itu lagi. Sayapku mulai bergerak dengan cepat, mengubah posisiku di udara dan menjauh. Mengambil jarak sedikit sebelum aku terbang menusuk kembali, menghujani serangan ulang pada Augusta.


"A' an kuh' ancurkhan 'amu!"


Sepertinya bukan Augusta lagi yang mengendalikan tubuh itu. Kendali tubuh yang sebelumnya sangat halus perlahan kacau, dia hanya terfokus pada tubuh yang terbentuk. Tidak apa, itu menguntungkanku, ya.


Tongkat besiku sekali lagi melayangkan pukulan ke arah ... Augusta? Yaa, anggap saja itu dia. Merobohkan tubuhnya lebih. Seperti sebuah boneka yang talinya diputus, satu demi satu.


"Dasar Sial!"


Ah. Dia susah kembali, ya?


Gerakan Augusta sekali lagi berubah dengan drastis, jika sebelumnya hanya mengandalkan kekuatan kasar kini dia memainkan beberapa trik menjengkelkan itu lagi.


Mengaktifkan Primal Curses • Decomposition, aku menurunkan kabut abu-abu kecokelatan sekali lagi. Terus mengikis keberadaan materi yang menyusun tubuh Augusta sedikit demi sedikit. Bahkan jika itu tidak seefektif saat melawan makhluk hidup, itu masih menunjukkan kinerjanya.


Gerakanku pun menjadi lebih dan lebih halus. Tingkat kerusakan yang kuberikan pada Augusta terus meningkat, mungkinkah karena celah Power Level —yang ternyata mengurangi kerusakan yang kuberi— berkurang?


Tubuhku berputar di udara secara sadar, menggunakan sayap sebagai sistem pendorong dan rem. Membuat aksi akrobatik yang nyata, tidak hanya ada di kepalaku.


“Jika saja sayap ini dapat kubawa ke dunia nyata ...,” gumam ku berharap. Jika itu aku di dunia nyata, yaa tidak mungkin aku dapat melakukan ini bahkan dengan alat ISP.


Sekali lagi, tubuhku berputar dengan cepat, memukul Augusta dengan tongkat sekali lagi. Nilai kerusakan meningkat akibat momentum. Kabut kuning keunguan mulai menyebar ke tubuh Augusta, kukendalikan secara sadar dan mulai menjatuhkan kendalinya atas potongan mayat itu lebih jauh.


Augusta membalas. Melemparkan proyektil mayat laba-laba tikus, tapi itu semakin terbatas sering banyaknya mayat yang kuhancurkan menjadi abu. Secara drastis mengurangi opsi yang dia miliki.


Dia tidak dapat melakukan sesuatu seperti meruntuhkan tubuh dan menyerang dari sisi lain seperti sebelumnya. Menjatuhkan tingkat penghindarannya secara luas.


Tongkat besiku memukul tubuhnya, meruntuhkan tubuh Augusta lagi dan lagi.


“Dhampire ...!”


Augusta menggeram, kurasa dia mentapku dengan mata penuh kebencian. Tapi aku juga sama, tahu. Aku membencimu.


Aku terus menekan di tengah kesempatan yang muncul. Namun—


"Apa?!"


Bola kabut keunguan terbang dari tubuh Augusta, memasuki tubuhku dan ...


—Dirae!


... Suara Megaera bergema di kepalaku.


———


Jangan lupa tekan tombol like di setiap akhir Chapter dan komen untuk mendukung saia tetap semangat. Tapi, share dan favoritenya jangan ketinggalan juga.


Kamu banyak nuntut, diriku.


.... :v

__ADS_1


__ADS_2