Soul Monarch : Eclipse Feast Online

Soul Monarch : Eclipse Feast Online
Legenda, The Twelve Champion


__ADS_3

Hari telah berganti dan kini aku tengah berjalan-jalan di desa. Yaa, setelah pembicaraan panjang dengan pendeta sebelumnya, pada akhirnya aku tetap akan tinggal di sini.


Itu semua karena dia sendiri juga tidak memberi tahu di mana posisiku sekarang.


Yaa, ada banyak alasan yang dia utarakan seperti demi keamanan desa ini (yang adalah desa Evil), kerahasiaan Kuil Abholotz, mengenai dirinya, serta masih banyak lagi. Dan ya, dia berkata akan memberi tahu aku tentang posisi kami sekarang saat dia sudah cukup percaya padaku.


Bagaimanapun, inti dari apa yang dapat kutangkap dari hal ini adalah, aku ditahan di desa ini.


"Yaa, tidak ada gunanya mengeluh tentang hal itu jadi lebih baik segera menyesuaikan diri di sini," kataku saat memasukkan satu tusuk daging lain dari sate yang kumakan.


Yaa, ini benar-benar enak ....


Aku tidak akan mempermasalahkan apa yang Ouya, tidak, dirinya meminta cukup dipanggil Pendeta saja (meski dia pun merangkap sebagai kepala desa) agar diriku terhindar dari masalah. Sepertinya terdapat hal besar di balik alasan dia merahasiakan identitasnya, yaa aku masih kebingungan Karan Megaera pun tidak menceritakan apa pun.


Yaa, pada akhirnya itulah pengaturan yang dia tetapkan padaku untuk sekarang. Tentu selama adikku yang bawel itu tidak banyak merengek, aku baik-baik saja untuk menunggu.


"Bukankah dirimu sudah cukup beradaptasi dengan baik? Apalagi itu dengan sangat cepat sampai diri ini bingung bagaimana harus menanggapinya."


"Yaa, aku hanya tidak ingin menderita stres karenanya, Mega. Itu tentu bukan hal yang baik." Pada akhirnya pun tidak banyak yang dapat kulakukan. Mencoba lari tanpa rencana atau mengetahui medan yang tepat hanya akan membuatku tersesat lagi, tahu.


Apalagi makanan di sini juga cukup enak serta bervariasi.


"Diri ini rasa apa yang terakhir dirimu pikirkanlah alasan sebenarnya dirimu memilih cepat membiasakan diri."


Dan ya, sepertinya aku masih harus menentukan ulang sampai mana batas pikiran yang dapat bocor karena perubahan Spirit Connection ke Spirit Link.


Ah, aku juga ingin menyelesaikan Quest kemajuan yang kumiliki tapi sepertinya aku harus bersama dua orang itu —Arkemi dan Oku— jika hendak keluar desa. Yaa, mereka berdua log out untuk sekarang jadi aku harus menunggu untuk nanti.


Lagi 'kah? Pikirku saat merasakan tatapan dari balik bayangan yang terus mengamatiku. Hal yang sama dengan apa yang kualami saat pertama kali masuk desa.


Yaa, untuk sekarang lebih baik aku berjalan sedikit lebih jauh, berputar dari satu belokan ke belokan lain dan—


"Boo!"


"Kyaaaah!"


Aku berhasil mengagetkan para bayangan itu.


Ternyata anak-anak, ya?


"Bagaimana Kakak bisa menghilang begitu cepat ...," rintih salah seorang anak laki-laki menatapku saat berusaha pulih dari keterkejutannya.


"Huhu, itu rahasia." Meski aku hanya menggunakan Mana Board dan Increase Speed sih. "Kalian sendiri, mengapa kalian mengikutiku?"

__ADS_1


"I-Itu ... karena Saya melihat Nona Oku membawa seseorang yang belum pernah dilihat sebelumnya memasuki desa. Jadi ...."


"Kalian penasaran siapa dia?" tebakku yang dibalas dengan anggukan cepat oleh anak gadis itu.


“Hah ... lain kali kalian harus berani bertanya langsung pada mereka, ya. Jika kalian bernasib buruk, kalian dapat tidur selamanya di gang kecil ini tanpa ada yang menyadarinya tahu,” kataku sedikit menakuti mereka.


Kurasa bertanya langsung adalah pilihan teraman. Bagaimanapun, meski ini adalah desa evil, anak-anak tetaplah dilindungi dengan baik di sini.


Dari apa yang Pendeta itu katakan, seperti dugaanku sebelumnya, umur desa ini sendiri masihlah seumur jagung.


Kebanyakan warga di sini sendiri memiliki rekam jejak buruk, mulai dari pencuri, perampok, bandit, dan lainnya yang lelah diburu oleh pemerintah dan Serikat hingga akhirnya memilih lari dan menetap di sini.


Yaa, kamu dapat menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang ingin memulai hidup baru namun terhalang oleh nama mereka yang telah hancur. Dan di sini, mereka dapat melakukannya meski nama mereka (di luar desa) akan tetap dikenal sebagai penjahat.


Agak mengejutkan tapi, yaa karena itulah tingkat tindak kejahatan di desa ini mendekati nol. Apalagi dengan keberadaan Kuil Abholotz, yang menganggap generasi mendatang sangat penting, keamanan para anak-anak itu kurasa dapat dijamin.


"U-um. Baiklah."


"Yaa, lebih baik kita segera keluar dari gang sempit ini. Dan siapa nama kalian, Kakak bernama Dirae."


"Aku Romi," kata anak laki-laki itu sebelum menunjuk ke arah temannya yang lain. "Dia Line, Dian, Uru, Massa, Bud, dan Saya."


Ehh ... jadi Saya yang anak perempuan sebelumnya, Line maksud bukan dirinya sendiri melainkan nama temannya, ya?


Kuharap tidak ada di antara mereka yang menggunakan kata 'saya' untuk menunjuk dirinya sendiri atau ... yaa, itu akan cukup membingungkan.


"Kita bisa membunuh para kelinci bertanduk!"


"L-lalu aku dan Saya mungkin bisa membongkarnya untuk kalian ..."


"Anu ... Line, kurasa aku lebih suka mencari Slime ...."


"Tidak. Karena Kak Dirae akan menemani kita, kita mungkin bisa pergi sedikit lebih jauh."


"O-oohhh!" teriak semua orang —kecuali aku— dengan mata berbinar.


Sungguh celah yang sangat jelas! Dan ya, bisakah kamu menggunakan kata berburu daripada membunuh, Romi?


"Sepertinya anak-anak ini juga tidak tumbuh seperti pada umumnya," gumamku hingga tidak dapat didengar oleh siapa pun.


"Baiklah. Dengarkan Kakak. Maaf sebelumnya, tapi Kakak tidak dapat pergi terlalu jauh meskipun Kakak ingin. Kakak hanya bertanya apa yang dapat dilakukan di dalam desa."


"A-apa Kak Dirae tidak cukup kuat hingga dilarang pergi terlalu jauh dari desa?"

__ADS_1


"Tidak, bukan seperti itu tapi ada banyak keadaan yang menuntut."


"Ayah bilang tidak baik berbohong tahu, Kak."


"Yaa, sudah Kakak bilang—"


"Kak Dirae pembohong."


Uhh. Ini terasa lebih menyakitkan daripada saat Oku mengatakan hal itu padaku. Meski itu benar, tidak benar.


"Apa pun itu, apa ada hal yang menyenangkan di sini?"


"Kita mungkin bisa ke arena dan saling memukul dan menebas satu sama la—"


"Apa saja kecuali yang mencakup kekerasan," selaku dengan nada datar. Sangat datar hingga menyebabkan keheningan berlangsung.


Apa kalian sama sekali tidak memiliki hal yang dianggap menyenangkan di luar pertempuran?


"Ehm ... anu ... mungkin kita bisa ke sana."


"Apa yang kamu maksud, Saya?"


"Ke Taman Desa."


"Ehh, hanya kamu 'kan yang suka dengan bunga," celetuk Romi.


"Ehm ... bu-bukan itu ... bukankah Kak Frost sedang mengadakan pertunjukan di sana."


"Ah! Benar juga."


"Yaa, itu pun terdengar baik bagiku." Aku tidak tahu pertunjukan apa yang dimaksud tapi jelas itu lebih baik daripada saran sebelumnya.


Yaa, dipimpin Romi, kami mulai berpindah menuju ke Taman Desa. Aku dapat melihat beberapa jenis bunga baru yang tidak pernah kutemui di dunia nyata bermekaran di sini, yaa cukup indah.


"Ah! Itu sudah di mulai," kata Saya sebelum segera berlari, bergabung bersama anak-anak lain yang telah terlebih dahulu hadir mengitari sesosok gadis beast-kin serigala di usia 17-18 tahun dengan bulu silver serta mata biru laut.


Yaa, dia sangat cantik dan terkenal di antara anak-anak, ya.


"Hari ini Kakak akan menceritakan salah satu legenda yang paling besar dalam sejarah." Frost membuka mulutnya, menarik perhatian anak-anak saat mulai memunculkan butiran-butiran cahaya yang mengitarinya. Membuat anak-anak tersebut bertepuk tangan karenanya.


Tersenyum melihat reaksi anadari anak-anak itu, dia mulai memanipulasi butiran-butiran cahaya di sekelilingnya, membentuk judul cerita yang akan dia sampaikan.


"The Twelve Champion."

__ADS_1


———


Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?


__ADS_2