Soul Monarch : Eclipse Feast Online

Soul Monarch : Eclipse Feast Online
Tensi, Bos War


__ADS_3

Aku terus mundur, menjauh dari pusat medan perang.


Augusta kini tengah mengamuk dengan bebas, menebas semua yang berada di dekatnya. Ksatria yang sebelumnya menahan dirinya kini tidak mampu lagi melakukan itu, telah terluka dan jatuh. Dia lebih lemah dari pria sebelumnya.


Bagaimanapun, aku hanya akan berkata 'kerja bagus' pada ksatria itu karena dapat menahan Augusta selama ini.


Kemudian, pemain dan prajurit yang berada di dekatnya berusaha menekan Augusta dengan jumlah. Tapi yaa, itu belum cukup untuk menghentikan Augusta.


Semua cakar di keempat lengan Augusta memanjang menjadi sekitar satu meter. Tidak hanya itu, aku dapat melihat dengan jelas bahwa cakar itu mengeluarkan kilauan berwarna jeruk nipis. Apa itu mengandung racun?


Aku sama sekali tidak mendengar dia mengatakan sesuatu, kemungkinan itu adalah Skill yang menggunakan Action Key sebagai sarana aktivasi. Augusta membuat gerakan demi gerakan tidak manusiawi, membuat orang-orang di sekelilingnya kerepotan.


"Untung saja aku tidak perlu melawan sesuatu semacam ini, ya."


Yaa, untung saja. Benar-benar untung saja. Aku akan berdoa bahwa pasukan ini dapat membuatnya sekarat.


Sedangkan untukku, aku masih terus melancarkan aksiku. Cambukku terkadang berayun, ini adalah senjata jarak dekat-menengah sehingga membuat pergerakanku tidak terganggu. Cambuk ini juga dapat menarik musuh bila kekuatanku melebihi pihak lain. Yaa, meski itu membuat daya tahan turun tajam, jadi, jika tidak terpaksa aku tidak akan melakukan itu.


Serangan utamaku tetaplah jarum kabut mana. Itu murah dan meningkatkan level Skill secara efektif. Bahkan jika aku memiliki Exp —hasil dari membunuh monster dan beberapa orang di sini— yang dapat digunakan untuk meningkatkan level Skill, jumlah itu masih akan jauh jika harus mencapai tingkat yang Megaera minta.


"Aku butuh sesuatu yang baru."


Ini akan digunakan sebagai sarana serangan utama. Jarum mana memang efektif dalam membuat targetku buta, tapi kerusakan selanjutnya harus aku tangani secara efektif sendirian. Yaa, untuk mereka yang berada di garis depan memang memiliki HP rendah karena terus terkena serangan Augusta, tapi mereka yang berada di garis belakang tidak.


Bagaimanapun, untuk sekarang lakukan siklus sebumnya pada pemain terdekat. Butakan dia, ambil potion yang dimiliki lalu hisap darahnya. Aku senang sekarang malam, atau aku akan sangat kesusahan.


"Mungkin itu akan membuat pengendalian lebih sulit, tapi itu dibutuhkan," gumamku sebelum memutuskan. Aku mundur dari garis depan, berpura-pura sebagai seorang yang terluka dan meminta seorang Healer datang.


"Apa kamu tidak apa-apa?"


"Tidak, sekarang baik. Terima kasih."


Dia mengangguk kecil. Yaa, wajahku terlindung oleh tudung jubah, jadi seharusnya dia tidak dapat memastikan siapa aku setelah ini.


Life attribute —attribute yang bekerja dalam sihir penyembuhan— juga tidak menimbulkan kelainan padaku, jadi tidak ada kecurigaan tambahan. Apa itu karena aku juga memiliki darah Dark Elf? Aku senang karenanya.


"Poison Bullets!"


Augusta berteriak. Mengucurkan peluru demi peluru racun yang mengarah ke barisan belakang. Aku berhasil menghindarinya, tapi Healer sebelumnya kritis karena serangan tersebut.


"Argh ...!"

__ADS_1


Dia berteriak kesakitan, apa dia lupa menurunkan tingkat rasa sakit?


"Aku akan meringankan rasa sakitmu,” gumamku. Butakan dia dan hisap darahnya. Tentu, potion telah diamankan.


Baiklah, aku akan mulai menjalankan rencanaku saat Augusta terus mengeluarkan Poison Bullets tanpa henti. Untung saja aku sudah mewaspadai dia memiliki sarana serangan jarak jauh lainnya. Kerusakannya memang tidak sebesar Ray of Venom, tapi kondisi keracunan itu tetaplah merepotkan.


"Burden Fist!" Pria yang menjaga Augusta untuk pertama kali (Kafar) akhirnya kembali.


Kondisinya masih jauh dari prima, tapi juga tidak begitu buruk. Membuatnya telah dapat menggantikan ksatria sebelumnya.


Tinju yang berbalut Art's itu meledak, memaksa kemajuan Augusta dalam membantai pemain yang lebih seperti semut di depan matanya terhenti.


"Dasar kecoak!" pekik Augusta saat melihat kembali pria itu.


Yaa, asal kamu tahu Augusta, kecoak sebenarnya adalah para pemain. Meski dibutuhkan waktu respawn, mereka akan terus menghadapimu.


"Bukankah sudah dinyatakan sebelumnya, kami akan menguburmu di sini Vampire!"


Oke. Aku juga mendengarnya, aku sudah tahu itu oke. Yaa, aku tidak memihak keduanya tapi untuk saat ini aku akan membantu Augusta dalam menundukkan pemain di sekitarnya.


"Nah, persiapanku juga sudah siap."


Aku melihat tombak kabut mana yang siap dilepaskan di sampingku. Secara keseluruhan, pengendaliannya memang sulit tapi kerusakan yang diberikan akan layak, mungkin.


Aku menghibahkan mantra ketiga dari Enhancement Spells yang baru saja terbuka setelah kenaikan level —yang bahkan tidak kusadari. Meningkatkan kerusakan yang akan timbulkan sebesar 10% dan meluncurkannya.


Bang. Yaa, seperti itulah tanganku. Tombak kabut mana meluncur dengan kecepatan tinggi. Keberadaannya sendiri hampir tidak terlihat, dengan keadaan medan pertempuran yang kacau hampir mustahil membuat pemain menyadarinya.


Tombak kabut mana akhirnya menusuk kepala salah satu pemain. Menembus kepala dan merusaknya, membuat pemain itu tewas dalam hitungan detik karena terinjak.


"Dirimu cukup kejam juga, Muridku."


"Aku tidak yaa," bantahku pada Megaera yang muncul secara tiba-tiba. Yaa, aku hampir terbiasa dengan itu jadi aku sama sekali tak terkejut lagi. "Hanya saja ini cara bagi yang lemah dalam bertahan, Master. Jika aku tidak sedikit licik aku tidak akan berada di sini."


"Itu bukan hanya sedikit, dirimu tahu."


Benarkah?


Aku menyimpan itu dalam hati. Yaa tidak berguna juga mengutarakannya. Pokoknya, setelah memastikan jumlah biaya yang dikonsumsi oleh serangan sebelumnya aku mulai bersiap.


Tombak kabut mana sendiri dapat memotong lebih kurang sekitar 30 MP, sedangkan untuk Strengthen Damage 20 poin lagi. Yaa, sekitar 50 poin jika distandarisasi. Dengan Cast 5 detik dan Cooldown 10 dari mantra Strengthen Damage.

__ADS_1


Mulai membuat ulang tombak kabut mana, aku membidik kepala pemain di garis depan. Orang itu tentu tidak aku kenal. Baik, lepaskan tombak kabut mana saat Strengthen Damage siap digunakan untuk memperkuatnya.


Serangan tersebut meluncur, menghantam pemain. Meski tidak membunuhnya, dia tersentak sejenak dan kesempatan itu dimanfaatkan Augusta.


Bahkan jika pria itu (Kafar) mencoba untuk menahan Augusta, terdapat perbedaan kekuatan yang jelas. Ini mungkin bukan dikarenakan Rank, melainkan karena perbedaan ras ya.


Dengan tangan tak terlihat (bantuan dariku) Augusta semakin kuat. Dia mengambil salah seorang yang malang untuk bertemu kecupan berdarahnya, membuat darah kering dari tubuh orang itu.


Aku mencoba melihat status Augusta dengan Basic Appraisal. Dan yaa, aku terkejut. HP Augusta pulih sedikit setelah meminum darah, jadi apa darah sama saja dengan meminum potion baginya.


"Apa ini salah satu kelebihan Vampire?"


Jika benar, bisakah aku melakukan ini untuk kedepannya? Semoga saja. Tapi untuk sekarang, tetap fokus pada apa yang berada di depanku.


Aku meminum Small Mana Potion Tingkat Rendah, terdapat jeda penggunaan sehingga tidak dapat digunakan terus menerus. Aku terus membantu Augusta hingga ....


"Hati-hati! Terdapat seorang pemain PK di sini!"


... Seseorang telah memperhatikan bahwa tingkat Friendly Fire tidak wajar, menyadari bahwa itu adalah ulah dari seseorang atau pihak tertentu. Yaa, tentu itu aku.


"Baiklah, cukup untuk saat ini dan bersembunyi."


Lagi pula, aku sudah tidak perlu mendorong Augusta. Aku perlu memasok mana potion.


———


Perbedaan antara Cast dan Root.


Secara kasar, keduanya ialah:


Cast, waktu persiapan yang dibutuhkan sebelum mantra siap digunakan.


Root, waktu kaku yang timbul setelah penggunaan Art's dilepaskan.


Cast, ini adalah waktu yang diperlukan untuk menyiapkan mantra sebelum dapat dilepas. Ini berbeda dari Cooldown yang muncul setelahnya, Cast hadir sebelum mantra dan semakin kuat mantra semakin lama pula waktu pengisian (Cast).


Jadi, total waktu jeda mantra jika digunakan berturut-turut sebenarnya adalah Cast + Cooldown.


Sedangkan Root, adalah sebuah kondisi di mana tubuh pemain tidak dapat bergerak dari tempatnya. Ini biasanya terjadi setelah pelepasan Art's, semakin kuat Art's semakin lama pula waktu Root.


Namun, berbeda dari Stun (tertegun?), saat dalam keadaan Root pemain masih dapat menyerang secara normal maupun menggunakan Art's atau Skill lain. Ini hanya menghentikan mobilitas pemain.

__ADS_1


Dengan demikian, jeda penggunaan Art's hanya dihitung berdasarkan waktu Cooldown.


Keduanya timbul sebagai sarana resiko dan merit yang seimbang. Bagaimanapun, seorang penyihir, selama Cast akan lebih mudah menarik perhatian. Sedangkan Root akan membuat pemain garis depan tidak asal melepaskan Art's kuat tanpa henti.


__ADS_2