
Apa yang tengah terjadi?
Pertanyaan tersebut tengah berputar di kepalaku. Lagi dan lagi hingga membuatku merasa ingin menjatuhkan diri. Tapi jangan, jika aku benar-benar melakukan itu aku akan mengulang usaha selama enam hari ini.
Yaa, tingkahnya ... siapa pun orang yang membuat ledakan tersebut terlalu membingungkan bagiku.
Sebelumnya dia mengincarku dengan serangan ledakan (entah berasal dari bom atau mungkin sesuatu yang lain) dan hal itu dibarengi oleh kerja sama apik dengan rubah tersebut. Jadi ya, wajar saja jika aku menganggap mereka berada di pihak yang sama.
Namun, sekarang dia justru balik mengunci rubah tersebut. Terutama pada waktu yang benar-benar tidak tepat, saat aku tersudut dan hanya butuh beberapa sentuhan akhir untuk membuat kehidupanku melayang.
"Uhh. Apa yang sebenarnya tengah terjadi, ya?" Aku bertanya.
"Mungkin dirimu terjebak dalam pertarungan tiga arah sebelumnya, Dirae?" jawab Megaera dengan nada ragu.
Yaa, aku pun tidak benar-benar menginginkan sebuah jawaban sih tapi apa yang Megaera katakan memang mungkin terjadi. Aku, rubah, dan ... sekali entah siapa itu memiliki kepentingan masing-masing yang terpisah dan tidak terkait sejak awal.
Begitu, ya? Kini semua terasa masuk akal. Dan bukankah itu berarti aku terlihat cukup kuat untuk membuat keduanya bekerja sama demi dapat mengalahkanku?
Huhu. Yaa, seperti yang diharapkan dari diriku.
Namun—
"Apa yang kamu lakukan, Arkemi?!"
Teriakan dari rubah tersebut segera menghempaskan pikiranku akan hal itu. Sepertinya mereka memang saling kenal sejak awal.
Dan ...
Boing, boing, boing.
... Seekor gumpalan gel berbentuk bola terlihat, melompat dari satu batu ke batuan lain menuju ke tempat rubah itu berada.
Yaa, kurasa itu apa yang disebut sebagai Slime.
Apa dialah sosok yang melemparkan ledakan-ledakan sebelumnya? Pantas saja aku tidak bisa menemukan keberadaannya meski telah menggunakan bantuan Zile dan Antarea.
Dan ... dia itu benar-benar apa yang disebut slime, 'kan?
Aku berpikir ulang saat melihat tubuh slime (?) tersebut terpecah, tersusun ulang menjadi sesosok humanoid wanita transparan dengan kaki yang tidak benar-benar ada. Terasa seperti hantu meski kurasa tubuhnya tetap terbuat dari material fisik.
Sementara rubah tersebut, yaa dia tetap diam di tempatnya saat memberi tatapan tajam pada slime tersebut.
Menakutkan. Rubah itu benar-benar menakutkan apalagi dengan tubuhnya yang masih berselimut aura tersebut, ya.
Aku bahkan merasa si slime itu memantapkan diri agar dapat berdiri (?) di sana. Memangku tangan, akhirnya slime tersebut balas menatap tajam rubah itu dan berteriak, "Itu karena mika tidak ingat akan apa yang harus kita lakukan, Oku!"
Baiklah. Keduanya sama-sama bertindak menyeramkan.
"Semua ini disebabkan Vampire ini menggunakan berkah Yang Mulia Abholotz dengan semaunya, Arkemi!"
Untuk kesekian kalinya, akan kuberi tahu bahwa aku bukanlah vampire, rubah.
"Jangan jadikan Dewa Abholotz sebagai alasan. Aku ingin mendengar kenapa mika sampai sebegitunya," balas Arkemi sedikit menantang rubah tersebut.
Ah, yaa, kalau tidak salah namanya Oku, diriku. Maaf, aku tidak dapat mengingat nama orang dengan baik. Yaa, bercanda.
"Cepat jawab pertanyaanku. Segera," sambungnya.
__ADS_1
"Sudah saya katakan itu karena dia, Vampire ini menggunakan berkah Yang Mulai Abholotz, Arkemi. Berapa kali saya harus mengatakan hal ini hingga otak kecilmu dapat memahaminya?"
Oku menjawab dengan tandas sebelum membuat ekspresi terkejut. "Ah, maaf. Saya lupa kalau tubuhmu itu memang tidak memiliki otak sejak awal."
"Ha?! Apa maksud dari itu Sialan!"
"Siapa yang kamu maksud sebagai Sialan, Tak Berotak?"
"Menurutmu sendiri, siapa yang kumaksud sebagai itu?"
Uhh. Aku merasa banyak percikan api kini tersebar di antara keduanya.
Entah kenapa ini tidak terasa asing. Tapi, lebih baik aku menunggu sejenak sebelum bertanya arah. Apakah sudah waktunya?
"Anu ... apa—"
"Diamlah Vampire!"
“Lebih baik mika tidak mengatakan apa pun ...!”
Uhh, padahal aku hanya ingin bertanya arah dan tidak tertarik pada apa yang mereka bahas, ya.
Baiklah, mereka sepertinya masih sepanas api jadi lebih baik menepi dan mencari sebuah ranting untuk menggambar sesuatu di tanah. Ah yaa, tidak ada ranting di sini jadi lebih baik cari sebuah batu untuk mulai menggambar.
... Serta jangan hiraukan apa pun yang mereka buat atau katakan selanjutnya, diriku.
"Jadi, kenapa kamu menghalangi saya di saat yang begitu penting?"
"Itu karena mika menyerangnya, bukan?"
"Apa maksudmu? Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama sebelumnya?"
Ya, yaa seperti yang kalian katakan. Apa pun itu tidak ada hubungannya denganku jadi abaikan saja, diriku. Walau aku benar-benar ingin tahu di manakah aku berada sekarang.
Tidak, tidak, tidak. Fokus saja, diriku. Tentu dalam menggambar.
"Kamu tidak jelas seperti biasanya."
"Maksudku, mika tidak lupa apa yang pendeta katakan dalam ramalannya 'kan?"
"Tentu saja tidak. Kamu tahu bahwa saya tidak mungkin dapat melupakan sesuatu, bukan?"
"Jadi, dengan Perfect Memory yang mika miliki tersebut kenapa mika sampai tidak melakukan apa yang terdapat dalam catatan penting?”
Gambar, gambar, gambar.
Ah, yaa, bagian itu terlalu lurus jadi perbaiki garis itu, diriku.
Baik.
"Saya tidak lupa. Quest yang pendeta katakan adalah mencegah serangan dari para Vampire ke desa bukan?" Oku menjawab. "Dan bukankah itu membuatnya jelas sebagai Vampire apalagi dengan mata merah darahnya itu."
Oh, mungkin karena itu 'kah dia dapat menganggap sebagai Vampire? Meski hal itu benar-benar salah sih.
"Uhh, lupakan soal ciri mata merah tersebut. Apa mika tidak mendengar penjelasannya lebih lanjut?"
"Apa itu?"
__ADS_1
"Kemampuan mika untuk tidak melupakan sesuatu benar-benar menjadi kemampuan tidak berguna saat mika sama sekali tidak mengetahui hal yang dimaksud ...."
Menghela napas panjang Arkemi pun berkata, "Itu lho, soal tafsiran bahwa akan ada seseorang yang akan membantu menghalau Vampire meski memiliki garis keturunan Vampire."
Oh, informasi menarik. Tapi yang lebih penting, aku harus menyelesaikan gambar yang kubuat sekarang.
"Saya tidak pernah mendengar tentang itu. Tapi kamu bahkan masih tidak ingin menyebut itu, 'kah?"
"Lupakan itu, tapi bukankah mungkin dia orangnya."
"Dari mana kamu dapat seyakin itu bahwa dia yang pendeta itu maksud."
"Bukan sembarang orang 'kan yang dapat menggunakan berkah dari Dewa Abholotz."
"Setelah dipikir ulang, saya rasa kamu benar akan hal itu meski terasa aneh untuk orang luar dapat menggunakannya."
"Walaupun mika memainkan EFO sebagai metode pelepasan stres, tapi sifat dan sikap mika benar-benar menjadi terbalik dari dunia nyata, ya,” gumam Arkemi sebelum menghela napas dan.mengangkat bahunya tanda menyerah.
"Baiklah, saya akan mengikuti apa yang kamu katakan untuk sekarang. Dan dengan itu Vampire!"
"Aku bukan Vamp—"
Rubah itu, Oku mulai menarikku sebelum aku bahkan dapat menjawab. Aku bahkan belum menyelesaikan gambarku ....
"Yaa, bisakah kamu melepaskanku?"
"Tidak. Sayangnya hal itu tidak mungkin bagi mika." Arkemi berkata saat mengubah tubuhnya ke bentuk bola, melompat dan bertempat di pangkuanku.
Karena ini dingin dan terasa nyaman kurasa tidak masalah, ya.
"Itu benar. Kamu harus ikut dengan kami untuk dapat memastikan hal itu."
"Sepertinya ini akan menghabiskan waktu." Aku bergumam.
Kamu tahu ramalan adalah prediksi mengenai masa depan 'kan? Dan lagi, dari apa yang mereka berdua katakan sebelumnya tidak terdapat perkiraan kapan hal itu dapat terjadi.
"Meski begitu, tetap saja mika tidak memiliki pilihan untuk menolak, ’kan?"
"Yaa, itu benar sih. Dengan sangat."
Apalagi karena ini aku juga menuju ke desa. Yaa, terasa baik untuk dapat kembali merasakan peradaban dan menutup masa kelam bersama Death Wish.
Tentu aku tidak ingin melepaskan kesempatan ini. Walau, yaa, agak terasa aneh dengan cara ini.
"Ngomong-ngomong, mika siapa?"
Yaa, yang pasti aku bukan Vampire. Tapi kurasa sudah tidak ada gunanya mengatakan hal semacam itu lagi. Jadi ...
"Aku Dirae hanya Dirae."
... Kurasa perkenalan ini lebih baik.
"Eh?"
Walau entah kenapa itu membuat langkah mereka berhenti.
———
__ADS_1
Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?