Soul Monarch : Eclipse Feast Online

Soul Monarch : Eclipse Feast Online
Pulang, Tahun Baru 2093 M


__ADS_3

Aku kini berada di kediaman keluarga Asha. Yaa, tempatku tinggal dan besar sejak umur enam tahun. Mireille telah lepas dariku setelah tiga tahun lamanya dia terus mengawasi, bertemu dengan kedua orang tuanya serta—


"Kakkaaakkkk!"


Aku berada di situasi yang genting saat Alissa berlari, mendatangiku dengan sebuah pelukan erat. Sangat erat.


Aku tidak bisa bernapas! Aku akan mati ya!


Yaa, itulah yang kupikirkan sesaat sebelum dia akhirnya melepaskanku. Melihatnya sedikit, aku bertanya, "Apa kamu telah bertambah tinggi lagi Al?"


"Hmm. Kalau tidak salah 179 cm pada pengukuran terakhir," jawabnya setelah berpikir sejenak.


Yaa, itu tinggi, sangat tinggi bahkan hampir 25 cm lebih tinggi dariku! Juga ... bagiannya juga berkembang lebih baik, jauh lebih baik dariku! Apa itu berada diukuran F? Tidak, G?


Hei, di mana martabatku sebagai seorang kakak perempuan, ya?!


Aku ingin menangis pada hal ini tapi tidak, tahan itu dengan baik diriku. Perbedaan genetik memang tak bisa dihindari ...!


"Yaa, aku ingin ke kamar dulu jadi selamat tinggal."


"Kakak!" teriaknya menahanku. Sekali lagi, dengan sebuah pelukan.


"Al, lepaskan aku."


Aku harus meletakkan semua barang bawaan ini oke?


"Tapi Kakak akan meninggalkanku ...!"


Kenapa itu terdengar seperti sebuah baris dalam drama bercurah air mata?


"Ya, yaa. Aku tinggal, aku tinggal. Tapi pertama bantu aku meletakkan barang bawaanku ini."


"Seperti yang diharapkan dari Kakak!"


Tidak. Aku hanya berencana tinggal selama 3 hari sih. Bukan untuk selamanya.


Sambil berpikir demikian, aku mulai berjalan. Kediaman ini sebenarnya terdiri dari beberapa rumah besar dengan bangunan utama yang kerap kali difungsikan sebagai ruang pertemuan atau tempat acara formal.


Sisi kiri bangunan utama sendiri berfungsi sebagai dojo, baik konvensional maupun virtual. Sedangkan sisi kanan adalah tempat penyimpanan. Kami sendiri tinggal di kompleks perumahan yang berada di belakang bangunan utama.


Yaa, singkatnya kediaman ini sangat luas, seperti yang diharapkan dari Keluarga Asha. Jadi, akan memakan waktu sebelum aku sampai ke ruang yang difungsikan sebagai kamar pribadiku.


"Oh aku baru ingat. Kak Rere, Mama tadi telah memintaku untuk memberitahumu bahwa dia ingin kamu segera menemuinya setelah sampai."


"Ibu?"


"Um." Angguknya yakin. "Walau aku tidak tahu apa yang ingin Mama bahas sih."


Begitu, 'kah?


"Yaa, aku akan segera ke sana jadi, Al, tolong letakkan semua ini untuk Kakakmu ini oke?" kataku saat menyerahkan barang bawaanku padanya.


"Kakak!"


Yaa, tolong bantuannya adik manis. Aku berpikir demikian saat melambaikan tangan, meninggalkannya sendiri.


Setelah bertanya pada beberapa anggota keluarga lain tentang keberadaan ibu sekarang, aku segera menuju ke ruangan yang ditunjuk.


Tapi tahun baru benar-benar ramai, ya. Apa mereka juga akan pulang tahun ini?


Sesampainya di ruangan yang ditunjuk, aku mengetuk pintu dan...


"Masuklah."

__ADS_1


... Suara itu terdengar bersama diriku yang mulai melangkah.


Aku melihat seorang wanita tinggi semampai dengan rambut panjang yang kini ditata rapi menjadi semacam sanggul. Yaa, itu ibu, ibu sambungku serta ibu kandung dari Alissa.


Melihatku masuk, dia segera menghela napas kecil. "Reena, bukankah sudah pernah Ibu katakan untuk mengenakan sesuatu yang lebih formal saat berkunjung kemari."


"Tapi ini membuatku nyaman."


"Baiklah, itu memang dirimu tapi Ibu akan membantumu berias untuk acara tahun baru."


Ahh, baiklah. Sepertinya hal ini memang tidak akan dapat dihindari. Pikirku saat mengangguk patuh dan melihatnya mengeluarkan senyum lembut.


Yaa, jika orang lain yang melihatnya kuyakin mereka akan berpikir bahwa dia sangat dingin dan keras padaku. Bagaimanapun, itu hanya karena dia tidak tahu harus bersikap lembut dan mengayomi.


Dan ya, kemungkinan besar itu disebabkan oleh cara mengasuh yang dilakukan oleh cabang utama keluarga Asha, Bel, Eal, dan Tal memiliki perbedaan satu sama lain. Sikap inilah yang dapat kuharapkan dari seorang cabang Eal sepertinya.


Kami berbicara beberapa hal lain, yaa sesuatu yang lebih intim selayaknya seorang ibu dan anak. Bagaimanapun, dia telah sepenuhnya menjadi sosok ibu sejak aku berumur lima tahun.


"Jadi Reena, Aarav akan pulang juga tahun ini."


Dan aku memiringkan kepalaku karenanya. Kenapa tiba-tiba beralih ke topik ini? Tapi Kak Aarav, ya?


"Agak jarang mendengarnya pulang saat tahun baru."


Pantas saja sekarang sangat ramai.


"Hah ... sepertinya jalannya akan masih panjang."


"?"


"Bagaimanapun, beristirahatlah. Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh bukan?"


"Ya."


"Alissa, kenapa kamu hanya bermalas-malasan?"


"Uhhh. Aku lelah Kak."


Tidak mungkin dia lelah hanya karena membawa arang bawaanku, jadi—


"Yaa, apa itu karena belajar untuk ujian?"


Bahkan jika sistem pendidikan saat ini menitik beratkan pada keterampilan praktis dan tidak hanya nilai pemahaman (teori), tapi nilai pemahaman juga penting. Itu seperti ini bagaimana kamu mengenali diri sendiri tentang sejauh apa kamu dapat berbuat.


Yaa, bagiku sendiri, dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat kupahami dengan tepat terasa agak menakutkan.


Terlebih, nilai memang tidak semua tapi itu dapat menjadi kesan pertama orang lain tentangmu, oke?


"Tidak. Aku mengambil jurusan pendalaman ESP jadi itu tidak akan banyak membebaniku," jawabnya lemah. "Aku hanya terlalu lelah bermain EFO."


Ya? Kenapa bisa?


"Al, berapa lama kamu bermain dalam sehari?"


"Umm ... mungkin hanya sekitar sehari penuh ...?"


Yaa? Jangan bilang ....


"Itu dalam waktu game bukan?"


Aku melihat Alissa berkeringat dingin, berusaha memalingkan wajahnya dariku dan menjawab, "Mau— mungkin ...?"


Baiklah. Jawaban apa itu? Apa dia ingin berkata sesuatu sebelum diralat?

__ADS_1


Aku mengetuk ringan kepala Alissa untuk membuatnya tersadar akan kesalahan yang dia lakukan. Mau dilihat dari mana pun itu berlebihan.


"Bagaimana Ibu dapat bertahan dalam hal ini ...."


Tidak. Apa dia telah memilih untuk menyerahkan pilihan sepenuhnya pada Alissa? Tapi dari sifatnya itu tidak mungkin kecuali dia telah sedikit menyerah atas putrinya ini.


"Jadi, Kakak berada di mana sekarang."


Alissa bertanya, berusaha mengalihkan topik pembicaraan sembari terus mengelus kepalanya. Apa memang sesakit itu? Yaa, terasa tidak mungkin apalagi dengan tubuhnya itu. Mungkin dia hanya sedikit mendramatisir keadaan.


“Di EFO, bukan?”


“Um.”


"Masih di Kota Houra."


"Eehhh! Padahal aku telah berusaha mati-matikan untuk keluar dari Lorentz Kingdom tahu!" jawabnya sedikit histeris.


"Ya, yaa, Kakakmu ini terharu mendengar perjuanganmu itu."


"Ta-tapi kenapa Kak Rere terlihat menyeramkan sekarang," gumamnya lemah tapi masih dapat ditangkap olehku.


Menakutkan, ya?


"Kamu harus sedikit perhatian pada pendidikanmu tahu."


"Tapi Kakak saja dapat baik-baik saja meski hanya lulusan SLTP."


"Alissa, kamu tidak perlu mencontoh bagian itu bukan?" suara itu terdengar dari samping. Yaa, ibu telah kemari. Mungkin segera mencari Alissa setelah melihat bahwa dia tidak ada di ruangannya.


"Tapi Kak Rere saja bisa melakukannya."


"Jangan jadikan Kakakmu sebagai contoh patokan."


Aku mengangguk setuju atas hal ini. Yaa, aku memang bukan contoh yang tepat untuk ditiru.


Pendidikan itu penting tahu. Yaa, meski memang benar aku bukan orang yang tepat untuk memberi nasihat tersebut karena aku memilih tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SLTP.


"Kamu tahu Kakakmu orang yang keuangannya telah stabil sejak berusia enam tahun bukan?"


"Tapi ...."


"Juga, Kakak Reenamu ini benar-benar telah mandiri sejak sembilan tahun dan melepaskan posisinya di keluarga bersama dengan kepergiannya dari kediaman ini. Dan kamu? Kamu malah memanfaatkan itu semaksimal mungkin untuk dapat bermalas-malasan, bukan?"


"Uhh ...."


Aku melihat ibu menggelengkan kepalanya sedikit sebelum menatapku. "Reena, bisa kamu ajari dia beberapa teori yang berkaitan dengan ESP?"


"Yaa boleh saja tapi Ibu tahu 'kan bahwa aku lebih menguasai ISP?"


"Bukankah dasarnya sama?"


Yaa, benar juga sih.


Aku melihat ibu tertawa kecil dan menatap Alissa dengan sebuah senyum. Senyum yang sangat lembut hingga terasa menakutkan.


"Jadi Alissa, silahkan nikmati waktu dengan Kakak Reena tersayangmu ini."


Dan itu pun membuat Alissa sedikit jatuh setelah mendengar itu. Pertemuan ini benar-benar tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


Sekali lagi, kamu mendapatkan bela sungkawa dariku, adik bandel nan malang.


———

__ADS_1


Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?


__ADS_2