
Augusta menyerbu ke arahku. Tubuhnya yang berbentuk seperti potongan-potongan puzzle yang dipaksakan menjadi satu mengisi secepat yang dia bisa dan tinju itu mulai terangkat.
Grak!
Sayapku mengepak, mendorongku mundur menghindari serangan itu, lebih cepat daripada menggunakan kakiku. Yaa, operasi semacam ini sulit karena secara sadar aku merasa asing dengan sayapku, tapi kesadaranku yang terus melakukan ekspansi berusaha mengisi celah pola itu.
Setidaknya ini lebih mudah daripada harus berlari dan menyesuaikan diri dengan keseimbangan baru, ya.
"Mana Bullet!"
Tembakan dengan aktivasi Mana Break dilakukan, menggores tubuh Augusta, membuat potongan-potongan mayat yang membangun tubuh terpencar. Namun, dengan segera cairan seperti benang muncul keluar, menarik potongan-potongan baru kembali mengisi tempat kosong.
"Sepertinya serangan harus bisa menghancurkan tubuhnya dalam area luas, ya," gamamku.
"Dasar ...! DHAMPIRE!"
Ya, ya, ya. Aku juga sudah muak denganmu, tahu.
Aku mengambil tongkat besi dari kantong penyimpanan yang kumiliki sebelum melemparkannya jauh. Membuat kondisi penurunan kecepatan yang kuderita menghilang. Yaa, di sini tidak terdapat makhluk lain selain kami jadi aku tidak perlu khawatir itu akan diambil orang.
Casting beberapa mantra mulai kulakukan, sementara itu Augusta mencoba mendekat. Entah itu karena kemampuan tubuh yang dirasukinya (gerombolan laba-laba tikus) atau memang kemampuannya sendiri. Yaa, tubuhnya kini tidak terbatas pada apa yang kulihat, bahkan jika tubuh itu hancur, selama bahan penyusunnya (mayat laba-laba tikus) tidak hancur hingga menjadi bubuk itu masih akan dapat kembali.
"Ini menyebalkan." Aku mengayunkan tongkat besi untuk menghalau lemparan mayat laba-laba tikus. Kuda-kudaku sedikit aneh demi menjaga keseimbangan tapi itu dapat diabaikan.
"Higher Magic. Strengthen Damage!"
Bola-bola kabut mana besar dengan Primal Curses • Decomposition di dalamnya menghantam tubuh Augusta, meruntuhkan tubuhnya tapi itu tidak dapat membuat banyak perubahan.
"Hal semacam ini tidak akan berguna bagiku lagi, Dhampire!" Dia hanya berteriak marah, membentuk kembali tubuhnya dan menyerangku.
Beberapa potong mayat laba-laba tikus kembali terangkat di udara sebelum melesat ke arahku seperti proyektil. Menghujani diriku tanpa henti. Mengepakkan sayap, aku terbang ke udara tapi gerakanku agak kaku. Yaa, ini menyebalkan.
"Mana Board."
Papan Mana transparan muncul, mengambang dan mengangkatku. Ini membantuku untuk mengakali kakunya gerakanku.
Tembakan demi tembakan Augusta lakukan. Dia tidak terburu-buru mengejarku seperti sebelumnya dan hanya menembakkan proyektil dari mayat laba-laba tikus ini. Bahkan jika itu terlempar sangat jauh, itu akan seperti besi yang ditarik ke magnet dan kembali.
Yaa, sederhananya Augusta memiliki persediaan peluru yang dalam hal kemungkinan bisa jadi tidak terbatas.
Lingkaran sihir hijau jeruk nipis mulai tergambar di sekitarnya, tersusun dengan cepat sebelum melemparkannya ke arahku.
"Ray of Venom!"
Aku mundur, tidak berani mencegat mantra secara langsung. Tapi—
"Poison Bullets!"
Augusta segera meluncurkan mantra lain, membuat peluru-peluru racun meluncur padaku dengan cepat, menghujani diriku.
__ADS_1
"Defense Correction. Higher Resistance. Damage Absorption."
Dan yaa, aku hanya dapat bertahan dalam waktu ini. Lebih baik tidak terlalu banyak bergerak, dengan keseimbanganku yang jauh berbeda dari sebelumnya dan aku yang belum terbiasa, peluang terjadinya kesalahan akan melambung tinggi.
... Apalagi dengan gerak refleksku yang tidak dapat diharap.
Sayapku mengepak saat merasa diriku berada di batasnya, berusaha menjauh dari serbuan mantra Augusta.
"Ini menyulitkan."
Yaa, baru enam menit sejak pertempuran dimulai dan aku harus menjaga lebih banyak daripada Augusta yang dapat menyerang dengan leluasa.
"Increase Speed."
Sayapku mengepak dengan cepat mengikuti keinginanku. Aku telah dapat mengendalikan ini lebih fleksibel daripada sebelumnya, termasuk menggunakannya sebagai perisai yang menahan beberapa peluru racun. Beruntung atau tidak, sayap ini memiliki tingkat resistensi lebih tinggi daripada tubuhku sendiri.
"Aku harus menyerang juga, jika seperti ini aku akan terlalu pasif. Tapi Primal Curses • Decomposition bahkan hampir tidak berguna sama sekali."
Apa itu karena materi yang membangun tubuh Augusta adalah bagian mayat laba-laba tikus yang lolos dari pelapukan alami?
Yaa, mungkin itu penyebabnya. Kekuatan mengerikan Primal Curses • Decomposition yang pernah membuatku takut tidak dapat ditunjukkan. Itu hanya dapat menghancurkan benang yang merekatkan tubuh Augusta, tapi selama bagian tubuhnya masih ada, tidak mungkin dia dapat jatuh.
Sepertinya Decomposition ini lebih berbahaya bagi makhluk hidup daripada benda mati.
"Jadi—"
"Strengthen Damage."
Bola kabut mana kuning keunguan kulemparkan. Tidak perlu sesuatu yang besar, lihat dulu apakah itu efektif sebelum melanjutkan dengan ini.
"Diamlah dan hancur Dhamp—' rid!"
Dan yaa, sepertinya itu efektif. Bahkan itu menghentikan tembakan mayat laba-laba tikus yang terus dia lakukan.
Jadi ya, kumpulkan banyak kabut mana untuk membuat bola kabut mana besar sebelum bola mana itu berubah warna menjadi kuning keunguan. Primal Bleses • Anti-Espirit, ini adalah sesuatu yang sepertinya tidak dapat dilawan di tingkat ego.
Dan yaa, saat aku berusaha mengendalikan tubuhku sendiri sebelumnya, gerakanku menjadi sangat kaku saat menghapuskan ego-ego itu dengan ini.
Aku berpikir mungkin saja ini adalah sesuatu yang menghalangi tindakan ego. Dan tanpa ego tidak mungkin sebuah tubuh akan dapat bergerak. Yaa, tubuh akan jatuh ke keadaan vegetatif.
Jadi—
"Strengthen Damage."
Aku melepaskan bola kabut mana besar pada Augusta.
"Dasar Dhampire!" raung Augusta.
Sepertinya dia telah kembali.
__ADS_1
Augusta mulai menyingkirkan diri— bagian dari tubuhnya yang berada dalam jangkauan serangan bola kabut mana besar. Namun, tidak semua dapat lolos dan beberapa mayat laba-laba tikus terlepas dari kendalinya.
Ini saatku.
Yaa, aku meluncur jatuh. Mengayunkan tongkat besiku dan menghancurkan bagian tubuhnya yang terlepas sekecil mungkin.
"Poison Mist."
Augusta melemparkan mantra lain dari tubuhnya yang bergerak seperti gelombang laut. Menimbulkan kabut kehijauan yang berembus dari arahnya.
"Higher Resistance."
Tidak ada waktu untuk membuat bola kabut mana besar. Jadi aku membuat bola-bola mana biasa dan melemparkannya ke arah Augusta. Aku tidak tahu ego siapa yang lebih terluka di dalam sana, tapi, yaa hanya ini yang dapat kulakukan.
Sayapku mengepak, mengangkat tubuhku ke udara dan menjauh dari kabut beracun. Bagaimanapun kabut adalah sejenis uap air dan tentu itu lebih berat daripada udara normal, lebih aman berada di atas—
"Ray of Venom!"
Atau itulah yang kupikirkan sebelum serangan dari Augusta hadir seolah telah menebak apa yang akan aku lakukan.
Sayapku terlipat, membungkus seluruh tubuhku. "Defense Correction. Damage Absorption!"
Dua mantra pertahanan kuberikan.
Aku tidak tahu apakah ini dapat menahan serangan ini tapi lakukan apa pun yang bisa dilakukan, diriku. Dan inilah yang dapat kuberikan, ya.
Sinar itu menghantam tubuhku secara langsung, mendorongnya mundur. Aku melihat bar HP-ku jatuh dengan cepat dengan kondisi keracunan sedang yang terus menumpuk.
"Mana mungkin aku akan membiarkanku jatuh semudah ini!"
Aku menggunakan Primal Curses • Rebirth. Menyebabkan suara-suara samar kembali tumbuh di kepalaku, tekan mereka dengan Anti-Espirit lalu arahkan ego-ego itu untuk menyembuhkan diriku.
Sebelumnya saat aku hanya sebagai tubuh roh, ego-ego samar itu menyembuhkan tubuhku (roh). Jadi, yaa mungkin saja ini dapat berhasil.
Tapi ternyata tidak banyak membantu selain mengisi kembali nilai Satiation. Jadi aku menekankan aktivasi Increase Healing, Skill peningkatan regenerasi HP yang telah kumiliki sejak awal. Memakan nilai Satiation lebih jauh sementara bari HP mulai beradu, naik dan turun sepertinya rollercoaster.
Sekarang mungkin terlihat seperti menahan kebocoran hanya dengan perekat tapi jika aku dapat bertahan aku akan dapat melawan balik. Yaa, mungkin.
"Itu hampir," kataku lemah dengan napas terengah-engah. Jika saja aku tidak menggunakan Primal Curses • Rebirth nilai Satiation-ku tidak akan cukup.
[Seluruh kondisi kemajuan telah terpenuhi]
"Sekarang tidak perlu menahan diri lagi, kan?"
———
Jangan lupa tinggalkan like, komen agar saia terus semangat. Oh yaa, share dan fav juga oke?
Chuuuuu!
__ADS_1