
Aku terus menatap tubuh Augusta yang terus menerus melapuk di depan mataku. Tiap tetes daging dan darah terus luruh dari tubuhnya. Yaa, tubuhnya sendiri juga benar-benar tidak dapat dikenali lagi sebagai bentuk manusia, kakinya telah bengkok dengan persendian yang terbalik mirip seperti kaki kucing.
Yaa, jika saja aku tidak melihat bahwa dia sebelumnya berwujud manusia —meski tidak sepenuhnya karena memiliki sayap kelelawar. Aku akan ragu apakah dia itu Vampire atau hanya monster.
Dengan empat lengan, dua secara teknis dihitung sebagai sayap dan berbentuk bengkok, dia benar-benar sesosok monster bersama kakinya itu.
Selagi aku memikirkan itu, badai kecokelatan terus mengamuk. Itu berasal dari bola kabut mana, yaa, benar-benar serangan normalku yang biasanya.
Namun, jumlah mana yang dipasok benar-benar telah melampaui apa yang dapat aku lakukan bahkan untuk beberapa waktu ke depan, ya.
Total MP-ku sendiri sekarang telah mencapai 600. Juga, aku menghabiskan sekitar 46 ... 49 (?) potion yang kuambil dari beberapa pemain dan Penghuni dengan nilai pemulihan tetap sekitar 100 hingga 500 MP tergantung kualitasnya.
Semua itu kuhabiskan untuk satu serangan. Jika menghitung jumlah mana yang secara total telah kuhabiskan, mungkin itu akan mencapai titik delapan atau sepuluh ribu. Aku tidak menghitungnya sama sekali.
"Mengendalikan mana sebesar itu benar-benar melelahkan, yaa."
Bahkan sekarang kepalaku masih agak sakit karena kelelahan mental. Itu benar-benar menguras semua pikiranku, yaa sudah lama sejak terakhir kali aku merasa seperti ini.
Mana Power, itu adalah Skill yang meningkatkan jumlah kerusakan sebesar 1% per 2% mana berlebih dari biaya asal. Dan yaa, Skill ini juga merupakan dasar dari semua tindakan ini.
Aku ragu apakah aku akan melakukan itu lagi bahkan jika terdapat kesempatan. Selain jumlah mana, juga terdapat jeda penggunaan tiap potion sekitar 20 detik sampai 1 menit tergantung kualitas, jika itu lepas, aku tentu akan dipastikan tewas.
Yaa, ada beberapa hal lain seperti aku yang harus keluar untuk memancing Augusta mendekat.
"Sebab itu pulalah aku harus keluar dari tempat persembunyian," gumamku letih.
Aku tak akan dapat menggerakkan bola kabut mana sebesar itu dengan kecepatan normal apalagi lebih cepat. Bahkan, setelah memutarnya untuk menambah kecepatan dan juga menerapkan mantra pendukung, aku ragu ini akan berhasil jika Augusta tidak mendekat, ya.
Lalu untuk apa pernyataan sebelumnya? Uhum. Itu adalah formalitas dari Role Play-ku, jika aku tidak melakukannya maka sama saja tidak mendalami karakter .... Baik, oke, yaa secara jujur aku hanya ingin membuang kelelahan yang terkumpul selama ini ....
"Bagaimanapun, yaa semua berakhir bahagia. Happy end. Jadi tidak ada masalah."
[Anda telah membunuh Ramber Von Augusta]
[Anda telah membunuh Fioni]
[Anda telah membunuh Gane]
[Anda telah membunuh Tean Mark]
....
__ADS_1
Yaa, dering demi dering pemberitahuan terus terdengar. Mari kita tutup untuk sekarang, itu semua benar-benar mengganggu telingaku karena terlalu banyak untuk dicermati satu persatu. Bukan tidak mungkin, tapi aku terlalu lelah untuk pekerjaan lebih.
"Meski begitu, efek dari Primal Curses • Decomposition benar-benar hancur, ya." Aku tak dapat mengalihkan pikiran ke hal lain lagi selain itu, apakah itu jenis serangan yang mengabaikan pertahanan? Aku juga tidak tahu dengan pasti untuk sekarang.
"Bagaimanapun. Yaa, Master, tolong sembunyikan Muridmu ini."
"Baik-baik."
Walau Megaera menjawab dengan setelah hati, dia masih menuruti kemauanku. Sungguh, dia kini bersikap sangat baik. Terutama karena benar-benar tidak menggangguku sewaktu mempersiapkan semua itu dan mengatasi beberapa gangguan yang sepertinya muncul di belakang layar.
Aku mendekati mayat Augusta sebelum para pemain lain mendekat. Untuk apa? Tentu mengambil beberapa Item drop— yang secara langsung merupakan barang yang ditinggalkan— sebelum pemain lain mendekat.
Efek dari Higher Resistance, mantra yang terbuka setelah Enhancement Spells mencapai level 9 hampir habis jadi aku harus cepat. Yaa, mantra ini meningkatkan tingkat resistensi terhadap kondisi abnormal.
Aku langsung menenggelamkan mayat Augusta ke dalam kantong inventaris, tidak melihat-lihat terlebih dahulu. Yaa, mau berapa kali pun aku melihatnya, memasukkan berbagai hal besar ke dalan kantong sekecil ini benar-benar ajaib.
Tentu aku tidak akan menilai semua ini di tempat, oke? Dengan banyaknya orang yang masih hidup, itu hanya mencari mati. Mari kita menjauh untuk sekarang.
Aku pergi dari tempat ini segera, tidak perlu khawatir dengan Satiation. Aku juga telah mengambil beberapa makanan layak dari mereka. Siapa mereka? Kamu pasti tahu.
Yaa, seperti yang pernah dijabarkan, konflik adalah salah satu katalis kemajuan.
Tapi ya, orang waras akan memilih untuk menghindari konflik. Dan tentu aku waras, bahkan setelah menghitung bahwa aku berpotensi bermusuhan dengan Kota Houra, aku masih waras. Benar-benar waras.
Aku akhirnya sampai di tempat tujuanku berada. Jika bertanya di mana, tentu di pinggir sungai. Aku masih belum menyelesaikan penyamakan kulit tikus ‘kan?
Terjun ke sungai, aku akan mencuci kulit tikus sebelum Megaera memanggil.
"Kenapa dirimu masih melakukan itu? Bukankah dirimu memiliki beberapa item layak berkat apa yang dirimu lakukan sebelumnya?"
Eh? Uhm, aku memang mengambil beberapa item, tapi apa memang sebanyak itu? Yaa, bagaimanapun—
"Aku hanya ingin mempelajari ini sedikit lebih jauh. Master, bukankah ini AJARAN-mu?"
Mari bantah dia. Jika aku mengalah, aku akan merasa kalah. Yaa, secara teknis aku memang kalah jika mengalah 'kan?
"Tapi bukankah itu hanya alasan dirimu agar dapat lepas dari rasa malu?"
"Jelas bukan!" bentakku.
"Hehhe, ekspresi menyenangkan dari dirimu telah kembali lagi."
__ADS_1
Baiklah. Kembali ke aturan dasar saat menghadapi Megaera, jangan pernah membalasnya atau kamu akan merasa lebih kesal.
"Hei ...."
Baik. Abaikan. Yaa, ya ... anggap saja seekor nyamuk. Mari fokus pada penyamakan.
"Halooo ... Muuriiid ..."
Gosok bagian kiri. Oh, yang kanan juga belum sepenuhnya selesai.
"... Muuriiid ... oh, Muuriiid ..."
Humm? Sepertinya kulit ini telah bersih, ya? Mari keringkan sekali lagi.
"... Nee ... Muriiid ... Mastermu memanggiiil ..."
Yaa, aku agak bosan menunggu seperti ini.
"... Hei ... dirimu mendengarku bukan? Heiii ...."
Yaa, apakah masih lama?
"... Hei ... Dirimu mendengarnya 'kan ...?"
"Itu menakutkan jadi tolong hentikan!" teriakku.
Apa kamu seorang stalker? Itu benar-benar seperti sebuah teror, Megaera. Apakah etika itu tidak kamu pelajari? Oh, maaf, jika kamu mempelajarinya kamu tidak akan semenyebalkan ini.
"Hehehe. Diri ini menang."
Oke, dia benar-benar hanya sedang ingin bermain. Yaa, apakah kamu tidak memiliki pekerjaan? Bukankah biasanya kamu selalu menghilang seperti hantu tanpa kusadari, ya?
Yaa?
Aku mendengar semak-semak bergoyang dan mengalihkan perhatianku ke arah sana. Oke, Megaera telah menghilang seperti biasanya. Sungguh waktu yang tidak tepat. Seperti yang diharapkan dari Mas-ter, ya.
Aku menyiagakan diriku dengan cambuk di tangan kananku. Tentu semua peralatan yang kuambil sebelumnya telah disimpan dalam inventaris. Aku tidak ingin secara tidak sengaja bertemu 'mantan' pemilik dan menjadi buruan.
Saat aku siap mengayunkan cambukku kapan saja, aku melihat seorang pemuda dengan rambut pirang kecokelatan mendekat dengan busur di tangannya bersama seorang wanita berambut kebiruan.
Tunggu, bukankah mereka yang membunuhku terakhir kali?
__ADS_1
———
Jangan lupa tinggalkan like, komen agar saia terus semangat. Oh, share dan fav jangan sampai ketinggalan jika suka ya.