Soul Monarch : Eclipse Feast Online

Soul Monarch : Eclipse Feast Online
Beberapa Keberuntungan, Mungkin Lebih


__ADS_3

Orang itu berteriak keras, melindungi kepalanya seolah ingin berlindung dari sesuatu. Dia berguling di tanah bersama rintihan yang bocor seolah telah disakiti secara parah. Menyebabkan keributan bercampur tanda tanya bagi banyak pihak.


"A-apa yang kamu lakukan?!" teriak rekan orang itu sembari mengangkat senjatanya ke arahku.


Yaa, abaikan saja.


Ini adalah saat yang tepat untuk keluar dari sini. Berpikir demikian, aku mengambil tas itu dari tangannya dan menarik anak kecil (?) —yang masih kebingungan— itu keluar dari tempat ini.


Beberapa rekannya mencoba menghadang, tapi orang itu sendiri terus bergerak dan berteriak keras. Mengganggu rekannya.


Sebab itu pula kami dapat keluar dengan langkah dengan cepat.


“Awas saja! Kami tidak akan melupakan ini tahu!” Aku melihat ke belakang saat mendengar teriakan itu, tapi sepertinya mereka tidak kami lebih jauh, ya.


Menggunakan hal itu tampaknya memanglah cara tercepat. Huhuhu, Primal Curses memang menakjubkan.


"Te-terima kasih banyak.” Dia berkata setelah aku mengembalikan tas itu padanya.


"Um. Sama-sama," jawabku sambil sedikit mengamatinya.


Dia adalah anak kecil (?) dengan tinggi sekitar 130-an cm dan rambut coklat kemerahan dan warna kulit sawo matang. Selain itu, dia adalah laki-laki ...? Ti ... dak? Mungkinkah wanita? Uhh, yaa, wajahnya benar-benar netral hingga sulit untuk ditentukan.


Ini akan sedikit menjadi misteri.


Yaa, bagaimanapun tidak sopan pula menanyakan gender pada orang lain. Jadi, anggap saja gendernya adalah jenis khusus, diriku.


Dia terlihat menggumamkan sesuatu saat aku terus memikirkan hal tidak berguna ini dan sekali lagi berterima kasih dengan sedikit gugup.


Apa dia takut padaku karena apa yang kulakukan sebelumnya? Itu bukan hal besar dan aku hanya menggunakan metode yang sangat-sangat sederhana, jadi mungkin tidak. Mungkin.


Dan yaa, sebenarnya ini adalah bentuk terima kasih dariku jadi tidak perlu untuk berterima kasih kembali sebegitunya juga. Ini hanyalah sebatas hal yang wajar 'tuk dilakukan, bukan?


Baiklah. Yaa, saatnya pergi dan melanjutkan apa yang ingin kulakukan sebelumnya tapi ...


"K-kalau boleh tahu apa yang ingin Anda lakukan hingga ke daerah ini?"


... Sekali lagi, dia membuat langkahku terhenti.


Itu bukan hal yang luar biasa khusus jadi aku kira baik-baik saja untuk dapat mengatakan apa yang sebenarnya.


"Yaa, aku hanya ingin membeli beberapa peralatan."


"B-bolehkah aku membantu Anda?"


Hmm, yaa, karena dia tampak lebih tahu kota ini daripadaku maka ...


"Baiklah."

__ADS_1


... Aku pun mengangguk dan menerima tawaran tersebut.


"Juga, panggil saja aku Dirae."


"M-maaf aku, aku belum memperkenalkan diri ..."


Dia sedikit tertunduknya malu. Mengangkat tangan kanannya dan memperkenalkan diri. Akhirnya akan ada petunjuk dari gendernya. Tapi—


"... Aku Ova, Ova Mondo."


Ova 'kah? Jadi apakah dia wanita? Tidak, nama Ova masihlah nama netral menurutku. Jadi status gender khusus masih bertahan, 'kah ...?


Dengan apa pun pikiran aneh yang tengah berkecamuk di kepalaku, aku menjawab, "Yaa, salam kenal. Ova."


"Jadi ... apa yang Nona Dirae sedang cari."


"Yaa, aku tidak ingin mencari senjata sesuatu yang lain seperti baju, tapi ...."


"Ada apa Nona Dirae?"


"Kenapa kamu memanggilku 'Nona'?"


Yaa, itu agak mengganggu bagiku tahu. Aku menang sering mendengar kata itu keluar dari mulut Mireille, tapi di EFO ... kurasa ini baru pertama kali dalam percakapan normal.


Aku melihat Ova menundukkan kepalanya, menautkan jari jemarinya seolah kesulitan untuk mengungkapkan alasan dibalik hal itu hingga ...


... Dia memilih mundur dan tidak memberitahukannya padaku.


"Yaa, lupakan saja. Ngomong-ngomong, kita akan ke mana?"


Itu benar, prioritas khusus hari ini adalah mencari baju baru! Mari bersiap untuk petualangan ini, diriku.


"Tunggu sebentar Nona Dirae." Ova berkata saat dia tampak memeriksa apa pun yang ada di dalam tas tidak rusak atau hilang.


Yaa, biarkan saja. Atau itulah yang ingin kulakukan tapi—


"Jadi, apa yang Nona Dirae inginkan dari pakaian itu?" Dia mulai bertanya dengan sebuah buklet kecil di tangan.


Apa yang akan dia lakukan?! Itu yang ingin kukatakan tapi jawab saja hal pertanyaan ini dulu. Aku merasa ini penting.


"Ini sedikit agak tidak biasa tapi yaa, ada beberapa aspek," kataku sebelum mulai menjelaskan.


Satu, itu haruslah peralatan yang ringan. Jika terlalu berat itu akan memengaruhi kecepatan gerakku. Yaa, kecepatan gerak terkait erat dengan kemampuan menghindar (di samping kemampuan pemain) dan itu penting bagiku. Jika aku tidak menghindar, maka aku akan langsung selesai dengan pertahanan fisik yang tak dapat diharapkan ini.


Dua, peralatan itu nantinya haruslah kuat dan tahan lama. Yaa, walau peralatan dalam EFO akan tetap diganti secara berkala menyesuaikan Power Level pengguna, tapi aku ingin memiliki peralatan yang tidak akan hancur di tengah pertempuran.


... Yaa, membayangkan hal semacam itu benar-benar terjadi cukup menakutkan, oke?

__ADS_1


Dan terakhir, akan sangat bagus jika setidaknya warna peralatan itu dapat dikostominasi. Bukan keperluan utama, hanya minat pribadiku saja jadi ini dapat diabaikan jika memang tidak mungkin.


"Jadi itu adalah sebuah peralatan ringan ...," gumamnya lirih setelah mendengar peralatan macam apa yang kuinginkan sebelum mengeluarkan sebuah bola abu-abu kehitaman dari dalam tas dan menyerahkannya padaku.


Ini bijih besi bukan?


"Apa seberat itu tidak apa-apa?"


"Hmm? Yaa, ini cukup ringan jadi kurasa baik-baik saja."


Dan sekali lagi, aku melihat Ova berpikir sesaat sebelum memimpin jalan.


"Baiklah. Lebih baik kita ke sana sekarang."


Dan berkata demikian sebelum berbelok ke kiri dan aku mengikutinya.


Aku melihat ke sekeliling. Jalan yang kami lalui sangat sepi, benar-benar senyap seolah nafas kehidupan mulai meninggalkan tempat kita menuju.


Yaa, kurasa ini bukan hanya ilusiku saja. Aku dapat melihat perkampungan kumuh saat berjalan dengan jumlah tatapan mata yang tertuju pada kami terus bertambah.


Yaa, Ini jauh lebih gelap dan sepi. Dan menimbang dasar motif yang ada, tingkat tindak kriminal di tempat ini mungkin akan jauh lebih tinggi daripada tempat sebelumnya.


Baiklah. Berjaga-jaga saja jika mungkin akan terjadi sesuatu.


Dan ...


Tring tring!


... Bel berdenting saat Ova membuka pintu di salah satu sudut bangunan.


Terlihat bahwa tidak ada papan nama apa pun di atas rumah maupun etalase dari kaca seperti di jalan utama kota. Yaa, jangankan hal semacam itu. Bangunan ini sendiri bahkan tidak memiliki jendela, membuatnya memiliki kesan terisolir dari dunia.


Akan tetapi, tatapan yang aku rasakan sebelumnya mulai memudar setelah aku berada di tempat ini.


Mungkinkah ada sesuatu di sini?


Dan saat aku masuk, aku disuguhi hal mengejutkan. Aku melihat bahwa beberapa peralatan, baik itu senjata, baju, maupun aksesori diletakkan berjejer rapi di dinding. Selain itu, varietasnya cukup menakjubkan.


Mulai dari senjata umum seperti pedang hingga sesuatu seperti gada, baju pelindung berbahan logam maupun berbahan kain, dan aksesori normal berupa cincin atau hanya sekedar penjepit rambut pun terdapat di sini.


Apa ini surga tersembunyi? Terlebih, murah!


Itu yang kupikirkan saat melihat harga barang-barang ini. Mungkin sekitar 20-30% lebih rendah daripada apa yang ada di jalan utama?


"Kukira siapa yang datang ternyata itu kamu, Ova," suara seorang lelaki tua segera terdengar. "Oh? Kamu membawa orang lain, siapa dia?" sambungnya.


———

__ADS_1


Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?


__ADS_2