
Kembali ke posku setelah menyelesaikan para Shade, aku memperkuat hubungan Spirit Connection dengan Megaera dan akhirnya, aku ditarik masuk ke dunia mental Deira oleh Megaera sendiri.
Aku melihat Megaera sejenak. Seluruh tubuhnya masihlah transparan yang menandakan itu semacam bentuk roh dengan warna ungu, tapi kini dia tidak terlihat sebagai nyala api melainkan bayangan dirinya saat masih hidup.
Yaa, aku dapat tahu karena ... oke, itu tidak layak disebut.
"Yaa, Mega," sapaku ringan.
Dia mengangguk singkat sebagai jawaban sebelum berkata, "Kemarilah."
Dan mulai berjalan ke arah mana pun itu. Yaa, ikuti dia.
Melihat ke sekeliling, dunia mental dari Deira terlihat seperti aula luas yang dihubungkan dengan lorong-lorong panjang serta jeruji besi yang terlihat di dinding. Baik itu kontur dinding maupun menggantikan apa yang seharusnya menjadi pintu.
Bukankah ini terlihat lebih menakjubkan daripada Areopagos?
Yaa, Areopagos sendiri terlihat sedikit buruk karena banyaknya bagian kotor yang belum bersih, jadi aku yakin itu akan lebih baik nantinya. Pasti akan lebih baik daripada ini.
"Yaa, Mega. Apa dunia mental seseorang memanglah selalu seperti ini?" tanyaku tiba-tiba.
Ini adalah kali pertama aku benar-benar masuk ke dunia mental. Yaa, untuk sebelumnya aku hanya seperti merasakan diriku sendiri dan sekelilingnya, bukan menjelajah seperti ini. Jadi, tidak ada salahnya penasaran bukan?
"Dalam hal mental memang begitu, itu selalu memberi beberapa perasaan aneh bagi orang lain. Tapi asal dirimu tahu, semua dunia mental tidaklah serupa dan bahkan apa yang dirimu lihat sekarang berbeda jauh dari apa yang diri ini miliki selama masih hidup."
"Begitukah? Kalau begitu apa yang kamu lihat saat berada dalam tubuhku?" Jika dipikir sedikit lebih jauh, itu berarti dia selama ini tinggal di dunia mentalku bukan?
Namun, tidak terdapat jawaban apa pun yang dapat kutangkap. Hanya kesunyian yang mengikuti.
"Mega?"
"Kenapa?"
"Aku bertanya dunia mental seperti apa yang kamu lihat—"
"Diri kita telah sampai, Dirae."
Dan dia berkata demikian untuk memotongku. Apa memang seburuk itu hingga kamu tidak mau untuk membahasnya, ya?
Bagaimanapun lebih baik menyelesaikan urusan segera karena sepertinya MP-ku terus terkuras perlahan selama berada di sini.
Menoleh ke arah yang ditunjuk, terlihat kumpulan Shade yang ditangkap sebelumnya di tempatkan dalam beberapa ruang berbatas jeruji besi.
Yaa, bukankah itu penjara? Terlebih terdapat total sepuluh bilik? Dan ... apa itu terus bertambah?
Mega, apa kamu ingin menjadi seorang sipir?
"Diri ini dapat menebak apa yang dirimu pikirkan, Dirae. Jika dirimu penasaran, ini diperlukan untuk tujuan diri ini, dan karena ini pulalah diri ini memilih bentuk sangkar saat menyusun vessel sebab dunia mental juga terpengaruh oleh tubuh dan roh itu sendiri."
Jadi begitu ya? Kurasa masih terdapat alasan lain tapi ... itu dapat dibahas nanti. Ughh, jika saja aku dapat membaca buku itu lebih jauh dan tidak hanya berhenti di bagian prolog karena kurangnya level Linguistic.
__ADS_1
Mengembalikan perhatian pada dua bilik yang terisi. Aku berhasil menemukan Shade yang dapat menggunakan sihir itu dan meminta Megaera memindahkan mereka berdua ke tempat terpisah.
Yaa, dia dapat melakukannya dengan mudah karena bagaimanapun, ini tubuhnya. Persis seperti bagaimana aku dapat memasang pertahanan berlapis seketika saat mencoba mempertahankan diri atas serangan Megaera yang ingin merebut tubuhku dulu.
Aku berpindah ke tempat di mana dua Shade itu berada (di bilik sebelah) dan memperhatikan mereka baik-baik.
Yaa, mereka mirip seperti Shade tapi seperti dugaanku. Mereka berbeda.
Rupa Shade mirip seperti hantu berbentuk bola cahaya pendar yang tubuhnya terus menjatuhkan serpihan ke bawah serta tiga titik berbentuk segitiga, berperan menjadi wajah (?) di tubuhnya. Yaa, aku menganggap itu tubuh karena baik leher, tangan, maupun kakinya tidak terdapat di sana sih.
Sedangkan dua hantu (?) ini, mereka sekilas mirip seperti Shade pada umumnya tapi mereka setidaknya memiliki tangan. Itu membuatnya lucu karena seperti anak-anak di hari Halloween.
Yaa, walau Great Republic of Asia (negaraku di real) tidak merayakannya juga sih.
Meski begitu—
"Ka ak woa ku nuh."
"Ma la woa se uga."
Keduanya benar-benar serupa Shade, tidak terdapat kesadaran pasti di sana. Yaa, kasus seperti Megaera di mana ego tetap bertahan sepertinya jarang sih.
Jadi, lebih baik lakukan Appraisal pada keduanya sekarang.
"Appraise."
[Wraith (hitam)
[Wraith (hitam)
Health Poin : 1.359 /1.742]
Hmm? Apakah mereka Wraith? Kalau begitu apa mereka berasal dari seseorang yang mati seperti Megaera? Tapi ...
"Mega, apa aku boleh menggunakan itu di sini?"
"Lakukanlah ala yang dirimu inginkan selama tidak merusak apa pun."
Aku mengangguk. Mulai mengaktifkan Primal Bleses • Anti-Espirit pada kedua Wraith itu. Membuat tubuh mereka seolah akan runtuh kapan saja.
Yaa, sementara itu, tanganku (atau Primal Bleses) mulai menggagap ego mereka. Membuat ego samar yang ikut bergabung selama roh pendendam lahir dihapuskan. Hanya menyisakan apa yang tampaknya merupakan ego utama, ego yang menjadi alasan roh pendendam terlahir.
Dia, yang telah mendapatkan kembali sedikit kesadarannya terlihat bingung tapi aku terus melanjutkan langkah. Primal Curses • Rebirth kugunakan untuk mengisi bagian yang hilang, tapi jangan lupa untuk menghapus ego samar yang berada di dalamnya.
Karena aku (secara fisik) berada di makam, tingkat konsentrasi Primal Curses • Rebirth sangat tinggi. Yaa, sepertinya kekuatan dari Primal Curses sendiri dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi dari Primal Curses di sekitar.
Bagaimanapun, aku menjadi semakin mahir melakukan ini berkat seringnya aku membantu Megaera mempertahankan rohnya dari pemadaman sebelum Deira tercipta.
Dan akhirnya selesai. Yaa, secara fisik mereka berdua telah menjadi lebih seperti manusia, kecuali tidak adanya kaki.
__ADS_1
Yaa, satu laki-laki dan satu wanita. Apa mereka pasangan? Untuk warna tubuhnya sendiri adalah putih transparan.
Benar-benar terasa seperti hantu, ya.
Mereka kebingungan, tampak seperti orang linglung dan tak dapat memikirkan apa pun untuk waktu lama. Yaa, apa aku telah melakukan sesuatu yang salah selama pemisahan ego?
"A-apa yang terjadi?! Di mana ini?" kata si wanita yang membuatku menghela napas lega.
Syukurlah. Sepertinya tidak ada sesuatu yang salah tapi—
"Katakan aku berada di mana sekarang, sialan!"
Kasarnya. Yaa, tidak perlu diambil hati karena mereka juga masih kebingungan.
"Jawab aku sekarang, sial!"
Hei, apa kamu tidak bisa sedikit tenang seperti si wanita? Apa ini perbedaan gender, ya? Tapi kakakku sendiri sangat tenang jadi tidak mungkin jika hanya didasarkan itu.
"Cepat jawab aku atau—"
"Yaa, coba camkan pikiranmu sejak dan ingatan apa yang terakhir kali kamu lakukan, oke," jawabku singkat.
Yaa, aku tidak tahu apa pun tentang mereka jadi biarkan mereka menelisik ingatan mereka sendiri. Terlebih, ini juga membuat mereka terdiam jadi pelecehan verbal itu tidak akan bertahan lebih jauh.
Ekspresi mereka berubah-ubah tiap detiknya. Dari mulai curiga, berpikir keras hingga beberapa ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Sialan!"
Dan akhirnya, satu umpatan lainlah yang dia katakan.
"Semua karena guru keparat itu!" teriaknya histeris.
"A-apa aku, kami telah mati?"
"Yaa, untuk hal itu aku dapat menjamin bahwa itu nyata," jawabku singkat.
Aku melihat mata (?) si wanita bercahaya seolah telah menemukan sesuatu yang luar biasa. Mendekapkan tangannya dan ...
"Kalau begitu apa Anda adalah Dewa?"
... Dia berkata demikian.
"Yaa?"
Sel otakku tersendat saat banyak tanda tanya muncul di atas kepalaku.
Yaa, kenapa kamu bisa memikirkan hal itu? Terlebih kenapa kamu bisa mengangguk seolah kamu telah sangat yakin?!
———
__ADS_1
Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?