
ESP (Estructure Provenance) dan ISP (Istructure Provenance). Keduanya adalah teknologi yang lahir akibat Perang Dunia Ketiga (PD III).
Yaa, seperti apa yang pernah kubilang, konflik dapat menjadi katalis kemajuan.
Perang itu sendiri sebenarnya tidak benar-benar memengaruhi masyarakat karena drone (peranti tanpa awak) telah menjadi satu unit pasukan infanteri kompleks dan bahkan dapat digunakan untuk mengoperasikan beberapa jenis kendaraan berat.
Dengan penggunaan virtual dive untuk kepentingan militer, manuver dan pergerakan tiap perangkat menjadi sangat dinamis meski masih dibatasi konsep pergerakan mesin.
Yaa, kecuali wilayah yang mana menjadi medan perang, kenyataan bahwa perang telah pecah terasa hanya kabar dari dunia lain saja. Namun, penemuan ESP dan ISP mendorong manusia, kami yang dapat menggunakannya dengan terampil untuk sekali lagi terjun ke medan perang.
Keduanya (ESP dan ISP) mampu mewujudkan apa yang manusia anggap sebagai kekuatan supernatural. Dan kini, 30 tahun setelah perang usai lanskap dunia telah berubah disertai perangkat untuk keduanya menyebar ke masyarakat di bawah pengawasan pemerintah, membuat reproduksi pengguna kekuatan menyebar luas.
Yaa, tetap saja. Keduanya tetap berlaku sebagaimana IPTEK atau seni bela diri itu sendiri, hanya mereka yang memiliki bakat dan kerja keras yang dapat mencapai level profesional.
Menutup sedikit penjelasan tentang sejarah keduanya, aku menatap Alissa. "Yaa, kamu pasti sudah tahu itu bukan, Al?"
"Tentu. Bagi kita yang merupakan keluarga Asha hal itu telah diajarkan sejak kecil 'kan Kak."
"Jadi sebutkan apa saja ilmu pengetahuan yang kembali hidup berkat keduanya."
Ahh, yaa aku dapat melihat ilusi bahwa asap mengepul dari kepala Alissa. Apa otaknya itu telah overheat?
Yaa, beberapa bidang ilmu seperti alkimia telah kembali hidup berkat keduanya dan sebaliknya pula, beberapa hukum fisika pun terbantahkan secara umum. Meski beberapa di antaranya masih diterapkan dalam mekanik.
"Halo, halo, apa sosok yang menggerakkan otak masih sadar di sana?"
"...."
"Al? Kamu ingin kukejutkan agar tersadar?"
"Aa, aaaa! Aku sadar Kak! Aku sadar!"
"Kalau begitu dengarkan aku baik-baik, Adik manis."
"Ya ...," jawabnya lemah.
Mengajarkan Alissa beberapa hukum baru yang tercipta akibat penemuan keduanya, aku berhenti setelah melihat tubuhnya seolah benar-benar mencair. Apa otaknya telah overheat sekarang.
Yaa, mari menghela napas untuk itu. Padahal aku hanya menjelaskan hal sederhana seperti hukum relativitas energi serta konsep enam dimensi. Hukum yang terkait erat dengan ESP dan ISP.
Mengambil dua gelas minuman hangat, aku pun memberikan salah satunya pada Alissa. "Minumlah."
"Iya, terima kasih banyak."
"Sungguh, aku penasaran dengan bagaimana kamu dapat masuk ke SMA-mu yang sekarang."
Kalau tidak salah SMA Satu Negara 'kan?
"Aa, mou! Lupakan tentang itu sejenak Kak!"
Tidak mau.
"Lebih penting daripada itu, kenapa Kakak masih berada di Kota Houra padahal aku telah keluar dari Lorentz Kingdom?!"
__ADS_1
"Yaa, hanya ada beberapa hal yang masih perlu di urus jadi aku terlambat."
"Kuharap Kakak tidak melupakan Adikmu ini."
Ya, ya, mana mungkin aku lupa jika kamu tiap hari mengingatkanku.
"Tapi aku cukup terkejut saat melihat jumlah pemain di sekitar kota. Sepertinya itu sangat padat ya," kataku mengingat kembali pengalaman saat ingin masuk kota.
"Itu wajar saja 'kan Kak. Dengan adanya pembatasan umur, pembelian Item dengan uang nyata maupun konversi mata uang game ke uang nyata dimungkinkan. Umur 17' kan umur standar di mana seseorang telah memiliki tanggung jawab atas tindakannya sendiri termasuk real money trading."
"Jadi jika kamu gagal ujian nanti itu salahmu sendiri bukan?"
"Kakak ...."
Oke, aku membuatnya berlinang air mata jadi hentikan itu diriku. Meski terasa menyenangkan, tolong hentikan.
"Tapi siapa yang membuat EFO, ya?"
Great Republic of Asia, United States of North America, United States of South America, West Europe, East Europe, serta Africa-Oceania Union.
Yaa, itu adalah enam negara yang lahir (atau tersisa?) setelah PD III.
Dan dengan tingkat realitas setinggi itu, aku rasa EFO haruslah didukung oleh negara tertentu dalam pengembangannya.
Namun—
"Pihak swasta."
Alissa memberiku jawaban mengejutkan.
"Agak tidak terduga."
"Aku setuju dengan Kakak. Terlebih meski mereka memiliki kantor di tiap negara tapi kantor pusat serta tempat pengembangannya sendiri masih belum diketahui."
Terdengar agak aneh.
"Tapi tetap saja, itu tidak membuat EFO kurang peminat. Bahkan beberapa klub profesional juga terus mengisi EFO, Kakak."
"Kurasa itu wajar."
Yaa, dengan EFO yang tidak terikat oleh negara mana pun, pangsa pasarnya pun menjadi semakin luas. Dan yaa, itu juga bisa menjadi ajang unjuk gigi bagi beberapa negara. Mungkin tindakan untuk menunjukkan siapa yang lebih superior tidak akan pernah berhenti.
Meski mengapa para pengembang tetap bertindak misterius itu masalah lain. Jadi apa itu mungkin—
Tok, tok, tok, tok.
Pikiranku terpotong saat aku mendengar pintu kamarku terbuka dan ...
"Ahh, hangatnya. Perasaan ini, tidak salah lagi ini Reena 'kan."
... Kakak Raiya, Raiya Bel Asha memelukku segera.
"Kak Rai curang! Aku bahkan belum memeluk Kak Rere sejak tadi!"
__ADS_1
Tidak. Kamu sudah memelukku beberapa kali sebelumnya, 'kan? Tapi, Alissa sama sekali tidak dapat membaca apa yang kupikirkan dan sekali lagi memelukku.
Ini terasa sesak! Dan kenapa kita saling berpelukan?! Memangnya kita adalah empat serangkai —ungu, hijau, kuning, dan merah— itu?
Hahahaha. Hanya saja kita hanya bertiga tapi, pintu kamar sekali lagi terbuka seolah membaca pikiranku.
Yaa, seperti yang kuduga Kediaman Keluarga akan ramai.
Tapi ...
"Kak Aarav!"
... Sosok mengejutkan muncul di depan mata kami. Aarav Eal Asha datang.
Yaa, untung saja Kak Aarav seorang pria jadi dia tidak akan segera masuk di antara kami dan aku dapat mengambil napas lega. Setidaknya keadaan sekarang tidak akan bertambah sesak.
"Apa yang tengah kalian lakukan?"
Yaa, entahlah. Aku juga tidak tahu.
"Ini tidak ada hubungannya dengan mika bukan?"
"Mungkin tidak dengan saya tapi bukankah Reena kesulitan?"
"Tentu tidak 'kan Reena?" Aku hendak membuka mulutku namun— "Jadi ini tidak ada hubungannya dengan mika tahu."
Uhh. Aku bahkan belum menjawab. Tidak, itu masuk ke dalam pertanyaan yang tidak perlu jawaban sejak awal, ya?
Aku dapat merasakan perubahan udara di sekitar saat Kak Aarav dan Raiya saling bertatapan. Yaa, jika aku dapat membuat efek percikan api di sana akan terlihat sempurna.
Yaa, bercanda.
Tapi untung saja hanya mereka berdua saja. Jika Kak Kalyan juga datang maka—
Ah yaa, lupakan. Aku berpikir demikian saat pintu sekali lagi terbuka dan Kak Kalyan terlihat. Membuat suhu udara sekali lagi memberat. Mari menyingkir sedikit bersama dengan Alissa.
Aarav Eal Asha, Kalyan Tal Asha, da Raiya Bel Asha. Yaa, mereka bertiga adalah calon kuat untuk kepala keluarga Asha selanjutnya.
Kami (aku dan Alissa) hanyalah anak kucing nan manis di sini yang tengah menonton pertarungan antar singa.
Bagaimanapun, keluarga Asha sendiri memiliki pengaruh cukup besar dalam bidang militer dan kesehatan. Yaa, itulah yang membuatku sedikit (?) dijauhi saat kecil kala mereka tahu aku berasal dari keluarga Asha.
Sedang kepala keluarga selanjutnya dipilih dari tiga cabang besar dengan mempertimbangkan banyak aspek, seperti kepribadian serta pencapaian masing-masing kandidat. Bagaimanapun, itu masih lama (mungkin 8-10 tahun lagi) tapi suasana di antara mereka sepertinya telah cukup memanas.
Ya, yaa, untung saja aku keluar dari keluarga sejak umur 15 atau aku akan turut mengalami perseteruan ini.
Uhh, tekanan ini sangat berat. Tapi ya, tampaknya aku benar-benar perlu memberikan spesial efek untuk sekarang.
Yang lebih penting dari itu, jangan berkumpul di kamar pribadiku oke?!
———
Catatan : kata mika yang digunakan Raiya merujuk ke kata ganti orang kedua (kamu).
__ADS_1
Yaa, terus dukung saia dengan memberikan like dan komentar di setiap akhir Chapter. Dan untuk favorite serta bantuan sharenya jangan lupa, oke?