
"Ini adalah kisah yang terjadi jauh, jauh, sangat jauh dari masa yang kita ketahui. Masa di kala orang-orang saling tersenyum dan menghargai. Masa tanpa pertikaian."
Aku melihat kilauan cahaya itu terus bergerak, membentuk sebuah gambar, sebuah siluet. Orang-orang yang tertawa, bergembira dengan senyum terpampang dengan jelas pada bibir mereka. Menunjukkan suka cita.
"Itulah masa di mana para Dewa dan Dewi turun di dunia. Masa di mana mereka memberi petunjuk langsung pada para makhluk lain, membimbing mereka menuju utopia.
“Zaman Para Dewa.
"Namun, terdapat mereka yang tidak menginginkan utopia tersebut. Mereka yang mencari saat di mana Dewa dan Dewi, sosok yang tak dapat terus bertahan di dunia ini kembali ke alam-Nya ..."
Siluet suka cita tersebut mulai retak, hancur menjadi serpihan-serpihan kabut. Dan saat kabut itu berubah menjadi merah, sosok yang dimaksud pun mulai terlihat.
Sosok siluet dengan sayap kelelawar dan sepasang tanduk di kepalanya—
"Iblis ...
"Benar sekali, itulah mereka."
Anak-anak menjerit. Saling mendekat, berpelukan satu sama lain, merasa takut pada sosok iblis tersebut.
"Mereka datang secara tiba-tiba. Tepat di kala para makhluk masih terlarut dalam mimpi, mimpi akan terwujudnya utopia. Dan itulah mimpi yang segera dihancurkan."
Dan akhirnya, kilauan-kilauan cahaya itu pun berubah menjadi kelabu.
"Dalam kehancuran ini, seseorang berkata, 'Oh, Dewa. Saya mohon, tolonglah hamba yang lemah ini. Datanglah kembali dan kembalikan ketenangan yang dulu ada'. Do'anya, do'a yang turut dipanjatkan para makhluk lainnya penuh harap.
"Namun, do'a-do'a itu tak terjawab, tak terkabulkan. Para Dewa-Dewi yang dimaksud, sosok do’a-do’a itu dipanjatkan, yang diharapkan akan datang tidak pernah datang.
"Dan akhirnya kelemahan , ketakutan, ketidakpuasan, keputusasaan. Seluruh sisi tergelap para makhluk pun ditarik keluar. Menguasai para makhluk.
“... Membuat do'a-do'a penuh harap yang selama ini dipanjatkan berubah.
"'Ini adalah milikku,' teriak orang sebelumnya, mengambil sepotong roti. Tidak memperdulikan tangis dan urai air mata yang dikeluarkan korbannya. 'Jangan salahkan aku, salahkan saja para Dewa Sialan yang tak menjawab kita!' teriknya memaki.
"Seperti itulah yang terjadi. Para makhluk saling mengutuk, mengutamakan dirinya jauh di atas orang lain. Lagi dan lagi, adegan semacam itu teruslah berulang.
“Menyulut tawa dari mereka, para Iblis yang menginginkan ini terjadi."
"K-kakak!"
"Ya, ada apa Saya?"
"Apa karena itu banyak orang jahat di dunia?"
"Hmm, mungkin memang seperti itu," jawab Frost. "Namun, tidak semua orang itu jahat, bukan?"
"U-um ...."
__ADS_1
"Begitulah, Saya. Dan mungkin, ini disebabkan para juara kita, orang yang tetap berpegang pada kebaikan yang mereka miliki."
Frost berkata dan sekali lagi mulai memanipulasi butiran-butiran cahaya itu, membentuk dua belas siluet humanoid yang saling berhadapan secara melingkar.
"Merekalah para makhluk yang pertama kali bergerak, menjadi ujung tombak yang mencoba mengembalikan harapan yang pernah ada. Membangkitkannya lagi.
"Satu sama lain dari mereka bertindak terpisah. Timur, utara, selatan, dan barat. Gerakan terjadi bagai sebuah gelombang. Bahkan jika mereka tak saling mengenal, tak merencanakannya, gelombang tersebut tetaplah berlangsung.
"Menyebar di segala penjuru. Saling bertaut layaknya telah digariskan oleh takdir sejak awal. Hanya dengan satu pemicu yang sama, dasar dari satu mimpi, harapan, dan keinginan yang sama.
Dan aku melihat gemerlap cahaya itu runtuh dan membentuk gambar baru. Gambar di mana kedua belas orang itu bertemu. Berjuang dan ...
"... Usaha mereka pun akhirnya membuat para Dewa dan Dewi turut tergerak. Para Dewa dan Dewi, yang tidak dapat kembali ke dunia ini memberi berkah pada ke dua belas makhluk pemberani itu.
"Berkah yang membantu mereka dalam menghadapi sang Iblis dan sekali lagi membuat mimpi, canda tawa, dan senyum tersebut dapat terwujud."
Yaa, mari bertepuk tangan seperti apa yang dilakukan para anak-anak itu.
"Kontrol sihir yang sangat baik ...."
"Hm? Apa kamu mengatakan sesuatu Mega?"
"Tidak ada."
Kalau tidak salah dia jelas mengatakan sesuatu tentang kontrol sihir atau semacamnya, ‘kan?
"Hal itu tidak akan berguna bagi diri ini sekarang, walau ...," gumamnya hingga tidak dapat kudengar lagi.
"Yaa, aku suka, Saya."
Ini jelas jauh lebih baik daripada hanya menonton kekerasan seperti apa yang pertama kali mereka sarankan. Ah, aku juga melakukannya (dalam melakukan leveling Skill) jadi ... baik. Yaa, jangan terlalu dipikirkan.
Aku menggelengkan kepalaku untuk mengusir pikiran itu dan—
"Ah, halo orang yang dipanggil Pendeta."
"Ya?!"
Wajah Frost tiba-tiba berada tepat di depan mataku.
"Hmm? Apa kau tidak apa-apa?"
"A-u-uhm.” Baiklah. Ambil napas sejak untuk menenangkan diri dan menjawab. ”Tidak. Aku tidak apa-apa."
"Tapi kau mengeluarkan suara aneh tahu. Orang yang dipanggil Pendeta."
"Tidak, aku tidak melakukannya." Tapi apa teriakanku (?) sebelumnya memang terdengar seaneh itu? Yaa, kurasa itu hanya anggapannya saja, 'kan?
__ADS_1
"Dan juga, jangan panggil aku 'orang yang dipanggil Pendeta'. Itu membuatku terdengar menjadi seorang pendeta, ya, Frost."
"Uhmm ... kau benar juga dan, eh kau bahkan tahu namaku?!" Frost memangku tangan dan tersenyum. "Yah, sepertinya jalan menjadi superstar telah terbuka lebar."
Dengan sangat percaya diri mengatakan itu. Meski, yaa kurasa itu tidak. Aku tahu namamu juga karena anak-anak ini memberitahuku, ya. Jika tidak aku tidak akan tahu namamu.
Tapi ... kurasa lebih baik diam akan hal ini.
"Ah, maaf sebelumnya .... siapa kau?"
"Dirae, hanya Dirae," jawabku sedikit lelah dan ...
Endus, endus.
"... Kenapa kamu mengendusku?"
"Emm? Ah, maaf. Itu hanya kebiasaan burukku." Berdeham sejenak, Frost pun berkata, "Sekali lagi, Aku Linux Frostburg. Ah, ngomong-ngomong aku lebih suka perempuan daripada laki-laki."
Aku sepertinya dapat mendengar hati beberapa anak hancur di sana. Tapi yang lebih penting, kurasa aku telah bertemu orang aneh.
"Ya ... baiklah ...” Kurasa akan lebih baik jika aku sedikit menjauh darinya. ”Bagaimanapun, itu cerita yang bagus, Frost."
Perubahan hanya akan terjadi jika kamu bertindak. Kurasa itulah inti dari apa yang dingin disampaikan cerita itu
"Huhu. Pujilah aku lagi."
"Meski, yaa entah kenapa itu terdengar berbeda dari pembukaan yang kamu buat."
"Itu hanya agar mereka memperhatikanku tahu. Bagaimanapun karena aku yang menceritakannya lah anak-anak bahkan dapat memahaminya."
Yaa, kurasa itu benar dengan ilustrasi yang terus kamu buat anak-anak dapat memahami banyak kata-kata sulit yang ada di sana. Tapi bukannya lebih mudah untuk menyederhanakan cerita—
"Eh? Apa kamu tidak membuatnya sendiri?"
"Jangan bodoh. Sudah kubilang 'kan, itu legenda."
"Yaa, legenda."
Cerita rakyat yang ada hubungannya dengan sejarah.
"Meski kurasa terlalu banyak unsur lain yang telah dicampur di sana."
"Ah soal itu kau salah Dirae. Legenda itu, benar adanya tahu," pungkasnya sebelum pergi, kembali ke arah anak-anak yang memanggil.
———
Yaa, saia minta maaf karena hiatus tiba-tiba selama hampir 2 minggu karena hp saia rusak dan kabar tentang kebijakan terbaru yang buat semangat nulis down :(
__ADS_1
Sekali lagi mohon maaf tapi EFO akan tetap up meski saia tidak bisa janji daily up seperti sebelumnya, (layar HP masih retak dan ga retak rambut lagi). Tapi akan saia usahakan agar bisa.
Saia harap masih ada yang baca .....