STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.

STRONG GIRL AND DRACULA PRINCE.
LEON MARAH?


__ADS_3

Malam hari setelah makan malam, Leon menjelaskan kepada istrinya maksud kedatangan Julian dan Josh di ruang tamu, bahwa kedua pria itu memintanya untuk mengumumkan pernikahan mereka secepat mungkin itu jika ia benar-benar serius pada Alicia, dan hal ini juga demi melindungi istrinya ini dari kejadian seperti yang telah terjadi siang ini.


Dan Leon menyetujui permintaan kedua pria ini yang telah ia anggap sebagai sahabat istrinya Alicia, selain menjelaskan tentang kedatangan Julian dan Josh ia juga membahas rencana pertunangan Alice dan Dr. Mark, juga rencana untuk menyelenggarakan pesta pernikahan yang megah untuk istrinya ini yang kelak akan dilaksanakan di Los Angeles.


"Bagaimana menurutmu rencana ini?" tanyanya pada Alicia yang sedang menatapnya dengan wajah serius.


"Bukankah ini artinya kelak semua bawahanmu akan mengenalku?"


"Bukan hanya bawahanku, tetapi semua yang masih ingin memanfaatkanmu akan mengenalmu sebagai istriku, dengan begitu aku bisa melindungimu dari mereka! Hingga saat ini... Hanya beberapa orang yang berani menantangku dan mereka ini telah kukirim ke tempat di mana seharusnya mereka berada."


"Lakukan saja apa yang menurutmu harus dilakukan, aku... Sebenarnya tidak terlalu peduli pada kekuasaanmu! Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan Leonardo," ucap Alicia cuek.


"Aku telah memikirkan hal itu, karena itu... Setelah Pesta Pernikahan nanti, aku akan memberikan Anton padamu, kelak ia akan selalu menemanimu sebagai Asistenmu."


"Jangan terlalu berlebihan, Anton adalah bawahanmu dan juga sahabatmu! Lagipula... Kamu pasti sudah tahu kalau aku mampu melindungi diriku sendiri."


"Aku memintanya berdiri di sisimu untuk melindungi Leonardo, karena aku telah melihat bagaimana kekompakanmu dengannya, menurutku... Anton lebih baik berdiri di sisimu, sedangkan aku... Aku telah memiliki Mark di sisiku."


"Terserahmu saja, oh ya, masalah pertunangan Mark dan Alice, Alice telah berbicara tentang hal ini sebelumnya padaku, dia meminta bantuanku untuk mempersiapkannya, jadi... Aku harus kembali ke Roma untuk menemaninya."


"Baik... Kita akan kembali tiga hari lagi ke Roma, saat itu kita masih memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan segalanya! Tetapi sayang... Beberapa waktu ini aku bekerja cukup keras padamu, apakah telah terjadi perubahan pada tubuhmu?"


Pertanyaan Leon ini sontak membuat wajah Alicia bersemu merah.


"Jika belum ada perubahan... Apakah aku perlu mengatur jadwal khusus untukmu agar aku bisa lebih sering bersamamu?" tanya Leon lagi sembari mengedipkan matanya.


"Serigala liar ini mengapa terburu-buru sekali ingin menambah anak?!" rutuk Alicia dalam hati.


"Sayang... Aku melakukan semua ini demi Leonardo..." Bujuk Leon.


"Hahaha..." Alicia tertawa canggung mendengar ucapan suaminya yang membawa nama buah hatinya demi memuluskan rencananya, "Apakah kamu pikir aku masih sebodoh dulu hingga tidak menyadari rencanamu?!!" jerit hatinya, ia menatap Leon yang masih tersenyum nakal padanya, "Mr. Leon apakah satu Pangeran Drakula yang telah kuberikan padamu belum cukup?!" lontarnya dingin.

__ADS_1


Leon tertawa kecil melihat wajah dingin istrinya, perlahan ia menggeser tubuhnya di sofa untuk mendekati Alicia dan menarik pinggang ramping istrinya itu.


"Kamu baru memberiku satu orang Pangeran yang setampan diriku, tetapi itu belum cukup! Aku masih menginginkan seorang putri yang mewarisi kecantikan ibunya," ucapnya manja.


Tingkah laku suaminya ini yang tampak seperti anak kecil yang sedang meminta sebuah mainan baru padanya membuat Alicia menghela nafas.


"Aku bukan pabrik!" cetusnya.


"Aku tidak menganggapmu pabrik!" Leon mencubit hidung Alicia dengan gemas, "Tetapi dua wanita cantik di rumah lebih baik daripada hanya ada satu!"


"Jika menginginkan dua wanita cantik, bukankah kamu bisa membawa satu orang lagi pulang?!"


"Kamu..."


"Apakah ucapanku salah?!"


"Aku tidak menginginkan dua istri!!" teriak Leon sebal, ia melepaskan tangannya dari pinggang Alicia dan menekuk wajahnya, kata-kata istrinya ini baginya terdengar seperti istrinya ini tidak terlalu mencintainya dan bersedia dimadu, "Aku hanya ingin seorang putri darimu, apakah itu terlalu sulit bagimu?!" gumamnya dengan wajah cemberut, ia melirik Alicia yang hanya diam dan tidak berusaha untuk membujuknya.


Masih saja keras kepala dan tidak ingin membujukku, mengapa aku bisa tertarik pada wanita ini?!!


"Sudah hampir larut aku ingin tidur, sebaiknya kamu juga tidur karena besok kita akan mengunjungi kedua orang tuamu pagi-pagi sekali mumpung besok weekend dan kedua orang tuamu berada di rumah!" sahutnya dingin, lalu pergi meninggalkan Alicia.


"Dia marah?" Alicia menatap punggung suaminya yang melangkah menuju tangga dengan wajah bingung, sebenarnya tadi ia hanya ingin bercanda sedikit dengan suaminya ini untuk menimpali tingkah manja suaminya, tetapi ucapannya itu justru membuat suaminya tersinggung, "Bagaimana caraku untuk membujuknya?" bisiknya kembali menghela nafas.


***


Pagi hari, Alicia terbangun karena mendengar suara pintu kamar yang menutup, sambil memicingkan matanya yang masih mengantuk ia mengedarkan pandangannya, dan saat ini tidak ada seorangpun di dalam kamarnya ini, segelas darah dingin terletak di atas nakas di samping ranjang, gelas tersebut sedikit mengembun dan hal itu membuatnya menyadari bahwa isi gelas ini baru saja dituangkan sesaat sebelum ia terbangun.


"Dia masih marah padaku." Alicia menghela nafas dan meraih gelas tersebut, menghabiskan isinya lalu meletakkannya kembali ke atas nakas, perlahan ia beranjak meninggalkan ranjang empuknya dan masuk ke kamar mandi.


Setelah menyelesaikan mandinya dan berpakaian rapi, ia pun keluar dari kamarnya, menyusuri anak tangga demi anak tangga, tetapi wajah-wajah pria yang dikenalnya sama sekali tidak terlihat, hanya ada beberapa pelayan yang mondar-mandir melakukan tugasnya juga menyapanya dengan hormat, hingga ia tiba di ruang tamu ia baru melihat sesosok wajah familiar yang berlari kecil menghampirinya.

__ADS_1


"Nyonya, Bos dan Bos Junior telah menunggumu di mobil," lapor pria itu yang tak lain adalah Anton.


"Baik." Alicia mengangguk pelan dan mengikuti langkah kaki pria ini ke halaman rumah, di mana sebuah limosin terparkir di sana.


"Nyonya silahkan!" Anton membukakan pintu limosin dan segera menutupnya kembali setelah Alicia masuk.


Di dalam limosin yang mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah, Alicia menatap suaminya yang sedang bercanda dengan buah hatinya.


"Leon, maaf, " ucapnya pelan.


Tetapi suaminya ini tidak mengacuhkannya sama sekali, dan Alicia hanya bisa menghela nafas melihat hal itu, ia mengambil sesuatu dari saku celananya dan menyodorkan benda itu pada suaminya.


"Aku telah mencoba memeriksanya pagi ini, aku... Aku hamil."


Leon melirik test pack yang berada di genggaman istrinya ini, walau ia merasa sangat bahagia mengetahui hal itu, tetapi ia tetap memasang wajah datarnya pada Alicia.


"Leon, bicaralah padaku! Jangan hanya diam!" cetus Alicia, ia menatap suaminya dengan wajah memelas.


Bukannya menjawab pertanyaannya, yang dilakukan suaminya ini justru memeluknya tiba-tiba.


"Mengapa sangat sulit bagimu untuk membujukku? Aku telah menunggu kata-kata ini semalam penuh hingga tidak tidur, tetapi kamu malah meninggalkanku tidur begitu saja," bisiknya lirih.


"Leon, aku..."


"Sayang... Bukankah aku telah mengajarimu bagaimana cara membujukku?"


Alicia terpaku mendengar ucapan suaminya ini.


"Ternyata kamu hanya mempermainkanku!" ia memukul dada Leon, dan suaminya itu hanya tertawa kecil padanya, "Aku sangat bingung memikirkanmu tadi dan kamu..."


"Aku hanya ingin mendengarmu membujukku, sudah sekian tahun mengapa hanya aku yang selalu membujukmu?" Leon menangkap tangan istrinya yang terus memukul dirinya, dan menatap wajah itu dengan lembut, "Sayang... Mulai hari ini aku ingin kamu selalu mengingat hal ini, aku Leon Vlad juga butuh kasih sayangmu!"

__ADS_1


Eh?? Sejak kapan pria ini menjadi semanja ini?


Alicia menatap netra biru itu yang terlihat sangat biru seperti samudra.


__ADS_2