
Tidak melihat kekasihnya di ruang tamu, Leon pun melangkah menuju kamarnya, dan saat memasuki kamarnya ia tersenyum mendengar suara shower dari kamar mandi miliknya.
"Ternyata gadis kecil ini pergi terburu-buru untuk mandi," bisiknya sambil melepaskan kemejanya dan melemparnya ke tong sampah, ini kemeja branded ketiga miliknya yang dirusak oleh tangan mungil Alicia, semua kemeja miliknya walau terlihat sederhana tetapi semua adalah kemeja bermerk yang diproduksi secara terbatas.
CEKLEKK!!
Pintu kamar mandi terbuka sesaat setelah Leon menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, Alicia tampak keluar dari kamar mandi, tubuh gadis itu yang saat ini mengenakan kemeja Leon menyisakan kesegaran aroma wangi sabun mandi, kaki mulusnya terlihat putih dan panjang di bawah kemeja yang menggantung, wajahnya pink kemerahan seperti apel yang ranum, penampilan Alicia membuat Leon berdecak sambil menelan salivanya, kekasih kecilnya itu terlihat sangat cantik dan sexy di matanya ditambah dengan rambut hitam panjang tergerai yang belum kering sempurna.
"Maaf, aku... Aku memakai kemejamu! Resleting dressku macet," ucap Alicia terbata-bata, ia merasa sangat canggung saat ini, itu karena semua yang telah terjadi di ruang tamu sebelumnya.
"Hmm... Kemeja itu... Kemeja itu cocok untukmu!" tukas Leon yang tersipu dengan penampilan kekasihnya itu, ia melirik juniornya yang tampak tergoda di balik celananya, "Sial!! Bagaimana aku menahan godaan ini?!" rutuk hatinya.
"Leon, aku..."
Leon mengalihkan pandangannya pada Alicia yang menunduk dan tampak ragu melanjutkan kata-katanya, ia turun dari tempat tidur dan mendekati kekasih kecilnya itu yang sedang mematung di depan kamar mandi.
Alicia mundur perlahan ketika melihat langkah Leon terlihat mendekatinya, jujur ia sedikit takut pada Leon malam ini dan semua karena kesalahan kecilnya yang menginginkan sedikit ciuman dari kekasihnya itu, tetapi ia lupa bahwa setiap kali kekasih tampannya itu mendaratkan bibir lembutnya, ia akan kehilangan kendali dirinya, sentuhan itu terlalu memabukkan baginya yang polos.
Leon menghadang pintu kamar mandi ketika melihat Alicia menyentuh kenopnya dan ingin kembali ke dalam kamar mandi karena takut, apa yang dilakukannya itu membuat tubuh mungil itu menabraknya.
"Leon, lepaskan!" bisik Alicia, mencoba mendorong tubuh Leon yang memeluknya erat.
"Bukankah sudah kukatakan aku tidak akan berhenti hari ini?!"
"Aku... Aku takut! Aku tidak ingin melakukannya!!" teriak Alicia sambil mendorong keras.
Krek... Krek... BRAKKK!!!
Engsel pintu kamar mandi terlepas membuat pintu kamar mandi itu mendarat bebas di lantai kamar mandi dengan tubuh Leon dan Alicia berada di atasnya, tadi... Ketika Alicia mendorong tubuh Leon dan ingin kabur, Leon dengan sigap meraih lengan gadis itu, tetapi keseimbangannya goyah bersamaan dengan pintu yang menahan tubuhnya rusak dan jatuh terhempas.
Leon menghela nafas, setelah tersadar dari rasa terkejutnya.
__ADS_1
"Apakah kelak aku akan melalui malam pengantin seperti ini?!!" jerit hatinya, "Gadis ini... Aku harus mengajari gadis ini bagaimana mengendalikan kekuatannya, jika tidak... Mungkin dia akan membuatku terbang setelah aku memuaskannya!" lanjutnya lagi, ia melirik Alicia yang berada di atas tubuhnya, gadis itu terlihat sedikit shock dan terdiam, "Alicia?? Hei!" Leon mencubit pipi kekasih kecilnya itu.
"Le... Leon aku... Aku tidak sengaja melakukannya!" ucap Alicia tergagap, kekuatannya saat ini membuatnya sangat takut, ia takut suatu hari nanti akan menyakiti orang lain karena kekuatannya yang tidak bisa dikendalikan olehnya, "Hari ini hanya pintu, mungkin kelak aku akan melukainya!" Alicia melirik Leon yang tengah menatapnya, pria itu sama sekali tidak terlihat marah, ia hanya tersenyum lembut sambil mengelus rambutnya.
"Lupakan hal ini! Ayo berdiri! Sudah sangat larut, sebaiknya kita beristirahat sekarang!" usul Leon.
Alicia mengangguk, ia bangkit perlahan dan membantu Leon untuk berdiri.
"Aku akan mengganti pintu itu! Aku memiliki sedikit tabungan!"
Leon tertawa kecil mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Tidak perlu dipikirkan! Itu hanya pintu, aku akan memperbaikinya besok! Sekarang tidurlah!" Leon mencium kening Alicia dan meminta gadis kecil itu naik ke tempat tidur, sementara ia membereskan kekacauan yang diakibatkan oleh tingkahnya,"Mungkin belum saatnya aku menyentuhnya! Aku akan mencoba bersabar sebentar lagi!" bisik hatinya.
Beberapa saat kemudian, Leon yang telah selesai memindahkan pintu kamar mandinya keluar dan membersihkan sisanya, melihat kekasihnya itu telah tertidur di atas tempat tidurnya.
Ia berjongkok di lantai di hadapan kekasih kecilnya itu sambil memperhatikannya.
"Pengantin kecilku yang cantik, apa yang harus kulakukan padamu? Aku mencoba menghindarimu, tetapi kamu menggodaku! Saat aku telah tergoda kamu menolakku, Alicia... Kamu sangat pintar mempermainkan perasaanku!" gumamnya, "Tetapi aku... Aku akan mencoba menghargai keputusanmu ini! Dan semoga saja aku bisa menahannya hingga malam pernikahan kita!" lanjutnya lagi sambil mencium kening Alicia dengan lembut.
Pukul 10 pagi, saat cahaya matahari memasuki sisi-sisi kaca jendela dan jatuh di wajah Alicia, gadis kecil itu membuka matanya, ia mencari sosok Leon yang sudah tidak berada di sampingnya.
CEKLEKK!!
Pintu kamar terbuka tiba-tiba, Leon tampak memasuki kamar dengan membawa sebuah paperback.
"Leon??" Alicia yang melihat hal itu, turun dari tempat tidur dan menghampiri kekasihnya.
"Mandilah dan kenakan ini!" Leon memberikan paperback yang dibawanya pada Alicia.
Dengan wajah bingung Alicia menerima paperback tersebut dari Leon.
"Apa ini?" tanyanya sambil mengintip isi paperback, di dalam paperback terdapat satu set jeans dan kaos wanita, ukuran pakaian itu persis sama dengan ukuran pakaian yang biasa dikenakan olehnya, "Leon ini..." Alicia menatap wajah kekasihnya.
__ADS_1
"Itu sesuai ukuran tubuhmu!"
"Tetapi bagaimana kamu mengetahui ukuran celanaku?"
"Dengan ini!" Leon menyentuh pinggang ramping di hadapannya dengan kedua tangannya, "Pinggangmu kecil sekali, bahkan aku bisa melingkarkan tanganku di sini!" ucapnya sambil meremas pinggang Alicia.
"Leon..." Alicia mendesis pelan menghadapi kenakalan Leon.
Sementara Leon tampak tertegun melihat reaksi kekasih kecilnya itu.
"Gadis kecil ini... Apa dia sedang menggodaku lagi?" gumam Leon resah, ia mengangkat tangannya dari pinggang ramping Alicia dan memalingkan wajahnya yang mulai bersemu merah, "Aku... Aku akan menunggumu di luar!" lontarnya, ia pun pergi dengan cepat meninggalkan Alicia sendiri.
"Ada apa dengannya?!" bisik hati Alicia, ia menatap kepergian Leon dengan wajah bingung.
Sementara di luar kamar, Leon tampak bersandar di pintu kamar yang tertutup, sambil menutup sebagian wajahnya dengan tangannya.
"Gadis kecil itu... Mengapa selalu memperlihatkan wajah itu di hadapanku?! Apakah dia tidak tahu bahwa wajahnya itu sangat menggoda dan bisa membuatku hilang kendali?!!" jerit hatinya.
"Ehemm!!"
Mendengar suara deheman nakal tersebut spontan membuat Leon memalingkan wajahnya.
"Apakah semalam terjadi gempa bumi?!" tukas Dr. Mark, ia memperhatikan langit-langit rumah.
"Apa maksudmu?!" tanya Leon dingin sambil menatap sahabatnya itu dengan tajam.
Dr. Mark menurunkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang tersandar rapi di dinding depan kamar Leon.
"Mengapa ada gempa sekeras itu tetapi aku tidak menyadarinya?!" sindirnya.
"Jangan berpikir sembarangan!! Semalam tidak terjadi apapun padaku dan Alicia!" bantah Leon, ia sangat mengerti maksud ucapan sahabatnya itu, "Rumah ini terlalu tua dan aku belum sempat mengganti pintu jelek itu! Semalam engselnya rusak saat aku ingin ke kamar mandi!" lanjutnya.
"Oh..." Dr. Mark tersenyum mendengar alasan Leon yang tidak masuk akal baginya.
__ADS_1
"Tolong hapus senyum jelek itu dari wajahmu!. Mengganggu sekali!" sungut Leon sambil melangkah menjauhi sahabatnya itu.